Sekolah di Asmat Ajarkan Siswa Peduli Lingkungan Sejak Tingkat Dasar

Siswa dan guru SD YPPK Salib Suci. Lingkungan sekolah dari jalan masuk sampai sekeliling sekolah penuh pepohonan. Siswa sudah belajar soal lingkungan sejak usia dini. Foto: Agapitus Batbual/ Mongabay Indonesia

 

Namanya SD YPPK Salib Suci. Ia terletak di Jl. RA. Kartini, Kabupaten Asmat, Papua. Sekolah dasar kelolaan Yayasan Pendidikan Katolik ini

punya halaman sekolah lumayan luas terbuat dari papan kayu besi dengan tonggak kayu besi pula. Plang nama SD YPPK Salib Suci, berdiri kokok di atas tanah lumpur. Di sekitar itu tumbuh kayu pit dan pohon susu.

Menariknya, semua kelas ada pot bunga dengan tanaman keladi merah. Berbagai tanaman hias juga mengelilingi sekolah ini. SD ini salah satu model sekolah berbasis lingkungan di Asmat.

Setiap Jumat, siswa dan guru ada agenda membersihkan seluruh ruangan kelas dan lingkungan sekolah. Ada yang memungut sampah botol, maupun mengumpulkan plastik. Sampah dikumpulkan lalu dibakar. Mereka menjaga tumpukan sampah sampai habis terbakar.

Ada juga aturan melarang siswa membuang sampah sembarangan. Bila melanggar, mereka mendapat sanksi memungut sampah. Siswa juga wajib menanam pohon pit atau bakau di sekitar sekolah.

“Kami semua harus tanam dan merawat tanaman, misal, anggrek dan tumbuhan lain,” kata Mario Muyak, siswa Kelas VI.

Fransikus Fatubun, Kepala Sekolah SD YPPK Salib Suci Keuskupan Agats, berharap sekolah ini jadi model pendidikan lingkungan hidup sejak dulu hingga sekarang.

Baginya, lingkungan terjaga itu faktor penentu bagi kesehatan, rohani dan jasmani semua, baik siswa maupun guru bahkan orangtua.

Sekolah ini berdiri sejak 1957, dan sudah banyak menelurkan lulusan. Bahkan,  sebagian guru adalah alumni.

Fatubun bilang, para siswa diajarkan mencintai lingkungan di sekolah. Dia bilang, membangun kesadaran siswa cinta lingkungan sejak dini itu penting.

 

Siswa SD YPPK Salib Suci tengah berbaik di halaman sekolah yang terbuat dari kayu besi. Foto: Agapitus Batbual/ Mongabay Indonesia

 

Nilai-nilai peka lingkungan yang tertanam sejak lama makin diperkuat dengan terpilihnya SD ini jadi salah satu model sekolah lingkungan. Program ini digagas WWF Indonesia Kantor Asmat kerjasama dengan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Asmat.

Dalam kurikulum sekolah model lingkungan ini, ada soal pembangunan berkelanjutan dengan materi pengajaran di kelas III dan IV di seluruh SD dan SMP.

Jacson Umbora, WWF Indonesia Kantor Asmat mengatakan, ada 12 SD percontohan di Asmat. Dia bilang, modul program ini sudah diterapkan oleh Dinas Pendidikan Asmat.

WWF melirik kegiatan ini, katanya, karena Asmat terkenal memiliki hutan mangrove terbesar di Papua. Penduduk Asmat tinggal di tepian kali dengan mata pencarian dominan menangkap ikan.

Dengan begitu, katanya, dampak pembangunan pasti besar terhadap mangrove. Pemahaman lingkungan di segala usia pun penting.

Yuli Razid, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Asmat mengajak semua orang Asmat jangan membuang sampah sembarangan. Sekolah, katanya, bisa jadi tempat pendidikan dasar sadar lingkungan.

WWF dan Dinas Lingkungan juga selalu sosialisasi pentingnya menanam hutan baik di Taman Kanak-kanal sampai SMA.

“Bahkan, semua dinas dan kantor harus ada kesadaran membuang sampah dan menanam pohon di pekarangan. Memang tak ada ada dana dari pemda tetapi harus ada perhatian khusus,” ujar Razid.

Linus Dumatubun, Direktur SKP Keuskupan Agats prihatin kondisi lingkungan hidup di Kabupaten Asmat, dari banyak sampai sampai hutan terbabat.  Dia menyambut baik, sekolah dasar sudah belajar lingkungan. Dinas Pendidikan, katanya, memang harus punya desain sekolah hijau.

Donatus Tamot, Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga Asmat mengatakan, pendirian sekolah berbasis lingkungan sangat perlu. Ke depan, katanya, dari TK sampai SMA akan mulai menerapkan sistem sekolah lingkungan.

Salah satu siswa YPPK Salib Suci sedang menuju sekolah. Foto: Agapitus Batbual/ Mongabay Indonesia

 

Pepohonan di lingkungan sekolah terjaga. Setiap minggu, sekolah ada agenda membersihkan sampah di kelas dan sekitar sekolah. Foto: Agapitus Batbual/ Mongabay Indonesia