Adakah Solusi Terbaik untuk Selamatkan Badak Sumatera?

Andatu, jantan usia lima tahun yang dilahirkan di Suaka Rhino Sumatera (SRS), Way Kambas. Foto: Jeremy Hance/Mongabay

Mongabay menampilkan seri tulisan tentang badak sumatera, spesies ikonik yang terancam punah dari muka bumi. Tulisan ini merupakan tulisan ketiga dari 4 tulisan yang diterbitkan secara berturutan. Artikel sebelumnya dapat Anda jumpai dalam tautan ini.

Andatu, badak jantan berusia lima tahun mendorong kepalanya di antara jeruji besi dan mencuit ke arah saya, sapaannya terdengar seperti bunyi lumba-lumba. Ia menarik kembali kepalanya sembari mendengus, khas embusan nafas badak. Ia seperti ingin mengatakan bahwa ia lapar, dan ia tampaknya sudah tak sabar.

Di belakang saya, para keeper badak di Suaka Rhino Sumatera (SRS) sedang menyiapkan makanan, beragam buah dan dedaunan untuknya.

Kelahiran Andatu adalah berita baik bagi masa depan spesies ini. Ia lahir tahun 2012, bayi badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) pertama yang dilahirkan di SRS, sekaligus juga yang pertama di lokasi penangkaran di Indonesia. Pada tahun 2015 lahir adiknya, badak betina Delilah. Keduanya seakan mewakili harapan dibalik cerita suram ancaman kepunahan bagi spesiesnya.

Jumlah resmi jumlah badak sumatera yang tersisa di alam liar sekitar 100, mengelompok di empat lokasi; tiga di Sumatera dan satu di Kalimantan Timur, Indonesia. Tapi hampir setiap ahli yang saya ajak bicara mengatakan bahwa angka itu diragukan. Tidak ada yang tahu pasti berapa banyak yang tersisa. Skenario terbaik populasi liar adalah 90 dan skenario terburuknya hanya tersisa 30 individu. Satu yang jelas, populasi mereka sedang terus menurun.

Meski upaya konservasi telah dilakukan dalam beberapa dekade ini, jika badak sumatera punah, maka kita bukan hanya kehilangan suatu spesies, tapi keseluruhan genus.

Badak Sumatera adalah satu-satunya spesies yang masih hidup di kelompok Dicerorhinini yang berkembang 15 juta sampai 20 juta tahun yang lalu. Dia adalah peninggalan evolusi yang hidup, gema dari masa lalu, genus yang pernah menjelajahi wilayah seluas Eurasia. Satu-satunya kerabat hidup dari badak berambut wol, yang sudah punah diburu oleh manusia zaman es sekitar 10.000 tahun lalu.

Dan badak sumatera, -setidaknya menurut saya, adalah badak yang paling potensial untuk dicintai dunia: mereka kecil (untuk ukuran badak), berbulu aneh, dan paling suka bersuara dari semua spesies badak. Amat sulit ketika kita berjumpa dengan badak sumatera ini, tanpa kita langsung jatuh cinta terhadap satwa pemalu pengembara yang hidup di hutan tropis ini.

 

Tim Ranger yang sedang berpatroli di TN Way Kambas. Foto: Rhett Butler/Mongabay

 

Model SRS

Saya menghabiskan satu hari penuh sebagai tamu SRS, di mana saya bisa bertemu dengan lima dari tujuh badak yang dirawat di lokasi ini. Terlepas dari prospek suram spesies ini di alam liarnya, suasana SRS penuh dengan harapan dan kegembiraan. Saya kebetulan berada saat para staf merayakan ulang tahun Andalas, ayah Andatu dan Delilah. Ada sesi bernyanyi, foto, pemasangan spanduk dan kue besar yang terbuat dari beragam buah tropis. Sebagai respon perayaan ulang tahunnya, Andalas pun mendengus dan meringkik di kandangnya.

Tim SRS patut berbangga hati dengan capaian mereka selama ini. Ada dua bayi badak sumatera yang lahir di tempat ini dalam tempo lima tahun. Mereka pun terus berkomitmen untuk bekerja lebih keras lagi.

Sebagai bagian dari optimisme ini, SRS berencana untuk berekspansi jauh kedalam hutan dataran rendah TN Way Kambas. Ekspansi ini akan menambah 100 hektar lagi dari luas saat ini, yang sekitar 120 hektar. Rencana ini juga akan mencakup pembangunan ruang laboratorium dan tempat observasi bagi para peneliti.

Area baru juga akan mencakup paddock yang lebih besar untuk memfasilitasi ruang gerak Andatu. Harapannya, kehadiran si badak jantan Andatu, dapat menarik hadirnya badak betina liar dari kawasan TN Way Kambas yang berdekatan.

Duduk di ruang pertemuan SRS, Bibhab Talukdar, ketua Kelompok Spesialis Rhino Asia IUCN. Dia menyebut fasilitas SRS telah mengubah “keseluruhan konsep pemuliaan konservasi di Indonesia.” Titik tolak sebuah paradigma baru.

Menurutnya, pemerintah Indonesia menjadi semakin yakin dengan kerja yang dilakukakn oleh SRS. Lokasi ini pun dinobatkan sebagai model untuk upaya penangkaran bagi masa depan kelestarian satwa seperti badak di Indonesia.

Tapi SRS masih memiliki satu kelemahan mencolok saat ini. “Kami butuh darah baru,” kata drh. Zulfi Arsan, kepala dokter hewan SRS, beberapa waktu lalu kepada saya.

Yang dia maksudkan adalah bahwa sebagian besar badak di sini memiliki hubungan kekerabatan. Termasuk tiga jantan Andalas, Andatu (anak Andalas) dan Harapan. Harapan adalah adik dari Andalas, keduanya sama-sama lahir di Cincinnati zoo. Hal ini berarti, setiap keturunan baru akan berbagi garis keturunan yang sama. Jika  ini terjadi, SRS mungkin bisa mengembangbiakkan lebih banyak badak, tapi tidak akan bisa mendukung populasi jangka panjang karena kurangnya keragaman genetik.

Selain itu, jumlah individu yang ada di penangkaran, baru benar-benar berfungsi sebagai suatu populasi penyangga dari kepunahan, jika ada lebih banyak individu badak yang dibutuhkan. Analisis kelayakan populasi 2015 (pdf) menemukan bahwa populasi badak sumatera membutuhkan setidaknya 15 individu agar dapat terus bertahan (viable).

Saat ini, ada sembilan individu badak sumatera yang hidup di penangkaran: tujuh di SRS dan dua di Sabah, Malaysia. Hanya dua, pasangan Andalas dan Ratu, yang sejauh ini terbukti mampu berkembang biak.

Tanpa tambahan badak lagi – tanpa “darah baru” – sangat mungkin populasi penangkaran kedepannya menyusut sampai punah. Dalam 30 tahun, Andatu dan Delilah bisa jadi yang terakhir dari jenisnya. Seperti cerita tentang badak putih afrika hari ini, yang hanya tersisa tiga individu yang itupun mulai mengalami penuaan.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, dunia melihat matinya individu badak yang ada di penangkaran. Puntung, betina yang mati di bulan Juni lalu di fasilitas BORA, Sabah pada umur 25 tahun, dan Suci, betina adik dari Andalas dan Harapan yang mati pada usia 10 tahun di Cincinnati zoo. Meski menyedihkan, tapi apa yang terjadi di alam liar, lebih buruk lagi.

 

drh Zulfi Arsan, dokter hewan kepala SRS saat memberi makan Andalas. Foto: Jeremy Hance/Mongabay.

 

Konsensus Baru

Pada tahun 2015, Wulan Pusparini, peneliti di Wildlife Conservation Society (WCS), dan juga seorang ahli badak menulis sebuah survei tentang populasi badak sumatera yang diterbitkan dalam jurnal PLOS One.

“Masih cukup optimis,” katanya. “Tapi sejak jurnal itu diterbitkan dan selama bertahun-tahun setelahnya kami melihat apa yang terjadi. Saya lalu jadi tidak terlalu optimis lagi.”

Makalah tersebut menyimpulkan bahwa tanpa ada upaya untuk melakukan aksi, kepunahan badak akan terjadi. Namun sampai saat ini, tidak ada rekomendasi dari kertas posisi saintis itu yang telah diimplementasikan sepenuhnya.

Dengan angka di alam liar mungkin hanya beberapa puluh individu badak sumatera tersisa, tindakan cepat dibutuhkan sekarang, lebih dari yang pernah dilakukan jauh sebelumnya. Menurut sebagian besar ahli, dua populasi -di Kalimantan Timur dan Bukit Barisan Selatan, di Lampung, tidak lagi layak untuk jangka panjang. Dua populasi lainnya – di Way Kambas, Lampung dan Gunung Leuser, Aceh/Sumut- dinyatakan masih dapat bertahan. Namun tanpa bukti kuat apakah kedepannya mereka masih dapat meningkat atau menurun.

Skenario terburuk, populasi itu berangsur-angsur menuju kepunahan, baik disebabkan masalah rendahnya reproduksi dan diperburuk oleh perburuan dan jerat seperti yang yang terjadi di Sabah – dan sebelum itu di Bangladesh, India, Thailand, Vietnam, Laos, Myanmar, Tiongkok dan semenanjung Malaysia.

Sampai saat ini sejak berdekade lalu, perdebatan mengenai apa yang harus dilakukan tentang perlindungan badak sumatera masih berkutat pada dua narasi berbeda.

Pandangan pertama yaitu perlunya perlindungan aktif dan agresif di alam liar lewat memerangi perburuan dan penjarahan, dan melindungi populasi yang masih hidup.

Pendekatan kedua, meski belum didukung sepenuhnya, adalah mengumpulkan sebanyak mungkin badak ke lokasi penangkaran seperti SRS. Singkatnya “buat lebih banyak bayi”, baik lewat cara alami (seperti untuk pasangan Andalas dan Ratu) atau melalui teknik canggih seperti pembuahan in-vitro.

John Payne, kepala Aliansi Rhino Borneo, meringkas argumen kedua. Dia menyebut tindakan cepat perlu dilakukan, alih-alih dana, waktu dan usaha hanya diinvestasikan untuk upaya memantau dan mensurvey populasi.

“Mengapa repot-repot menghitung badak [di alam liar], jika tujuannya untuk membuat mereka berkembang biak?” tanyanya.

 

Andatu, bayi badak pertama yang dilahirkan di penangkaran di Indonesia. Foto: Jeremy Hance/Mongabay.

 

Kesulitan bagi spesies ini, dibarengi dengan betapa sulitnya badak sumatera bereproduksi. Seperti umum terjadi untuk mamalia besar, badak sumatera lambat bereproduksi. Betina baru mencapai dewasa seksual pada usia 4 tahun, dan jantan pada usia 7 tahun. Waktu gestasi (masa di dalam kandungan) berlangsung sampai 15-16 bulan, dan anak perlu beberapa tahun lagi sampai ia lepas mandiri dari induknya.  Masa ovulasi hingga pembuahan diantara jantan dan betina sampai saat ini pun masih misterius.

“Jika betina tidak segera hamil dan berkembang biak, mereka kehilangan kemampuan reproduksi selamanya,” jelas Susie Ellis, Direktur International Rhino Foundation (IRF), yang mendukung pengelolaan SRS.

Seiring jumlah mereka yang menyusut selama bertahun-tahun, betina akan menemukan lebih sedikit jantan di sekitarnya. Mereka semakin tidak subur karena kurangnya aktivitas berkawin. Begitu terkena mioma atau bahkan kanker rahim, selamanya mereka tidak bisa mengandung dan  berkembang biak lagi.

Perdebatan terus berlangsung tentang pendekatan mana yang paling cocok untuk kelestarian populasi. Proteksi dan pemantauan terus berlanjut, namun mungkin tidak akan mampu menyelamatkan keseluruhan populasi. Dalam tahun 2017 saja, di Sumatera Utara telah dua kali diijumpai temuan cula ilegal yang sedang diperdagangkan. Populasi terus menurun, sementara seruan  tidak memburu badak banyak diabaikan.

“Beberapa keputusan penting harus segera diambil,” ungkap Talukdar. Baik penangkaran maupun perlindungan intensif di alam bebas ada pro dan kontranya, jelasnya. Namun, hanya duduk diam pastinya tidak akan membantu. “Ini saatnya mengambil langkah drastis, langkah proaktif untuk menyelamatkan spesies ini.”

Pergeseran terjadi, paling tidak di antara ahli badak. Hampir semua dari 15 ahli yang saya ajak bicara sepakat bahwa sudah waktunya untuk mulai menangkap badak dari alam liar dan membawa mereka ke SRS, atau membangun lebih banyak institusi mirip SRS untuk menampung badak liar.

Sebagian besar ahli mendukung pilihan menangkap individu badak dari Kalimantan dan Bukit Barisan Selatan, plus menangkap beberapa individu lagi dari kawasan Way Kambas dan Leuser untuk pengayaan genetik .

Gagasan untuk menyelamatkan mamalia besar yang populasinya sangat kecil melalui penangkaran memang ada presedennya. Contoh terbaik adalah bison eropa, yang diselamatkan dari kepunahan total atas kerja keras bersama dari kebun-kebun binatang di dunia. Dari hanya 12 individu tersisa, populasinya sekarang telah berkembang menjadi lebih dari 5.000. Spesies ini pun telah diintroduksikan kembali di habitat alaminya di Eropa Timur.

Konsensus tentang menangkap lebih banyak badak adalah suatu terobosan baru. Payne mengatakan kepada saya “keseluruhan gagasan untuk menangkap badak, nyaris benar-benar ditolak oleh hampir semua orang sampai sekitar bulan Mei tahun ini.”

Namun, pada akhir Lokakarya Internasional di bulan Mei lalu para pakar pun mengambil kata sepakat. Panel ahli merekomendasikan agar semua badak harus ditangkap dengan cepat dari Bukit Barisan Selatan dan Kalimantan, termasuk menangkap badak liar subur dari Way Kambas. Rekomendasi ini kemudian diteruskan ke pemerintah Indonesia.

“Yang bisa saya katakan adalah situasinya masih tampak suram bagi badak sumatera di alam liar,” kata Widodo Ramono, Direktur Eksekutif lembaga konservasi badak YABI. “Itu merupakan hasil keputusan bersama. Sekarang yang bisa kita lakukan adalah mengumpulkan semua badak yang kita miliki, dan mencoba membuatnya hidup berdekatan.”

 

Plang masuk kawasan SRS di TN Way Kambas. Foto: Jeremy Hance/Mongabay

 

Widodo menggarisbawahi bahwa menempatkan badak “bersama dan berdekatan” tidak berarti harus ditempatkan dalam kandang seperti SRS. Dalam kasus seperti Way Kambas atau Leuser, itu bisa saja berarti di “zona pengelolaan intensif”, sebuah area khusus dimana badak dikonsolidasikan. Setiap individu yang terputus habitatnya dibawa masuk ke sana. Zona pengelolaan itu kemudian dilindungi dan disurvei dengan ketat.

Wulan dari WCS juga sepakat, sudah waktunya untuk mulai menangkap badak. Tapi dia menambahkan bahwa seharusnya jika semua berjalan baik sejak dahulu, semua harusnya tidak berakhir seperti yang terjadi saat ini.

“Mereka sudah pernah bilang di tahun 1980-an bahwa penangkaran adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan badak, sekarang kita sudah di tahun 2017. Ini terjadi karena kita [ragu mengambil tindakan] untuk menyelamatkan populasi liar saat itu,” katanya.

Uang yang seharusnya dialokasikan untuk penangkaran pada tahun 1980-an, katanya banyak diperuntukkan mendukung lebih banyak penjagaan hutan dan memberikan pelatihan-pelatihan. “[Karena saat itu] pilihan perlindungan di alam liar tidak semahal program penangkaran berteknologi tinggi. Sekarang mereka bisa bilang ‘Lihat, satu-satunya solusi adalah penangkaran’ dan ya sekarang itu benar.”

Apapun faktanya, kenyataan sekarang adalah bahwa kesempatan terbaik bagi badak sumatera untuk bertahan dalam jangka panjang, -dan bisa dibilang satu-satunya kesempatan, adalah dengan cara populasi penangkaran yang kuat dan besar. Jumlah populasi itu diperlukan untuk menjaga eksistensi badak sumatera, agar tidak mengikuti nasib sepupu jauhnya badak wol yang telah punah.

“Minimal, kita butuh sekitar 20 individu dewasa,” jelas Ellis. Dia menekankan pentingnya kemampuan badak yang ditangkap untuk bereproduksi. “SRS harus menjadi pusat pembibitan, bukan lokasi panti wreda buat badak.”

Tapi meski konsensus tampaknya telah tercapai, belum ada yang terjadi. Apa faktornya? Hampir semua orang yang saya ajak bicara menyebut satu hal: menunggu langkah kebijakan pemerintah. (Diterjemahkan oleh: Ridzki R Sigit).

 

Tulisan ini telah mengalami penyuntingan. Artikel asli berbahasa Inggris di Mongabay.com dapat anda jumpai dalam tautan ini.