IUCN Red List : Pesut dan Finless Porpoise Terancam Punah

Pesut mahakam yang nasibnya harus diperhatikan. Foto: Facebook RASI

 

Spesies pesut dan finless porpoise Asia terancam populasinya oleh penangkapan ikan yang tidak berkelanjutan. Hal tersebut terungkap dari laporan terbaru International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List of Threatened Species yang dikeluarkan pada Selasa (05/12/2017) kemarin.

IUCN menyebutkan populasi pesut Irrawaddy (Orcaella brevirostris) dan Finless Porpoise (Neophocaena asiaeorientalis) menurun, dan status konservasinya berubah dari kategori rentan (vulnerable) menjadi terancam punah (endangered). Selama 60 tahun terakhir untuk pesut Irrawaddy populasinya menurun menjadi setengahnya dan selama 45 tahun terakhir untuk Porpoise Finless.

baca : Pesut Mahakam, Semakin Menyusut Akibat Hilangnya Sumber Pangan

Kedua spesies tersebut hidup hanya di perairan dangkal dekat pantai, dan keduanya memiliki populasi terbatas pada sistem air tawar, yang membuat mereka sangat rentan dari aktivitas manusia. Penyebab utama penurunan populasinya adalah karena penangkapan tak sengaja (bycatch) oleh jaring nelayan, selain karena kerusakan habitat.

“Dolphin Irrawaddy dihormati oleh banyak komunitas dan wisata lumba-lumba merupakan ciri penting ekonomi lokal di beberapa bagian India dan Kamboja,” kata Randall Reeves, Ketua Kelompok Spesialis Cetacean IUCN yang dikutip dari rilis IUCN.

“Sementara status yang dilindungi dari kedua spesies tersebut berarti bahwa perburuan atau penangkapan yang disengaja jarang dilakukan atau tidak ada, perlindungan dari belitan dan ancaman lainnya sama sekali tidak sepenuhnya atau sebagian besar tidak efektif. Tanpa solusi praktis untuk masalah ini, penurunan lumba-lumba dan ikan peso pasti akan berlanjut di masa yang akan datang,” katanya.

baca : Pesut Mahakam, Sang Legenda yang Kian Langka

Di Sungai Mekong, sebagian besar kematian Dolphin Irrawaddy dalam beberapa tahun terakhir disebabkan oleh belitan jaring insang (gillnets). Jaring gillnets adalah ancaman global terbesar bagi mamalia laut.  Upaya untuk melarang atau setidaknya mengelola penggunaannya, di banyak daerah, tidak efektif, mengakibatkan penurunan banyak spesies paus, dan lumba-lumba  termasuk lumba-lumba Vaquita (Sinus phocoena) yang berstatus kritis dan lumba-lumba Baiji (Lipotes vexillifer) yang berstatus kritis punah (critically endangered), namun kemungkinan sudah punah.

 

Beginilah kondisi pesut saat terlilit pukat milik Suswoyo, nelayan dari Desa Bakau Besar, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Foto: Dok. Suswoyo

 

Sedangkan peneliti senior Rare Aquatic Species of Indonesia (Rasi) Danielle Kreb kondisi pesut di Indonesia memang sudah lama populasinya dalam kondisi terancam punah.

Danielle menjelaskan ada dua jenis pesut yaitu pesut pesisir dan pesut sungai. Dan pesut sungai atau pesut air tawar Nah hanya ada di tiga sungai besar di Asia Tenggara, yaitu di Sungai mahakam (Indonesia), Sungai Mekong (Kamboja/laos) dan Sungai Ayeyarwady (Myanmar).

“Untuk pesut air tawar Irrawaddy di Indonesia hanya ada di Sungai Mahakam (Kalimantan Timur) dan populasi itu sudah lama dinyatakan terancam punah karena memang terisolir dari populasi yang ada di laut. Bahkan penelitian genetik sedang dilakukan dan sudah ada sebagian hasil bahwa mereka merupakan jenis terpisah dan namanya akan diganti menjadi Orcaella mahakamensis. Namun itu belum terpublikasi,” kata Danielle yang dihubungi Mongabay Indonesia pada Rabu (06/12/2017).

baca : Sampah Plastik dan Jaring, Ancaman Serius Kehidupan Pesut di Kalimantan

Danielle yang juga anggota dari Kelompok Spesialis Cetacean IUCN itu mengatakan pesut di Sungai Mahakam hanya tersisa 80 ekor dan dengan ancaman yang sama yaitu jaring gillnet dan degaradasi habitat. “Kalau pesut yang di laut, hanya ada di daerah teluk atau muara, tapi merupakan daerah yang banyak aktifitas manusia dan industri,” jelasnya.

Sedangkan pesut laut di Indonesia terdapar di pesisir yang ada mangrove di Kalimantan, Jawa, Sumatra dan kemungkingan Sulawesi serta Papua.

Dari hasil penelitian RASI di Teluk Balikpapan sejak 2000 menunjukkan ada tren perubahan distribusi pesut jadi semakin ke hulu teluk dan semakin terdesak dengan aktivitas manusia. “Juga jumlah di situ kurang lebih 70 ekor saja,” kata Danielle.

Sementara untuk penyebaran porpoise kurang lebih sama dengan pesut karena satwa ini suka di perairan pesisir yang dangkal, dan perairan yang tidak terlalu dalam. “Saya sendiri pernah lihat porpoise di perairan luar Teluk Balikpapan dan dekat Tanjung Batu, Berau,” tambah Danielle.

baca : Ada Porpoise, Ada Perlindungan Kawasan Ekosistem juga Sebaiknya…

 

Finless porpoise (Neophocaena phocaenoides) dengan berat 30 – 45 kilogram, merupakan satu dari enam jenis porpoise yang ada. Foto: WWF-UK/Xiodong Sun

 

Sedangkan dari hasil penelitian Putu Liza Mustika, Februanty S. Purnomo, dan Simon Northridge di Paloh, Kalimantan Barat dan Adonara NTT pada 2014 menyebutkan lumba-lumba tanpa sirip (finless porpoise) dan lumba-lumba bungkuk Indo-Pasifik (Sousa chinensis) merupakan jenis satwa yang paling sering tertangkap tidak sengaja di Paloh. Sedangkan lumba-lumba spinner (Stenella longirostris) dan lumba-lumba hidung botol (Tursiops sp.) merupakan satwa yang paling sering tertangkap secara tidak sengaja di Adonara.