Indonesia Serukan Penanganan Sampah Plastik di COP 23

 

Indonesia terus berkampanye tentang pentingnya menjaga laut dari berbagai dampak negatif dalam menghadapi fenomena perubahan iklim. Kampanye dilakukan di sela-sela pelaksanaan Konferensi Perubahan Iklim (COP) ke-23 yang berlangsung di Bonn, Jerman. Dalam kampanye terbaru, Indonesia mengangkat tema sampah plastik di laut yang berasal dari darat.

Isu tersebut dipaparkan langsung Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan dengan presentasi berjudul Combating Marine Debris in Mega-Archipelagic Country dalam acara yang berlangsung di Pavillion Indonesia di Bonn pada awal pekan ini.

Menurut dia, sampah plastik yang ada di laut saat ini sudah semakin tak terbendung. Dari semua sampah plastik yang ada, dia menyebutkan, 80 persen di antaranya berasal dari dari limbah di darat dan sisanya dari limbah kapal.

“Dan juga dari perikanan di lautan yang berdampak buruk bagi banyak sektor,” ucap Luhut melalui siaran pers yang diterima Mongabay Indonesia.

Baca : Kebijakan Kelautan Indonesia Diluncurkan di AS, Apa Itu?

Luhut mengatakan, terus meningkatnya volume sampah plastik di lautan, bisa berdampak negatif bagi kehidupan yang ada di pesisir. Kata dia, sampah plastik bisa menyebabkan banjir, membahayakan sistem transportasi, dan berdampak negatif untuk pariwisata dan makanan laut.

Tak hanya itu, dalam kampanyenya, Luhut mengatakan bahwa sampah plastik yang ada di laut juga bisa merusak terumbu karang beserta biota laut lainnya, dan juga kehidupan laut secara keseluruhan.

“Jika plastik tertelan oleh ikan dan hewan laut lainnya, akan menyebabkan kematian dan kontaminasi sumber makanan yang sangat penting. Hal ini merupakan ancaman tambahan yang signifikan bagi banyak negara di dunia, termasuk sumber daya kelautan dan pesisir Indonesia,” papar dia.

Luhut mengungkapkan, sampah plastik di laut memang saat ini menjadi isu paling sensitif karena itu berkaitan dengan keberlanjutan keanekaragaman hayati di wilayah perairan, khususnya di Indonesia. Dia menyadari, sampah plastik dan mikroplastik saat ini menjadi ancaman paling besar bagi keanekaragaman hayati yang ada di laut.

“Indonesia saat ini menghadapi dua tantangan besar, yaitu menjaga laut tetap bersih dan memelihara keberlanjutan keanekaragaman hayati di wilayah perairan, yang kedua yaitu melawan perubahan iklim,” jelas dia.

Baca : Indonesia Siapkan Dana Rp13,4 Triliun untuk Bersihkan Sampah Plastik di Laut

 

 

Isu Global

Pentingnya isu sampah plastik, menurut Luhut, bisa dilihat dari kondisi terkini. Isu tersebut, saat ini sudah menjadi isu nasional, regional, dan bahkan global. Mengingat semakin penting, dia menghimbau isu sampah plastik di laut tidak boleh terus dibiarkan karena dapat mengakibatkan ancaman polutan yang lebih besar.

“Dan dapat mengganggu kesehatan karena mengkonsumsi ikan yang telah memakan sampah plastik tersebut,” tegas dia.

Dengan melihat potensi buruk tersebut, Luhut menyebut bahwa permasalahan sampah plastik menjadi salah satu hal yang penting yang harus dipecahkan bersama. Hal itu,, karena sampah tersebut kini telah membawa kerusakan terhadap keanekaragaman hayati, lingkungan, perekonomian, dan kesehatan manusia.

Agar penanganan masalah sampah plastik bisa dilakukan secara global, Luhut mengungkapkan, Indonesia sudah mengajukan isu tersebut dalam pertemuan Worlds Ocean Summit yang keempat, Konferensi Kelautan PBB, dan G20 Summit di Jerman. Dalam usulan tersebut, Indonesia berkomitmen melakukan pengurangan sampah hingga 70 persen pada 2025.

Agar sampah plastik bisa ditangani dengan baik, Luhut menyebut, Pemerintah Indonesia sudah melaksanakan aksi pengurangan sampah plastik laut dengan memperkuat kerja sama antar kementerian dan lembaga. Dengan demikian, perlindungan terhadap ekosistem pesisir dan laut bisa dilakukan dengan lebih baik.

Baca : Sampah Plastik Semakin Ancam Laut Indonesia, Seperti Apa?

Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya pernah mengatakan bahwa pengurangan sampah hingga 70 persen, itu berarti pengurangan dihitung dari 65 juta ton sampah yang diproduksi di Indonesia dalam setahun. Dari 70 persen yang sudah dicanangkan itu, diketahui 14 persen di antaranya adalah sampah plastik.

Tentang sampah plastik di laut, Deputi Bidang Kedaulatan Maritim Kemenko Maritim Arif Havas Oegroseno menjelaskan, Pemerintah Indonesia serius melakukan penanganan secara menyeluruh. Di antaranya, dengan menjalankan rencana aksi nasional (RAN) untuk penanganan sampah di laut. Untuk keperluan itu, Pemerintah Indonesia juga berjanji akan mengucurkan anggaran sebesar USD1 miliar atau setara Rp13,4 triliun untuk program tersebut.

Arif Havas mengatakan, selain dilakukan langsung oleh Pemerintah, penanganan sampah di laut juga akan melibatkan sektor swasta dan sekaligus masyarakat yang ada di seluruh provinsi. Keterlibatan mereka, diyakini dia akan membawa dampak signifikan dalam pelaksanaan RAN penanganan sampah di laut.

“Pemerintah sadar, bahwa upaya itu tidak cukup tanpa kontribusi sektor swasta dan masyarakat,” jelas dia.

Baca : Begini Aliansi Pemerintah dengan Swasta untuk Solusi Sampah Plastik di Laut

 

Sampah plastik dan mikroplastik di lautan membahayakan bagi penyu karena dianggap makanan. Banyak penyu dan biota laut yang mati karena memakan sampah di lautan. Foto : ecowatch

 

Agar isu penanganan sampah di laut bisa lebih menggema, Arif Havas mengungkapkan, Pemerintah Indonesia berinisiatif membentuk sebuah Aliansi untuk Solusi Sampah Plastik Laut atau Alliance for Marine Plastic Solutions (AMPS). Pembentukan aliansi tersebut, menjadi upaya untuk mempercepat penanganan sampah yang ada di wilayah perairan dunia, terutama di Indonesia.

“Ini upaya yang penting untuk mencegah kerugian ekologi dan ekonomi yang makin besar karena rusaknya keanekaragaman hayati dan sumber daya laut,” tambah dia.

 

Investor Swasta

Selain membentuk aliansi, Arif Havas menjelaskan, dia juga menemui sejumlah calon investor yang menyatakan ketertarikannya untuk menangani sampah, terutama sampah plastik yang ada di perairan laut Indonesia. Para calon investor tersebut, diakui dia, berasal dari negara asing dan semuanya menyatakan ketertarikan untuk menangani sampah yang dapat meningkatkan kapasitas daur ulang.

Arif Havas mengungkapkan, permasalahan sampah di laut harus segera dipecahkan, karena jika itu dibiarkan bisa berdampak pada sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia, terutama yang tinggal di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

“Sampah plastik dan sampah perkotaan di seluruh dunia telah membengkak hingga pada jumlah yang mengkhawatirkan. Dari sebuah penelitian yang dikutip oleh situs ourocean2017.org, di beberapa wilayah, plastik mikro di laut jumlahnya bahkan lebih banyak daripada plankton dengan perbandingan 6 berbanding 1,” papar dia.

Baca : Makhluk Ini Menyebarkan Mikroplastik ke Dasar Lautan. Begini Kekhawatiran Peneliti

Tentang RAN yang sudah diluncurkan beberapa waktu lalu, Arif Havas menuturkan, bahwa itu dibuat untuk dijadikan peta jalan dalam mengatasi sampah plastik laut. Dengan demikian, pada 2025 mendatang, Indonesia diharapkan sudah bisa mengurangi sampah plastik di laut hingga 70 persen.

Selain fokus membersihkan sampah di laut, Arif Havas menerangkan, RAN yang sudah dilaksanakan tersebut, juga akan fokus bagaimana membersihkan sampah, khususnya sampah plastik yang ada di perairan sungai dan pantai.

Dengan penanganan yang sama di sungai dan pantai, Arif Havas berharap, volume sampah dan sampah plastik di laut bisa terus berkurang dan secara perlahan jumlah produksinya juga bisa terus menurun dari daratan.