Rafflesia Terbesar Mekar di Cagar Alam Maninjau? Berikut Foto-foto dan Videonya…

 

 

Julukan bumi rafflesia mungkin pantas disematkan kepada Sumatera Barat. Pasalnya, di Tanah Minangkabau ini, tepatnya di Cagar Alam Maninjau, ditemukan rafflesia jenis paling langka berdiameter sampai 107 sentimeter.

Menurut Agus Susatya, peneliti rafflesia dari Universitas Bengkulu, diameter ini terbesar dari yang pernah ditemukan baik di Indonesia maupun di negara yang pernah tumbuh rafflesia seperti Malaysia dan Filipina.

Bunga langka ini mekar Maninjau, di Jorong Marambuang, Nagari Baringin, 17 Desember lalu. Tak hanya diameter bunga, di sekitar lokasi tumbuh juga ada sebaran kuncup rafflesia terbanyak yang pernah ditemukan. Ada 46 kuncup di dua petak ukur seluas empat meter persegi. Ini jumlah terbanyak, sebelumnya di Bengkulu, ada 27 kuncup. Dari sebaran kuncup ini, enam sudah mekar sempurna dan layu.

Agus mengatakan, tempat tumbuh rafflesia ini tergolong masih bagus dan terjaga. Saat Agus bersama BKSDA Sumbar melakukan pemetaan ditemukan puluhan kuncup. “Meski belum sempat melihat semua kuncup, pengamatan kita bisa menemukan beberapa kuncup baru yang sebelumnya tidak terlihat,” katanya.

Peta kuncup dan akar, katanya, jadi sangat penting agar pengunjung bisa diarahkan hingga tak menginjak kuncup. “Kuncup rafflesia paling kecil bisa satu sentimeter, ini tak terlihat sama sekali. Bentuk seperti tanah jika terinjak akan mati,” katanya.

Dia menyebut jika kuncup di Maninjau memecahkan rekor terbanyak di Indonesia.“Kalau kita lihat kuncup sampai 46 termasuk tertinggi, saya pernah mengamati di Bengkulu, pernah 27 kuncup. Saya pikir ini habitat masih sangat bagus. Dari pengamatan yang pernah dilakukan rata-rata populasi satu inang sekitar 10 kuncup.”

 

Rafflesia tuan mudae mekar di Cagar alam Maninjau pada 24 Oktober 2017. Sejak Oktober 2017, tercatat sudah enam bunga mekar. Foto :Ade Putra/ BKSDA Sumbar

 

Untuk jenisnya, kata Agus, adalah Rafflesia tuan mudae. Jenis ini termasuk langka, sebelumnya pernah ditemukan di Serawak atau Kalimantan.

“Yang jelas ini bukan Rafflesia arnoldii, kalau kita lihat kemiripan-kemiripan itu sama persis dengan tuan mudae, di literatur jenis ini pernah ditemukan di Serawak.”

Dalam tulisan taksonomi tentang tuan mudae, katanya, ada dua pendapat dari peneliti rafflesia yakni William Meyer dan Jamili Nais. Meyer, peneliti rafflesia yang mempublikasikan jenis-jenis rafflesia pertama pada 1997 menempatkan tuan mudae sebagian varian dari arnoldii atau subspesies dari arnoldii.

“Jadi menurut Meyer, Rafflesia tuan mudae masuk kategori Rafflesia arnoldii,” kata Agus.

Peneliti lain, Jamili Nais, penulis buku Rafflesia On the World menyebutkan Rafflesia tuan mudae adalah spesies tersendiri bukan bagian arnoldii. “Saya juga sependapat dengan dia (Jamili Nais-red).”

Alasan Agus sependapat dengan Nais karena saat Meyer publikasi belum banyak data detail dikumpulkan, berbeda dengan Nais.

“Saat melihat rafflesia di Cagar alam Maninjau saya juga berpendapat begitu, jenis ini tuan mudae, bukan arnoldii,” katanya.

Beberapa perbedaan morfologi ditemukan Agus antara jenis rafflesia di Maninjau dengan arnoldii, seperti warna kelopak (perigon), kalau arnoldii lebih ke oranye sedangkan tuan mudae ke arah merah maron. “Warna saja belum tentu jadi karakter yang kuat.”

 

Mekar tuan mudae dengan diameter terbesar 107 sentimeter. Foto: Vinolia/ Mongabay Indonesia

 

Ciri lain, pola putih atau bercak pada kelopak bunga. Bercak di Cagar Alam Maninjau, tunggal sedangkan arnoldii itu ganda (besar dan kecil).

Lalu, pola bercak arnoldii besar di kelilingi kecil, di Maninjau, tidak. Kalau rafflesia di Maninjau, jarak antarbercak agak berjauhan, arnoldii lebih rapat dan bagian dalam (ramenta) atau bulu berada pada bagian dalam.

Secara morfologi, jenisini sama dengan rafflesia di Bukit Baka, Nagari Salo, Agam, yang ditemukan Agustus 2016.

Untuk tuan mudae, katanya, pertama kali ditemukan di Indonesia. “Kalau tuan mudae ini pertama kita lihat. Saya akan mendalami morfologi spesimen di Sumbar kemudian dibandingkan dengan arnoldii,” katanya.

Setelah penelitian, Agus akan publikasi internasional. “Publikasi penting, hingga kita bisa melihat sebaran di Sumatera itu lebih luas, tidak seperti yang diketahui selama ini.”

Dia bilang, temuan ini satu kebanggaan nasional. “Penemuan di Bukit Baka, Sumbar, juga belum ada publikasi. Saya rasa ini perlu,” katanya.

Untuk temuan di Cagar Alam Maninjau, sangat bisa akses secara internasional karena kawasan ini belum ada catatan temuan rafflesia, meskipun kata masyarakat pernah ada pada 1970 tetapi belum ada publikasi.

Agus menjelaskan, wilayah sebaran rafflesia di Sumatera, terbentang di sepanjang Bukit Barisan, mulai Aceh sampai Lampung. Data sementara, ada 12 jenis rafflesia di Sumatera. Mulai dari Aceh ada Rafflesia micropylora, R. atjehensis lalu sebelah selatan ada Rafflesia awangensis, bergeser ke Sumut, hingga Lampung ada R. Hasseltii, R. gadutensis, R. bengkuluensis dan terbaru R. kemumu.

Berdasarkan penelitian, ada tiga rafflesia pernah ditemukan di Sumbar ini, yakniRafflesia arnoldii,R.gadutensisdanR.haseltii serta R. tuan mudae.Khusustuan mudae pernah ditemukan penduduk setempat di Bukit Baka, Nagari Salo, Agam, Agustus 2016.

Sumbar juga memiliki Cagar AlamRafflesia Arnoldiidi Batang Palupuh, Bukittinggi, Agam. Di cagar alam ini pernah mekararnoldii diameter 1,7 meter.

Cagar alam ini memiliki luas 3,40 hektar memiliki fungsi utama perlindungan habitat bunga raksasa dengan akar ryzanthes. Pada 1997, ada sekitar 14 kelompok tumbuh (putik) rafflesia. Sebelumnya, tahun 70-80-an di Sumbar ada Rafflesia arnoldiidi Bukittinggi.

 

Agus Susatya, peneliti rafflesia dari universitas Bengkulu. Dari hasil penelitian dia di Cagar Alam, diiketahui rafflesia ini jenis tuan mudae bukan arnoldii. Foto: Vinolia/ Mongabay Indonesia

BKSDA Sumbar akan galang dana publikasi

Untuk pengamanan lokasi, mengingat dekat dari pemukiman, BKSDA mengimbau melalui pemerintah nagari untuk tak merusak atau memindahkan tumbuhan itu. BKSDA membuat rambu (tanda) larangan (imbauan) di lokasi dan pagar pengaman sementara untuk universitas (lembaga) yang akan pendataan (penelitian).

“Ke depan akan kami perbaiki pagar dan papan dengan yang lebih baik. Minat publik melihat bunga sedapat mungkin kami bendung dan akan terus sosialisasi aturan di Cagar alam,” kata Erly, Kepala BKSDA Sumbar.

Dia bilang, banyak hal harus dilakukan meski dengan keterbatasan, termasuk mencoba kerjasama dengan media massa untuk sosialisasi kepada masyarakat. “Juga pendekatan kepada pemda agar ikut memberi perhatian terhadap spesies ini,” katanya.

Erly mengatakan, BKSDA bersama peneliti Agus Susatya akan susun rencana jadikan raflesia tumbuhan utama Sumbar dan Indonesia, jadi negara utama, bersaing dengan Malaysia dan Filipina.

“BKSDA Sumbar akan berusaha anggarkan dana dan galang kerjasama dengan berbagai pihak, terutama BKSDA dan taman nasional se-Sumatera. Dana ini untuk biaya penelitian, publikasi dan kampanye agar Sumatera dan Indonesia jadi negara rafflesia,” katanya.

 

Sebaran kuncup rafflesia terbanyak dari yang pernah ditemukan, ada 46 kuncup di dua petak ukur seluas empat meter persegi. Foto: Vinolia/ Mongabay Indonesia

 

 

 

 

 

 

(Visited 1 times, 2 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , ,