Derita Petani Rumput Laut Tinanggea Setelah Tambang Nikel Datang (Bagian 1)

Eksploitasi tambang nikel di Kanowe Selatan, Sulawesi Tenggara, membawa kesengsaraan bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. Salah satu,  operasi PT Baula Petra Buana di Kecamatan Tinanggea, dituding merusak budidaya rumput laut warga. Gudang ore nikel tepat di bibir pantai dan pelayaran kapal pemuat ore bikin budidaya rumput laut warga rusak dan mati.

 

Siang itu,  penampilan Igo tampak lusuh. Satu dari empat anaknya yang berumur lima tahun melompat minta gendong. Dua anaknya lagi asik bermain di samping rumah. Seorang lagi terlelap tidur ditemani Enni, istrinya.

Dulu, Igo petani rumput laut. Tempat budidaya rusak kena tambang, diapun tak lagi bisa berusaha rumput laut.

Setahun terakhir dia jadi tukang ojek motor. Kala saya temui, dia baru selesai mengantar penumpang. Pekerjaan ini terpaksa dia lakukan setelah berhenti budidaya rumput laut. Dari ngojek, Igo sehari hanya dapat Rp20.000. Dalam sebulan sekitar Rp600.000.

Uang sebesar itu, bukan hanya buat keperluan rumah tetangga termasuk bayar cicilan motor. Sejak 2008, kehidupan Igo seakan berputar 360 derajat dari semua berjaya bertani rumput laut.

Igo, satu dari ratusan petani rumput laut yang mendiami Desa Akuni, Kecamatan Tinanggea, Kanowe Selatan. “Rusak kita punya lahan,” katanya.

Dia menceritakan, kerusakan tempat budidaya rumut laut karena banyak ore nikel jatuh ke laut dan pelayaran kapal tongkang pemuat nikel mentah itu.

Kala kapal keluar membawa muatan, tali tempat rumput laut bergantung putus tergilas kapal.

Para petani rasakan serupa Igo sejak Baula Petra Buana eksploitasi di sana. “Saya putuskan berhenti. Percuma kita bertahan, pasti rugi besar. Itu biasa putus  tali digilas kapal,” katanya.

 

Jetty atau pelabuhan ora nikel di tepian pantai. Tak pelak, banyak ore berjatuhan ke laut dan mencemari. Foto: Kamarudin/ Mongabay Indonesia

 

***

Baula Petra Buana, satu dari ratusan perusahaan tambang di Konawe Selatan. Perusahaan ini punya konsesi 300 hektar di Desa Roraya, Tinanggea.

Lokasi tidak jauh dari tempat Igo bermukim. Jika melewati jalur laut perlu waktu 30 menit, lewat darat bisa satu jam untuk tiba di konsesi Baula Petra.

Di Pesisir Desa Roraya, ada pelabuhan khusus atau jetty milik perusahaan ini. Hampir setiap,  kapal tongkang keluar memuat ore nikel.

Di depan pelabuhan, membentang tali milik 400 petani rumput laut, gabungan antara Desa Roraya dan Desa Akuni, sepanjang sekitar dua mil.

“Ini sudah ada sebelum Baula Petra masuk,” kata Jumadil,  warga setempat, sambil menahkodai longboat miliknya.

Dia bilang, hasil rumput laut dulu bagus. “Sekarang tak lagi. Apa mau didapat kalau hanya kasi turun tali kemudian rumput laut rusak. Itu tanah (ore nikel) hawa panas jadi rusaki agar,” katanya.

Jumadil adalah paman Igo juga petani rumput laut. Sebelum ada tambang,  penghasilan mereka bisa empat atau lima ton rumput laut kering sekali panen dengan nilai sekitar Rp15 juta.

Kini semua tinggal kenangan. Tempat budidayanya sebanyak empat kotak atau seluas 50 x 100 meter di Desa Roraya, dia tinggalkan. Kini, dia mengadu nasib dengan mengojek di Pelabuhan Pelelangan Ikan Tinggea.

“Hasilnya jauh berbeda jika dibandingkan bertani rumput laut. Sama seperti Igo, saya mengojek juga. Syukur-syukur dapat Rp30.000 satu hari. Kadang tak dapat sama sekali penumpang,” kisah Jumadil.

Jumadil sama seperti Igo juga menghidupi empat anak. Putri pertama sekarang kuliah di Kota Kendari. Bedanya dengan Igo, Jumadil bisa patungan dengan istri berjualan ikan di Pasar Tinanggea, guna menghidupi keluarga.

Dulu, katanya, dengan bertani rumput laut, sekali panen bisa penuhi kepeluan keluarga dari makan sampai sekolah. Mulai membeli perabot rumah sampai sebidang tanah untuk bangun rumah.

“Setelah tambang datang, lahan rusak, hasil tidak ada. Kemarin saya baru jual barang yang pernah saya beli. Mau mengojek tapi tidak ada motor, makanya saya jual barang dalam rumah,” katanya.

Warga sudah sering mengeluhkan kerusakan lahan budidaya rumput laut ini sejak setahun terakhir. Mulai mengadu ke DPRD, bupati, gubernur hingga melapor ke Polda Sultra. Hasilnya tidak ada.

Lokasi bidudaya mereka belum tergantikan hingga kini. Baula Petra dan pemerintah seakan tutup mata serta tak memberikan solusi jelas. (Bersambung)

 

Hasil panen di perahu kecil. Sebelum ada tambang hasil panen bisa memenuhi kapal. Kini, rumput laut budidaya banyak gagal panen hingga sebagian petani memutuskan beralih kerja. Foto: Kamarudin/ Mongabay Indonesia
Igo mengangkat tali buat menggantung ribuan rumput laut. Karena pertambangan nikel, rumput laut banyak rusak dan gagal panen. Foto: Kamarudin/ Mongabay Indonesia