Tambang Nikel Merahkan Laut Konawe Utara, Nelayan Sengsara

Tambang nikel di bukit tampak dari seberang sungai di Konawe Utara. Foto: Kamarudin/ Mongabay Indonesia

 

 

Tambang nikel di Konawe Utara, Sulawesi Tenggara,  bak jamur di musim hujan, bertebaran. Limbah nikel mentah (ore) bikin laut memerah. Tak pelak, orang Bajo yang hidup bergantung laut tertimpa masalah, air tercemar, biota lautpun makin sulit.

 

Rumang, begitu nama lelaki Bajo berumur 50 tahunan ini. Tubuh kekar. Kulit gelap karena saban hari terpapar terik matahari. Rumang satu dari ratusan keluarga yang mendiami Desa Mandiodo, Kecamatan Molawe, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.

Tak beda dengan orang Bajo umumnya, Rumang membangun rumah kayu di pesisir pantai dan hidup bergantung pada laut.

Selama ini,  dia menghidupi keluarga dengan anak tujuh dari hasil laut dan olahannya. Beberapa tahun belakangan, rasa gundah menghampiri lantaran lingkungan tempat tinggal tercemar limbah tambang nikel.

Desa kediaman Rumang terkepung belasan perusahaan tambang nikel. Ada masih eksplorasi, sebagian sudah eksplorasi. Tak heran, huta-hutan di Kecamatan Molawe, gundul. Kondisi ini, langsung berpengaruh buruk pada pesisir, terlebih penambangan nikel bersentuhan langsung dengan garis pantai. Air laut keruh, berwarna orange bahkan kemerah-merahan.

“Jadi kalau hujan, laut merah semua. Kita angkat jaring itu semua dipenuh tanah merah,” katanya lirih, pekan lalu.

Nama Desa Mandiodo terpilih sebagai nama blok kawasan pengolahan pertambangan nikel (Blok Mandiodo). Bagi Rumang dan warga nelayan lain, pilihan itu bukan suatu kebanggaan tetapi bak ketiban tuba.

 

***

Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Sulawesi Tenggara mencatat dari 389 izin usaha pertambangan (IUP), 196 tambang nikel, 188 produksi dan delapa eksplorasi.

Dari keseluruhan, Konawe Utara menempati peringkat atas 104 IUP, disusul Konawe, Bombana, Kolaka dan Kolaka Utara. Pulau Buton, menempati ranking terakhir jumlah terkecil kegiatan perusahaan tambang.

“Masyarakat di sini (Mandiodo) kerja ditambang. Ada yang adi buruh kasar, sopir truk, alat berat, dan buruh pengambil sampel ore nikel untuk diteliti. Walau begitu, kesejahteraan masih minim. Walaupun sedikit, paling tidak ada pemasukan,” kata Basman, Kepala Bidang Pemerintahan Desa Mandiodo.

Basman, usia paruh baya bergelar Sarjana Sosial jebolan Perguruan Tinggi Ternama di Sulawesi Tenggara. Dia menilai,  kedatangan perusahaan tambang membawa angin segar. Sebagian pemuda desa lalu punya pekerjaan meski hanya menempati posisi bawah.

Perusahaan tambang masuk banyak mengubah kondisi kehidupan masyarakat Mandiodo. Sebagian anak muda, katanya, mengadu nasib di perusahaan tambang.

Berbeda dengan Rumang, yang setia pada warisan leluhur, hidup dan mengabdi di laut.  Dia teguh berpegang pada falsafah luhur Suku Bajo, laut adalah ombo atau raja.

Alasannya sederhana, laut telah menyediakan segala. Dia cukup menarik layar dan menjatuhkan pancing bila ingin ikan. Loncat ke laut bila hendak mandi, atau tatap semburat merah matahari untuk menghilangkan kepenatan.

“Kita di sini sekitar 30 orang nelayan. Mereka itu juga tak mau ikut tambang. Merusak ki itu nak,” kata Rumang.

“Dulu itu, di sini sunyi dan sejuk. Sekarang, mungkin ratusan mobil pulang bale.”

Kekesalan Rumang sejalan dengan pemandangan lazim harian kini. Kendaraan roda empat,  pick-up hingga double handle lalu lalang membawa karyawan dan buruh tambang.

Rumah penduduk di sepanjang bahu jalan berwarna kuning tertutup debu. Rumah warga bagian tengah hanya bisa pasrah terpapar debu sembari menutup hidung pakai baju.

“Mau mi bagaimana kalau mereka yang punya?” katanya pasrah.

Dia mengenang, sebelum tambang masuk sekitar pemukiman mereka, ikan mudah didapat. Sekali menjaring, puluhan ikan beragam ukuran terjaring. Sebagian tangkapan dibawa pulang untuk konsumsi keluarga, sisanya dijual hingga harga ratusan ribu rupiah.  Dari hasil tangkap ikan ini, dia bisa sekolahkan anak-anak hingga sarjana.

Serupa Ride, juga nelayan Bajo.“Sejak masuk tambang di Mandiodo, kita semua mencari ikan jauh di laut lepas,” katanya.

Tangkapan ikan mereka berkurang. Belum lagi, kalau musim ombak dan kapal kecil. “Kita takut kalau lama-lama di laut,”katanya.

Tak hanya nelayan tangkap ikan laut yang terdampak, di Desa Motui, ratusan tambak bandeng dan udang warga gagal panen. Isi tambak mati karena tercemar limbah nikel.

 

Seorang warga memperhatikan air laut yang berubah warna, kemerah-merahan. Foto: Kamarudin/ Mongabay Indonesia

 

Laut berubah warna

Sedimentasi dari ore nikel tak terbendung di Mandiodo. Pengolahan nikel dan bongkar muat di dermaga khusus atau jeti tambang bikin laut tercemar. Limbah ore nikel  membuat laut berwarna kemerahan hingga mendekati perairan laut lepas.

“Apa yang terjadi di Mandiodo tidak bisa dipungkiri adalah pencemaran lingkungan”  kata Aminoto, Kepala Bidang Tata Kelola Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Sulawesi Tenggara.

Proses pengelolaan pertambangan tak sejalan dengan aturan. Jarak tambang dengan laut sangat dekat hingga mudah mencemari laut.

“Konawe Utara, memang dekat dengan bibir pantai. Abrasi itu pasti terjadi, terlebih di musim hujan,” katanya.

Aminoto mengatakan, penyebab laut tercemar karena ada tambang di gunung. Saluran air tidak disiapkan perusahaan. Seharusnya,  saluran air dibuat sesuai ketentuan analisis mengenai dampak lingkungan (amdal).

Kan dalam dokumen amdal jelas harus ada saluran air sebelum tambang.”

Dia bilang, Dinas Lingkungan Hidup berperan mengkaji lebih dalam sebelum dan sesudah operasi, seperti pembuatan daerah serapan air, udara, laut dan pemukiman sekitar tambang.

Untuk mengantisipasi pencemaran laut, katanya, harus dibangun pohon pelindung dan bak penampungan air guna mengatur sirkulasi air limbah olahan nikel.

“Hal itu tidak disiapkan perusahaan hingga sekarang,” katanya.

Emiyarti, akademisi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Haluole mengatakan, limbah tambang juga berpengaruh bagi ekosistem laut karena mengandung logam berat. “Tak sesuai lagi dengan kondisi lingkungan sebelumnya. Populasi ikan menurun dan hilang,” katanya.

Penelitian dia soal kualitas air di Blok Mandiodo pada 2015-2016 memperlihatkan, logam berat mencemari lingkungan antara lain nikel, merkuri dan kandungan minyak pada solar dan bensin. “Ini berbahaya dan beracun dalam jumlah besar atau dalam bentuk tertentu,” kata Emiyarti.

Logam berdampak negatif terhadap ekosistem laut Mandiodo. Dua jenis sumber makanan ikan, yaitu bentos dan plankton rawan tercemar kadar logam.

Hasil penelitian dia, bentos dan plankton tercemar membuat ikan pergi meninggalkan habitat awal. Kondisi ini mengakibatkan populasi ikan berkurang dan berimigrasi ke tempat baru. Ada juga ikan memilih tetap tinggal dengan mengkonsumsi makanan tercemar logam berat.

“Pencemaran lingkungan di wilayah ini lebih pada sedimentasi bawah laut akibat ore nikel, hingga konsentrasi ikan begitu gaduh dan tidak menerima kondisi lingkungan.”  Dia bilang, bisa dikatakan ikan turun bahkan hilang sama sekali.

Masih dalam lingkup akademisi, peneliti kesehatan ikan Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Indriyani Nur menjelaskan, pencemaran lingkungan logam berat terus menerus mengakibatkan kesehatan ikan terganggu. Logam berat, katanya,  seperti nikel atau merkuri mengendap pada tubuh ikan dan kala dikonsumsi bisa jadi penyakit.

“Logam berat tertampung pada tubuh ikan. Penelitian kita menemukan kadar logam berat ikan terus bertambah,” katanya yang kini mengepalai Laboratorium UHO.

Logam berat ini menyerang bagian vital ikan, berupa insan, hati dan reproduksi. “Untuk reproduksi mengancam populasi ikan. Ini juga berbahaya. Ikan akan pergi meninggalkan daerah awal, apalagi jika membawa logam berat tadi,” katanya.

Sebaran potensi nikel di Konawe Utara seluas 82.626,03 hektar dengan cadangan nikel 46.007.440,652 ton. Jumlah sebesar ini khawatir merusak lingkungan jika tata kelola pertambangan tak sesuai aturan.

“Tak sesuai tata kelola pertambangan oleh perusahaan pemegang IUP di Konawe Utara, mengisyaratkan ada pelanggaran. Ada manajemen pertambangan yang baik dari Dinas Lingkungan Hidup namun tak dijalankan” kata Kisran Makati, Direktur Eksekutif Walhi Sulawesi Tenggara.

Walhi, katanya, sudah memberikan rekomendasi kepada pemerintah agar operasi perusahaan tak dekat dengan laut agar tak terjadi pencemaran lingkungan seperti ini.

Kisran bilang, pertambangan tak hanya rusak lingkungan tetapi berdampak sosial kepada masyarakat. Dia mencontohkan, penyimpanan ore nikel di fasilitas umum pemukiman warga. “Ada SD di kelilingi ore nikel di Mandiodo. Fasilitas ini harus jauh dari ore nikel.”

Berdasarkan temuan Walhi, banyak masalah lingkungan terjadi, seperti pencemaran pesisir pantai dan reklamasi bekas tambang tak berjalan.

“Tambang harus dihentikan,” kata Kisra.

 

Desa Mandiodo, Kecamatan Molawe, Konawe Utara, dilihat dari pegunungan. Di lokasi itu merupakan wilayah tambang, jika hujan datang air bercampur ore nikel merembes hingga ke Pesisir Pantai Mandiodo. Foto: Kamarudin/ Mongabay Indonesia

 

Alat berat menggali ore nikel. Foto: Kamarudin/ Mongabay Indonesia