Mereka Lelah Didera Banjir Berkepanjangan

 

Sejumlah anak bermain di jalan raya di Kelurahan Andir, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Rabu (15/11/2017). Mereka terpakasa tidak sekolah akibat kondisi tersebut. Foto: Donny Iqbal/Mongabay Indonesia

 

Sepekan sudah, banjir mengepung permukiman warga Kampung Jembatan, Kelurahan Andir, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Mereka sudah terbiasa menerima kiriman air Sungai Citarum yang meluap saat musim penghujan datang. Bencana yang hampir 25 tahun mereka rasakan.

Rumah Aep Sudrajat adalah satu dari sekian rumah yang turut terendam. Jarak kediamannya yang hanya 50 meter dari Sungai Citarum, membuatnya tak pernah kuasa menghadang limpahan air sungai tersebut. Lelaki usia 52 tahun ini hanya merenung untuk kesekian kalinya.

“Jangan tanya soal kerugian tiap kali banjir datang. Perabotan hilang dan rumah kian rapuh. Motor matik saya sudah rusak dua unit. Pastinya, saya tidak berpenghasilan,” gumamnya, Rabu (15/11/17).

Ikhwal berdirinya permukiman padat penduduk dekat bantaran Citarum ini, belum ada data pasti. Namun, Aep bercerita bila banjir pertama kali terjadi 1986. Setelah itu banjir jadi langganan warga setempat.

“Saya sudah ingin pindah. Bosan! Tapi mana ada orang yang mau beli tanah di kawasan rawan banjir,” katanya mengeluh, minta direlokasi.

Nusron, 64 tahun, warga RT 07/RW 09 Kampung Cogosol, Kelurahan Andir, coba legowo menerima nasib tidak mengenakkan tersebut. Meski begitu, dia tetap menggerutu janji pemerintah yang kerap melontarkan jalan keluar, tapi tanpa kejelasan hingga sekarang.

“Nasib kami bagaimana? Ini bukan banjir kemarin sore, tapi tahunan. Tidak semua mau mengungsi termasuk saya. Bantuan pun kadang tak sampai,” ucapnya kesal.

Nusron menyatakan tekadnya yang tidak ingin pindah. “Bagaimanapun kondisnya, ini kampung halaman saya. Mudah-mudahan pemerintah menepati program yang juga dibuat hampir setiap tahun,” paparnya.

“Pokoknya, kesigapan dan kesiagaan bukan saja saat terjadinya banjir. Setelah banjir yang repot. Banyak lumpur, sampah, dan sulit air. Susah membersihkannya,” kata warga yang tidak ingin disebutkan namanya.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung mencatat, total rumah dan segala macam fasilitas yang terendam banjir kali ini mencapai 5.800 unit di tiga kecamatan: Baleendah, Dayeuhkolot, dan Bojongsoang. Kondisi ini memicu ratusan warga untuk mengungsi.

 

Warga menaiki perahu di Kampung Jambatan, Kelurahan Andir, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Rabu (15/11/2017). Banjir memicu warga mengungsi, namun ada juga yang memilih bertahan di rumahnya. Foto: Donny Iqbal/Mongabay Indonesia

 

Penanganan

Persoalan yang mendera Sungai Citarum bukan tanpa penanganan. Hampir 20 tahun terakhir, dana triliunan Rupiah dikucurkan guna kepentingan reboisasi kawasan hulu dan rekayasa fisik di DAS Ci Tarum.

Dari data yang dihimpun, Program Kali Bersih (PROKASIH) pertama diluncurkan pemerintah tahun 1989. Lalu 2007, Integrated Citarum Water Resources Management Investment Program (ICWRMIP) atau Pemulihan Citarum Terpadu dijalankan. Serupa, adalah program yang sedang digalakkan saat ini, Citarum Bestari (Bersih, Sehat, Lestari).

Begitu juga program kolam retensi di bantaran Sungai Citarum sebagai penanganan banjir di wilayah tersebut, terhitung 2015.

Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum sudah menggelontorkan dana Rp73 miliar untuk membayar ganti kerugian atas tanah, tanaman, dan bangunan tahap kedua di Kampung Cieunteung, Kelurahan Andir, Kecamatan Baleendah, sekitar 7 hektar. Kini sedang pembangunan konstruksi.

Persoalan lain, adalah lonjakan penduduk di bantaran sungai. Berdasarkan data Dinas Pertanian Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Bandung 2010, pertumbuhan penduduk di cekungan Bandung tidak terkendali. Terjadi peningkatan sekitar tiga persen per tahun, yang mengakibatkan bertambahnya eksploitasi ruang dan pemanfaatan sumber daya air.

Lojakan tersebut berbanding lurus dengan meningkatnya volume sampah. Masyarakat, belum sepenuhnya mengerti dan berasumsi bahwa sungai adalah tempat pembuangan. Ditambah lagi, saluran drainase perkotaan yang tidak terkelola baik yang menyebabkan turunnya permukaan tanah dan memperbesar potensi daerah rawan banjir. Ketika memasuki musim penghujan, wilayah tersebut akan terendam banjir setinggi 60-200 sentimenter.

Pemerintah Jawa Barat memang berencana membangun 22 waduk kecil dan tiga bendungan besar di kawasan Citepus, Parunghalang, dan Cieunteung. Aliran sungai sepajang 300 kilometer ini sesungguhnya telah dimanfaatkan untuk tiga bendungan besar: Waduk Saguling, Waduk Cirata, dan Waduk Jatitujuh.

Bupati Kabupaten Bandung, Dadang Naser menunggu kebijakan BBWS Citarum untuk merealisaikan pembuatan terowongan air di Curug Jompong, Desa Jelegong, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung Barat.

“Kami menunggu langkah BBWS, (mungkin) sekarang sudah dilakukan pengukuran. Diharapkan, terowongan ini merupakan solusi banjir tahunan di Kabupaten Bandung. Mengingat, sudah menjadi bencana nasional,” kata Dadang, Rabu (15/11/2017).

 

Tampak warga memasuki rumahnya di Kampung Cieunteung, Kelurahan Andir, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Rabu (15/11/2017). Hampir sepekan banjir, warga mulai kesulitan mendapatkan air bersih. Foto: Donny Iqbal/Mongabay Indonesia

 

Siaga Warga

Berjarak 13 kilometer ke arah tenggara, tepatnya di Kecamatan Majalaya, adanya bencana banjir memaksa warga melakukan mitigasi sejak dini. Beradaptasi, dengan segala kemungkinan kebencaanaan.

Salah satu penggerak gerakan Siaga Warga, Riki Waskito menyebut, kejadian banjir tahunan ini membuat warga belajar tentang prediksi cuaca, mengumpulkan data intensitas curah hujan, dan mencari tahu informasi luapan air di hulu.

“Di daerah kami, masyarakat dipaksa meminimalisir dampak yang ditimbulkan banjir. Terlebih, Majalaya cenderung berkarakterbanjir bandang dengan durasi genangan relatif pendek. Berbeda dengan wilayah tengah yang genangannya hampir sepekan, bahkan lebih,” kata Riki saat dihubungi melalui WhatsApp.

Upaya ini, menurutnya, dilakukan agar warga paham atau setidaknya setengah memahami tentang potensi bencana. Sehingga, meningkatkan kewaspadaan di ranah warga sendiri. Dari kelompok Siaga Warga, warga berjejaring dan saling bertukar pikiran.

“Kami hanya berupaya. Sisanya kami serahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa,” jelas Riki.

Langit senja telah tiba, banjir masih membawa sunyi. Di rumah-rumah yang tergengenang, lampu mulai menyala, sebagian rela mengungsi, sebagian ada yang menerima kondisi. Dari rumah warga terdengar sayup lagu Iwan Fals, Ujung Aspal Pondok Gede.