Fokus Liputan Saumlaki : Terpukau Indahnya Senja di Batas Negara (Bagian 4)

Panorama indah saat senja di pesisir pantai pulau Matakus, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Maluku, pada Senin (23/10/2017). Foto : M Ambari/Mongabay Indonesia

 

Potensi perikanan dan kelautan di Indonesia Timur sudah lama dikenal sangat berlimpah. Salah satu daerah yang dianugerahi kekayaan tersebut, adalah Kabupaten Maluku Tenggara Barat di Provinsi Maluku. Keberadaan daerah tersebut, juga sangat strategis karena berada di garda terdepan kepulauan Nusantara dan berbatasan langsung dengan Australia.

Pada pertengahan Oktober 2017, Mongabay Indonesia datang langsung ke MTB dan melakukan peliputan di sana. Ini adalah tulisan keempat (tamat) hasil peliputan tersebut. Pada tulisan ini, sengaja diangkat adalah pariwisata dari pulau-pulau yang ada di MTB.

Tulisan pertama berjudul “Pesona Saumlaki, Sekaya Laut, Semakmur Darat bisa dibaca disini.

Tulisan kedua berjudul “Dari Pulau Yamdena, Rumput Laut Menyebar ke Seluruh Dunia” bisa dibaca disini.

Tulisan ketiga berjudul “Di Pulau Matakus, Warga Labuhkan Harapan untuk SKPT Saumlaki” bisa dibaca disini.

***

Semburat jingga perlahan mulai menampakkan diri di pesisir pantai pulau Matakus, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Senin (23/10/2017) petang Waktu Indonesia Timur. Warnanya yang kuning terang, sekaligus agak gelap, menghipnotis siapapun yang melihatnya. Kemunculan warna khas yang disukai para pecinta pantai itu, memberi tanda bahwa waktu senja sudah tiba.

Petang itu, waktu masih menunjukkan pukul 17.33 WIT. Namun senja datang dengan gambaran sempurna: matahari yang bulat dikelilingi gradasi warna khas kuning, merah, dan hitam. Kami –saya bersama kawan dan warga pulau– tak mau menyia-nyiakan momen tersebut.

Kami kemudian duduk di atas hamparan pasir putih yang lembut, dibawah pohon besar yang banyak terdapat di pinggir pantai di sekeliling pulau dan menikmati pemandangan tersebut, sambil tidak lupa mengabadikan dengan kamera di ponsel kami.

Meski puncak waktu senja masih sekitar 30 menit lagi, kami tak merasa bosan. Justru, kami berharap momen tersebut tak akan berakhir. Basten, kawan saya yang merupakan penduduk lokal, langsung berujar seketika, ”Ini indah sekali. Saya orang sini saja belum pernah melihat seperti ini.”

 

Panorama indah saat senja di pesisir pantai pulau Matakus, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Maluku, pada Senin (23/10/2017). Pulau Matakus mempunyai potensi wisata yang luar biasa, tetapi terkendala infrastruktur seperti alat transportasi dan prasarana jalan. Foto : M Ambari/Mongabay Indonesia

 

Sembari menikmati senja, saya mengungkapkan kekaguman dengan potensi alam yang ada di Kabupaten MTB. Termasuk, panorama alam di pulau Matakus.

Basten yang sehari-hari bekerja sebagai penyuluh itu, kemudian bercerita, masyarakat di MTB sudah menyadari dengan segala potensi alam yang ada. Potensi tersebut, juga sudah dipahami bisa mendatangkan pemasukan dana untuk masyarakat dan juga daerah.

“Kami di sini sadar bahwa alam di daerah kami sangatlah bagus. Tak hanya panoramanya yang indah, namun juga ada banyak hal yang bisa dinikmati oleh para wisatawan. Ibarat kata, di daerah kami, apa yang wisatawan butuhkan, ada semua,” ucap Basten sambil membetulkan posisi duduknya agar bisa menghadap sempurna ke arah senja.

 

Pengembangan Pariwisata

Kesadaran warga, menurut Basten, dirasakan cukup membantu untuk pengembangan pariwisata yang ada di Kabupaten MTB, termasuk pulau-pulau kecil yang mengitari Pulau Yamdena, pulau terbesar di daerah tersebut. Tetapi kesadaran saja tak cukup untuk mengembangkan pariwisata di daerahnya.

Diakui pria berusia 29 tahun itu, potensi pariwisata di MTB masih didominasi oleh pariwisata bahari. Selain wisata pulau beserta budaya dan masyarakatnya, primadona pariwisata di MTB masih didominasi oleh pariwisata air seperti menyelam di dalam air (diving), menyelam di permukaan air (snorkeling), dan atau wisata pantai.

Selain di pulau Matakus, Basten menyebut, masih ada juga pariwisata serupa di pulau Nustabun yang memiliki jarak tempuh sekitar 90 menit dari Saumlaki. Kemudian, ada juga Pulau Sera yang waktu tempuhnya lebih singkat sekitar 30 menit, namun titik menyeberangya ada di pelabuhan Batu Putih yang berjarak cukup jauh dari pusat kota Saumlaki.

“Selain itu, masih ada juga pulau-pulau kecil lain. Paling depan dan berbatasan langsung dengan Australia, itu adalah Pulau Selaru, itu adalah pulau sekaligus kecamatan dengan penduduk yang padat. Di sana, pantainya juga bagus-bagus,” jelas dia.

Banyaknya pulau-pulau yang ada di Kabupaten MTB tersebut, membuat penamaan daerah tersebut bagi sebagian orang dikenal juga dengan sebutan Kepulauan Tanimbar, penamaan dari nama suku yang ada di Kabupaten MTB.

Akan tetapi, Basten menyela, semua potensi yang ada tersebut sepertinya mustahil akan berkembang cepat seperti halnya pariwisata bahari di daerah lain, utamanya di Bali dan atau di Raja Ampat. Sikap apatis tersebut bisa muncul, karena Kabupaten MTB untuk saat ini masih tertinggal dibandingkan daerah lain.

“Terutama dari segi infrastruktur. Kalau di pusat kota, sudah lumayan. Tapi, cobalah datang ke kawasan lain seperti di wilayah pesisirnya. Walaupun saat ini sudah jauh lebih baik, tetapi, untuk memajukan pariwisata, perlu upaya lebih keras lagi,” ungkapnya.

Soal mobilitas itu terlihat dari sulitnya warga dari luar Kabupaten MTB untuk bisa bepergian antar pulau. Kesulitan itu, tak lain karena hingga saat ini belum ada transportasi air yang disediakan untuk publik. Kalaupun ada, kata dia, itu adalah milik warga atau pengusaha yang disewakan dengan harga cukup mahal.

 

Gerbang masuk kawasan pemukiman warga Pulau Matakus, di Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Maluku. Foto : M Ambari/Mongabay Indonesia

 

Meski demikian, kalau enggan untuk menyeberang dari Saumlaki dengan alasan kepraktisan, wisata pantai masih bisa dinikmati di sekitar ibu kota MTB tersebut. Terdekat, adalah wisata senja di Pantai Kelyar yang berjarak tempuh sekitar 15 menit dari Saumlaki.

Di sana, penikmat pantai akan mendapatkan sajian matahari tenggelam yang indah dan eksotik. Lokasi pantai tersebut gampang dijangkau, karena berdekatan lokasi stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Itu mengapa, warga sekitar menyebut pantai Kelyar dengan nama pantai Pertamina.

 

Dominasi Australia                                                                                  

Meski belum tersedia angkutan transportasi air yang murah dan terjangkau untuk masyarakat umum, namun minat wisatawan nusantara (wisnus) ataupun mancanegara (wisman) untuk menjelajah di MTB, tak serta merta surut. Bukti tingginya minat wisnus dan wisman, salah satunya dirasakan warga yang tinggal di pulau Matakus.

Ruben Amarduan, warga pulau yang menemani kami, mengatakan, hingga saat ini selalu ada wisman dari Australia yang datang berkunjung ke Matakus. Sekali berkunjung, biasanya menghabiskan waktu berhari-hari. Kebiasaan tersebut, kata dia, hampir diperlihatkan semua wisman dari Australia.

“Mereka ke sini, nginap di rumah saya. Bisa datang sendiri, atau bersama rombongan. Mereka di sini cuma menikmati pulau saja, bermain di pantai, atau berenang di bibir pantai. Jika memang ada kesempatan, mereka akan menyelam di dalam atau permukaan air,” ujar pria 32 tahun itu.

Sejauh ini, Ruben menyebutkan, wisatawan yang datang ke Matakus, paling banyak adalah dari Australia. Untuk wisnus, mayoritas didominasi warga yang tinggal di Saumlaki atau Ambon, ibu kota Provinsi Maluku. Dengan kata lain, dia memberi tahu, bahwa wisatawan masih terbatas untuk datang ke Matakus.

“Padahal, jarak tempuhnya juga hanya sejam saja dari Saumlaki. Pantai di sini juga bagus-bagus. Tapi, karena tak ada transportasi umum, jadi itu menghambat mereka yang ingin berwisata ke Matakus,” tutur dia.

Di MTB sendiri, pulau Matakus memang menjadi favorit warga untuk menghabiskan waktu berlibur. Kata Ruben, warga biasanya akan datang di akhir pekan. Mereka akan menyeberang dengan menyewa perahu milik warga. Setibanya di Matakus, biasanya mereka akan berenang di pantai dan menikmati kuliner khas pulau.

Namun, selain aktivitas tersebut, Ruben menyebutkan, Matakus juga menawarkan wisata tradisi untuk teknik memasak tradisional dengan menggunakan batu sebagai media pembakaran api. Dalam tradisi tersebut, batu biasanya ditumpuk pada sebuah lubang yang telah digali dengan kedalaman tertentu.

“Setelah itu, di atas batu kemudian diletakkan hasil bumi untuk dimasak, seperti umbi-umbian, ikan, daging dan lainnya. Apa yang dimasak tersebut kemudian ditutup dengan daun pisang yang lebar. Daun pisang tersebut berfungsi sebagai media penahan uap panas dari batu yang telah dipanaskan dengan api,” papar dia.

 

Anak-anak bermain di hamparan pasir putih nan lembut di pesisir pulau Matakus, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Maluku,pulau. Mereka adalah anak-anak dari para nelayan di pulau tersebut. Foto : M Ambari/Mongabay Indonesia

 

Secara administrasi, pulau Matakus dihuni oleh 102 Kepala Keluarga (KK) dan dikenal luas sebagai salah satu pulau penghasil kerajinan tenun khas MTB. Tenun ikat yang menjadi ciri khas masyarakat Tanimbar itu, memiliki corak dan warna yang khas. Biasanya, tenun dengan nama lain “Tais Pet” itu menggunakan gradasi warna cokelat dan hitam.

Di masa lalu, pengguna kain tenun ikat Tanimbar adalah para bangsawan suku Tanimbar yang ada di berbagai pulau. Kain digunakan untuk acara istimewa seperti pesta adat ataupun acara penting lainnnya. Sejumlah motif yang bisa ditemukan di tenun Tanimbar, adalah Sair (bendera), Tunis (anak panah), Eman Matan (mata cawat), Luhun Walun (wajah lesung) dan Katkatan Walun (wajah penjepit).

Di luar motif di atas, tenun Tanimbar juga biasana dihiasi motif lain seperti Lelemuku (bunga anggrek), Ulerati (ulat kecil), Wulan Lihir (bulan sabit), Lakbuka (cicak/kadal hutan), Kilunka Isa (daratan menjorok keluar), Inelak (Llaut dangkal), Lau Nifan (gigi kuda laut) dan Lak Matan (Mata Musang).

Selain di Matakus, wisata tenun Tanimbar juga bisa dinikmati berbagai pulau lain, termasuk di Pulau Yamdena, tepatnya di Desa Tumbur, Kecamatan Wertamrian. Di desa tersebut, ada banyak perajin kain tenun yang sudah turun temurun. Tetapi, jika enggan untuk masuk ke dalam desa, wisatawan bisa berhenti tepat di gerbang desa. Itu juga dilakukan saya saat berkunjung ke sana.

 

Patung Nenek Moyang

Di gerbang masuk desa tersebut, terdapat satu rumah, lengkap dengan area untuk menenun dan sekaligus membuat patung khas Tumbur. Rumah tersebut adalah milik pasangan suami istri Modestus Silolone yang masing-masing berprofesi sebagai pematung dan penenun.

Aktivitas tersebut, menurut Modes, sudah dilakukan sejak lama, tepatnya sekitar 1982 atau 35 tahun lalu. Dua kerajinan tersebut, dilakukan semua warga desa. Untuk warga perempuan, semuanya kompak menekuni profesi sebagai penenun. Sementara, untuk warga pria, dalam keseharian menjadi pematung dengan beragam tema.

Modes bercerita, dalam mengerjakan patung, biasanya selalu menggunakan tema kehidupan di masa lalu saat nenek moyangnya masih hidup. Untuk menciptakan tema yang diinginkan, dia memahat dengan menggunakan kayu hitam (eboni). Sesuai dengan tema, patung dibuat menyesuaikan kebiasaan nenek moyang suku Tanimbar dulu.

“Ada yang bertemakan pergi berkebun, pesta adat, atau pergi melaut, atau sedang di laut. Untuk aktivitas melaut, patung yang dibuat bisa lebih rumit, karena dibuat lengkap dengan kapal layar yang besar,” jelas dia.

Dalam sehari, Modes mengaku bisa membuat patung antara 10 hingga 20 buah dengan ukuran kecil. Patung-patung tersebut, kemudian dipajang di galeri yang ada di bagian depan rumahnya dan bisa dibeli oleh wisatawan yang datang ke tempatnya.

 

Mama Modes sedang menenun kain ikat khas Tanimbar di rumah sekaligus tempat penjualan di Desa Tumbur, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Tradisi menenun, bagi sebagian besar perempuan Tanimbar, sudah dimiliki sejak kecil dan akan diwariskan turun temurun. Foto : M Ambari/Mongabay Indonesia

 

Infrastuktur Lengkap

Asisten Daerah II Pemkab MTB Bidang Pembangunan Ekonomi dan Kemasyarakatan Alo Batkormbawa yang ditemui Mongabay Indonesia, mengakui kalau potensi pariwisata di daerahnya sangatlah besar. Tak hanya pariwisata bahari, di Kabupaten MTB juga diakuinya sangat kaya dengan pariwisata budaya.

Akan tetapi, menurut Alo, untuk bisa memasarkan semua potensi itu, perlu upaya yang sangat keras dari Pemkab MTB, terutama untuk pembangunan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk pengembangan pariwisata.

“Di antara sarana dan prasarana yang dibutuhkan itu, adalah infrastruktur jalan untuk menghubungkan pusat wisata dengan berbagai kawasan, pulau, dan terutama dengan ibukota Saumlaki,” ucap dia.

Alo mengakui, sarana infrastruktur seperti jalan, hingga saat ini belum terbangun dengan sempurna. Untuk itu, perlu penambahan fasilitas jalan hingga mencapai kebutuhan ideal. Selain jalan, dia menyebut, infrastruktur lain yang juga diperlukan, adalah alat transportasi yang menghubungkan antar pulau dan di dalam pulau.

Sejauh ini, Alo mengatakan, sarana yang dibutuhkan tersebut, belum bisa dibangun dengan baik dan itu masih memerlukan proses yang cukup panjang. Khusus untuk sarana transportasi antar pulau, bagi dia, itu menjadi kebutuhan mendesak yang harus segera disediakan oleh Pemkab.

“Kita sekarang sedang mengarah ke sana untuk menyediakan transportasi umum antar pulau. Bagaimanapun, itu akan memudahkan pergerakan warga antar pulau. Selain itu, manfaatnya juga akan dirasakan untuk sektor pariwisata,” tutur dia.

Hal lain yang juga menjadi fokus pengembangan, kata Alo, adalah transportasi udara yang menghubungkan Darwin di Australia dengan Saumlaki. Meski berbeda negara, namun kedua kota tersebut secara geografis cukup berdekatan letaknya. Jika menggunakan pesawat terbang, waktu tempuh dari Saumlaki ke Darwin bisa dicapai kurang dari sejam.

Bagi Alo, kedekatan geografis tersebut bisa menjadi keuntungan yang tidak didapat oleh kota lain di Indonesia. Jika saja penerbangan dari Saumlaki sudah dibuka ke Darwin, dia sangat yakin pariwisata di MTB akan melesat seperti halnya di Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat.

“Saat kita menunggu penerbangan tersebut bisa terwujud dalam waktu dekat, kita juga akan mengebut pembangunan infrastruktur yang dibutuhkan. Tentu saja, akan dipakai skala prioritas, mana infrastruktur yang mendesak dibangun dan tidak,” tandas dia menegaskan.

Jika semua rencana di atas bisa berjalan mulus, nama MTB, khususnya Saumlaki, hanya tinggal menunggu waktu saja untuk mengorbit. Saumlaki, di masa mendatang bisa jadi akan bersaing dengan kota wisata primadona seperti Pulau Bali dan Raja Ampat.