Lindungi Satwa Liar, Malaysia Bangun Jalan Layang Setinggi 58 Meter

 

Inilah Rawang Bypass sepanjang 9 kilometer dari Rawang ke Serendah setinggi 58.2 meter. Foto: NSTP/Muhd Zaaba Zakeria via New Sraits Times

 

Kementerian Perhubungan Malaysia secara resmi membuka dan mengoperasikan Rawang Bypass wilayah Selangor, negara bagian yang mengitari Kuala Lumpur, Ibu Kota Malaysia, 29 November 2017.

Bypass sepanjang 9 kilometer ini mulai dibangun 16 Juli 2005, dengan tujuan awal untuk menghindarkan kemacetan dan memperpendek waktu tempuh dari Kota Rawang ke Kota Selayang. Dari waktu tempuh 2 jam menjadi 30 menit. Jalan layang setinggi 58.2 meter ini adalah yang tertinggi di Malaysia.

Namun ada tantangan. Masterplan yang dibuat ini, mau tidak mau harus menembus kawasan hutan lindung yang memang berada di sekitar Rawang. Pemerintah Malaysia harus memutar otak agar jalan ini tak hanya tidak merusak hutan, namun juga tidak menganggu kehidupan satwa liar. Termasuk juga tidak merusak habitat dan rentang jelajah satwa.

Akhirnya, dibuatlah jalan layang yang dibangun di kawasan berbukit di sebelah timur kota, menembus hutan lindung yang sejak lama menjadi habitat satwa liar, juga sebagai kawasan eco-tourism.

 

 

Mitigasi pun dipersiapan dalam desain tekniknya, termasuk konstrusksi viaduct dan pemotongan lereng bukit yang begitu minimal. Pergerakan satwa liar tetap dimungkinkan di sepanjang bawah viaduct. Konstruksi ini tergolong cukup lama, dengan mempertimbangkan berbagai aspek, salah satunya tidak menganggu lingkungan dan ekosistem hutan.

Bypass ini, sebagaimana dikutip dari New Straits Times, menelan biaya RM628 juta (sekitar Rp2,1 triliun) dengan waktu kontruksi 12 tahun menggunakan Movable Scaffolding System, yang pertama kali di negara tersebut. Tujuannya, mempercepat pembangunan tanpa merusak lingkungan dan tanpa menebang pohon, bahkan menggunakan alat berat berlebihan.

Jalan bypass yang menjadi ikon baru Selangor ini, memang menggunakan hutan lindung. Namun sedikit saja, hanya 23,6 hektar dari total luasan 65 hektar. Ini juga digunakan untuk kebutuhan konstruksi tiang-tiang pancang.

Mungkin, ada baiknya Pemerintah Indonesia mempertimbangkan hal yang sama, sekiranya membangun jalan yang menembus hutan. (Berbagai sumber)