Memadukan Kincir Angin dan Sel Surya untuk Wilayah Terpencil

 

Selepas mendapatkan udang dari perairan payau di sekitar hutan mangrove Cilacap, Jawa Tengah, Nurhidayat (34) warga Dusun Bondan, Desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut, Cilacap segera memilah udang. Ia menyingkirkan yang mati dan masih hidup. Itu dilakukan, karena kalau udang mati tercampur pada udang yang hidup, maka akan berpengaruh.

“Kalau dulu, saya tidak bisa memilah udang saat malam hari. Kalau pun bisa, tidak bisa maksimal. Pasalnya, hanya menggunakan lampu senter saja. Memang ada listrik, tetapi terangnya tidak stabil,” ungkap Nurhidayat saat ditemui Mongabay Indonesia pada pekan lalu.

Kini cerita sudah berbeda, jika dibandingkan dengan waktu-waktu lalu. Ia sudah dapat memilih udang meski pada malam hari. “Jika selesai melaut malam hari, maka saya langsung dapat memilahkan udang. Karena ada pemilihan itulah, maka udang yang masih segar tidak terpengaruh dengan udang yang telah mati. Bagi kami, perubahannya cukup bagus setelah adanya penerangan listrik pada malam hari,” katanya.

Cerita lain disampaikan oleh Cari (35). Perempuan yang punya anak Sekolah Dasar (SD) tersebut juga merasakan perubahan yang terjadi dalam sebulan terakhir. “Dulu, kalau malam hari, saya menyiapkan lampu minyak untuk penerangan. Tidak hanya itu, saya juga harus siap senter dari batu baterai kalau nanti digunakan untuk belajar. Sebab, kalau hanya menggunakan lampu minyak masih kurang terang,” ujarnya.

Tetapi, setidaknya dalam sebulan terakhir, cerita itu telah berganti. Oleh karena itu, meski saat sekarang lampu minyak masih ia simpan, namun sudah jarang difungsikan. “Saat sekarang, kalau belajar, anak-anak juga sudah tidak ada persoalan. Sebab, sudah ada lampu yang setiap saat dapat dinyalakan,” jelasnya.

Baik Nurhidayat maupun Cari sama-sama telah mendapat manfaat dari listrik yang sekarang mereka nikmati. Darimana sumber listriknya? Ternyata listrik yang kini dinikmati oleh warga Dusun Bondan berasal dari kincir angin yang dipadu dengan sel surya. Teknologi yang diberi nama Hybrid Energy One Pool (Heop).

 

Salah satu instalasi Hybrid Energy One Pool (Heop) yang dipasang di Dusun Bondan, Ujung Alang, Cilacap, Jateng yang memberikan listrik bagi penerangan di desa terpencil itu. Foto : L Darmawan/Mongabay Indonesia

 

Teknologi tersebut sungguh cocok untuk kondisi Dusun Bondan. Sebab, dusun setempat merupakan daerah yang terpencil dan belum terjangkau oleh listrik PLN. Kecocokan lainnya adalah angin di Dusun Bondan cukup kencang tiupannya dan berlangsung sepanjang hari, termasuk juga sinar matahari.

“Jelas, dengan adanya teknologi Heop itu, masyarakat di sini sangat terbantu. Termasuk saya sebagai nelayan sangat merasakan dampak baiknya. Itu tadi saya katakan, salah satu pengaruh baiknya adalah bisa memilah udang pada saat malam hari. Dusun juga lebih terang karena adanya Heop,” tambah Nurhidayat.

Ia mengungkapkan kalau hidup di Dusun Bondan tidaklah gampang. Sebab, dusun setempat cukup terpencil. Dusun yang dikelilingi oleh hutan mangrove ditempuh sekitar 2-3 jam dari daratan Cilacap melewati Segara Anakan. “Sebetulnya bisa lewat darat, tetapi arahnya bukan ke Cilacap, melainkan ke Kecamatan Kawunganten. Sampai sekarang belum ada jalan resmi. Kalau ke sana melalui daratan pembatas tambak-tambak milik warga. Namun, hanya dapat dilalui kalau musim kemarau atau tidak hujan. Karena memang yang dilewati bukanlah jalan,” ungkapnya.

Tokoh masyarakat Dusun Bondan, Apudin, mengungkapkan sebelum ada teknologi Heop yang diterapkan di dusun setempat, sebagian dari 74 keluarga yang mendiami kampung itu, berinisiatif untuk menyalur listrik dari desa paling dekat dengan Dusun Bondan, yakni Desa Grugu, Kecamatan Kawunganten.

“Upaya itu dilakukan sejak tahun 2010 silam. Caranya adalah dengan menarik kabel dari Desa Grugu melewati daerah rawa-rawa sejauh 5 kilometer. Tiangnya menggunakan bambu dengan ketinggian sekitar 3-4 meter. Instalasinya sederhana, hanya tiang dari bambu dan kabel saja,”kata Apudin.

Menurutnya, karena jaraknya cukup jauh, maka listrik yang sampai ke Dusun Bondan tidak stabil. Nyala lampunya tidak bisa terang secara terus menerus, karena tidak jarang agak redup. Bahkan, tidak sedikit alat elektronik seperti televisi dan radio yang rusak karena tidak stabilnya aliran listrik. “Karena terlalu jauh, maka dayanya tidak stabil dan membuat lampu kadang terang, kadang juga redup. Lampu juga boros, karena sering putus. Hal itu terjadi karena aliran listriknya jauh. Apalagi dengan kabel biasa,” ujarnya.

 

Lampu penerangan rumah yang dihidupkan bersumber dari teknologi hybrid sel surya dan kincir angin Heop. Foto : L Darmawan/Mongabay Indonesia

 

Apudin menambahkan jika listrik yang dialirkan juga tidak mampu menjangkau seluruh warga. Dari 72 keluarga, yang terjangkau hanya 24 keluarga. Ada sejumlah alasan, di antaranya rumahnya terpisah dan jauh dari aliran kabel serta karena iurannya cukup mahal. “Aliran listrik PLN yang ditarik dari Desa Grugu ada pengurusnya. Kalau saya, per bulan memberikan iuran Rp52 ribu untuk menghidupkan televisi dan tiga lampu,”kata Apudin.

Namun, sekarang warga beruntung karena ada bantuan teknologi Heop yang diterima oleh warga Dusun Bondan. Energi baru terbarukan (EBT) itu sangat cocok bagi dusun terpencil yang belum terjangkau oleh aliran listrik. “Jadi saat sekarang ada 14 titik instalasi Heop. Satu instalasi Heop mampu dimanfaatkan untuk 4-5 rumah. Karena jarak rumah yang satu dengan lainnya cukup jauh sampai puluhan meter, maka lokasi tiang Heop berada di tengah-tengahnya. Setidaknya ada lima lampu yang dapat dinyalakan dengan Heop tersebut. Namun, untuk menyalakan televisi belum bisa, soalnya aliran listriknya masih DC. Butuh peralatan lain agar aliran listrik menjadi AC,” ungkapnya.

Dijelaskan oleh Apudin, selain 14 instalasi Heop, ada 14 rumah yang hanya dipasang sel surya. Sebab, ke-14 rumah tersebut lokasinya cukup jauh dan tidak terjangkau Heop. “Ada rumah yang tidak mampu dijangkau dengan menggunakan Heop, namun tetap diberi bantuan sel surya yang dipasang di atas rumahnya. Lumayan juga, yang penting dapat menghidupkan lampu saat malam tiba,” jelasnya.

Apudin mengatakan bahwa bantuan teknologi energi terbarukan bernama Heop tersebut berasal dari Pertamina Refinery Unit (RU) IV Cilacap. “Jadi, perusahaan itu kan ada corporate social responsibility (CSR). Dana CSR itulah yang kemudian digunakan untuk membantu kami warga di Dusun Bondan. Dengan adanya teknologu tersebut, maka kami mendapatkan listrik secara gratis. Meski demikian, kami bertanggung jawab terhadap pemeliharaannya. Ke depan, kami kami juga harus memiliki peralatan pengubah listrik DC jadi AC, sehingga nantinya dapat untuk menghidupkan televisi dan listrik lebih stabil,” kata Apudin.

 

Dengan adanya teknologi hybrid Heop, maka warga dusun dapat menikmati listrik untuk penerangan. Foto : L Darmawan/Mongabay Indonesia

 

Petugas lapangan Pertamina RU IV Cilacap Sunaryo Adi P mengatakan bahwa inovasi Heop merupakan hasil karya dari para mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi (STT) PLN Jakarta. Mereka memenangkan ajang inovasi teknologi yang digelar oleh Pertamina.

“Kami menantang mereka untuk mengaplikasikan langsung untuk daerah terpencil. Dan ternyata bisa. Teknologi gabungan antara kincir angin dengan sel surya itu telah mampu diaplikasikan di Dusun Bondan. Tentu saja masih ada kelemahan di sana-sini, tetapi kami berusaha untuk terus membantu menyempurnakan. Salah satunya adalah peralatan yang mengubah listrik DC menjadi AC,” tandasnya.