Setelah Kehadiran Sawit di Gane, Begini Nasib Warga dan Lingkungan

 

 

Hardi Salmin, tampak murung. Dia tak mampu menyembunyikan kesulitan yang kini mereka hadapi di Gane Dalam, Halmahera Selatan, Maluku Utara. Kampung-kampung yang berada di dekat konsesi perusahaan sawit, PT Korindo menghadapi beragam persoalan, dari lahan kebun tergusur, kerusakan hutan, penutupan sungai sampai serangan hama kumbang kelapa dan kakatua memakani pala petani.

Kala datang ke Kantor Walhi Malut di Ternate, Hardi cerita, sungai- sungai kecil sumber air bagi warga yang berkebun di hutan itu ditimbun perusahaan. Warga yang ke kebun jadi kesulitan air bersih.

“Saat ini, perusahaan menggusur lahan dan menutup sungai- sungai jadi sumber air warga. Hasil penelusuran warga ada empat sungai ditutup,” kata Hardi, tokoh masyarakat Gane, Halmahera Selatan, Maluku Utara, baru-baru ini.

Sungai- sungai itu, katanya, sudah tertimbun tanah dan becek karena pepohonan tersisa ditebang. Di Lemo dan Malalo, Desa Gane Dalam, ada empat sungai ditutup. Meski ada aksi perusakan seperti ini, katanya, tak ada sanksi kepada perusahaan.

“Perusakan lingkungan sudah begitu nyata tetapi belum ada langkah pemerintah.”

Penutupan sungai-sungai, katanya, bikin warga makin sulit berkebun. Dulu, warga biasa ke kebun dan bermalam beberapa hari.

Kini, tak bisa lagi menginap karena kesulitan air. Dulu warga mengambil air di sungai, sekarang terpaksa bawa air dari kampung.

“Ketika ke kebun mereka tak bisa lagi membawa banyak air. Yang dibawa ke kebun sangat terbatas, paling satu jerigen. Tidak bisa banyak, jarak kebun jauh.”

Tidak itu saja, beberapa kampung di Gane Barat Selatan, terutama di Desa Gane Dalam dan Sekeli, kalau hujan sehari sudah kebanjiran. Kejadian ini, katanya, terjadi dua tahun belakangan.

Sejak perusahaan beroperasi 2013, dan hutan habis ikut berdampak pada masyarakat desa sekitar perusahaan. “Kerusakan sangat nyata. Jika musim hujan, kampung kami selalu banjir,” katanya.

Soal kerusakan lingkungan ini, mewakili warga Gane dia meminta semua pihak, baik pemerintah maupun para pegiat lingkungan turun melihat kondisi yang terjadi.

Warga, katanya, sudah melakukan berbagai upaya, seperti melaporkan kepada pihak-pihak terkait, aksi bahkan protes bersama berbagai elemen, tetapi hasil nihil.

 

Kelapa warga di kebun. Kebun kepala warga Gane, terserang hama kembang sudah tiga tahun ini. Foto: Walhi Sumut/ Mongabay Indonesia

 

Kumbang kelapa dan kakatua

Warga, katanya, bak jatuh tertimpa tangga. Sudahlah lahan mereka tergusur, sungai ditutup, muncul pula serangan hama kelapa.

“Kami ini korban berulang-ulang. Hutan kami dihabisi, kebun kelapa diserang hama, sungai-sungai yang jadi sumber air warga juga ditutup. Kondisi ini begitu sulit bagi kami,” katanya.

Serangan hama saja begitu menyulitkan warga yang mengandalkan perkebunan pala dan kelapa. Hasil panen merosot, pendapatan pun menurun. Serangan hama berlangsung lama. “Produksi kelapa juga menurun drastis.”

Setiap keluarga atau rumah tangga memiliki pohon kelapa sekali panen tiap empat bulan sekali 1.000 kilogram-5.000 kilogram. “Kini 1.000 kilogram tinggal 300 kilogram,” katanya.

Sebelumnya, soal kasus ini, kepada Mongabay, Andre Roberto, General Manager Corporate HRG & GA Korindo Group membenarkan, ada serangan hama kumbang di kebun sawit perusahaan di Halmahera, juga masuk ke kebun kelapa masyarakat.

Hama kumbang, katanya, bukan hal baru dan sering menyerang kebun kelapa di seluruh Indonesia. Saat ini, perusahaan menganalisa hama bersama ahli dari lembaga PPKS Medan dan mencoba menggunakan Feromon trap untuk mengatasinya.

Berdasarkan hasil analisa dan rekomendasi PPKS, dalam waktu dekat perusahaan akan membantu petani kelapa di Gane pakai Feromon trap mengatasi hama secara efektif dan ramah lingkungan.

Peneliti dari Balai Penelitian Tanaman Pangan (BPTP) Balitbang Malut yang fokus riset perkelapaan di Maluku Utara, Fredi Lala mengatakan, jika dihubungkan dengan lingkungan maka meluasnya hama dipengaruhi minimal tiga faktor, yakn ketersediaan makanan hama (kelapa), lingkungan abiotik air, tanah dan lain-lain serta lingkungan biotik yakni musuh alami hama.

Jika tiga faktor ini bekerja seimbang, maka penyebaran seksava (kumbang) akan terus terjadi sampai salah satu faktor terganggu. Untuk mengganggunya, harus ada introduksi pengendalian hama terpadu (PHT) secara spesifik dilakukan di lokasi terserang hama.

Tak hanya kumbang, serangan ke tanaman juga dari kakatua. Dugaan kuat hutan tempat hidup dan mencari makan tergerus, hingga satwa kesulitan makanan dan terpaksa makan dan merusak lahan pertanian warga.

Menurut Hardi, kini kakatua putih merusak buah pala warga. “Dari dulu kebun pala buah tak pernah dirusak kakatua. Mungkin sekarang buah di hutan yang bisa dimakan burung sudah habis hingga memakan pertanian petani,” katanya.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam, melalui Seksi Konservasi Wilayah I Malut Abas Hurasan mengatakan, sudah menjadi hukum alam, jika ada kerusakan ekosistem seperti hutan dibabat untuk perkebunan raksasa pasti berdampak pada mahluk hidup lain.

Dia contohkan kasus di Gane. Kakatua putih dan hijau selama ini tak memakan atau merusak pala warga, karena hutan terbabat habis dan makanan menipis, burung-burung juga merusak tanaman petani.

“Ini sebenarnya sudah hukum alam.”

Mengenai laporan warga atas kerusakan empat sungai di hutan Gane Dalam, Andre Roberto, mengatakan, akan mengecek lapangan dan akan memberikan penjelasan soal kasus ini. Sehari kemudian, dia meminta Mongabay mengkonfirmasi langsung ke Riza, Manager Corporate Communication. Andre bilang sudah menyampaikan kepada Riza. Hanya, hampir sepekan belum juga mendapatkan tanggapan.

 

Temuan Walhi Malut

Faisal Ratuela, Deputi Walhi Malut mengatakan, riset Walhi bersama warga dalam lima bulan terakhir, menemukan ada kerusakan begitu masif. Badan air rusak, hama menyerang kelapa dan pala serta kesulitan air.

“Kami tetap menyuarakan hal ini karena masyarakat tempatan menderita. Tak hanya kondisi lingkungan, sosial masyarakat juga terganggu,” katanya.

Seharusnya, kata Faisal, perusahaan memulihkan kerusakan lingkungan. Kenyataan, di lapangan kerusakan berjalan dan masyarakat jadi korban.

Kini, perusahaan yang telah membuka lahan hampir 7.000 hektar itu berencana menambah sekitar 4.000 hektar. Ia menyasar bagian Selatan ke Tengah Gane Barat, dan akan menambah deretan panjang penderitaan warga. “Kami terus memantau perkembangan di lapangan termasuk rencana penambahan lahan baru yang bakal masalah baru.”

 

Pembersihan lahan oleh perusahaan. Foto: Walhi Malut/ Mongabay Indonesia
Truk mengangkut kayu dari hutan yang ditebang. Foto: Walhi Malut/ Mongabay Indonesia

 

 

(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , , , , ,