Skenario Terburuk: Hanya Ada 30 Badak Sumatera yang Tersisa di Alam Bebas

Mongabay menampilkan seri tulisan tentang badak sumatera, spesies ikonik yang terancam punah dari muka bumi. Tulisan ini merupakan tulisan pertama dari 4 tulisan yang diterbitkan secara berturutan.

Haerudin R. Sadjudin (62), lelaki berperawakan kecil, selalu tersenyum dan bersikap ramah, dia mulai bercerita tentang pengalaman hidupnya yang kaya. Sejak tahun 1975 dia menyebut telah melakukan riset dan kajian tentang badak, baik badak jawa maupun badak sumatera.

Saat ini dia bekerja di Yayasan Badak Indonesia (YABI), sebuah lembaga konservasi badak, sebagai manajer program. Selama pengalaman hidupnya, sudah 31 kali dia melihat badak jawa (Rhinoceros sondaicus) di alam bebas. Tiga kali diserang badak jawa, termasuk sekali harus melompat dari sampan dan berpegangan pada sebatang pohon. Ironisnya, dalam 40 tahun lebih mempelajari badak, baru sekali saja dia melihat badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) di alam liar!

Indikasi ini menyoroti bagaimana sangat terancamnya populasi badak sumatera. Amat langka dan hampir hilang di alam.

Dunia tahu persis berapa banyak badak Jawa yang tersisa: 67, termasuk empat anak yang lahir tahun ini. Ini karena metode survei yang digunakan konsisten; menggunakan kamera jebak, dan karena semua badak jawa bertahan di satu wilayah, yaitu TN Ujung Kulon. Meskipun populasinya kecil namun stabil, bahkan tumbuh setiap tahunnya.

Sebaliknya, badak sumatera terus menghilang dari depan mata. Kita pun tidak tahu berapa banyak yang telah hilang, atau berapa jumlah pasti individu yang tersisa.

Pada tahun 1986, spesies ini ditambahkan ke dalam Daftar Merah IUCN sebagai satwa terancam punah (Endangered). Para ilmuwan saat itu meyakini ada sekitar 425 sampai 800 badak sumatera yang tersisa di bumi. Pada tahun 1996, ketika spesies tersebut terdaftar sebagai amat terancam punah (Critically Endangered), jumlahnya turun menjadi 400. Kemudian di tahun 2008, perkiraan tersebut turun menjadi 275. Tujuh tahun kemudian, angka resmi menyebut hanya tersisa 100 individu badak sumatera. Dalam 20 tahun, hampir dua pertiga populasinya hilang begitu saja.

Kebanyakan ahli percaya angka 100 individu untuk badak sumatera terlalu tinggi. Namun, tidak ada seorangpun pakar yang saya wawancarai yang dapat memberitahu dengan penuh keyakinan, menyebut berapa jumlah badak sumatera tersisa di alam liar.

“Sangat sulit untuk menghitung badak sumatera, karena medan habitatnya, karena perilakunya,” jelas Bibhad Talukdar, Ketua Kelompok Spesialis Rhino Asia IUCN. “Tapi yang jelas, jumlah spesies ini pasti telah menurun. Ini amat mengkuatirkan. ”

Saat ini, badak sumatera terbagi dalam empat kelompok wilayah yang berbeda. Ada sebuah kelompok di TN Way Kambas di pantai timur Lampung, satu di TN Bukit Barisan Selatan di pantai barat Lampung. Satu kelompok populasi di Sumatera bagian utara, di kawasan ekosistem Leuser. Serta, terakhir populasi yang baru ditemukan di Kalimantan Timur.

Para ilmuwan yang telah bekerja selama puluhan tahun pun tak mampu untuk mengestimasikan jumlah yang akurat dari tiap populasi yang terpencar-pencar ini.

 

Lokasi TN Bukit Barisan Selatan, TN Way Kambas dan TN Kerinci Seblat.

 

Bukit Barisan Selatan

“Kontroversial,” adalah istilah yang digunakan Haerudin untuk menggambarkan jumlah badak di TN Bukit Barisan Selatan.

Perkiraan resmi jumlah badak yang masih hidup di taman tersebut adalah 17 sampai 24. Beberapa ahli mengutip angka tersebut, namun kemudian mengatakan bahwa kemungkinannya tidak tepat. Estimasi terendah jumlahnya kurang dari 10.

Arief Rubianto, manajer Rhino Protection Unit (RPU), memperkirakan jumlahnya sekitar 12 individu. Haerudin memberikan pandangan yang sedikit berbeda, dengan angka optimis: 15 atau kurang. Arief dan Haerudin mendasarkan perkiraan ini pada tanda-tanda keberadaan badak yang dikumpulkan oleh RPU di lapangan, seperti jejak kaki, kotoran dan kubangan. Namun, ahli lain tidak sependapat angka itu.

John Payne, Direktur Borneo Rhino Alliance (BORA) lebih pesimis, dia menyebut satu-satunya bukti kuat yang dia lihat tentang badak di Bukit Barisan adalah foto jepretan kamera jebak tahun 2014 yang menunjukkan hanya tinggal satu atau dua badak. Sejak itu, kamera jebak gagal mencatat adanya individu badak sumatera.

“[Individu badak itu mungkin] sudah mati sekarang bisa karena usia tua atau karena kanker,” katanya. Payne, yang menjadi saksi kepunahan spesies ini dari alam liar di Sabah, meyakini badak telah punah pula di Bukit Barisan.

Skenario kasus terbaik: 12 sampai 15 badak tersisa. Kasus terburuk: punah

 

Kalimantan

Pada tahun 2013, WWF membuat pengumuman yang menakjubkan. Mereka menemukan sisa populasi badak sumatera yang masih hidup di Kalimantan. Mereka menyebut angka 15 badak.

Tahun lalu, WWF-Indonesia berhasil menangkap seekor badak betina di sana (diberi nama Najaq), namun dia kemudian mati dalam perawatan staf WWF, yang mana peristiwa itu lalu banyak mendapat kritikan.

Dengan satu badak yang mati, jumlah di Kalimantan turun sampai ke perkiraan resmi 14.

Namun, baik Payne dan Haerudin menyebut bahwa mereka tidak pernah melihat bukti lebih dari tiga badak – atau hanya dua hari ini. Payne menyebut laporan WWF tentang penemuan di Kalimantan mengkonfirmasi hanya tiga badak, “Namun dalam laporan resmi mengembang sampai berjumlah 15 individu.”

Haerudin sependapat. Dia mengatakan kamera jebak mengkonfirmasi adanya betina dan anaknya. Tapi apa yang terjadi dengan jantannya? “Mungkin dibunuh pemburu liar,” jelasnya

Tentu, bukan tidak mungkin ada badak lain di Kalimantan. Dalam laporannya, WWF menyebut ada individu soliter lainnya. Organisasi ini saat ini sedang membangun fasilitas di Kalimantan Timur untuk menampung badak yang akan ditangkap.

Saat ditanya untuk keperluan artikel ini, WWF tidak menanggapi pertanyaan tentang apakah mereka memiliki bukti lebih dari dua badak.

Skenario kasus terbaik: 14. Kasus terburuk: Dua.

 

TN Way Kambas, salah satu habitat badak tersisa di Sumatera. Foto: Rhett Butler/Mongabay

 

Way Kambas

Para ahli menunjuk TN Way Kambas selain TN Gunung Leuser sebagai harapan terbesar untuk kelangsungan hidup badak sumatera di alam liar.

Secara positif, beberapa ahli percaya ada 30 individu atau lebih yang hidup di Way Kambas dan masih berkembang biak. YABI memiliki foto anak badak jepretan kamera genggam dari tahun ini yang diambil oleh anggota RPU. Sejumlah ahli percaya bahwa populasi di sini berkembang, berbeda dengan model keseluruhan populasi.

Namun, jumlah badak yang muncul pada kamera jebak menurun di Way Kambas.

Arief menyebut ini karena populasi badak sedang berkonsolidasi di daerah terpencil untuk menghindari gangguan dan aktivitas ilegal yang terus berlanjut oleh manusia, termasuk perambahan, perburuan dan kebakaran.

Tapi tidak semua orang percaya argumen ini. Beberapa peneliti bertanya: Jika ada begitu banyak badak, mengapa hanya sedikit yang muncul pada kamera jebak? Way Kambas tidak hanya dipatroli oleh RPU, tapi juga Wildlife Conservation Society Smart Patrol. Patroli ini menemukan sedikit tanda-tanda badak, lebiih banyak tentang gajah yang dibunuh para pemburu liar.

“Beberapa waktu lalu, kami menemukan dua lagi gajah betina dewasa,” jelas Wulan Pusparini, peneliti konservasi di WCS. “Ini adalah taman yang sangat kecil, dan situasi gajah sekarang sekarat. Jadi, bagaimana situasi badak yang culanya lebih berharga ketimbang gading? Jika gajah lenyap dari Way Kambas, masuk akal kemudian badak yang jadi sasaran.”

Payne menyebut berdasarkan bukti yang dia punya, Way Kambas memiliki maksimal 12 badak, mungkin lebih sedikit. Mungkin ada beberapa betina yang masih bisa melahirkan, tapi bukan berarti populasinya lestari.

Skenario kasus terbaik: 30-plus. Kasus terburuk: 12.

 

Lokasi TN Gunung Leuser

 

Leuser

TN Leuser terbentang di dua provinsi, Aceh dan Sumatera Utara. Para ahli berpendapat Leuser merupakan lokasi terbaik untuk badak dapat bertahan dalam jangka panjang. Wulan dan Payne sama-sama percaya bahwa Leuser, bukan Way Kambas, adalah tempat paling menjanjikan untuk badak sumatera di alam liarnya.

“[Namun populasinya] yang paling tidak diketahui,” kata Payne. “Beberapa puluh. Mungkin. Hanya itu yang bisa dikatakan. “

Tapi Haerudin menyebut hal berbeda. Ketidakpastian yang sedang berlangsung berarti ada kemungkinan populasinya kurang dari 15 individu. Dia juga mengatakan perburuan di sini lebih buruk daripada di tempat lain. Yang memprihatinkan, tahun ini dua cula badak disita dari pemburu yang diduga berasal dari wilayah Leuser yang ada di Sumatera bagian utara.

Di sisi yang optimis, para konservasionis tampaknya memiliki foto kamera jebak dari badak yang lebih baru di Leuser daripada di tempat lain. Dari jumlah tersebut, mereka telah mengidentifikasi setidaknya 12 individu. “Kami sama sekali tidak tahu tentang Leuser karena medannya berbatu dan habitat pegunungan,” kata Susie Ellis, Direktur IRF. “Ini adalah tempat yang sulit untuk melakukan survei.”

Skenario kasus terbaik: 30-plus. Kasus terburuk: Kurang dari 15.

 

Badak sumatera betina dan anaknya di Suaka Rhino Sumatera. Badak sumatera adalah spesies badak terkecil, dan berbulu. Diyakini hanya tersisa puluhan ekor di alam bebas. Foto: Rhett Butler/Mongabay.

 

Penangkaran

Satu-satunya badak sumatera yang mudah dihitung adalah yang ada di penangkaran. Saat ini ada dua badak, jantan dan betina, di fasilitas BORA di Sabah, Malaysia. Ada tujuh badak lainnya di SRS (Suaka Rhino Sumatera), tepat di dalam TN Way Kambas. Dua diantaranya badak muda: Andatu lahir tahun 2012 dan Delilah tahun 2016. Keduanya mewakili sebuah harapan, meski ancaman kepunahan terus berlangsung.

Total di penangkaran: Sembilan.

 

Sabah and Kerinci Seblat

Badak sumatera pernah tersebar luas di Asia Tenggara, berkeliaran dari Himalaya Bhutan dan India ke China selatan dan turun ke semenanjung Malaya. Sekarang semuanya telah punah.

Pada 2015, Sabah dikonfirmasi sebagai tempat terakhir yang kehilangan badak dari alam liar. Enam tahun sebelumnya, para ahli memperkirakan ada 34 badak yang tersisa di Sabah. Mereka benar-benar salah.

“Pada saat penangkapan dimulai, kami baru menyadari hanya tersisa empat atau lima individu saja,” kata Talukdar.

Saat ini, sejarah genetik Sabah yang panjang hanya diwakili oleh dua individu di pusat penangkaran. Hanya saja mereka tidak bisa berkembang biak secara alami: Tam memiliki sperma yang buruk, sementara Iman memiliki tumor di rahimnya, yang kemungkinan disebabkan oleh kehidupan tanpa seks.

Payne meyakini jumlah populasi badak sumatera angkanya telah dilipatgandakan. Dia sendiri bekerja dengan spesies ini selama beberapa dekade di Sabah.

“Ketika saya melihat kembali rincian perkiraan jumlah badak sejak tahun 1970-an, dalam menentukan jumlah minimum badak yang ada, orang membuat dugaan wilayah mana yang pernah terlihat ada badaknya, lalu membuat dugaan jumlah badak yang serupa di tempat yang belum pernah mereka lihat,” jelas Payne.

“Jadi Anda bisa menemukan tiga ekor badak, diestimasi mungkin ada enam di sana, lalu digandakan dua kali lipat menjadi dua belas individu, dengan asumsi ada beberapa badak di tempat lain.” Inilah yang terjadi di Sabah, dan mungkin juga tempat-tempat lain.

“Badak sumatera besar dan berbeda. Mudah untuk menemukan tanda-tanda jika mereka [memang] ada. Jika Anda tidak menemukan tanda-tanda, maka tidak ada badak. Sesederhana itu,“ lanjut Payne.

Malaysia bukan satu-satunya tempat dengan jumlah estimasi individu yang dibuat tinggi. Sudah bertahun-tahun, ini pun terjadi di Indonesia.

Pada tahun 1990, para ahli memperkirakan bahwa TN Kerinci Seblat, di pantai barat Sumatera, sebelah utara Bukit Barisan Selatan, disebut rumah bagi 500 individu badak, benteng terbesar untuk spesies ini. Pada tahun 2004, para ahli mengumumkan badak telah punah di sana. Lenyap sama sekali. Penurunan jumlah populasi dari 500 menjadi nol hanya dalam 14 tahun. Tampaknya ada kesalahan dalam perhitungan perkiraan jumlah populasi badak hingga 500.

“Yang bisa saya katakan adalah, semua orang termasuk saya sendiri, selalu menghitung jumlah yang terlalu tinggi,” kata Payne. “Kami lalu menyadari, mereka ternyata kurang dari angka yang kita duga.”

 

Dua bayi badak sumatera telah dilahirkan di SRS. Namun tingkat reproduksi badak sumatera tetap terlalu lambat untuk membalikkan keseluruhan penurunan populasi. Foto: Rhett A. Butler/Mongabay.

 

Jadi Berapa Angka Pasti Populasinya?

Hampir semua pihak menyangsikan angka 100 untuk individu badak sumatera tersisa. Angka itu biasanya mengacu kepada keterangan pejabat, dan bukan hasil penelitian resmi. Angka minimum yang disebut para pakar adalah hanya tersisa 50-60 individu yang ada di alam. Namun dengan menghitung untuk setiap lokasi yang ada, maka jumlah individu yang tersisa lebih menciut lagi. Skenario paling pesimis: 30 individu (dengan angka paling optimis sekitar 90).

“Mari kita pikirkan jumlah minimum yang kita percayai,” kata Talukdar.

Dia memperkirakan angkanya kurang dari seratus tapi dia tidak mau berspekulasi lebih lanjut. Jika kita percaya pada angka minimum terburuk, bukan yang terbaik seperti yang terjadi di masa lalu, kita dapat melihat masalahnya dari sisi sudut pandang yang berbeda.

Sebuah penelitian tentang Analisis Kelayakan Populasi 2015 (pdf) menyebut bahkan tanpa ancaman yang dihasilkan manusia seperti perburuan liar pun, populasi badak sumatera masih terus menghadapi “ancaman kepunahan yang tinggi”. Riset menyebut jumlah populasi minimal untuk dapat bertahan adalah 15 individu yang sedang berbiak atau 40 individu tanpa pembiakan.

Ini berarti tidak ada satupun lokasi yang aman. Leuser dan Way Kambas memiliki peluang terbaik jangka panjang, namun hanya berlaku dalam skenario optimis. Dalam skenario terburuk, keempat kelompok populasi bakal menghadapi risiko kepunahan segera. Bagaimana dengan sembilan badak di penangkaran? Tidak cukup, mengingat baru dua yang berhasil dibiakkan.

Sebuah tindakan segera diperlukan, caranya menangkap badak dari alam liar untuk dibawa ke penangkaran, untuk memastikan mereka mampu bertahan. Jika tidak mampu bertahan di alam liar, setidaknya di penangkaran. Dengan harapan suatu hari nanti mereka bisa dikembalikan ke hutan, rumah alaminya.

Memang, skenario terburuk tampaknya hanya terdapat dua pilihan: menangkap badak untuk penangkaran, atau hanya berdiam sendiri dan melihat tiba waktunya spesies tersebut punah. Saat ini, para pemangku kepentingan tampaknya memilih yang terakhir (Diterjemahkan oleh: Ridzki R Sigit).

 

Tulisan ini telah mengalami penyuntingan. Artikel asli berbahasa Inggris di Mongabay.com dapat anda jumpai dalam tautan ini.

 

 

Artikel yang diterbitkan oleh
, ,