Jejak Manusia Jawa Purba di Museum Sangiran

Diorama Homo erectus dan lingkungannya. Foto: Nuswantoro/ Mongabay Indonesia

 

Kebanyakan bangsa yang mendiami Indonesia kini pendatang. Berdasarkan teori Out of Taiwan, sekitar 5.000 tahun lalu, penduduk Formosa bermigrasi ke Filipina, lalu Kalimantan dan Sulawesi. Lalu, menyebar ke Sumatera, Jawa, Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara.  Jadi bangsa Indonesia bukan keturunan langsung dari Homo erectus yang sudah punah.

 

Museum Sangiran, salah satu museum Indonesia yang layak dikunjungi. Kalimat ini, tak berlebihan kalau melihat koleksi dari fosil manusia, fauna dan flora yang terpendam jutaan tahun bisa dilihat dan dipelajari. Informasi pun amat berharga, soal sejarah manusia purba di Jawa dalam rangkaian dengan teori evolusi manusia di era Pleistosen.

Museum Sangiran mengoleksi 14.000 item fosil, artefak, dan peraga. Sebanyak 120 fosil manusia purba pernah ditemukan di situs ini, berarti lebih 50% fosil serupa yang ada di seluruh dunia.

Kekayaan ini jadikan situs Sangiran menempati posisi teramat penting dalam kajian evolusi manusia.

Tak sulit menemukan tempat ini. Cukup mendatangi lokasi utama museum, jarak dari Kota Surakarta sekitar 20 km ke utara, melewati Jalan Solo Purwodadi.

Di sebelah kanan jalan pada kilometer 16 akan terlihat gapura bertuliskan Situs Sangiran. Tinggal mengikuti petunjuk arah.

Sepanjang jalan beberapa kali ditemui spanduk menyatakan, kawasan Sangiran sebagai cagar budaya nasional dan warisan budaya dunia UNESCO, beserta seri gambar binatang purba dan wajah Homo erectus.

Beberapa ratus meter dari museum di kanan kiri jalan pengunjung akan menjumpai toko-toko souvenir menjual aneka cenderamata.

Pintu gerbang museum segera terlihat dari sana, tampak mencolok dengan replika dua gading gajah purba berukuran besar.

“Sangiran ditetapkan sebagai cagar budaya nasional oleh pemerintah Indonesia sejak 1977 dan jadi warisan budaya dunia oleh UNESCO sejak 1996,” kata Sukronedi, Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran, kepada Mongabay,  beberapa waktu lalu.

Untuk menjaga kelestarian, pemerintah menetapkan Sangiran menjadi obyek vital nasional sejak 2008.

Perdagangan fosil adalah ilegal, penambangan pasir dilarang, dan peruntukan lahan diatur. Luas situs Sangiran sekitar 56 km persegi, dengan topografi perbukitan, lembah, dan sebelah timur mengalir Sungai Bengawan Solo.

 

Temuan terbaru di Situs Sangiran. Foto: Nuswantoro/ Mongabay Indonesia

 

Langkah manusia purba

Bangunan museum berada sedikit di bukit. Ada anak tangga harus dilalui pengunjung menuju ke sana, sebelum disambut tulisan mencolok, “Situs Manusia Purba Sangiran, the home land of Java Man.

Menempati klaster Krikilan, museum utama ini memiliki tiga ruang pamer. Pertama, bertema kekayaan Sangiran (wealth of Sangiran). Kedua, langkah-langkah kemanusiaan (steps of humanity).

Ketiga, masa keemasan Homo Erectus-500.000 tahun lalu (golden era of Homo erectus-500.000 years ago).

Memasuki ruang pamer I pengunjung bisa melihat aneka temuan fosil flora, fauna, dan manusia purba dari situs Sangiran. Ada fosil kuda nil, harimau, kerbau, badak, dan gajah purba.

Ada juga temuan terbaru di situs Sangiran pada 2015, berupa gading gajah, tulang belakang gajah, dan rahang bawah buaya.

Dipamerkan pula hewan bertanduk di Sangiran yang hidup sekitar 700.000-300.000 saat Sangiran berupa padang rumput luas. Hewan itu adalah banteng purba, rusa purba, dan kerbau purba.

Ada tiga jenis gajah pernah hidup di Sangiran,  satu juta hingga 200.000 tahun lalu, yaitu Mastodon, Stegodon, dan Elephas. Ketiganya bisa dibedakan dari bentuk gigi dan gading.

Mastodon, gajah paling primitif yang pernah tinggal di Sangiran. Besar badan lebih kurang seperti gajah era sekarang dengan gading besar di rahang atas, dan gading kecil di rahang bawah. Gigi untuk melumatkan daun dan tunas muda.

Stegodon memiliki gading panjang melengkung hingga empat meter. Gigi dirancang mengunyah makanan lembut. Sementara, Elephas, leluhur gajah moderen punya gading lurus. Gigi mampu mengunyah benda keras.

Digambarkan lewat peraga bagaimana alam Sangiran dan manusia purba pada masa itu. Ada kawasan yang berair yang dihuni kuda nil, padang savana, bukit, dan gua. Terdapat pula fosil kayu tumbuhan dicotyledoneae atau berbiji belah.

Di ruang pamer II, ada penjelasan lewat film pendek mengenai pembentukan alam semesta dan tata surya yang dimulai dari big bang. Juga diterangkan pembentukan kepulauan Indonesia, dan kedatangan manusia pertama ke wilayah yang dulu masih bergabung dengan benua Asia ini.

Ada penjelasan tahapan-tahapan perkembangan bumi dari zaman prakambria sekitar 4,5 miliar-600 juta tahun. Saat itu, bumi dihuni mahluk bersel tunggal, lalu berikutnya muncul ubur-ubur, kerang, dan cacing.

Jauh setelah itu, di zaman Pleistosen akhir sekitar 200.000 hingga 40.000 tahun lalu, terjadi perubahan iklim. Bumi mengalami empat kali zaman es, kutub meluas dan permukaan laut turun. Di masa ini juga terjadi pengangkatan daratan termasuk kepulauan Indonesia. Pada masa inilah  Homo erectus berkembang di Jawa.

Tokoh-tokoh pemikir evolusi juga dipaparkan seperti Charles Darwin dan Alfred Wallace. Darwin melakukan penelitian di Pulau Galapagos, dan Wallace di kepulauan Indonesia yang menghasilkan kesimpulan sama tentang adanya seleksi alam.

Di ruang pamer ini dijelaskan peran para peneliti baik dari luar maupun dalam negeri dalam mempelajari fosil berkaitan dengan evolusi manusia.

Dari luar antara lain AR Wallace, FW Junghun, Eugene Dubois, Von Koenigswald. Dari Indonesia antara lain Raden Saleh, Teuku Jacob, S Sartono, RP Soejono.

Penemuan Eugene Dubaois pada 1891 di Trinil, Ngawi berupa atap tengkorak, gigi, dan tulang paha kiri menunjukkan individu berjalan tegak. Sontak penemuan menggegerkan dunia ilmu karena dianggap missing link teori Darwin telah ditemukan.

Ruang III berisi diorama kehidupan Homo erectus. Ada manekin individu S17 atau Sangiran 17, hasil rekonstruksi dari tengkorak yang ditemukan. Juga manusia bertubuh pendek yang didapati di Liang Bua dari Flores.

Belum puas menikmati museum utama di klaster Krikilan, pengunjung bisa melanjutkan ke klaster Bukuran, Manyarejo, Dayu, dan Ngebung. Ukuran museum lebih kecil.

 

Sukronedi, Kepala BPSMP Sangiran. Foto: Nuswantoro/ Mongabay Indonesia

 

 

Manusia Jawa

Di Museum Sangiran ada penjelasan bagaimana Pulau Jawa terbentuk. Sekitar 30 juta tahun lalu, atau di era Oligosen, Kepulauan Sunda membentang dari Sumatera hingga Flores sudah terbentuk. Pada era Miosen sekitar 10 juta tahun lalu Pulau Jawa muncul, berasal dari rangkaian gunung api di laut selatan daratan Asia.

Proses pengangkatan daratan makin intensif pada kurun waktu sekitar 2 juta hingga 700.000 tahun lalu, atau masa akhir Pliosen hingga Pleistosen bawah. Muncul pegunungan kapur di selatan Jawa Barat hingga Jawa Timur.

Di utara, terdapat selat dangkal dan gunung api yang aktif, lalu membentuk daratan baru. Ada gunung kapur Kendeng, membentang dari barat Semarang, Surabaya, hingga Madura.

Diyakini Homo erectus Sangiran berasal dari Afrika sekitar 1,8 juta tahun lalu. Masa keemasan Homo erectus di Sangiran ada periode 500.000 tahun lalu, tatkala lingkungan berupa hutan terbuka, di antara dua gunung api, terdapat sungai, dan danau. Mereka membuat alat batu, dan berburu.

Ada tiga tahapan evolusi Homo erectus di Jawa yang berlangsung selama 1,5 juta tahun. Dua tahapan terbukti dengan penemuan fosil di Sangiran, yaitu tipe Homo erectus archaic sekitar 1,5 juta-1 juta tahun lalu, dan Homo erectus typical sekitar 900.000-300.000 tahun lalu.

Lalu, Homo erectus progressive ditemukan di luar Sangiran yaitu di Ngandong, Blora, lalu Sambungmacan, Sragen, dan Selopuro, Ngawi.

Homo erectus pertama yang ditemukan Pithecanthropus erectus oleh Eugene Dubois di Trinil, Ngawi. Homo erectus diketahui sudah bisa membuat alat dan menggunakan api.

Pada era Pleistosen akhir, manusia modern mulai mendatangi nusantara. Mereka dari Afrika dan mengantikan Homo erectus yang punah. Mereka terus bermigrasi ke benua Australia sekitar 50.000 tahun lalu, Papua Nugini, dan Melanisea.

Ada fosil menarik ditemukan di Punung, Pacitan, berusia 7.000 tahun lalu. Dalam keterangan yang diberikan, fosil itu ras mongoloid, individu Austronesia awal. Hal itu diperkuat tes DNA. Temuan ini,  merupakan cikal bakal penduduk Indonesia sekarang, yang diperkirakan dari Taiwan.

Individu dari Song Keplek ini adalah individu dari bangsa penutur bahasa Austronesia.

Kebanyakan bangsa yang mendiami Indonesia kini pendatang. Berdasarkan teori Out of Taiwan, sekitar 5.000 tahun lalu, penduduk Formosa bermigrasi ke Filipina, lalu Kalimantan dan Sulawesi.

Selanjutnya menyebar ke Sumatera, Jawa, Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara.  Jadi bangsa Indonesia bukan keturunan langsung dari Homo erectus yang sudah punah. Begitu keterangan dari papan peraga.

 

Gading gajah purna dan lukisan tiga jenis gajah yang pernah ada di Sangiran. Foto: Nuswantoro/ Mongabay Indonesia

 

 

Sensasi nyata

Sangiran sendiri merupakan bukit yang disebut “Kubah Sangiran”, merupakan hasil pengangkatan tektonik. Karena erosi,  akhirnya rata di bagian puncak. Akhirnya, erosi menyingkap harta karun ilmu yang terpendam jutaan tahun.

Untuk memberikan gambaran lebih nyata dengan informasi lebih lengkap museum dilengkapi dengan peraga audio visual.

Selain menampilkan replika, kebanyakan fosil yang dipamerkan adalah asli yang dilindungi dengan kaca.

Untuk memberikan pengalaman nyata, ada fosil gading gajah purba yang dibiarkan disentuh oleh pengunjung. Fosil itu berusia 300.000 tahun. “Sentuh dan rasakan sensasi kepurbaanku,” bunyi tulisan di papan informasi.

Ada karya seniman Perancis bernama Elisabeth Daynes di Museum Sangiran. Daynes berhasil, menyelesaikan manekin Homo erectus dari tengkorak individu Sangiran 17. Manekin dilengkapi rambut, mata menatap lurus, dan kerutan wajah, seolah-olah ingin berkomunikasi.

Dia juga merekonstruksi Homo flourensis juga dipamerkan di sini. Daynes,  adalah perempuan pematung, pelukis, dan ahli perbandingan anatomi.

Karyanya telah dimanfaatkan di banyak negara, di museum terkemuka seluruh penjuru dunia.

“Temuan Sangiran 17 itu salah satu temuan terlengkap di dunia. Lengkapnya karena masih mengkonservasi secara baik bagian muka. Rahang masih ada gigi,” kata Wahyu Widianta, arkeolog BPSMP Sangiran.

Dia bilang, ilmuwan kalau bicara manusia purba, tetap akan membahas Sangiran 17. “Sangiran,  akan selalu disebut dalam kajian-kajian oleh orang-orang yang berkompeten dalam situs manusia purba di seluruh dunia. Itu nilai penting dan kekayaan dari Sangiran.”

Museum Sangiran buka mulai pukul 8.00 pagi hingga 16.00. Harga tiket masuk hanya Rp5.000. Senin, museum tutup untuk perawatan dan pemeliharaan.