Mengenal Cocoa Doctor, Petani Kakao Penggerak di Sulawesi

Asep Ruhli Hakim, petani dari Luwu Timur, Sulsel, sempat putus asa dengan kondisi kebun kakaonya yang rusak berat akibat serangan hama PBK dan VSD. Melalui keikutsertaannya dalam pelatihan dan Cocoa Doctor ia berhasil mengembalikan kejayaan kakao di daerahnya. Foto: Wahyu Chandra/Mongabay Indonesia

 

Alexander (36) berjalan cepat di depan. Di sekeliling kami adalah pepohonan kakao yang berbuah lebat dan besar-besar. Beragam warna, hijau, kuning, coklat dan kuning merahan. Limbah kakao berupa daun dan kulit buah dibiarkan berserakan di sekeliling kebun.

Di sebuah titik di dalam kebun seluas sekitar 1 hektar itu, Alexander berhenti. Petani asal Toraja ini memilih sebuah pohon kakao yang berbuah paling lebat untuk menjelaskan kondisi kebun dan pengalamannya berkebun kakao dua tahun terakhir.

Alexander adalah petani kakao dari Desa Kalotok, Kecamatan Sabbang, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, yang cukup sukses dan menjadi buah bibir di kalangan petani kakao di Sulawesi. Siang itu, Sabtu (18/11/2017), di kebunnya, ia menjelaskan bagaimana pengalamannya bertani dan sukses hanya dalam rentang waktu dua tahun.

baca : Cegah Kepunahan Kakao, Dibangun Pusat Penelitian di Pangkep

Dengan bangga Ia bercerita bahwa pada tahun 2016 lalu, lahan kakaonya yang hanya seluas 1 hektar mampu menghasilkan biji kakao basah sebanyak 12 ton atau setara dengan 4 ton biji kakao kering. Nilainya mencapai Rp120 juta.

Bahkan, di tahun 2017 ini, produktivitasnya telah mencapai 14 ton biji kakao basah. Ia memperkirakan total panen tahun ini tembus di angka 20 ton biji kakao basah. Jumlah yang sangat fantastis.

Menurut Alexander, tingginya produksi kebunnya tersebut berawal ketika ia mulai mengikuti program Cocoa Doctor atau Dokter Kakao pada akhir 2015 lalu. Cocoa Doctor sendiri adalah petani yang telah dilatih secara intensif selama hampir dua bulan terkait budidaya dan kewirausahaan oleh Mars Symbioscience Indonesia. Cocoa Doctor ini kemudian menjadi penggerak bagi petani lain di desanya untuk melakukan hal serupa.

Sama dengan petani kakao lain pada umumnya, Alexander awalnya sudah putus asa dengan kondisi kebunnya yang rusak parah akibat serangan hama Penggerek Buah Kakao (PBK) dan penyakit busuk batang atau VSD.

“Dulu hampir tak ada hasil kakao yang bisa dipanen. Paling tinggi bisa diperoleh dalam setahun hanya 300 kg, bahkan jauh di bawah itu. Saya sudah hampir merantau kembali ke Papua sebelum akhirnya diajak ikut Cocoa Doctor dari Mars ini,” katanya.

baca : Teror Hama Ini Hancurkan Masa Keemasan Petani Kakao Luwu

Tak lama setelah mengikuti pelatihan intensif selama hampir dua bulan, Alexander segera mengaplikasikan ilmunya di kebun milik mertuanya seluas 1 hektar. Setelah melihat perubahan yang cukup signifikan, ia pun mulai mengajak petani lain. Ia kini memiliki 140 petani binaan.

Tidak hanya dari hasil panen biji kakao, ia juga memperoleh tambahan penghasilan hingga puluhan juta dari hasil penjualan bibit kakao yang diusahakannya bersama istrinya di sekitar pekarangan rumahnya.

 

Kresensia dan suaminya, Alexander membangun usaha pembibitan di pekarangan rumahnya di dari Luwu Utara, Sulsel. Mereka telah menghasilkan puluhan ribu bibit ke petani lainnya dan memberi penghasilan tambahan puluhan juta rupiah. Foto: Wahyu Chandra/Mongabay Indonesia

 

Kondisi serupa dialami oleh Asep Ruhli Hakim (40), petani kakao dari Desa Cendana Hijau, Kecamatan Wotu, Kabupaten Luwu Timur. Ia mengikuti program Cocoa Doctor ini sejak tahun 2016 lalu dan kini memiliki petani binaan sebanyak 41 petani.

“Dulunya tertarik pelatihan Mars karena selama ini memang tidak begitu paham bagaimana mengelola kakao dengan baik. Dulu pernah ikut Sekolah Lapang tapi tidak selengkap yang ada di Mars. Apalagi ada tambahan ilmu agribisnis.”

Asep sebagai transmigran asal Lombok, Nusa Tenggara Barat, telah bertani sejak tahun 1990-an, dimulai dengan bertani sawah. Karena kondisi irigasi yang rusak petani-petani di desanya kemudian beralih ke pertanaman kakao. Sayangnya, kakao justru kemudian terpuruk karena adanya serangan hama PBK, sehingga Asep sempat tak merawat kebunnya dengan baik.

Kini Asep bisa bersenang hati karena panen kakaonya mulai kembali bagus, menghasilkan sekitar 3 ton biji kakao basah. Ia merasa terbantu dengan kebijakan Mars yang membeli biji kakao basah.

“Lebih menguntungkan basah, karena kerjaanya mudah, penjualannya cepat menjadi uang, tidak harus menjemur dan takut terkena hujan. Juga tak harus menunggu beberapa hari,” katanya.

Asep juga memiliki usaha pembibitan dan pupuk kandang yang memberinya tambahan penghasilan hingga R 40 juta dalam setahun.

baca : Generasi Muda Enggan Bertani. Ini Solusinya..

 

Penggerak Petani

Menurut Nur Azis, salah satu pendamping Cocoa Doctor Mars, kehadiran Cocoa Doctor ini sangat vital dalam menularkan ilmu budidaya dan agribisnis di kalangan petani kakao lainnya. Para Cocoa Doctor direkrut dari kalangan petani kakao sendiri yang berusia muda dan memiliki motivasi bertani yang tinggi. Mereka diharapkan menjadi penggerak sekaligus contoh bagi petani lainnya, dengan menjadikan lahannya sebagai kebun percontohan.

Menurut Azis, selama ini salah satu tantangan dalam mengajak petani untuk berkebun dengan baik adalah perlunya ada pembuktian, tidak sekedar teori. Pembelajaran pun harus lebih banyak praktek dibanding teori.

“Makanya kita memiliki konsep Wow! Farm agar bisa jadi contoh yang bisa dilihat petani lain. Wow! Farm ini adalah kebun yang dikelola oleh Cocoa Doctor yang begitu orang masuk ke dalam kebun langsung merasa wow,” ujarnya.

 

Petani kakao di Luwu Raya dan Kolaka Utara, Sulsel, kini kembali merasakan masa jaya kakao. Melalui hasil penelitian yang dilakukan oleh Mars dihasilkan sejumlah klon dengan produktivitas yang tinggi, tahan hama penyakit dan memiliki kadar lemak yang tinggi. Foto: Wahyu Chandra/Mongabay Indonesia

 

Saat ini terdapat 120 petani yang telah direkrut sebagai Cocoa Doctor. Biasanya dalam satu desa terdapat 1 Cocoa Doctor. Tingkat kesuksesan dan aktivitas mereka di lapangan berbeda-beda. Ada yang perkembangannya lambat, ada yang lebih maju.

“Biasanya yang progresnya lambat arena kurang fokus saja, karena mereka ada usaha lain. Misalnya budidaya tanaman jangka pendek seperti merica, yang lokasi kebunnya agak jauh dari lokasi kebun kakaonya sehingga kemudian waktu mereka terbagi,” ungkap Azis.

Menurut Azis, tanaman kakao sendiri mudah dikelola karena tidak terikat oleh waktu, bisa dikerjakan kapan saja, meski tetap harus berkesinambungan. Dalam sehari misalnya, petani bisa menyesuaikan waktunya jam berapa mereka masuk kebun untuk melakukan pemeliharaan.

“Yang penting kita tahu primsipnya bahwa kakao itu butuh pupuk yang cukup, pemangkasan, sanitasi dan pemeliharaan dari hama dan penyakit. Misalnya terkait sanitasi atau kebersihan kebun, sisa tanaman dibersihkan, kalau ada buah yang busuk di salah satu pohon harus segera dibuang agar tidak mengganggu tanaman secara keseluruhan. Buah yang rusak itu ditanam di tanah sekitar kebun agar tidak menyebar sakitnya.”

baca : Kisah Masyarakat Mekarti Jaya: Tegas Tolak Sawit, Mantap Kembangkan Kakao

Kondisi kakao di Sulawesi sendiri diperkirakan sudah mulai dibudidayakan di tahun 1970-an. Kakao pernah mengalami masa jaya di tahun 1990-an dan mencapai puncaknya di tahun 2000. Di masa krisis ekonomi, harga kakao bahkan mencapai lima kali lipat dari sebelumnya. Ketika serangan hama PBK mulai menyerang kebun dalam skala besar banyak petani yang meninggalkan kebun dan sebagian lagi menggantinya dengan sawit.

“Ketika teknologi baru kakao mulai diperkenalkan, banyak petani yang kembali ke kebun dan bahkan ada yang menebang kembali semua sawitnya digantikan dengan kakao,” tambah Azis.

Untuk saat ini, rata-rata produktivitas petani kakao mencapai 5 ton basah per hektar, atau sekitar 1,5 ton kering, sementara dari target dari Mars sendiri adalah 6 ton basah atau 2 ton kering. Ini jauh lebih tinggi dibanding di masa krisis yang hanya bisa sampai 300-400 kg per hektar.

“Standar 6 ton basah ini sudah bagus, sama dengan jumlah panen di masa jaya-jayanya dulu. Malah sekarang ada jumlah klon yang bisa 4 ton kering atau lebih per hektar. Namun kita tetap realistis target 2 ton kering saja dulu sekarang ini.”