Kisah Sukadi Selamatkan Amarilis, Awalnya Musuh Kini Incaran Warga

 

 

Sejak minggu kedua Oktober, bunga amarilis (amaryllis) di kebun Sukadi berbunga. Pemandangan cantik halaman rumah dipenuhi lebih 500.000 bunga oranye itu pun kembali menghias jagad internet. “Kebun laksana taman bunga di Belanda.” Begitu pujian orang yang berdatangan ke sana.

Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, kini ada jalan setapak di kebun bunga yang berlokasi di Dusun Ngasemayu, Salam, Patuk, Gunungkidul itu. Juga ada tali menandai batas, dan tulisan peringatan untuk ikut merawat dan tak memetik bunga.

Semua itu disiapkan Sukadi agar tanaman bunga tak lagi hancur terinjak pengunjung. Dua tahun lalu, saat foto taman bunga viral di internet, kebun dibanjiri orang.

Naas, mereka yang mendatangi kebun bunga itu nekat menginjak-injak tanaman demi bisa selfie dengan bunga yang bermekaran.

“Belajar dari 2015, saya kasih celah untuk pejalan kaki. Kemudian tanaman saya kasih pembatas berupa tali rafia agar orang tidak masuk ke area bunga lagi.”

Di pinggir kebun ada tulisan permohonan maaf Sukadi kepada para pengunjung andai kurang puas selama kunjungan. “Itu bentuk keterbatasan kami.”

Ada pula tulisan 15 tahun Puspat. Puspat adalah akronim Puspa Patuk, sebutan yang disematkan Camat Patuk untuk amarilis. Angka 15 tahun sendiri bukan waktu pendek bagi Sukadi dalam membudidayakan amarilis.

 

Rumah Sukadi, di kelilingi amarilis nan indah. Dulu gulma bagi petani, kini incaran warga. Foto: Nuswantoro/ Mongabay Indonesia

Gulma petani

Di Patuk, amarilis dianggap gulma. Nama yang disandang kurang elok, brambang procot. Tanaman ini tumbuh liar di ladang petani yang berkapur dan tandus. Ladang biasa ditanami jagung, kacang, kedelai, dan ketela.

Amarilis hanya mampu bertahan mekar dua minggu. Setelah itu layu dan mengering. Amarilis akan berbunga lagi awal musim hujan tahun berikutnya.

Kata Sukadi, tanaman ini terbilang mudah tumbuh. Daun hijau memanjang tanpa tulang daun. Umbi cukup besar. Meski di tanah tandus amarilis mampu menyimpan air dalam umbi. Tanaman ini tumbuh bergerombol.

“Semua petani perilaku sama, ingin membasmi. Saya lalu berpikir, kalau perilaku ini terus dilakukan, ini akan musnah. Kalau punah nanti anak cucu kita tidak bisa melihat.”

“Lalu saya punya gagasan bagaimana tumbuhan ini tetap lestari namun tidak menjadi gulma lagi,” katanya.

Demi menyelamatkan populasi bunga ini. Dia jadikan kebun untuk budidaya amarilis padahal lahan itu semula tempat bertani dan berkebun.

“Lahan saya 3.050 meter untuk menyelamatkan tumbuhan ini. Saya biasa bertani kemudian mencari pekerjaan lain. Sebagai penjual mainan anak.”

Sejak 2002, berjualan mainan itu dia lakoni. Hasil jerih payah berjualan mainan sebagian untuk mengganti uang lelah petani yang mau mengumpulkan gulma amarilis. Awalnya, diapun mengambil sendiri dari para petani.

“Waktu itu hampir seluruh petani di Patuk saya datangi. Mereka bersedia mengumpulkan dan tak dibuang di sungai, dicacah, dikubur, atau dibakar. Pada 2014, saya sampai mengumpulkan dua ton umbi.”

 

Paryono, adik Sukadi yang mengikuti jejak langkah sang abang, budidaya amarilis. Foto: Nuswantoro/ Mongabay Indonesia

Dianggap gila

Gara-gara tanam gulma, Sukadi, sampai diejek dengan panggilan “cot,” dari kata procot.

“Ada juga yang memanggil saya Bram. Dari kata brambang. Kalau Bram agak keren dibanding Sukadi,” katanya berseloroh.

Bertahun-tahun dia mengumpulkan umbi dari petani, lalu menanam sepetak demi sepetak di kebun halaman rumah. Selama itu pula upaya dia mengumpulkan gulma dianggap aneh. Apalagi kebun sebelumnya ditanami tanaman yang laku dijual.

Pria yang hanya sempat mengenyam pendidikan sampai kelas 1 SMP ini tak patah semangat. Justru langkah yang dipandang sebelah mata oleh tetangga jadi cambuk.

“Dulu saya mempromosikan ini tidak dianggap. Bahkan saya dikatakan lucu, gila oleh warga.”

Dia masih ingat dua tahun lalu. Pada 15 November 2015, di Desa Salam diadakan kirab budaya. Warga bebas membuat hiasan pawai. Arak-arakan mulai dari batas desa sampai balai desa yang menempuh jarak sekitar satu km.

“Ada yang bikin replika durian, mesjid, macam-macam. Saya membuat gunungan dari umbi procot ini. Lalu paling atas saya beri yang sudah berbunga. Sepanjang perjalanan ditertawai.”

Sukadi maklum, warga mencibir bukan karena tak suka, tetapi belum mengerti.

“Saya mengangkat amarilis di kirab itu bukan memperkenalkan umbi, tetapi ajakan setop kekerasan kepada amaryllis. Setop pemusnahan amarilis. Jadi ajakan melindungi amarilis.”

Hanya selang seminggu setelah pelaksanaan kirab, taman bunga dia viral di internet dan menjadi berita media massa. Dalam sehari tak kurang 3.000-an orang mengunjungi kebun itu.

“Semua sudah penuh bunga. Tidak ada jalan setapak untuk pejalan kaki karena kebun waktu itu memang tidak untuk kunjungan. Hanya dalam tiga hari sejak booming, tanaman hancur terinjak-injak. Rusak 95% lebih.”

Meski kebun hancur terinjak-injak, dia tidak bersedih. Justru bikin lebih bersemangat.

Berita kebun amarilis rusak pun menyebar. Ada warganet berinisiatif menggalang pengumpulan dana. Beberapa pribadi juga memberikan donasi. Oleh Sukadi, uang itu untuk menambah koleksi umbi dari petani.

 

Ajakan tertera di taman amarilis, agar tak memetik dan tak menginjak bunga. Foto: Nuswantoro/ Mongabay Indonesia

Berkah

Dulu dibenci dan dimusnahkan, kini amarilis bisa mendatangkan uang. Di ruas Jalan Patuk, mulai tampak penjual bibit amarilis. Cukup membayar Rp10.000 untuk mendapatkan tiga bunga ini.

Sekitar 20 orang sibuk mengatur arus kendaraan dan pengunjung yang memasuki area kebun bunga, mulai dari jalan besar hingga di lokasi. Beberapa penjual makanan dan minuman bermunculan di seputar pintu masuk kebun. Mereka adalah sebagian yang mendapat berkah dari keberadaan kebun amarilis.

Kini, Tugiran dan Paryono, keduanya adik Sukadi, juga mengembangkan bunga ini. Kebun seluas 1.300 meter persegi milik Tugiran bersebelahan dengan kebun Sukadi, kini penuh amarilis. Milik Paryono berada di belakang kebun Sukadi, seluas 2.500 meter persegi.

Ada 30.000 amarilis ditanam Paryono dan terbuka untuk umum. Dua titik lain di rumah dan hutan untuk pembibitan.

Setidaknya ada 1.000 pengunjung perhari mendatangi kebun Paryono. Untuk bisa menyaksikan lebih dekat dan berfoto pengunjung membayar Rp5.000. Jumlah pengunjung kebun Sukadi bisa dua kali lipat. Mereka juga diminta membayar Rp5.000.

Bukan hanya warganet, beberapa tokoh penting pun kepincut mendatangi kebun itu. Ada Gubernur Yogyakarta, Bupati Gunungkidul, hingga Istri Mantan Wakil Presiden, Budiono.

“Umumnya mengapresiasi dan minta diteruskan dan dikembangkan. Ajak teman-teman untuk membuat pembibitan,” kata Sukadi menirukan pesan mereka.

Saat ini, perawatan masih sendiri dibantu anggota keluarga. Untuk pembibitan, beberapa orang sudah tertarik. Meski belum serius mengubah jadi tempat wisata, Sukadi bersyukur taman bunga disukai orang.

“Kalau bibit, lahan memang milik pribadi saya. Tapi keindahan milik siapa saja yang mau datang,” katanya.

 

Taman amarilis di Gunungkidul. Foto: Nuswantoro/ Mongabay Indonesia

 

 

Artikel yang diterbitkan oleh
, , , ,