Ketika Si Burung Malam Beratraksi Siang Hari di Tebing Breksi

 

 

Petunjuk arah menuju Tebing Breksi,  bisa dijumpai tiga kilometer sebelum sampai lokasi dari arah Jalan Prambanan-Piyungan. Bahkan sejak 1,5 kilometer, personel pengelola Tebing Breksi,  sudah siaga dengan handytalkie mengatur kedatangan kendaraan seperti mobil pribadi dan bus wisata menuju lokasi.

Seragam mereka berbodir tulisan lowo ijo (kelelawar hijau). Terdengar seperti nama perguruan silat di cerita komik. Bukan. Ini nama Kelompok Sadar Wisata pengelola Taman Tebing Breksi.

Sesampai di pintu masuk, pengunjung dimintai biaya parkir.

Tiket masuk? “Seikhlasnya,” kata petugas.

Belum ada tarif resmi masuk ke arena wisata.

Pada minggu siang belum lama ini, tempat parkir mobil dan sepeda motor di lokasi penuh. Ada empat bus pariwisata parkir, puluhan mobil dan sepeda motor. Kendaraan datang dan pergi dari destinasi wisata dengan foto-fotonya akhir-akhir ini bersliweran di media sosial.

Melewati tangga pertama sebelah selatan Tebing Breksi, sebelum naik melewati tangga ke dua menuju bagian atas bukit, pengunjung melewati beberapa orang yang membawa burung hantu.

Burung itu dibiarkan bertengger di tangkringan kayu, ada juga dari pipa PVC. Bulu ada yang putih bersih, putih berbintik, ada pula coklat tanah.

Kaki-kaki mereka terikat tali sepanjang sekitar 1,5 meter. Di dekatnya, ada kotak kayu berukuran 40 cm x 60 cm x 40 cm sebagai kandang atau kotak untuk membawa burung. Tak terlalu jauh dari situ, ada wadah plastik berisi sejumlah uang.

Minggu siang itu, setidaknya enam pawang menunggui beberapa burung hantu obyek foto pengunjung. Ada saja orang yang tertarik foto aksi bersama burung. Kadang mereka minta untuk meletakkan burung itu di pundak, atau di lengan.

Seorang pengunjung minta salah satu pawang burung meletakkan dua burung hantu berukuran cukup besar di pundak kanan kiri sekaligus. Permintaan itupun dilayani.

Pawang tampak cekatan meletakkan burung-burung di kedua pundak pengunjung. Setelah memberikan ponsel, si pawang mengambil beberapa foto. Usai foto-foto, pengunjung mengeluarkan dompet. Satu lembar rupiah warna biru berpindah ke wadah plastik. Dia tampak puas. Entah si burung.

 

Pawang sedang mengarahkan burung hantu agar kepala menghadap ke depan. Foto: Nuswantoro/ Mongabay Indonesia

 

Magnet wisatawan  

Sejak dibuka akhir 2014, Tebing Breksi jadi lokasi populer bagi wisatawan. Pada 2017, tempat ini mendapat penghargaan dari Anugerah Pesona Indonesia sebagai lokasi wisata baru paling populer, mengalahkan sembilan destinasi wisata baru lain di Indonesia.

Pengunjung awalnya hanya 5.000-an pada 2015, jadi 300.000-an pada 2016, dan lebih 750.000 akhir tahun ini.

Nur Eko Setiawan, pengelola Tebing Breksi dihubungi Mongabay Kamis, (14/12/17)  mengatakan, guna menarik wisatawan datang, pengelola tengah membangun embung baru.

“Sudah hampir selesai. Lokasi di sebelah barat, dekat Tlatah Seneng. Di sana akan dilengkapi amphitheater baru.”

Tlatah Seneng adalah arena amphitheater dilengkapi tempat duduk berbentuk setengah lingkaran. Tempat ini kini kerap dipakai untuk pertunjukan musik.

Awalnya,  tebing Breksi hanyalah bukit berbatu di Dusun Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Sleman. Warga menambang batu yang disebut batu breksi. Bukit dikeruk, dipotong, dan ditatah.

Ada tebing setinggi 30 meter, menjulang di antara lahan bukit yang dikepras. Banyak warga dan pengunjung dari luar memanfaatkan lokasi itu untuk berburu sunrise dan sunset, lalu mengunggah foto-foto di media sosial.

Seiring waktu berjalan, penelitian menunjukkan,  Tebing Breksi, salah satu bukti geologis pembentukan Pulau Jawa. Untuk menyelamatkan dari perusakan, pemerintah melalui Keputusan Kepala Badan Geologi pada 2014 memutuskan kawasan itu sebagai cagar kebumian hingga harus dijaga.

Warga dilarang menambang di sekitar lokasi khawatir penambangan batu menghilangkan bukti sejarah geologi berupa perbukitan yang terbentuk puluhan juta tahun lalu dari endapan abu vulkanik gunung api purba Semilir.

“Sudah dilarang ditambang. Ada patok-patok merah sebagai tanda wilayah larangan,” katanya.

Guna makin menarik wisatawan, pengelola dari Kelompok Sadar Wisata Lowo Ijo menyediakan kendaaraan wisata, berbagai agenda outdoor, melengkapi relief, dan menanam pohon agar sekitar tebing tak gersang.

 

 

Atraksi satwa

Ada tiga pagupon atau kandang merpati di lokasi wisata Tebing Breksi. Salah satu, terletak dekat tempat parkir pengunjung. Ratusan merpati sengaja dipelihara pengelola buat menambah daya tarik wisata. Menurut Eko, jumlah mendekati 200-an.

“Wisatawan bisa memberi makan. Kita kasih makan di panggung terbuka. Biasa diberi makan jagung.”

Cukup menarik mengamati burung-burung merpati bebas berkeliaran di sekitar lokasi. Terlihat dua fotografer membawa kamera DSLR sengaja jadikan merpati sebagai obyek bidikan saat saya ke sana.

Dari atas bukit masih ada yang menjajakan foto aksi dengan burung hantu. Seorang pawang mengeluarkan burung hantu dari kotak dengan hati-hati. Burung itu lalu ditangkringkan ke kayu. Sejurus kemudian dia mengambil semprotan berbentuk seperti pompa semprot obat nyamuk.

Dia mulai memberi minum dengan peralatan itu. Masih dengan peralatan sama, dia menyemprot bulu-bulu burung hantu itu.

Ada juga beberapa titik menawarkan foto-foto berlatar belakang pemandangan yang hanya bisa dilihat dari atas bukit, dengan asesoris unik. Ada foto dalam cangkang kerang, atau dalam untaian bunga raksasa berbentuk hati. Kebanyakan mereka yang tertarik foto adalah pengunjung berusia muda.

Soal keberadaan burung hantu, kata Eko, itu inisiatif warga. Pengelola memberi izin dengan alasan atraksi itu menambah pendapatan mereka.

“Istilahnya buat ngamen, oleh warga sekitar untuk cari makan. Rombongan burung ada kumpulan sendiri. Bagi kami yang penting aman untuk pengunjung. Misal, di pundak jangan sampai matuk kuping. Kami minta mereka memastikan burung benar-benar jinak.”

Soal perlindungan satwa seperti burung hantu– merupakan satwa nokturnal atau binatang aktif pada malam hari, katanya, pengelola meminta kalau cuaca panas sekali burung jangan keluar dari kotak.

“Di Tebing Breksi,  ada banyak tempat teduh. Kalau di tebing dekat batuan sejuk. Mereka selalu bawa air. Dimandikan. Itu membantu burung agar tak dehidrasi.”

Selain kandang, tali, tangkringan, semprotan air seperti peralatan wajib bagi para pawang itu. Juga ada tulisan “Selfie bersama burung hantu, bayar seikhlasnya.” Beberapa burung hantu sengaja diberi nama seperti Rembo, Putri, Vino, Nino, atau Somat.

Sebenarnya, bukan soal siang lebih panas daripada malam hari tetapi burung hantu adalah burung malam, yang mencari makan malam hari. Siang hari burung lebih memilih tidur.

Untuk menjaga kebersihan dan menghindari hal kurang menyenangkan bagi pengunjung, pengelola melarang burung-burung hantu itu diberi makan di lokasi wisata.

“Pengelola melarang mereka memberi makan burung hantu di Tebing Breksi. Kalau mau memberi makan di rumah. Biasa, diberi makan daging puyuh.”

Muhammad Najib Nasaqi,  Kelompok Studi Satwa Liar Fakultas Kedokteran Hewan UGM, mengomentari pemanfaatan satwa liar di tempat wisata itu sebagai tindakan tak tepat.

“Satwa BOP seperti burung hantu itu satwa liar. Saya tak setuju satwa dieksploitasi sedemikian rupa. Harusnya dari pemerintah sadar ada pemanfaatan satwa langka. Mestinya dikonservasi, ini dipakai buat mainan. Sebaiknya burung-burung itu direhabilitasi supaya bisa diliarkan kembali,” katanya.

BOP (birds of prey) atau burung pemburu, antara lain elang, alap-alap, dan burung hantu. Burung ini di alam bebas berburu burung kecil, serangga, tikus dan binatang pengerat lain. Burung hantu aktif pada malam hari. Siang hari beristirahat. Kaki-kakinya didesain mencengkeram dan bukan berjalan. Kuku-kuku melengkung tajam, begitu juga paruh. Leher bisa digerakkan 180 derajat.

Menurut Najib, memaksa burung hantu-burung hantu itu terjaga pada siang hari dan beraktivitas tertentu berarti telah mengubah perilaku keseharian.

Pada siang hari,  burung hantu disangka jinak sebenarnya ogah-ogahan. Kelopak mata sesekali menutup. Mata dirancang untuk awas melihat pada kondisi kurang cahaya.

Selain itu, harus pula diperhatikan bahwa satwa liar seperti burung hantu berpotensi membawa virus penyakit, misal, virus influenza.

“Zoonosis adalah penularan penyakit dari hewan ke manusia dan sebaliknya. Dari burung, yang sudah dikenal adalah virus influenza.”

Selain virus, burung-burung buat hiburan dipegang pengunjung. Dari satu pengunjung ke pengunjung lain, katanya,  pasti banyak bakteri. “Bisa saling tertukar, bisa saling menginfeksi. Apalagi pas cuaca tak bersahabat, manusia dan binatang imun tidak sedang bagus,” katanya juga seorang dokter hewan.

Meski merpati termasuk burung jinak namun tetap harus diwaspadai. Merpati, katanya, bisa jadi vektor pembawa penyakit, misal poxvirus, bisa menyebabkan cacar air yang terjadi pada anak kecil.

“Rehabilitasi perlu bantuan masyarakat juga, yang sudah terlanjur memelihara. Agar burung bisa diliarkan ke alam bebas.”

 

Kandang merpati di Tebing Breksi. Foto: Nuswantoro/ Mongabay Indonesia