Musi River Camp, Melihat Lebih Dekat Kearifan Masyarakat Menjaga Sungai

 

Sungai Musi yang panjangnya mencapai 750 kilometer ini merupakan kebanggaan Masyarakat Sumatera Selatan. Pendangkalan dan abrasi yang terus terjadi menyebabkan sekitar 221 anak Sungai Musi telah hilang. Foto: Muhammad Ikhsan/Mongabay Indonesia

 

Masyarakat yang hidup di Sungai Musi, sungai air campuran sepanjang 750 kilometer yang melintas di Sumatera Selatan, diperkirakan sudah ada sebelum masehi. Masyarakat di sini mengalami kejayaan ekonomi dan budaya, ketika Kerajaan Sriwijaya berdiri yang sekitar lima abad menguasai Asia Tenggara. Bagaimana kehidupan masyarakat di tepian Sungai Musi saat ini?

“Kami masih menemukan kehidupan masyarakat tradisional yang kami perkirakan sama seperti masa lalu. Hampir setiap masyarakat di tepi Sungai Musi adalah nelayan, petani, yang juga pedagang,” kata Prima Indriawan, Ketua Umum Wigwam, kelompok pencinta alam dari Universitas Sriwijaya, yang menggelar Musi River Camp 2017. Kegiatan pertama ini diikuti enam tim dari sejumlah perguruan tinggi.

Musi River Camp 2017 merupakan perlombaan mengarungi Sungai Musi menggunakan perahu karet berjarak 56 kilometer. Rutenya, dari Desa Lebung ke Desa Semuntul, Kabupaten Banyuasin lalu ke Desa Pulokerto di Palembang dan diakhiri di Benteng Kuto Besak Palembang. Setiap peserta, selain mengarungi sungai diwajibkan menginap di rumah warga, melakukan diskusi dengan masyarakat.

Dijelaskan Prima, setiap hari masyarakat di tepi Sungai Musi melakukan tiga hal. Selain mengurusi kebun karet seperti merawat dan mengambil getahnya atau bersawah, mereka juga mencari ikan di Sungai Musi dengan cara memancing dan menjala. “Getah karet dan ikan mereka jual ke penampung atau dibawa ke Palembang. Ini dilakukan hampir setiap hari.”

Namun, hasil ikan di Sungai Musi setiap tahunnya mengalami penurunan. “Sulit sekali mendapatkan ikan khas sungai seperti baung dan lias, yang beratnya lebih satu kilogram,” katanya.

Meskipun kualitas air Sungai Musi diperkirakan memburuk akibat limbah masyarakat dan sisa racun obat dari perkebunan sawit atau aktivitas pertambangan batubara, masyarakat tetap memanfaatkannya sebagai sumber air minum, mencuci, dan mandi.

“Kami belum berani mengungkapkan, apakah kondisi air ini membuat kesehatan masyarakat menurun. Perlu penelitian mendalam akan hal ini. Tapi, kami mendapatkan informasi jika ada penyakit mematikan diderita masyarakat seperti kanker yang sebelumnya tidak pernah ada,” jelasnya.

 

Sejumlah peserta Musi River Camp 2017 di Sungai Musi. Selain mengarungi Sungai Musi, mereka juga menginap di rumah warga. Foto: Dok Wigwam Unsri

 

Perahu bertahan

Meskipun sudah banyak dibangun jalan darat dan hampir setiap rumah memiliki kendaraan bermotor, tapi warga tetap mempertahankan perahu sebagai sarana transportasi. “Perkiraan kami, 70 persen warga di tepi Sungai Musi masih memiliki perahu,” katanya.

Warung atau toko yang menjual BBM atau kebutuhan rumah tangga yang berada di tepi Sungai Musi masih banyak yang bertahan. Sehingga warga yang belanja di toko atau warung ini tetap menggunakan perahu.

Begitu juga dengan legenda atau kisah yang terkait Sungai Musi yang bertahan di masyarakat. Misalnya, tentang antu banyu (hantu air), siluman buaya putih, atau ikan tapa raksasa. “Namun banyak lokasi tempat legenda itu disebutkan, sudah ditimbun untuk perumahan, perkebunan atau jalan,” jelas Prima.

Jika legenda-legenda terkait Sungai Musi masih ada, kata Dr. Yenrizal Tarmizi, pakar komunikasi lingkungan dari UIN Raden Fatah Palembang, ini menunjukkan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan, khususnya Sungai Musi, tetap terjaga.

“Artinya, masayarakat yang hidup di tepian atau sekitar Sungai Musi masih menjaga nilai-nilai pelestarian sungai yang telah membesarkan suku bangsa di Asia Tenggara ini saat Sriwijaya berkuasa dulu,” kata Yenrizal, usai peluncuran dan diskusi bukunya “Lestarikan Bumi dengan Komunikasi Lingkungan” di gedung Rektorat UIN Raden Fatah Palembang, Sabtu (25/11/2017), yang menghadirkan nara sumber Dr. Ridzki R. Sigit (Direktur Mongabay Indonesia) dan Dr. Najib Asmani (Koordinator TRG Sumsel).

Legenda-legenda tersebut lahir, karena Sungai Musi dan lingkungan sekitarnya, seperti rawa gambut, harus dijaga, alias tidak dirusak. Dengan begitu, manusianya bebas dari ancaman langsung maupun tidak terhadap perubahan iklim ekstrim seperti banjir dan kemarau panjang.

“Legenda-legenda ini merupakan alat komunikasi lingkungan bagi masyarakat di sekitar Sungai Musi,” terangnya.