Derita Warga Sarolangun Terkena Polusi dari Pembangkit Batubara (Bagian 1)

Truk-truk membawa batubara lalu lalang di jalan pemukiman dan menimbulkan debu ke mana-mana. Debu makin parah kala musim kemarau. Foto: Yitno Suprapto/ Mongabay Indonesia

 

 

Warga Sarolangun membutuhkan listrik, namun bukan dari energi kotor yang perlahan bisa meracuni bahkan membunuh mereka…

Debu mengepul pekat dari gilasan roda truk beradu dengan jalanan berbatu. Di bak truk tak tertutup terpal, debu batubara terbang bebas tertiup angin, berhenti di atap rumah, di teras dan sebagian terhirup.

Agustus lalu, Sarolangun panas. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Jambi memperkirakan Agustus-September, adalah puncak kemarau tahun ini.

Awal Agustus, saya bertemu dengan Ramli, dia tinggal di ujung Simpang Pitco, Desa Semaran, Kecamatan Pauh, Sarolangun, Jambi. Perkenalan kami dimulai tiga bulan sebelumnya, saat saya membeli minuman di toko kecil miliknya.

Toko seukuran 3×4 meter itu dulu sempat ramai. Sekitar 2010, awal pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), banyak pekerja proyek istirahat sembari menyeruput kopi dan makan mie rebus.

“Ini dulu sampek nggak muat—saking banyaknya barang dagangan—penuh, kardus-kardus tarok di ruang tengah sampek ke dapur,” kata Ramli mengenang.

Sekarang warung sepi, hanya sesekali tetangga membeli minyak goreng curah kemasan plastik ukuran seperempat kilogram. Ada juga mie instan tersusun di rak belakang. Etalase yang dulu berisi banyak, macam biskuit, sekarang berganti sandal dan baju dagangan.

Dari warung kecil ini, saya bisa melihat jelas PLTU Pauh yang bercat biru langit dengan satu cerobong tinggi besar bercat perak. Dua boiler di bagian muka PLTU, masing-masing punya satu pipa pembuangan kecil di bagian atas.

Rumah Ramli berjarak 300 meter dari pos penjaga PLTU milik PT.Permata Prima Elektrindo, sumber listrik utama PLN di Kabupaten Sarolangun, Jambi. Pembangkit listrik tenaga bahan bakar batubara ini menyuplai dua pertiga kebutuhan listrik di Sarolangun, dengan daya 2 x 7 MW. Sejak 2012, PLTU Pauh menjadi motor utama hidup-matinya listrik di Sarolangun.

Ada puluhan keluarga tinggal dekat PLTU. Rumah-rumah batu bercat kusam, beratap seng, berjejer sepanjang jalan menuju PLTU. Setiap hari puluhan truk muatan batubara lewat depan rumah mereka, mengangkut ratusan ton emas hitam untuk bahan penggerak mesin PLTU.

“Kalau yang kecik, ukuran 12 ton (batubara) itu ado 20-25 sehari,” kata Ramli, mengira-ngira. “Kalau yang truk besak (fuso) ukuran 14 ton, itu empat mobil sehari.”

Beberapa tahun setelah mesin PLTU beroperasi, Ramli dan beberapa tetangganya mulai mengeluh debu batubara tertutama kala musim panas. “Debu ni kalau tak diprotes, tidak disiramnyo. Kadang sekali bae disiram. Itupun kalau orang resah, kalau nggak, nggak disiramnyo.”

Mestinya, PLTU menyiram debu jalan sehari tiga kali, mengingat Agustus itu sedikit sekali turun hujan dan cenderung panas. Ada banyak debu dari gilasan roda truk.

“Harusnya pagi ini sudah disiram, mobil sudah banyak masuk. Nanti siang pas debu udah mubal baru disiram. Kadang sore baru disiram,” kata Ramli.

Dia mengeluh karena kendaraan penyiram debu bukan mobil tangki khusus, tapi dump truk diisi air. “Tengok ini agek, nyiramnyo pakek mobil dump, bukan mobil tangki. Kayak nggak niat.”

Jumat itu, saya menunggu di rumah Ramli ingin membuktikan keluhan Ramli. Saya duduk di teras sembari menyeruput segelas teh hangat yang disuguhkan. Dari pagi hingga lewat tengah hari belum ada mobil penyiram debu lewat.

Dari teras, saya melihat debu di jalan terus mengepul setiap kali mobil angkutan batubara lewat. Makin siang, makin pekat.

Ramli bilang, debu-debu ini sangat mengganggu. Sudah beberapa hari Ramli sakit seperti kena flu. Dia bicara dengan suara serak disertai batuk. “Suaro sayo bae berubah-ubah, tidak tahu lagi kapan mulainyo. Sudah lamo nggak sembuh-sembuh.”

Namun, dia belum bisa memastikan sakit lantaran debu batubara atau bukan. Saya melihat, sesekali dia menarik napas sedikit keras, sembari menyeka cairan bening yang keluar dari hidungnya.

 

Kotoran hitam yang mengendap di bawah tong air milik Ramli. Foto: Yitno Suprapto/ Mongabay Indonesia

 

 

***

Tong air biru masih teronggok di samping toko, posisi persis di bawah talang air, sebagai tandon saat hujan turun kemarau ini. Air jernih, namun kotoran hitam mengumpul di dasar. Kotoran ini dari debu yang menempel di atap seng, terbawa jatuh oleh hujan.

“Ini untuk cuci kaki, nyiramin kembang pakai ini,” kata Ramli sembari menyiduk air dari tong dan menawarkan saya cuci kaki.

Untuk menghindari debu hitam ini masuk dalam sumur, Ramli menutup dengan papan dan seng bekas.

Wike, anak perempuan Ramli ikut duduk di kursi teras. Dia membawa anak perempuannya yang berusia empat bulan main di luar. Perempuan lulusan kebidanan ini ikut dalam obrolan kami.

“Apa tidak bahaya anak dibawa keluar begini?” tanya saya. Di luar lagi banyak debu dari mobil angkutan batubara lalu-lalang.

Wike hanya tersenyum, sembari mengajak main putri pertamanya. “Bosan om.. di dalam tenyuss,” kata Wike, seolah menyampaikan jawaban anaknya.

Belakangan ini sekujur tubuh Wike mulai gatal-gatal. Dia tak tahu penyebabnya. Dia curiga karena debu batubara. Yang jelas, katanya, banyak warga mengeluh gatal dan gangguan saluran pernafasan.

Iyo tu koranin bae, gara-gara PLTU kami ko gatal-gatal,” suara Santi membuat saya kaget. Dia terus saja ngomel tak karuan melihat saya memotret truk batubara yang melintas di depan rumah Ramli.

Saya mengajak dia duduk di pos ronda. Dia mulai bicara perlahan. “Saudara sayo jadi wartawan jugo di Jambi, Marpaung kenal? “Tidak bu,” jawab saya.

Dia tinggal di persimpangan Pitco, rumah model kuno bercat putih. Santi mengaku gatal-gatal di sekujur tubuh. Perempuan baya ini menduga gatal karena batubara. “Gatal galo, kaki itu bekasnya sampek itam digaruk-garuk terus.”

Dia bilang warga sekitar Simpang Pitco banyak kena gatal kulit. “Dio tu jugo, kakinya sampek hitam-hitam bekas digaruk. Padahal dio di rumah bae, dak pergi-pergi,” sembari menunjuk perempuan yang dibonceng laki-laki lewat depan pos ronda.

Iyo kan?” katanya seperti mencari dukungan dari tetangga yang ikut ngumpul di pos kampling sore itu.

Dia juga cerita soal dinding rumah yang hitam kena percikan air hujan. “Kok aeknyo itam. Kalau debu bae kan kuning, ini kok itam debu manalagi kalau nggak PLTU, nggak mungkin kopi, ngapoin dinding disiram kopi,” katanya.

“Dari dulu dak katik debu item, baru inilah.”

Moncong cerobong PLTU yang menyebarkan polusi PM 2,5, SO2 dan NOX kontributor utama pembentuk hujan asam. PLTU batubara juga memancarkan merkuri dan arsen, bahan kimia berbahaya sekaligus mematikan.

Polutan beracun ini sangat halus dan bebas menyebar mengikuti kemana arah angin bertiup, mengotori udara dan masuk ke dalam paru-paru orang yang menghisapnya. Polusi udara adalah pembunuh senyap, menyebabkan tiga juta orang di dunia meninggal lebih cepat. Pembakaran batubara adalah salah satu kontributor terbesarnya.

Hasil penelitian Universitas Harvard dengan pemodelan atmosfer GEOS-Chem, yang dipublikasi Greenpeace pada 2015, menyebutkan, partikel polutan dari pembakaran batubara menyebabkan kematian dini sekitar 6.500 jiwa per tahun di Indonesia. Mereka menderita stroke, jantung iskemik, kanker paru-paru, penyakit paru obstruktif kronik, serta penyakit pernafasan dan kardiovaskular lain.

Angka kematian dini diperkirakan melonjak jadi 15.700 orang per tahun, seiring pembangunan PLTU batubara. Begitu juga warga sekitar PLTU Pauh, sangat rentan jatuh sakit bahkan mati lebih cepat.

Laporan khusus IPCC tentang sumber energi terbarukan dan mitigasi perubahan iklim, menyebutkan, teknologi pengontrol polusi udara PLTU dapat mengontrol pelepasan polutan berbahaya ke atmosfer. Walau demikian, setelah ditangkap polusi ini sering disimpan di kolam limbah yang tak dilapisi atau ke pembuangan debu.

Limbah ini kemudian akan meresap ke air permukaan dan tanah, mencemari sumber air yang diperlukan manusia dan kehidupan liar. Hingga kini, belum ada teknologi pengontrol polusi yang mampu menghilangkan polutan sangat berbahaya seperti dioksin dan furan.

Laporan ini juga menyebutkan, jika harga pengontrol polusi udara sangat mahal, pengembang harus menambah ratusan juta dolar untuk biaya pembangkit listrik batubara. Setidaknya, perlu US$9 cent per kilowatt-jam. Pengontrol polusi akan mengurangi efisiensi pembangkit, ia juga membutuhkan lebih banyak batubara yang dibakar dari per unit listrik yang dihasilkan.

Pengembang proyek sering tak memasang pengontrol polusi, bahkan mematikannya untuk menekan biaya operasinal lebih murah. Biaya-biaya eksternal seperti pencemaran lingkungan dan kesehatan warga tak masuk dalam perhitungan biaya perusahaann.

Selama berabad-abad, industri batubara pakai istilah “batubara bersih” untuk mempromosikan teknologi terbaru. PLTU Semaran menggunakan teknologi Tiongkok. Dalam catatan Greenpeace, Tiongkok, telah menetapkan moratorium tambang batubara baru. Tiongkok mulai meninggalkan PLTU batubara, dan beralih ke energi terbarukan.

 

Santi menunjukkan sumur warga yang ditutup untuk menghindari debu batubara masuk dalam sumur. Foto: Yitno Suprapto/ Mongabay Indonesia

 

 

***

Akhir Agustus lalu, saya bertemu dokter Jois Sitorus. Dia dokter umum di Puskesmas Pauh. Dia membenarkan bahaya polutan batubara, umumnya menyerang pernapasan. “Pastilah gangguan pernapasan, kalau lebih seriusnya ke paru-parunya aja, bronkitis.”

Namun sampai akhir Agustus, katanya penderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang berobat ke Puskesmas Pauh, masih wajar.

“Dari 2015 sampai sekarang nggak begitu banyak yang kena ISPA, yang datang berobat juga nggak begitu banyak kena ISPA,” katanya.

Untuk kasus serius seperti kanker paru-paru, kata Jois, belum pernah menemukan di Puskesmas Pauh. “Kalau kanker paru-paru itukan prosesnya lama, kalau dia (warga) cuma menghirup udara, jadi—polutan—kan tidak serta merta keluar langsung dihirup masih bercampur dengan udara lain, jadi mungkin kualitas racun nggak langsung berdampak, mungkin jangka panjang, sangat panjang,” ucap Jois.

Pekerja PLTU dan warga sekitar, katanya, orang paling rentan kena dampak polutan.

Sedangkan data Dinas Kesehatan Sarolangun, penderita ISPA Juni 2017 tercatat 1.538 orang, naik jadi 1.666 orang pada Juli. Kasus tertinggi di Kecamatan Singkut, terdata 270 orang kena ISPA, Limbur Tembesi 238 orang dan Kecamatan Pelawan 205 orang. Kecamatan Pauh, tak masuk dalam tiga besar penderita ISPA.

Pada bagian tata usaha Puskesmas Pauh, mendata penderita ISPA di Pauh mencapai 952 orang dalam rentang waktu Januari-Juli 2017. Menurut Lina, itu jumlah tertinggi sejak mulai bekerja di bagian tatausaha dua tahun lalu.

“Ini data dari bidan desa dikumpulin, soalnya tak semua berobat ke sini, banyak yang ke bidan desa.”

Puskesmas Pauh sendiri membawahi 14 desa: Batu Ampar, Danau Kucing, Danau Serdang, Karang Mendapo, Kasang Melintang, Lamban Sigatal, Lubuk Napal, Pangkal Bulian, Pauh, Pengidaran, Seko Besar, Semaran, Sepintun, dan Taman Bandung.

Aryadi, Kepala Seksi Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Sarolangun yang saya temui mengatakan, kasus ISPA bukan karena aktivitas tambang batubara di Sarolangun, atau PLTU di Semaran. Dia mengklaim, ISPA karena debu jalanan akibat cuaca panas. Jumlah penderita ISPA, katanya, bakal meningkat saat puncak kemarau.

Dokter Jois punya penjelasan berbeda. Kasus ISPA tak mengenal waktu, cenderung meningkat saat masa peralihan cuaca. Serangan ISPA bisa karena polutan, virus, bakteri dan alergi. Polutan batubara, katanya, bisa menyebabkan alergi bahan kimia. Dalam kandugan udara banyak mengandung bahan kimia seperti Co, CO2, dan lain-lain. (Bersambung)

 

PLTU Pauh, Sarolangun, dengan daya 2×7 megawatt yang menyuplai dua per tiga kebutuhan listrik di Kabupaten Sarolangun. Foto: Yitno Suprapto/ Mongabay Indonesia