Bukit Batikap, Habitat Baru Orangutan eks Rehabilitasi di Kalteng

Hamparan Hutan Lindung (HL) Bukit Batikap seluas 35 ribu hektar digadang menjadi habitat baru orangutan eks rehabilitasi oleh lembaga BOSF (Borneo Orangutan Survival Foundation). Hutan ini  berada di Kecamatan Seribu Riam, Kabupaten Murung Raya, Kalteng.

Karena masih alami, hutan ini berfungsi untuk melestarikan DAS (Daerah Aliran Sungai) utama di Kalteng, dibatasi oleh gugusan pegunungan Muller- schwaner dengan wilayah Provinsi Kalbar.

Areal HL Bukit Batikap sepenuhnya berhutan rimba campuran; dari hutan kerangas pada dataran tinggi dan hutan dipterocarpaceae lebat pada lembah-lembah sungai dan dataran rendah. Sebagian dataran tinggi dengan ketinggian 500 mdpl. Kecuali areal hulu sungai Joloi, sebelah selatan hutan lindung.

Hutan hujan meliputi dataran luas di sebelah barat sungai Joloi dan diantara anak-anak sungai  Joloi yaitu, sungai Mohot, sungai Posu dan sungai Lien.

Dengan masih terjaganya HL Bukit Batikap, tak aneh BOSF pun melirik kawasan ini sebagai wilayah ideal pelepasliaran orangutan yang direhabilitasi. Total sudah ada 170 individu orangutan yang sudah dilepasliarkan oleh pihak BOSF di Bukit Batikap. Selain lokasi lain seperti Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR).

“Hutan hujan primer dataran rendah  di HL Bukit Batikap, cocok untuk tujuan reintroduksi orangutan. Vegetasi sebagai sumber pakan orangutan sangat melimpah. Hasil survei vegetasi, sample terdapat 206 jenis pohon, penyedia buah bagi orangutan berkualitas sangat baik,” jelasMonterado Fridman, Manajer Edukasi dan Informasi BOSF Nyaru Menteng.  Jenis-jenis itu termasuk enam jenis ara atau 17 jenis liana.

Menurutnya, kerapatan populasi orangutan liar di kawasan itu juga rendah. Diperkirakan kawasan di bawah 700 mdpl akan mampu menampung hingga 250 individu orangutan.

“Statusnya sebagai Hutan Lindung membuatnya aman secara hukum dan posisi jauh dari pemukiman penduduk,” kata Fridman.

Fridman tak memungkiri, gangguan terhadap orangutan yang dilepasliarkan di Bukit Batikap memang ada. Gangguan umumnya muncul dari penduduk di wilayah Provinsi Kalbar yang berburu dan mencari gaharu hingga jauh masuk wilayah Kalteng. Namun  dia menegaskan, hal tersebut bukan merupakan gangguan yang berarti.

“Pelan-pelan tim monitoring BOSF yang ada di Batikap memberikan pemahaman bagi para pelintas batas ini. Ada juga karena faktor alami misal predator berupa ular besar hingga macan dahan.”

Kabar baiknya, sejak pelepasliaran dilakukan tahun 2012, teridentifikasi sudah ada kelahiran 6 bayi orangutan dari orangtua yang dilepasliarkan di Bukit Batikap.

 

Kandang orangutan saat dibawa di HL Bukit Batikap. Dok: BOSF

 

Delapan Orangutan Dilepasliarkan di Bukit Batikap

Melihat indikator yang baik tersebut, pada tanggal 14 Desember 2017, kembali delapan individu orangutan dilepasliarkan di HL Bukit Batikap oleh BOSF bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Dengan dukungan sebuah helikopter dari Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (PKHL) KLHK sebagai alat transportasi, orangutan yang ada dipindahkan dari lokasi rehabilitasinya. “Dengan helikopter, kami bisa memangkas waktu perjalanan menjadi beberapa jam saja. Jika menggunakan rute darat dan sungai bisa mencapai 3 hari perjalanan,” kata CEO BOSF, Jamartin Sihite.

“Dari Nyaru Menteng orangutan diberangkatkan menggunakan kendaraan sampai ke Kuala Kurun, Kabupaten Gunung Mas. Helikopter lalu bantu mengangkut kandang transport orangutan dan kru yang bertugas langsung dari Kuala Kurun ke titik-titik rilis di jantung HL Bukit Batikap,” ucapnya.

Kedelapan individu orangutan yang dilepasliarkan tersebut diberangkatkan dalam dua tahap. Empat individu diberangkatkan pada hari Selasa (12/12), dan empat lainnya pada Rabu (13/12).

Kedelapan orangutan itu adalah, Jaki (21 tahun, 113 kg), yang diselamatkan dari warga Kereng Pangi, Kabupaten Katingan pada 8 Maret 2000. Lalu Fitun (23 tahun, 91 kg), yang diselamatkan oleh BKSDA Kalteng dari seorang warga di Kota Palangkaraya pada 28 Januari 2001.

Yang lainnya Kasper (16 tahun, 80 kg) yang diselamatkan dari Berau, Kalteng pada 9 Februari 2003. Saat awal masuk ke Pusat Reintroduksi Orangutan BOSF Nyaru Menteng ia menderima pneumonia dan malaria. Lalu Sabun (16 tahun, 95 kg). Orangutan ini masuk ke Nyaru Menteng pada 30 Juli 2004. Diselamatkan dari seorang warga di Desa Kahayan, Kabupaten Gunung Mas saat masih berusia 2,5 tahun.

Lalu ada, orangutan bernama Mas (21 tahun, 79 kg) diselamatkan dari warga Desa Tangkiling Kota Palangkaraya pada 7 Februari 2000 saat masih berusia empat tahun dan berat badan 14 kilogram. Lalu Dani (22 tahun, 80 kg) yang diselamatkan dari warga Kota Palangkaraya pada tahun 1997 dan dikirim ke Wanariset di Kalimantan timur. Ia pada akhirnya dikirim ke Nyaru Menteng pada 12 Agustus 2000 saat masih berusia lima tahun.

Selanjutnya orang-utan bernama Bento (26 tahun, 86 kg) yang diselamatkan oleh BKSDA Kalteng pada tanggal 10 November 2004 dari seorang warga di Jakarta. Saat masuk Nyaru Menteng ia berusia 13 tahun dengan berat badan 31 kilogram.

Satu-satunya orangutan betina yang dilepasliarkan di Hutan Lindung Batikap bernama Karen (18 tahun, 52 kg). Ia diselamatkan dari warga di Jakarta dan tiba di Samboja Lestari pada 14 Juli 2004 saat berusia lima tahun dengan berat badan 19,5 kilogram.

Direktur PKHL-KLHK Raffles Brotestes Panjaitan menyebut KHLK akan terus melakukan pemantauan ketat untuk menjamin tidak terjadinya kebakaran hutan dan lahan tahun ini. Khususnya di habitat orangutan.

“Semoga dengan semakin banyaknya orangutan di kawasan HL Bukit Batikap dan hutan-hutan lain di Kalimantan, hutan kita akan terus terjaga dengan baik, dan upaya kita untuk menjaga kelestarian hutan dapat berhasil,” tutup Raffles.

 

 

(Visited 1 times, 1 visits today)