Jatnika dan Keinginannya Membangun Peradaban dari Bambu

 

Jatnika Nanggamiharja, 23 tahun mengadvokasi konservasi bambu dan menjadikannya ekonomi handal. Foto: Rahmadi Rahmad/Mongabay Indonesia

 

Bambu berperan besar dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Sejarah mencatat, bambu digunakan para pemuda revolusioner untuk berjuang meraih kemerdekaan dari tangan penjajah. Bambu juga, dimanfaatkan sebagai alat praktik medis seperti sunat, dan sebagai alat musik di Jawa Barat. Dari bambu juga, Semarang memiliki makanan khas, lumpia, semacam rollade berupa perpaduan rebung, telur, dan daging ayam atau udang.

Bagimana penghargaan kita terhadap bambu saat ini?

Yayasan Bambu Indonesia dibawah asuhan Jatnika Nanggamiharja, sudah 23 tahun mengadvokasi konservasi bambu dan menjadikannya ekonomi handal. Namun, dalam perkembangannya, keberadaan bambu saat ini, selain persediannya menipis, potensi bambu juga belum mendapatkan perhatian penuh.

“Hambatan dalam industri bambu terkendala pada kurangnya bahan baku dan tenaga ahli. Karena, memang tidak ada sekolahnya. Sekalipun ada, (pendidikan) itu tak dekat atau bukan menjadi praktisinya,” tutur Jatmika di Yayasan Rumah Bambu, Cibinong, Bogor, Jawa Barat, kepada Mongabay Indonesia akhir pekan lalu.

Lelaki kelahiran Cibadak, 2 Oktober 1956 ini menilai, peranan sinergis antara peneliti, seniman, budayawan, perajin serta petani bambu sangat dibutuhkan untuk mengembangkan pemanfaatan bambu. Kerap ia temui, berbagai pihak jalan sendiri-sendiri. Semisal, berbagai seminar yang pernah ia ikuti cenderung fokus menelaah bambu dari segi akademis namun tidak pernah mempraktikkannya.

“Seminar tiga hari, bahas bambu biaya miliaran, hanya ngomongin caranya saja. Tapi, menanamnya nggak bisa,” ujar Jatnika seraya tertawa.

 

 

Rumah bambu buatan Jatnika sudah melanglang buana ke berbagai negara seperti Yordania, Arab Saudi, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Foto atas dan bawah: Rahmadi Rahmad/Mongabay Indonesia

 

Peraih anugerah Kalpataru 2015 mulai menaruh perhatiannya pada pengelolaan sumber daya bambu sejak 1996. Awalnya, ia hanya memproduksi anyaman dan mebel bambu, namun lambat laun ia mengembangkan kemampuannya untuk membangun rumah bambu. Sekitar 3.441 rumah bambu yang tersebar di Indonesia berdiri berkat kemampuan arsitektur Jatnika. Dari bambu pun, ia sudah mengembangkan bisnisnya ke beberapa negara di luar Indonesia: Yordania, Arab Saudi, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

Namun, sejak 2011 Jatnika mengubah orientasinya. Ia memutuskan untuk menghentikan ekspor rumah bambu ke luar negeri dan memilih memajukan bisnis bambu secara inklusif -melibatkan tenaga ahli dari Indonesia. Ia ingin Indonesia memiliki ketersediaan dan pengelolaan yang kokoh mengenai bambu.

Contohnya, dengan memiliki perkebunan bambu yang digunakan untuk industri. Menurutnya jika ingin membangun industri harus juga membuka lahan perkebunan agar tak merusak lahan rakyat. “Dulu saya berpikir bertindak global berpikir lokal. Tapi itu salah, saya sekarang mau bertindak lokal berpikir global. Biar dunia tahu bahwa bambu itu dari Indonesia,” ujar dia.

Cita-cita Jatnika kini terfokus untuk membangun infrastuktur yang semuanya berbahan dari bambu. Pertama, ia tengah membangun Kampung Budaya Sunda di Cilember, Megamendung, Bogor, Jawa Barat. Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar sudah berkunjung dan mengapresiasi kampung tersebut karena seluruh bangunannya berbahan bambu.

“Hanya saja menurut Pak Deddy, kurang sosialisasi, orang pada gak tahu. Padahal bagus dan di Jawa Barat tidak ada tempat yang bangunan khas Sundanya selengkap di sana,” kata Jatnita.

Kedua, selain Kampung Budaya Sunda, Jatnika menjelaskan bahwa dia telah membangun sekolah bambu boarding school di Ciapus, Bogor. Ketiga, keinginannya adalah membangun kampung tradisional, resort skala internasional dan kebun raya bambu di Sentul.

“Saya ingin, kampung wisata ini menjadi tempatnya peneliti, seniman, budayawan, perajin, dan petan bersatu padu mengembangkan bambu,” ujar lelaki yang kerap disapa Abah ini.

 

 

Bukan hanya rumah, Jatnika juga membuat sepeda dari bambu yang ringan, kuat, dan diberi merek sebagaimana namanya. Foto atas dan bawah: Rahmadi Rahmad/Mongabay Indonesia

 

Arsitek tanpa jalur akademis

Jatnika seolah memang dilahirkan untuk menjadi ahli bambu. Kemampuannya merakit bambu menjadi produk kreatif serta mendesain rumah dari bambu ia miliki secara alamiah. Ia tidak pernah menjajal bangku pendidikan tinggi jurusan arsitektur untuk membangung sekitar tiga ribu rumah bambu di Indonesia.

“ Saya tidak belajar arsitektur tapi hampir 20 arsitek belajar arsitektur bambu ke saya. Arsitektur bambu berbeda dengan arsitektur umumnya. Mulai dari mengenali jenis bambu, memilih dan membangun pondasi kalau tak paham, malah tak bisa digunakan nanti rumahnya,” katanya.

 

 

Jenis bambu seperti gantar dan bitung ini merupakan kekayaan hayati Indonesia yang tumbuh subur di area Yayasan Bambu Indonesia. Foto atas dan bawah: Rahmadi Rahmad/Mongabay Indonesia

 

Jenis bambu berbeda-beda begitu juga penggunaannya. Untuk membangun rumah, bambu besar jenis gombong tepat untuk sebagai pondasi. Sementara bambu betung bagus untuk membangun tiang, dan untuk atap paling sesuai bambu apus yang ukurannya kecil. Perhitungan ruangnya pun memiliki rumus sendiri. Membuat jarak akan sangat ditentukan dari pilihan jenis atap dan lebar lahan.

Gaya arsitektur rumah bambu yang ia kuasai merupakan inspirasi dari kultur Sunda. Kata dia, sebenarnya para leluhur sudah terlebih dahulu menciptakannya dan pengetahuan itulah yang ia serap untuk membangun setiap rumah. “Kita sering melupakan budaya bambu. Padahal bambu jasanya sangat besar untuk Nusantara,” tegasnya.