Cegah Kepunahan Kakao, Dibangun Pusat Penelitian di Pangkep

Kakao produksi petani dampingan Mars dengan kualitas terbaik, dengan produktivitas yang tinggi, tahan hama dan penyakit serta dengan kadar lemak yang tinggi di Sulsel. Foto: Wahyu Chandra/Mongabay Indonesia

 

Kakao merupakan salah satu komoditas andalan ekspor nasional, selain kelapa sawit dan karet. Data dari laporan Statistik Perkebunan Indonesia untuk Kakao tahun 2015-2017 yang dirilis  Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian menyebutkan kakao menyumbangkan devisa negara melalui ekspor sebesar 1,15 miliar dolar AS pada tahun 2013, naik menjadi 1,244 miliar dolar AS pada 2014, kemudian menjadi 1,307 miliar dolar AS pada 2015, dan 895 juta dolar AS sampai September 2016.

Sedangkan produksi kakao Indonesia mencapai 720.862 ton pada 2013, 728.414 ton pada 2014, kemudian turun menjadi 593.331 ton pada 2015, dan naik menjadi 656.817 ton pada 2016, dan diprediksi mencapai 688.345 ton pada 2017.

Dan volume ekspor kakao Indonesia mengalami pasang surut, dari 414.092 ton pada 2013, menjadi 333.679 ton pada 2014, kemudian 355.321 ton pada 2015, akhirnya menjadi 240.000 ton sampai September 2016. Tercatat dengan sumbangan devisa mencapai US$ 1,05 miliar tahun lalu.

Sementara Organisasi Kakao Internasional menyebutkan produksi kakao Indonesia menurun 47 persen selama tujuh tahun terakhir menjadi sekitar 290.000 ton untuk musim panen 2016/17. Hal ini disebabkan oleh kondisi pohon yang tua, tanah yang tidak subur, serangan hama dan penyakit, hingga harga yang fluktuatif serta perubahan iklim (curah hujan tinggi).

Wakil Presiden Jusuf Kalla menyoroti produktivitas kakao di Indonesia yang masih jauh dari Ghana dan Pantai Gading. Jika di kedua negara tersebut produktivitas kakao bisa mencapai 2 ton per hektar, maka di Indonesia paling tinggi hanya mencapai 700 kg per hektar dan bahkan diperkirakan di bawah dari angka tersebut.

“Jadi ini di samping buruk juga berita baik, karena ini artinya kita masih punya kesempatan dengan mudah untuk menaikkan hasil. Sekiranya sudah mencapai 2 ton. Kita tidak bisa naikkan lagi. Tapi masih di bawah maka kita masih punya kesempatan dengan mudah untuk mencapai negara-negara tersebut,” ujar Kalla dalam acara peletakan batu pertama pembangunan Pusat Penelitian Kakao atau Cocoa Research Center (CRC) di Kelurahaan Attang Salo, Kecamatan Ma’rang, Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, pada Sabtu (18/11/2017).

 

Peletakan batu pertama Pusat Penelitian dan Pengembangan Kakao PT Mars Symbioscience di Kabupaten Pangkep, Sulsel, oleh Wapres Jusuf Kalla, didampingi Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo dan Frank Mars, Board of Directors of Mars. Inc. Pusat penelitian ini diharapkan bisa berkontrbusi bagi peningkatan kualitas dan profuktivitas kakao di Indonesia yang mengalami penurunan akibat serangan hama penyakit dan praktik pertanian yang kurang tepat. Foto: Mars/Rison Syamsuddin

 

Menurut Kalla, peluang untuk meningkatkan produktivitas kakao terbuka lebar seiring dengan kemajuan teknologi pertanian dan melalui penggunaan bibit yang baik.

“Kalau kita tingkatkan dua kali lipat dan itu sangat mungkin. Karena di negara lain 2 ton. Jadi meningkatkan menjadi 1,5 ton sangat mungkin dengan menggunakan bibit yang baik,” ujarnya.

Menurutnya, pembangunan pusat penelitian ini sangat penting jika ingin memberi nilai tambah bagi produk yang akan dihasilkan. Ia menilai suatu ekonomi akan berjalan dengan baik hanya akan berhasil jika selalu ditingkatkan nilai tambah dan produktivitasnya dan ini hanya bisa dicapai melalui penelitian.

“Karena itulah modal lahan yang harus tersedia, iklim, petani yang punya kemauan keras, maka upaya-upaya satu-satunya adalah bagaimana meningkatkan teknologinya lewat penelitian, lewat percobaan, lewat dorongan, lewat penyuluhan, lewat pupuk yang baik, bibit yang baik. Baru kita bisa mencapai apa yang kita cita-citakan untuk naik peringkat dalam produktivitas kakao di dunia ini,” tambahnya.

Kalla kemudian merunut sejarah ketika krisis ekonomi melanda Indonesia di tahun 1997 dimana para petani kakao di Sulawesi bisa berjaya karena terjadinya kenaikan harga kakao mencapai lima kali lipat dari sebelumnya.

“Begitu krisis sejarah ekonomi itu Sulawesi agak aneh. Justru maju di atas krisis. Baru kita bisa nikmati harga ketika krisis. Ketika rupiah mencapai Rp15 ribu, semua tepuk tangan, semua beli mobil. Gudang-gudang penuh di sini. Karena harga tiba-tiba naik lima kali lipat,” tambahnya.

Kalla menambahkan bahwa berbeda dengan perkebunan di Jawa dan Sumatera, perkebunan di Sulawesi umumnya adalah perkebunan rakyat sehingga petani bisa bekerja di lahan sendiri, dimana hal ini akan memberikan pemerataan yang baik untuk masyarakat. Ini memberikan kemakmuran bagi masyarakat karena masyarakat tidak menjadi buruh tapi menjadi pemilik sendiri kebun tersebut.

“Karena itu juga mereka tidak punya kemampuan meneliti karena mereka adalah skala kecil sehingga perusahaan besarlah yang harus membantu penelitian itu. Karena itu terima kasih kepada Mars (Mars Symbioscience Indonesia) yang mempelopori penelitian ini. Sebenarnya itu win-win, karena apabila produktivitas tinggi maka juga banyak dibeli pengusaha-pengsaha besar dan akan mendapat manfaat darinya.”

 

Produksi kakao Indonesia terus mengalami penurunan dalam 10 tahun terakhir akibat tingginya serangan hama PBK dan penyakit VSD. Kondisi ini menyebabkan banyak petani meninggalkan kebunnya dan menggantinya dengan komoditas lain. Foto: Mars/Khomeny

 

Pada kesempatan yang sama, Syahrul Yasin Limpo, Gubernur Sulsel, menilai keberadaan Pusat Penelitian ini sudah lama dinantikan hadir di Sulsel. Ia memuji peran Mars selama ini dalam membantu pemerintah dan masyarakat dalam rangka meningkatkan kualitas dan produktvitas kakao di Sulsel

Syahrul juga memuji peran dan keperdulian Mars selama ini yang tidak hanya semata mengejar kepentingan bisnis, tetapi juga memberi kontribusi bagi peningkatan kesejahteraan petani dan berkontribusi pada kemajuan daerah dan bangsa.

“Pemerintah tidak bisa sendiri karena itu kehadiran perusahaan besar dengan ekspansi aktivitas usaha seperti yang dilakukan oleh Mars adalah bagian-bagian yang penting kita dorong ke depan,” ujarnya yang mendampingi Wapres bersama dengan Menteri Pertanian RI, Amran Sulaiman; Frank Mars, Board of Directors of Mars. Inc dan sejumlah pejabat dari jajaran pemprov dan pemkab di Sulsel.

 

Antisipasi Kepunahan

Frank Mars mengatakan Mars Symbioscience Indonesia (MSI) mendirikan Pusat Penelitian Kakao di Pangkep, yang merupakan fasilitas penelitian kakao kedua di Indonesia. Hal itu sebagai penerapan prinsip bisnis nyata, khususnya pada prinsip mutualitas dari Mars Inc. produsen merek cokelat ternama di dunia dan MSI, anak perusahaannya.

Kakao, lanjutnya, telah membuka lapangan kerja bagi lebih dari 6,5 juta keluarga petani di seluruh Afrika, Amerika Selatan dan Asia Tenggara. Namun, 40 persen produksi kakao menurun karena serangan hama, penyakit dan praktik pertanian yang kurang tepat.

“Jika Mars dan seluruh pemain industri tidak merubah kondisi ini dan membuka lapangan kerja bagi petani, maka tidak akan ada petani yang ingin menanam kakao dan pada akhirnya kakao akan punah. Kami berharap melalui Pusat Penelitian Kakao di Pangkep dapat merubah keadaan ini. Kakao merupakan bahan baku penting yang digunakan oleh produk Mars di seluruh dunia, oleh karena itu Mars memastikan pasokan kakao stabil dan berkelanjutan,” tambahnya.

Sedangkan Arie Nauvel Iskandar, Direktur Corporate Affairs MSI, pihaknya terus meningkatkan kontribusinya di Sulawesi dan terus berinvestasi untuk mentransfer teknologi dan pengetahuan demi meningkatkan taraf hidup petani, melanjutkan pengembangan yang selama ini telah dilakukan selama 15 tahun.

Dalam lima tahun terakhir, melalui empat Pusat Pengembangan Kakao atau Cocoa Development Center (CDC) di Sulawesi Selatan, Mars telah melatih 120 Cocoa Doctor yang kemudian mengedukasi dan memberikan pembinaan kualitas kakao kepada 12.000 petani di desa mereka.

“Selain itu, Mars juga aktif bekerja sama dengan delapan sekolah kejuruan untuk mengembangkan dan mempertahankan kurikulum kakao guna mendorong generasi muda untuk terlibat dalam perkebunan dan usaha kakao” tambahnya.

 

Hasil penelitian kakao secara intensif dalam lima tahun terakhir dari Mars menghasilkan 103 klon terbaik hasil dari 45 ribu kakao persilangan, di Tarengge, Kabupaten Luwu Timur, Sulsel. Foto: Wahyu Chandra/Mongabay Indonesia

 

Sementara Maryln Sumbung, Presiden Direktur MSI, mengatakan bahwa Mars berinvestasi di rantai pasokan ini untuk mengatasi berbagai ancaman termasuk perubahan iklim, kemiskinan dan kelangkaan sumber daya.

“Pusat Penelitan yang baru di Pangkep merupakan wujud komitmen Mars untuk mencapai tujuan ini, khususnya ambisi Mars untuk meningkatkan kualitas hidup satu juta orang di dalam lingkaran rantai pasokan kami, sehingga mereka lebih maju.”

Mars sendiri mulai beroperasi di Indonesia sejak tahun 1996 dengan pabrik pengolahan kakao pertama di Sulawesi. Operasional Mars kemudian diperluas pada tahun 2012 dengan kapasitas tahunan sebesar 24.000MT, dan saat ini telah memiliki lebih dari 300 karyawan.

Mars juga merupakan salah satu pengagas Cocoa Sustainable Partnership (CSP) atau Kakao Yang Berkelanjutan pada tahun 2006, yaitu forum komunikasi bagi industri dan pemerintah, dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan kakao di Indonesia.