Diteliti, 13 Fosil Pohon yang Pernah Hijaukan Antartika

 

Erik Gulbranson, profesor di University of Wisconsin-Milwaukee, yang melakukan penelitian tenang fosil pohon di Antartika. Foto: Peter Rejcek, NSF via Phys.org

 

Mungkin sulit dipercaya. Tapi memang begitu adanya, hutan belantara lebat ternyata pernah tumbuh di Antartika (Kutub Selatan). Ahli geologi dari University of Wisconsin-Milwaukee (UWM) baru-baru ini mendaki lereng McIntyre Promontory di Pegunungan Transantarctic untuk mengungkap fragmen 13 fosil pohon yang pernah menghijaukan Antartika sekitar 260 juta tahun silam itu. Sebelum dinosaurus pertama menjelajahi planet ini.

Dua ahli geologi, Erik Gulbranson dan John Isbell berkelana ke Antartika, untuk membuktikan kebenaran pohon yang pernah tumbuh subur di sana. Fosil pohon yang mereka temukan itu mengartikan hutan tumbuh subur pada akhir Periode Permian, yang berakhir dengan kepunahan massal. Planet Bumi bergeser dari kondisi icehouse menjadi greenhouse, menurut UWM, dan lebih 90 persen spesies lenyap, termasuk pohon-pohon di Antartika.

Gulbranson meyakini bahwa pohon-pohon di hutan Antartika adalah spesies kuat, dan dia berusaha untuk mengetahui mengapa punah. Dalam sebuah pernyataan, dia mengatakan, “Hutan ini adalah kilasan kehidupan sebelum kepunahan massal, yang dapat membantu kita memahami apa yang menyebabkan kejadian tersebut.”

Pada akhir Periode Permian, Antartika adalah bagian dari Gondwana, yang kondisinya lebih hangat dan lembab dari hari ini. Gulbranson mengatakan, hutan di Antartika akan berbeda dari apa yang kita pikirkan sekarang, saat kita mendengar kata hutan.

 

Erik Gulbranson menunjukkan fosil-fosil pohon yang diteliti. Umur fosil tersebut diperkirakan sekitar 260 juta tahun. Foto: UWM Photo/Troye Fox via Phys.org

 

Hutan Era Permian, menurut UMW, mengandung keragaman varietas tanaman dengan fungsi spesifik, yang mempengaruhi bagaimana hutan merespon perubahan lingkungan. Universitas tersebut menggambarkan hutan itu kokoh dan lebat, namun tidak sesuai dengan konsentrasi karbon dioksida yang tinggi selama kepunahan berlangsung.

Sebelum terjadi kepunahan, hutan di Kutub Selatan didominasi satu jenis pohon, yaitu Genus Glossopteris. Pohon raksasa ini tumbuh 20 sampai 40 meter dan membentang di seluruh wilayah Gondwana.

 

Inilah wujud fosil kayu yang diteliti. Foto: Erik Gulbranson via Live Science

 

Menurut Gulbranson, selama Periode Permian hutan memang tidak terlalu memiliki keragaman namun memiliki ukuran pohon sangat besar. Serta, harus mampu bertahan dan berkembang di berbagai lingkungan. “Meski iklim lebih hangat tetapi, tanaman akan menghadapi siang terus menerus 6 bulan, dan kegelapan malam total 6 bulan juga,” terangnya sebagaimana dikutip dari Phys.org.

Gulbranson kembali ke Antartika, untuk mengetahui bagaimana hutan bereaksi terhadap peningkatan jumlah karbon dioksida. Menurutnya, catatan geologis menunjukkan kepada kita awal, tengah, dan akhir dari peristiwa perubahan iklim. “Dengan studi lebih lanjut, kita dapat lebih memahami bagaimana gas rumah kaca dan perubahan iklim mempengaruhi kehidupan Bumi,” tandasnya. (Berbagai sumber)