Bom Ikan Ancam Ekosistem Laut Kepulauan Gura Ici

 

Hamparan karang mati terlihat jelas dari atas  speed boat yang kami tumpangi. Karang-karang  berserakan di laut kedalaman tak sampai  lima  meter. Pemandangan miris ini terlihat hampir sepanjang perairan tak jauh dari Pulau Rajawali, salah satu pulau di gugusan pulau Gura Ici,  Kecamatan Kayoa,  Kabupaten Halmahera Selatan, Muluku Utara.

Perairan tempat bermain pari manta ini oleh warga setempat disebut Rep Rajawali. Bersama dua penyelam M Rahmi dan Kirno M,  serta dua warga Pulau Lelei,  Thamrin Armaiyn dan Jamal, saya berlabuh ke sini.

Tujuan kami,  ingin melihat langsung soal perairan itu tempat bermain  pari manta. Kala sampai di sana, kami tak hanya menemukan manta juga terumbu karang yang rusak.

Sabtu (8/11/17) sekitar pukul 14.00, kami hanya menemukan satu manta bermain dekat speed boat.  Thamrin Armaiyn  mengatakan, biasa ada ratusan manta.

“Yang jelas banyak  pari manta. Kalau pagi atau sore  hari ketika air pasang, banyak manta bermain di laut ini. Bahkan bisa ratusan,” katanya.

M Rahmi dan Kirno sempat menyelam hampir 30 menit. Dari pengamatan singkat Kirno, menemukan, banyak  terumbu karang mati dengan hamparan sangat luas. Pada kedalaman lima meter terlihat ada aktivitas bom dengan potasium yang menyebabkan terumbu karang mati.

“Hamparan cukup luas. Rusak sudah sangat lama.  Ada kemungkinan bom,” katanya.

Perairan Pulau  Rajawali ini, kata Thamrin, jadi incaran turis mancanegara ketika datang ke Pulau Gura Ici.

Kepulauan Gura Ici,  sebenarnya sudah jadi lokasi pencadangan kawasan konservasi perairan, baik  melalui SK Bupati No. 99/2012 seluas 6.386,64 hektar, baik darat dan laut. Lalu, SK Gubernur No. 30/KPTS/MU/2016 luas 1.100,25 hektar meliputi Pulau Talimau, Sapang, dan Daramafala.

Kawasan konservasi ini masih pencadangan. Kini, Dinas Kelautan dan Perikanan melalui Bidang Pengelolaan Ruang Laut bekerjasama dengan United States Agency International Development–Sustainable Ecosystems Advanced dan  WCS mendata guna persiapan jadi kawasan  konservasi.

Kawasan pencadangan ini ada 17 pulau tersebar hingga ke Kecamatan Kayoa  Induk dan Bacan. Pulau-pulau itu  antara lain, Pulau Dara Mafala, Gura Ici, Popaco, Joronga, Sappan, Tapaya, Salo, Salo KecilSoho Mahoo, Kelo, Kaha Malo, Igo, Rajawali, Talimau, Gunange, Tameti, Siko, Gahi dan Laigoma.

Dari pulau-pulau itu, hanya tujuh berpenghuni, seperti Pulau Lelei, Talimau, Gunange, Tameti, Siko Gafi  dan Laigoma. Sisanya, pulau tanpa penghuni.

Ada beberapa pulau didominasi hutan mangrove, yang lain ada kebun warga, ditanami kelapa  dan berbagai tanaman lain.

Kepulauan Gura Ici kaya biota laut. Tak hanya manta, juga kaya beragam jenis ikan seperti napoleon (mamin), kakap, kerapu  (goropa) dan ikan karang  yang belum teridentifikasi.

Kini, populasi napoleon mulai menurun karena banyak tangkap pakai cara membahayakan. Jamal Abdullah,  nelayan Desa Lelei mengatakan, ikan yang dilarang ditangkap itu,  masih banyak didapatkan dengan cara tak wajar, baik gunakan panah maupun racun.

“Seringkali orang-orang berduit dari Ternate dengan alasan menyelam, ada yang bawa panah dan memanah ikan- ikan yang telah dilindungi itu,” katanya. Untuk napoleon, misal, sulit tangkap dengan pancing hingga pakai panah.

 

Masih  marak

Menurut penuturan warga setempat,  perusakan terumbu karang dan pengambilan berbagai biota oleh tangan-tangan jahil di daerah sini masih terjadi. Bom dengan potasium dan aksi pencurian biota pakai alat selam kompresor sering terjadi.

Mereka curiga, aksi bom oleh warga luar Pulau Gura Ici,  dengan kapal lumayan cepat. Kebanyakan tangkap ikan dengan bom atau bahan peledak  terjadi pada Jumat, kala nelayan sedang Juma’tan. Warga juga mulai menghalau para pengebom ini.

“Ketika mereka melihat nelayan di sini (Lelei-red) para pengebom ikan langsung kabur pakai perahu dengan kecepatan lebih tinggi,” kata Thamrin.

Menurut dia,  eksploitasi berlebih kekayaan laut Kepulauan Gura Ici berlangsung sejak 1990-2000-an. Kala itu, katanya, berbagai biota laut seperti kakap,  kerapu dan napoleon alami eksploitasi luar biasa.

Kapal-kapal induk dari Hong Kong berseliweran membeli ikan hidup di perairan Gura Ici. Mereka juga memfasilitasi penangkapan pakai potasium.

“Ikan diambil dengan potasium kebanyakan kerapu dan napoleon. Harga cukup mahal waktu itu,” katanya seraya bilang, ikan-ikan itu tangkap pakai potasium tetapi tak sampai mati, dibeli dan bawa ke Hong Kong.

 

Tugu Selamat Datang di Pulau Lelei. Foto: M Ichi/ Mongabay Indonesia

 

Konsumsi telur penyu

Kini, tak hanya ikan, penyu juga terancam. Masih banyak warga mengkonsumsi telur penyu. Thamrin mengatakan, warga masih suka mengambil telur penyu jika bertelur di pantai.

“Setiap  bulan selalu  ditemukan penyu bertelur di beberapa pulau berpasir putih seperti Gura Ici dan Pulau Lelei. Perlindungan belum berjalan.”

Dia bilang, kalau warga menemukan penyu bertelur, langsung diambil dan dikonsumsi. Aparat desa yang tahu, katanya, langsung melarang dan minta kembalikan ke lokasi semula.

Thamrin pun berencana membentuk komunitas konservasi penyu  di Lelei. Dia meminta ada aksi serius guna perlindungan terumbu karang dan biota laut di daerah ini dari pemerintah, polisi maupun instansi terkait. Masyarakat, katanya, juga perlu mendapatkan penyadaran arti penting menjaga kelestarian laut.

Saat ini, katanya,  gugusan Pulau Guraici juga sudah jadi salah satu destinasi wisata penting di Malut.   “Kami sedang mencari tahu apa  langkah terbaik guna mendorong konservasi penyu maupun beragam biota lain.”

 

Perlu kajian potensi

Guna mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai kekayaan laut di Kepulauan Gura Ici ini, perlu identifikasi melalui kajian. “Pari manta, penyu,  napoleon sampai gorango batik atau walking shark belum teridentifikasi  mendalam hingga belum diketahui  seperti apa kondisi mereka,” kata  Hi Abjan Armaiyn,  Kepala Desa Lelei di Lelei Kayoa  Minggu (8/12/17).

Kades yang juga lulusan Fakultas Peternakan Universitas Sam Ratulangi Manado itu berharap,  ada riset,   karena gugusan pulau-pulau ini, ditetapkan sebagai wilayah pencadangan konservasi di Malut.

“Ini akan membantu daerah ini  mengembangkan wisata. Dengan ragam spesies  hewan bawah laut yang  memesona para wisatawan akan makin banyak datang ke sini,” katanya.

Saat  ini, katanya, kawasan ini rawan   rusak karena orang tak bertanggung jawab, misal, tangkap ikan pakai bom atau penyelam mencuri  biota laut dan lain-lain.

Mufti Murhum,  peneliti Fakultas Perikanan Universitas Khairun Ternate mengatakan,  sebelumnya ada riset awal tentang pulau-pulau Gura Ici tetapi belum lengkap.   “Kita butuh  riset lanjutan untuk menemukan berbagai keragaman dan kekayaan sumber daya laut,” katanya.

GR Allen dan kawan-kawan dalam penilaian pendahuluan  biodiversitas Halmahera,  sudah ada dengan satu site di pulau-pulau Gura Ici.

Survei tim ini,  di Pulau Kayoa, menemukan keragaman spesies ikan tertinggi. Data yang dirilis dalam seminar internasional di Ternate  pada 2015 itu,  menggambarkan, spesies ikan terbanyak ada di Kepulauan Kayoa, ada 304 spesies ikan. Di  Tanjung Tawale,  Bacan (278), Kepulauan Widi (278),  Tanjung Rotan (272), Pulau Sidanga (276) dan Tanjung Akehuda (260). Data ini, menunjukkan Kepulauan Gura Ici memiliki kekayaan bawah laut luar biasa.

 

Pemandangan di Pesisir Pantai Pulau Lelei, gugusan pulau Gura Ici, Maluku Utara. Foto: M Ichi/ Mongabay Indonesia

 

 

 

 

 

 

(Visited 1 times, 1 visits today)