BRG Optimis Restorasi Gambut Non Konsesi Sesuai Target

Bersampan melalui kanal drainase di Desa Jabiren. Masyarat membangun pintu air di kanal drainase secara mandiri. Sekarang ada BRG, yang juga bekerja bersama masyarakat merestorasi gambut dengan target sampai akhiri tahun selesai 370.000 hektar. Foto: Ridzki R. Sigit/ Mongabay Indonesia

 

 

Badan Restorasi Gambut (BRG) optimis hingga akhir tahun bakal memenuhi target restorasi di lahan non-konsesi, seluas 370.000 hektar. Total target 2016-2017 seluas satu juta hektar termasuk dalam konsesi 630.000 hektar. Sedangkan wilayah konsesi, restorasi dilakukan perusahaan  dengan pengawasan BRG baru mulai 2018, setelah rencana kerja usaha pemegang izin selesai.

”Sudah 200.000-an hektar. Menurut kami, akan tercapai 370.000 hektar hingga akhir tahun karena masih banyak yang sedang berjalan di lapangan,”  kata Budi S. Wardhana, Deputi Bidang Perencanaan dan Kerja Sama Badan Restorasi Gambut usai diskusi Pemetaan Gambut untuk Konservasi dan Restorasi lahan, di Jakarta, pekan lalu.

Target restorasi 1 juta hektar,  katanya, merupakan akumulasi 2016 seluas 600.000 hektar dan 2017 sebanyak 400.000 hektar. Dari target itu, 370.000 hektar di area non-konsesi dan 670.000 hektar dalam konsesi.

Berdasarkan data BRG, sudah ada 280.533 hektar lahan terkena upaya pemulihan gambut. Di luasan itu sudah ada pembangunan fisik, proses lelang dan proses pembangunan. Seluas 103.476 hektar merupakan restorasi difasilitasi pihak lain dan 177.057 hektar restorasi BRG.

 

Bawa ke COP

Sementara itu,  restorasi gambut dan lahan bekas terbakar menjadi salah satu bagian tercantum dalam dokumen kontribusi nasional (nationally determined contribution/NDC). Selama ini, kerja-kerja restorasi BRG dilakukan bersama masyarakat. Ia jadi bagian yang akan disampaikan dalam pertemuan COP-23 di Bonn, Jerman.

Selain BRG telah merestorasi sekitar 200.000 hektar, katanya,  juga pemberdayaan masyarakat pada 75 desa.

”Hingga tahun ini, sudah ada 75 desa, termasuk tiga desa di Merauke, sisanya berjalan,” kata Myrna A Safitri, Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan BRG, awal Oktober di Jakarta.

Sejak awal 2017, BRG bersama kelompok masyarakat telah membangun infrastruktur pembasahan, berupa sekat kanal, sumur bor, pengembangan komoditas lokal, pengembangan usaha perikanan, peternakan dan budidaya lebah madu. Ada juga uji coba pengelolaan lahan tanpa bakar melalui Program Desa Peduli Gambut.

Desa-desa itu, katanya, tersebar di enam provinsi prioritas target restorasi, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Papua.

BRG pun memperkirakan masih ada 1.205 desa dan kelurahan masuk target restorasi gambut hingga 2020. Kerja-kerja ini, katanya, merupakan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan penggalangan partisipasi dalam restorasi gambut.   ”Ada 36% anggaran BRG untuk kegiatan masyarakat,”  ucap Myrna.

Tahun ini, anggaran APBN BRG APBN Rp428 miliar, Rp152 miliar untuk kegiatan masyarakat dan Rp63 miliar belanja kepegawaian. Sisanya, untuk pemetaan dan kegiatan operasional lain yang masih berlangsung.

Tahun 2018, BRG menargetkan bekerja di 24 kawasan hidrologis gambut (KHG) pada provinsi prioritas.

Keterlibatan masyarakat tersebut itu, katanya, akan dipresentasikan dalam berbagai sesi di COP-23 di Bonn, Jerman.