Hati-hati! Konsumsi Penyu Berbahaya, Berikut Ini Penjelasannya…

Tim gabungan menemukan penyu hijau (Chelonia mydas), dengan kondisi yang mengenaskan, yaitu sudah dipotong dan siap dijual di Pasar Amurang di Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel), Sulawesi Utara, pada Rabu (28/09/2016). Foto : Asriade / Satker Manado -BPSPL Makassar

 

 

Masih banyak orang percaya mengonsumsi telur dan daging penyu bisa meningkatkan vitalitas. Faktanya, itu mitos belaka. Bahkan daging penyu mengandung protein yang sulit dicerna tubuh manusia. Kemampuan pasangan individu ini kawin berjam-jam tak berarti berpengaruh sama pada orang yang memakannya.

Indra Junaidi Zakaria, peneliti kelautan dan dosen Universitas Andalas, Padang memaparkan, telur dan daging penyu terus diburu mengindikasikan minat konsumen tinggi.  Banyak wilayah perdagangkan telur penyu, terutama di kawasan yang memiliki pantai peneluran. Salah satu Sumatera Barat, Padang, jadi pusat perdagangan telur penyu.

“Pembeli bukan hanya dalam negeri, juga negara tetangga,” katanya. “Mereka datang ke Padang untuk mengonsumsi telur penyu.”

 

Bawa penyakit

Dari penelusuran, telur-telur itu dari pesisir, Pulau Telur (Pasaman Barat), Pulau Pieh (Padang Pariaman), Pulau Tangah (Agam), Pulau Bindalang, Pandan, Toran (Padang), Pulau Penyu, Karabak Ketek, Karabak Gadang (Pesisir Selatan), dan Sibolga (Nias).

“Harga sebutir bisa Rp15.000. Pedagang mengaku bisa menjual 1.000 butir sebulan.”

Tingginya permintaan telur membuat para pencari telur gelap mata. Mereka menangkapi penyu baik jantan maupun betina.

“Telur itu ada yang diambil dari dalam perut penyu. Tak jarang yang jantanpun dibuka perutnya untuk mendapatkan telur,” katanya.  Hal itu terjadi karena mereka tak bisa membedakan antara penyu jantan dan betina.

 

Tukik yang baru menetas. Foto: Nuswantoro/ Mongabay Indonesia

 

Selain telur, penjual daging penyu juga ditemukan di Padang, dan Mentawai. Di pulau ini daging penyu dikonsumsi masyarakat dan jadi bagian dari adat istiadat. Beberapa kali muncul kasus kematian akibat mengonsumsi daging penyu di Mentawai.

Indra jadi salah satu pembicara dalam seminar “Integrasi Dokter Hewan, Lembaga Konservasi, dan Masyarakat dalam Upaya Pelestarian Penyu di Indonesia.” Seminar ini dilaksanakan oleh Kelompok Studi Satwa Liar Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, di Yogyakarta, akhir Oktober.

Ida Bagus Windia Adnyana, dokter hewan dan pakar konservasi dari Unversitas Udayana Denpasar menjelaskan, penyu laut membutuhkan berbagai jenis habitat. Ini membuatnya rentan terpapar berbagai penyebab penyakit.

Siklus hidup penyu unik dan sangat kompleks. Fase kehidupan bertempat di pantai, laut dangkal, laut dalam, dan kembali ke pantai. Beberapa jenis berpindah-pindah dari pesisir pantai satu ke lainnya, namun ada pula yang mengarungi luasnya samudera.

“Catatan saya sejak 1993, ada enam kasus korban meninggal dalam jumlah banyak setelah mengonsumsi daging penyu di Mentawai. Kita ambil sampel di sana, tidak ada virus, bakteri yang ditemukan. Dicurigai itu biotoksit.”

Menurut dia, jumlah korban akibat makan daging penyu sangat mungkin lebih banyak dari yang dilaporkan. Orang takut memberi keterangan yang sebenarnya, karena penyu hewan yang dilindungi.

“Hewan yang pindah-pindah tempat gampang kena penyakit. Kena polutan. Apalagi umurnya panjang.”

Penyu laut dewasa diketahui siap kawin pada umur 30-an. Usia hidup bisa puluhan bahkan seratusan tahun.

Jika ingin mengonsumsi makanan dari laut, kata Windia, agar aman pilih hewan berumur pendek, dan posisi di rantai makanan bawah.

Siklus hidup kompleks juga membuat penyu laut potensial menanggung beberapa sumber penyakit. Katanya, ada penelitian menemukan 28 jenis bakteri pada penyu. Terutama penyu yang dipelihara dan pernah kontak dengan manusia. Juga ditemukan penyakit jamur, dan TBC.

“Penyu sangat efisien menggunakan oksigen. Meski paru-parunya sebagian rusak masih bisa hidup.”

Virus juga banyak ditemukan pada penyu, misal, herpes virus respiratory disease. “Dulu tidak ada, sekarang kena. Berarti ada sesuatu di perairan kita sekarang.”

Belum lagi masalah pencemaran di lautan yang membuat tingkat residu logam berat dan senyawa organochlorine yang melampaui standar keamanan pangan internasional.

 

Fungsi penyu

Penyebaran empat jenis penyu yaitu belimbing, hijau, sisik, dan lekang cukup merata di Indonesia. Dua lainnya, pipih dan tempayan, tidak bertelur di perairan Indonesia.

Dwi Suprapti, penyelamat dan peneliti kelautan juga dari WWF mengatakan, tak heran jika saat bermain ke pantai bisa menjumpai penyu naik bertelur, karena memang di situlah habitatnya.

“Penyu lekang, bahkan tak harus di pantai yang minim aktivitas manusia. Di Pantai Kuta yang ramai, lekang masih mau bertelur.”

Secara ekologi, manfaat penyu punya peran vital. Penyu laut adalah hewan yang memiliki daya jelajah cukup jauh. Migrasi penyu berperan menyebarkan kesuburan di laut.

“Penyu hijau makanan utama lamun. Ketika lamun dimakan, biji ikut termakan, dikeluarkan lewat feces, lalu jatuh di tempat baru.”

Lamun diketahui merupakan daerah pemijahan ikan. Penyu hijau akan makan lamun yang panjang dan tua, dan membiarkan yang muda. Jadi sinar matahari bisa tetap menembus ke kedalaman laut. Dengan membiarkan lamun terjaga, penyu ikut menjaga kelestarian ikan di laut.

“Penyu menjadi ‘tukang rumput’ di padang lamun.”

Penyu juga berperan membantu pertumbuhan terumbu karang dengan memangsa sponge yang merupakan kompetitor terumbu karang.

“Penyu sisik makan sponge yang hidup di daerah karang. Penyu akan mematuk karang-karang tua. Karang tua patah, terbawa arus dan tumbuh di daerah baru. Jadi kita tidak capek-capek melakukan trasplantasi karang.”

Penyu belimbing makanan utama adalah ubur-ubur. Hewan ini memangsa benih ikan hingga keseimbangan populasi ubur-ubur juga mempengaruhi kelestarian ikan.

Namun sering ditemukan di dalam perut penyu belimbing terdapat plastik karena tak bisa membedakan ubur-ubur dan sampah plastik di laut.

“Di Kalimantan Barat ada fenomena ledakan ubur-ubur pada Maret hingga April. Air laut sampai nyetrum. Kalau ubur-ubur terlalu banyak maka ikan-ikan kecil akan mati. Jadi penyu mengontrol ledakan ubur-ubur, bisa ikut melestarikan ikan.”

Bisa dibayangkan, jika populasi penyu menurun atau musnah, maka terjadi ketidak seimbangan ekosistem, dan mengganggu rantai makanan di alam.

Menurut dia, ancaman penyu di Indonesia paling tinggi terkait pemanfaatan langsung telur, daging, dan karapas lewat perdagangan ilegal. Lalu kerusakan habitat, seperti pantai jadi tempat bertelur malah ada bangunan seperti hotel.

“Penempatan balok-balok pemecah ombak di pantai juga menghalangi penyu bertelur.”

 

Tukik dipindahkan ke ember sebelum lepas liar ke laut. Foto: Nuswantoro/ Mongabay Indonesia

 

Penanganan keliru

Ancaman kelestarian penyu selain datang dari luar, juga dari pusat konservasi, misal penetasan telur tidak memperhatikan suhu sebagai faktor keberhasilan penetasan.

Dalam penelitian rasio seks, penetasan penyu di Taman Nasional Meru Betiri, Sukamade, Dwi Suprapti menemukan tukik yang menetas di wadah ember 100% jantan. Yang dibiarkan menetas di pantai 100% betina.

“Karena takut dicuri, petugas menyimpan di dalam ember dan dimasukkan ke dalam ruangan. Tukik yang lahir jantan karena di ruang suhu dingin di bawah 27 derajat bahkan ada 24 derajat.”

Dia menerangkan, kelamin penyu dipengaruhi suhu saat 2/3 masa inkubasi. Kalau suhu tinggi telur menetas jadi tukik betina.

“Yang di pantai jadi betina karena vegetasi rusak. Jadi yang di pantai rusak jadi betina, direlokasi jadi jantan semua. Kalau dua-duanya terjadi bisa balance. Karena tidak dilakukan, menjadi ancaman populasi.”

Sayangnya, hal itu bertahun-tahun dilakukan hingga tidak ada penyu kembali naik karena tak terjadi perkawinan.

Windia juga menyatakan,  masalah malnutrisi mengancam penyu laut baik yang dipelihara maupun yang hidup di alam liar. Umumnya asupan pakan penyu terganggu. Jika penyu mengalami kecacatan kaki, mata, dan mulut maka aktivitas mencari makan akan terganggu. Kecacatan bisa bermula dari penanganan tukik yang tidak tepat di tempat konservasi.

Telur yang terpapar bakteri saat dipindah-pindahkan juga berpotensi menyebabkan kecacatan pada tukik.

Dwi dan Windia mengingatkan, tidak sering kontak langsung dengan penyu laut. Tukik yang menetas sebaiknya segera dilepas ke laut. Kalau terpaksa memegang penyu harus dilakukan dengan tepat.

“Jangan memutar balik penyu. Karena bagian dalam tidak bersekat. Jika bolak balik sususan organ bagian dalam bisa terpelentir,” kata Dwi.

“Jangan letakkan penyu terlentang, karena menghambat pernafasan penyu. Jika penyu tidak sadar, posisikan bagian belakang lebih tinggi dari kepala hingga air yang tertelan bisa keluar.”

 

Tukik penyu lekang merayap di pesisir pantai Samas, Bantul untuk mencapai habitatnya di Laut Selatan Jawa. Foto : Tommy Apriando/ Mongabay Indonesia