Memanfaatkan Limbah Ban dan Abu Sekam Jadi Penguat Beton, Begini Caranya

Pembuatan balok-balok beton yang menggunakan limbah abu ban bekas dan abu sekam mampu menurunkan bahan semen hingga 15%. Bahan baku dari limbah tersebut menjadi salah satu jawaban pengelolaan limbah. Foto : L Darmawan/Mongabay Indonesia

 

Tiga mahasiswa tengah asyik di sebuah laboratorium teknik di Fakultas Teknik, Universitas Muhamadiyah Purwokerto (UMP), Jawa Tengah pada Jumat (24/11). Mereka meramu berbagai macam bahan untuk dijadikan beton. Bahan utamanya memang ada pasir, batu, dan semen. Tetapi, ada bahan lainnya sebagai campuran dan justru menjadi penguat. Bahannya berasal dari ban bekas serta limbah dari abu sekam.

Mengapa kedua limbah itu dipilih? Salah seorang mahasiswa inovator yang tergabung dalam Newbie Bravery, Fajar Yusuf mengungkapkan alasannya. “Berdasarkan referensi yang ada, ban bekas di Indonesia itu cukup besar. Data tahun 2006 saja menyebutkan kalau limbah dari ban bekas mencapai 11 juta ton. Tentu saja jumlah yang sangat besar. Jika di Purwokerto, limbah ban telah dimanfaatkan sebagian warga menjadi sandal, kursi, meja dan berbagai macam kerajinan. Nah, kami memanfaatkan limbah ban itu sebagai penguat beton,” kata Yusuf yang didampingi dua mahasiswa lainnya Irfauzi Firman dan Fernanda Wisnu Hanggara.

Ditambahkan oleh Yusuf, selain limbah ban, mereka juga memanfaatkan limbah abu sekam dalam pembuatan beton tersebut. “Kami sengaja memanfaatkan abu sekam, karena di Banyumas dan sekitarnya, tidak sedikit ada industri batu bata. Industri kecil produsen batu bata tersebut menggunakan sekam sebagai bahan bakarnya. Ketika jadi abu, masih sedikit yang menggunakan untuk sesuatu yang jauh lebih bermanfaat. Nah, kami menggunakan limbah dari abu sekam tersebut sebagai tambahan bahan pembuatan beton,” ujarnya.

Mereka kemudian mencoba mempraktikan dalam skala laboratorium untuk mengetahui bagaimana proses pembuatan beton-beton tersebut. Prosesnya sama persis dengan pembuatan beton biasa. Ada proses peramuan dengan mesin, kemudian dicetak. Hanya saja, untuk ban dibakar terlebih dahulu kemudian disaring menjadi partikel-partikel kecil seperti pasir. Kalau untuk abu sekam, sudah lembut dengan sendirinya.

“Jadi, tidak ada yang berbeda dengan proses pembuatan beton pada umumnya. Melakukan pencampuran, kemudian dicetak. Namun, kalau dilihat secara detail, hasilnya agak berbeda terutama dalam warna cetakan beton. Warnanya lebih hitam karena ada campuran ban bekas,” jelas Yusuf.

 

 

Abu sekam yang digunakan sebagai campuran pembuatan beton dapat mengurangi bahan semen. Foto : L Darmawan/Mongabay Indonesia

 

Lalu apa keuntungannya dengan adanya komposisi ini? Anggota tim Newbie Bravery lainnya, Irfauzi Firman menambahkan kalau ada sejumlah keuntungan dengan memanfaatkan limbah untuk campuran penguat beton seperti ini.

“Salah satu keuntungan adalah pemanfaatan limbah ban dan abu sekam untuk sesuatu yang lebih bermanfaat. Itu paling prinsip, karena ban bekas yang tidak dimanfaatkan, misalnya, membuat pencemaran lingkungan, bahkan ban bekas berpotensi sebagai sarang nyamuk. Jika dibiarkan maka mengakibatkan lingkungan tidak sehat. Inilah mengapa, ban bekas harus dimanfaatkan untuk sesuatu yang lebih bermanfaat,” kata Irfauzi.

Dijelaskan oleh Irfauzi, setelah dilakukan riset, ternyata campuran mampu menurunkan konsumsi semen. “Jadi, dari riset yang kami lakukan, konsumsi semen untuk pembuatan beton bisa berkurang hingga 15%. Prosentase 15% tersebut berasal dari 5% dari bahan limbah ban dan 10% dari abu sekam. Selain itu, ada penghematan biaya cukup lumayan, sekitar 7,1%. Untuk pembuatan satu beton dengan ukuran 1 meter kubik (m3), misalnya, jika sebelumnya kebutuhan dana Rp1,05 juta, maka kini bisa dihemat menjadi Rp979 ribu,”ujar Irfauzi.

Di sisi lain, lanjut Irfauzi, kekuatannya juga telah diuji, meski bahan semen dikurangi. “Jadi, meski bahan semen telah berkurang hingga 15%, namun kekuatannya tetap kokoh. Sebab, dalam pengujian yang telah dilakukan selama 28 hari, kekuatannya mencapai 460 kg per cm2. Kekuatan itu kokoh, karena untuk bangunan perumahan hanya membutuhkan kekatan 250 kg per cm2. Sehingga beton inovatif ini akan dapat dimanfaatkan di bangunan-bangunan yang lebih berat seperti jembatan,”katanya.

Dosen pembimbing dari Fakultas Teknik UMP Sulfah Anjarwati mengatakan bahwa ide awal riset tersebut adalah bagaimana memanfaatkan limbah yang ada. “Riset ini sesungguhnya berawal dari kompetisi antaruniversitas mengenai teknologi teknik sipil dengan memanfaatkan limbah. Nah, kemudian ada ide memanfatkaan limbah ban dan abu sekam. Ternyata beton jenis Self Compacting Concrete (SCC) memiliki mutu tinggi. Kekuatannya hampir mencapai 500 kg per cm2. Itu berarti dengan komposisi beton yang hemat semen tersebut, akan mampu dibuat balok-balok untuk jembatan,” ujar Sulfah.

Ia meminta kepada mahasiswa untuk meneruskan risetnya, guna mengetahui secara detail komposisi paling bagus untuk beton dari bahan limbahnya. “Kami belum tahu kualitas yang paling bagus abu sekamnya seperti apa, kemudian analisa kimianya. Ke depan, riset ini memang harus terus dikembangkan, apalagi salah satu nilai tambahnya adalah memanfaatkan limbah. Sehingga kalau sudah sempurna, dapat dijadikan sebuah produk yang lebih ramah lingkungan karena menjawab permasalahan limbah,” katanya.

 

Beton dengan tambahan bahan limbah ban dan abu sekam lebih hitam warnanya jika dibandingkan dengan beton biasa. Foto : L Darmawan/Mongabay Indonesia

 

Ia mengapresiasi, sebab produk beton ramah lingkungan karena memanfaatkan limbah tersebut menjadi salah satu pemenang dalam Innovation Concrete Competition (ICC)  Diploma Civil Scientific Competition (Disco)  program Diploma Teknik Sipil Universitas Negeri Diponegoro (Undip) Semarang beberapa waktu lalu. Ketiga mahasiswa mampu menyabet juara II. Keunggulan dari inovasinya adalah kuat, biaya efisien serta ramah lingkungan.

Keberhasilan tersebut membutuhkan waktu hingga tiga bulan untuk melakukan trial and error, hingga dapat menghasilkan beton inovatif itu. Diharapkan produk tersebut akan mampu menjawab tantangan pengelolaan limbah, sekaligus mengurangi konsumsi semen.