Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Terbaru

Hiu Paus Kembali Terdampar di Pesisir Cilacap, Mengapa?

L Darmawan 9 Jun 2026
Cerita fitur

Ahli Geologi Soroti Pengajuan Izin Lingkungan Baru Tambang Dairi

Sri Wahyuni 9 Jun 2026
Cerita fitur

Lebah Merana Ketika Alih Fungsi Hutan Makin Menggila

Yulia Adiningsih 9 Jun 2026
Cerita fitur

Nasib Harimau Memprihantikan di Sumatera Barat

Jaka Hendra Baittri 8 Jun 2026
Cerita fitur

Cerita Desa Banasu Mandiri Energi dari Panen Air

Moh Tamimi 8 Jun 2026

Tanpa Ekor, Kisah Lutung Jawa yang Hidup Bebas di Nusa Barung

Falahi Mubarok 8 Jun 2026
Semua berita

Berita utama

Ahli Geologi Soroti Pengajuan Izin Lingkungan Baru Tambang Dairi

Lebah Merana Ketika Alih Fungsi Hutan Makin Menggila

Yulia Adiningsih 9 Jun 2026

Nasib Harimau Memprihantikan di Sumatera Barat

Jaka Hendra Baittri 8 Jun 2026

Cerita Desa Banasu Mandiri Energi dari Panen Air

Moh Tamimi 8 Jun 2026

Jalan Panjang Memerangi Penangkapan Ikan Ilegal

A. Asnawi 8 Jun 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Dua perempuan Desa Paremas menjemur kerupuk cangkang kepiting. Di belakang mereka tampak hutan mangrove yang cukup lebat yang menjadi rumah bagi kepiting yang dijual ke kota. Limbah cangkang kepiting itu kini diolah menjadi kerupuk. Foto: Fathul Rakhman/ Mongabay Indonesia
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Kidung Siamang Sang Penjaga Rimba Sumatra

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Hidup di Kandang Perawatan, Kisah Sedih Owa di Sumatera Selatan

Nopri Ismi 30 Mei 2026

Menjaga Semantung untuk Kelestarian Siamang di Bukit Lumut Balai

Nopri Ismi 28 Mei 2026

Owa Siamang dan Kelestarian Hutan Bukit Lumut Balai

Nopri Ismi 26 Mei 2026

Alunan suara lantang yang menggema dari puncak-puncak kanopi adalah kidung kehidupan bagi siamang, sang penjaga sejati yang merawat keasrian rimba Sumatra. Namun, melodi alam ini kian terancam sunyi oleh kepungan perburuan, jerat perdagangan lintas negara, dan kepedihan hidup di balik jeruji besi. Melalui peran penting mereka dalam menjaga keseimbangan hutan lewat penyebaran benih, perlindungan terhadap […]

Kidung Siamang Sang Penjaga Rimba Sumatra series

Lebih spesial

10 cerita

Lebah Madu dan Pilar Alam yang Rapuh

Perempuan adat Boti (Taela Sae, Muke Benu, Seo Neolaka, Kuma Neolaka) sedang membawa hasil panen berupa jagung, kacang tunis, sorgum, dan sayur-sayuran segar. Foto: Mario Sara/ Mongabay Indonesia
7 cerita

Cerita dari Y. Eva Tan Fellows

9 cerita

Ikan-Ikan dari Era Pra-Sejarah di Perairan Nusantara

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Dua perempuan Desa Paremas menjemur kerupuk cangkang kepiting. Di belakang mereka tampak hutan mangrove yang cukup lebat yang menjadi rumah bagi kepiting yang dijual ke kota. Limbah cangkang kepiting itu kini diolah menjadi kerupuk. Foto: Fathul Rakhman/ Mongabay Indonesia

Cerita di Bulan Mei, dari Danau Batur sampai Teluk Weda

Kadek Dian Dwiyanti H.* 28 Mei 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Perempuan Penjaga Satwa Liar di Jantung Hutan Kalimantan

Niko Wicaksana 23 Mei 2026

Kesempatan Hidup Kedua Bayi Orangutan Tanpa Induk

Niko Wicaksana 22 Apr 2026

Kontes Burung Kicau, Sunyikan Hutan Indonesia

Rizky Maulana Yanuar, Sandy Watt 25 Feb 2026

Mewaspadai Perdagangan Kucing Kuwuk di Platform Online

Falahi Mubarok 26 Okt 2025

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025
}

Pantau terus berita terbaru kami celana pendek

Ular Endemik Sulawesi Ini Pertama Dicatat Seabad Lalu, dan Sejak Itu Nyaris Tak Ada yang Menelitinya

Akhyari Hananto 9 Jun 2026

Tengah malam, di tepi sungai berbatu di Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, Muh. Imam Ramdani mendapati sosok ramping berwarna cokelat kekuningan melata perlahan sekitar sepuluh meter dari aliran air. Ia segera tahu ini bukan ular biasa. “Setahu saya, dokumentasi visual ular ini di internet hampir tidak ada. Hanya tercatat di buku lapangan, itu pun terbit tahun 2005,” ujarnya.

Ular yang ia temukan adalah Lycodon stormi, atau ular cecak sulawesi, reptil endemik yang selama ini hanya tercatat keberadaannya di Sulawesi Utara dan kawasan Lore Lindu. Temuan Imam di Morowali menambah catatan distribusi spesies ini ke wilayah yang sebelumnya tidak pernah terdokumentasi.

Malam berikutnya, satu individu lain terpantau menyeberangi sungai selebar tiga hingga lima meter. Dari dua individu yang ditemui, Imam mencatat perbedaan corak tubuh yang menarik: satu berwarna cokelat polos, satu lagi lebih kontras. Variasi warna ini ternyata bukan hal baru dalam kelompok Lycodon, dan justru menjadi salah satu sumber kerancuan identifikasi ilmiah yang belum sepenuhnya terpecahkan.

Perilaku ular ini juga menarik diamati. Ketika disentuh, ia mencoba menggigit lalu kabur. Jika disentuh lagi, ia mengulangi respons yang sama. Tapi setelah beberapa kali, strateginya berubah: tubuhnya melingkar dan kepala disembunyikan di bawah badan. “Perilaku ini bentuk adaptasi untuk mengurangi risiko serangan predator,” kata Imam. Meski terkesan agresif saat diganggu, ular ini tidak berbisa dan tidak berbahaya bagi manusia. Mangsanya adalah kadal, katak, serangga, dan ular berukuran lebih kecil.

Secara ilmiah, Lycodon stormi adalah teka-teki yang belum selesai. Amir Hamidy, Profesor Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, menyebut informasi ilmiah tentang spesies ini masih sangat terbatas. Ular ini pertama kali dideskripsikan lebih dari seabad lalu, tapi belum pernah ada evaluasi ulang yang menyeluruh. Belum pernah pula dilakukan sekuensing molekular untuk membandingkan populasi di berbagai wilayah.

“Karena nokturnal, yang mempelajari kelompok ini tidak banyak,” kata Amir. Status taksonominya pun masih menggantung. Nama ilmiahnya valid, tapi apakah ia benar-benar spesies tersendiri atau bagian dari kelompok lain, masih menunggu kajian molekuler, ekologi, dan morfologi yang lebih lengkap. “Bisa jadi nanti valid sebagai spesies sendiri, bisa juga disinonimkan dengan spesies lain.”

Sementara pertanyaan ilmiah itu menunggu jawaban, habitatnya sudah menghadapi tekanan nyata. Imam menemukan ular ini di area hutan sekunder yang berbatasan langsung dengan bekas tambang nikel. Ia melihat bekas sedimentasi dari pengerukan tanah di hulu sungai, yang berpotensi mengganggu aliran air tempat ular ini ditemukan. Habitat yang hari ini tampak aman bisa berubah fungsi jika tekanan industri meningkat.

Seekor ular endemik yang hampir tidak ada fotonya di internet, status taksonominya belum tuntas, habitatnya terancam industri, dan peneliti yang fokus padanya bisa dihitung dengan jari. Lycodon stormi adalah gambaran sempurna dari kekayaan biodiversitas Sulawesi yang masih menunggu untuk benar-benar dipahami, sebelum terlambat untuk dilindungi.

Sebelum Ada Manusia, Ada Ular 15 Meter yang Merajai Rawa-rawa

Akhyari Hananto 9 Jun 2026

Empat puluh tujuh juta tahun lalu, di rawa-rawa dangkal yang kini menjadi bagian dari Gujarat, India, seekor predator sepanjang 15 meter bergerak lambat di antara vegetasi lebat. Ia tidak mengejar mangsa. Ia menunggu. Tubuhnya yang sebesar dan sepanjang bus kota melingkar diam di tepi air, sabar, sampai seekor kura-kura purba atau buaya primitif mendekat cukup dekat untuk diserang. Tidak ada predator lain yang berani mengusiknya. Di dunia itu, ia adalah puncak dari segalanya.

Ular itu kini diberi nama Vasuki indicus, diambil dari mitologi Hindu di mana Vasuki adalah raja ular legendaris yang melilit leher Dewa Siwa. Sebuah nama yang terasa tepat untuk predator yang ukurannya membuat ular sanca kembang terbesar yang hidup hari ini tampak kerdil.

Kisah penemuannya sendiri dimulai dengan kesalahan identifikasi. Pada 2005, para peneliti di Tambang Lignit Panandhro, Gujarat, menemukan tulang-belulang besar yang awalnya mereka kira milik buaya purba. Ukurannya terlalu masif untuk ular mana pun yang mereka kenal. Setelah pemeriksaan ulang yang teliti, mereka menyadari bahwa di depan mereka ada 27 ruas tulang belakang dari seekor ular raksasa yang belum pernah tercatat sebelumnya.

Penelitian yang dipimpin Debajit Datta dan Sunil Bajpai dari Indian Institute of Technology Roorkee, dipublikasikan di jurnal Scientific Reports, menghitung estimasi ukuran tubuh berdasarkan lebar ruas tulang belakang yang mencapai 62,7 milimeter. Dengan metode perhitungan allometrik, panjang tubuh Vasuki diestimasi antara 10,9 hingga 15,2 meter. Sebagai perbandingan, ular sanca kembang terbesar yang pernah tercatat di penangkaran jarang menyentuh 8 meter.

Vasuki berasal dari keluarga punah Madtsoiidae, dengan tubuh yang silindris, lebar, dan sangat kekar. Ia bukan ular yang gesit. Para ahli menyimpulkan ia adalah predator penyergap yang bergerak lambat, mengandalkan kesabaran dan kekuatan fisik murni. Senjata utamanya bukan bisa, melainkan belitan. Mangsanya beragam: kura-kura purba, buaya primitif, hingga mamalia awal yang melintas di tepian air.

Penemuan ini segera memicu perbandingan dengan Titanoboa cerrejonensis, ular raksasa yang ditemukan di Kolombia dan hidup sekitar 13 juta tahun sebelum Vasuki, dengan panjang diperkirakan 13 hingga 14 meter. Keduanya kini dianggap sebagai dua ular terbesar yang pernah diketahui sains. Keberadaan mereka di dua benua berbeda mencerminkan persebaran keluarga Madtsoiidae yang pernah mendominasi superbenua Gondwana, sebelum benua-benua itu berpisah dan bergerak ke posisinya saat ini.

Tapi Vasuki bukan sekadar rekor paleontologi. Ia adalah bukti biologis tentang kondisi iklim masa lalu. Ular adalah hewan berdarah dingin yang pertumbuhannya sangat bergantung pada suhu lingkungan. Keberadaan ular sebesar Vasuki hanya mungkin jika suhu lingkungan sangat hangat. Estimasi menunjukkan India pada masa Eosen memiliki suhu rata-rata tahunan sekitar 28 derajat Celcius, gambaran dunia tropis yang jauh lebih panas dari kondisi saat ini. Fosil Vasuki dengan demikian berfungsi sebagai termometer biologis yang memvalidasi model iklim purba, sekaligus memberi konteks penting bagi upaya memahami bagaimana pemanasan global masa kini akan mempengaruhi keanekaragaman hayati di masa depan.

“Masih banyak hal yang belum kita ketahui tentang Vasuki,” kata Datta. “Kita belum paham detail tentang struktur ototnya, atau komposisi diet spesifiknya.”

Peneliti Jepang Mengecat Sapi dengan Pola Zebra, dan Ternyata Berhasil Mengusir Lalat

Akhyari Hananto 9 Jun 2026

Tomoki Kojima naik ke panggung dengan tenang, lalu membuka jaketnya untuk memperlihatkan kemeja bermotif zebra. Dua rekannya maju membawa papan bergambar lalat dan berpura-pura menyerangnya. Penonton tertawa. Tapi di balik adegan kocak itu, ada penelitian yang benar-benar bisa mengubah cara peternak sapi menghadapi salah satu masalah paling mahal di industri peternakan global.

Kojima dan timnya dari Organisasi Penelitian Pertanian dan Pangan Nasional Jepang baru saja menerima Ig Nobel 2025 kategori biologi, penghargaan satir yang diberikan setiap tahun untuk penelitian yang terdengar konyol tapi pada akhirnya mendorong pemikiran serius. Temuannya: mengecat sapi hitam dengan garis-garis putih menyerupai zebra membuat lalat penghisap darah hinggap 50 persen lebih sedikit.

Ide ini bermula dari pertanyaan lama dalam biologi: untuk apa garis zebra? Berbagai hipotesis sudah diajukan, dari kamuflase terhadap predator hingga pengenalan sesama. Tapi semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa pola hitam putih yang kontras menciptakan ilusi visual yang membingungkan mata serangga, membuat mereka kesulitan menentukan tempat mendarat.

Kojima mulai serius menguji hipotesis ini setelah seorang peternak Wagyu berkonsultasi kepadanya tentang masalah lalat yang sulit diatasi tanpa insektisida. Eksperimennya sederhana: satu sapi dicat garis putih menyerupai zebra, satu dicat garis hitam sebagai kontrol, satu dibiarkan polos. Proses pengecatan hanya memakan waktu sekitar lima menit per ekor. Selama beberapa hari, tim mengamati jumlah lalat yang hinggap dan perilaku sapi dalam mengusir serangga.

Hasilnya konsisten. Sapi bergaris zebra menarik separuh lebih sedikit lalat dibanding sapi polos maupun sapi bercat hitam. Lebih dari itu, sapi bergaris terlihat lebih tenang, jarang mengibas ekor atau menghentak kaki, tanda berkurangnya stres akibat gigitan serangga. Penelitian ini dipublikasikan pada 2019 di jurnal PLOS ONE, tapi baru mendapat perhatian luas setelah masuk Ig Nobel.

Konteks ekonominya tidak bisa diabaikan. Di Amerika Serikat saja, kerugian industri sapi akibat serangan lalat diperkirakan lebih dari 2,2 miliar dolar AS per tahun. Lalat penghisap darah bukan hanya mengganggu, mereka menjadi vektor penyakit, menurunkan produktivitas, mengurangi produksi susu, dan melemahkan daya tahan tubuh ternak jika stres berlangsung lama. Insektisida selama ini menjadi solusi utama, tapi menimbulkan masalah tersendiri: resistensi serangga, residu kimia di tanah dan air, serta risiko kesehatan bagi hewan dan manusia.

Tantangan praktisnya tetap ada. Mengecat sapi satu per satu tidak realistis di peternakan berskala besar. Kojima dan beberapa peternak di Prefektur Yamagata sudah mencoba alternatif dengan memutihkan bulu sapi agar pola bertahan lebih lama. Hasilnya mengejutkan bahkan peternak yang awalnya skeptis.

Di negara tropis seperti Indonesia, di mana populasi lalat tinggi dan kerugian akibat penyakit ternak signifikan, pendekatan ini layak dieksplorasi lebih jauh. Cat berbasis air atau pemutihan bulu relatif murah, aman, dan tidak meninggalkan residu kimia. Kadang solusi terbaik memang datang dari tempat yang paling tidak terduga, dalam hal ini, dari savana Afrika dan seekor kuda bergaris yang sudah lama menjawab pertanyaan yang belum pernah kita tanyakan dengan benar.

Seekor sapi hitam dicat dengan pola garis putih menyerupai zebra dalam eksperimen yang dilakukan peneliti Jepang. Pola ini terbukti mengurangi jumlah lalat penghisap darah yang hinggap | Sumber: Aichi Agricultural Research Center.

Kenapa Kucing Bisa di Mana-mana, Sementara Harimau Hampir Tak Tersisa

Akhyari Hananto 8 Jun 2026

Keduanya berasal dari nenek moyang yang sama, berbagi 95,6 persen DNA yang identik, dan memiliki naluri berburu, cara tidur, serta kebiasaan menandai wilayah yang hampir tidak bisa dibedakan. Tapi satu dari mereka kini menghuni 220 juta rumah di seluruh dunia, sementara yang lain berjuang agar tidak menjadi yang terakhir dari jenisnya. Bagaimana ini bisa terjadi?

Kucing domestik (Felis catus) dan harimau (Panthera tigris) berpisah dari nenek moyang yang sama sekitar 10,8 juta tahun lalu. Penelitian yang diterbitkan di Nature Communications oleh Cho dan kolega pada 2013, yang mengurutkan DNA harimau amur jantan dari Kebun Binatang Everland di Korea, menemukan bahwa genom keduanya menunjukkan komposisi yang sangat serupa. Keduanya karnivora sejati yang bergantung sepenuhnya pada daging, memiliki otot cepat dan kuat untuk berburu, serta indra penciuman yang tajam untuk menandai wilayah dan mencari pasangan.

Secara perilaku, kemiripannya mencolok. Keduanya adalah penyergap, bukan pengejar. Keduanya pemanjat ulung. Keduanya memiliki naluri menggaruk, menandai wilayah, dan mengawasi lingkungan dari tempat tinggi. Kucing rumahan yang menerkam mainan adalah versi miniatur dari harimau yang mengintai mangsa di hutan. Struktur tubuh mereka juga hampir identik, kaki dengan bantalan dan cakar yang dapat ditarik, gigi tajam, dan tubuh atletis.

Perbedaannya lebih pada detail. Ekor kucing domestik tegak saat berjalan, harimau tidak. Pupil kucing berbentuk celah, harimau bulat. Harimau adalah perenang ulung yang menyukai air, sementara kebanyakan kucing domestik menghindarinya. Dan tentu saja ukuran tubuhnya: harimau benggala bisa mencapai 260 kilogram dan tiga meter panjangnya, sementara harimau sumatera yang terkecil pun masih 100 hingga 140 kilogram.

Tapi perbedaan paling mencolok bukan soal fisik, melainkan nasib, dan jawabannya ada pada hubungan mereka dengan manusia.

Kucing domestik memilih, atau dipilih, untuk hidup berdampingan dengan manusia. Ia beradaptasi dengan permukiman, memanfaatkan apa yang manusia sediakan, dan berkembang biak tanpa hambatan. Hasilnya: 220 juta individu tersebar di seluruh dunia. Ledakannya bahkan sudah diakui sebagai ancaman ekologis global. Menurut Global Invasive Species Database, kucing domestik berdampak pada 587 spesies yang masuk Daftar Merah IUCN. Di pulau-pulau, mereka bertanggung jawab atas penurunan setidaknya 14 persen populasi burung, mamalia, dan reptil. Para ahli ekologi menyebutnya spesies invasif.

Harimau memilih jalan yang berlawanan: hutan, kesendirian, dan jarak dari manusia. Dan manusialah yang kemudian datang ke sana, menebang hutannya dan memburu tubuhnya. Dari sembilan subspesies harimau yang pernah ada, tiga sudah punah: harimau jawa, harimau bali, dan harimau kaspia. Di Indonesia, harimau sumatera masih bertahan, bersama sejumlah kucing liar kecil yang dilindungi seperti kucing emas, macan dahan, kucing kuwuk, dan macan tutul jawa. Tapi semua menghadapi tekanan yang sama: kehilangan habitat dan perburuan yang tidak berhenti.

Dua makhluk dengan 95,6 persen DNA yang sama, dari nenek moyang yang sama jutaan tahun lalu. Yang satu melimpah justru karena dekat dengan manusia. Yang lain hampir punah justru karena manusia tidak memberinya ruang untuk ada.

Parijoto, Buah Ungu Lereng Muria yang Kini Jadi Sumber Penghidupan dan Simbol Pelestarian

Akhyari Hananto 8 Jun 2026

Hampir tiga dekade lalu, Mashuri mulai menanam parijoto di lereng Gunung Muria. Bukan karena ada yang menyuruh, bukan karena ada program pemerintah. Ia melihat peluang di mana orang lain hanya melihat tanaman semak hutan yang tumbuh liar tanpa nilai ekonomi.

Kini dari kebun seluas 1,4 hektar di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, ia bisa meraup penghasilan harian. Pada musim hujan, buah parijoto bisa dipetik hampir setiap hari dan langsung dijual kepada wisatawan yang datang ke kawasan Muria. “Kalau kopi kan musiman, parijoto bisa harian,” katanya.

Parijoto (Medinilla speciosa) adalah tumbuhan semak epifit yang hanya tumbuh di bawah naungan pohon besar, tidak tahan sinar matahari langsung. Buahnya kecil, berwarna ungu kemerahan, dan sudah lama dikenal oleh para peziarah yang datang ke Gunung Muria karena dikaitkan dengan kisah Sunan Muria. Dari nilai simbolik itulah permintaan tumbuh, dan dari sana pula sekelompok petani melihat kemungkinan yang belum pernah dimanfaatkan sebelumnya.

Yang menarik dari model budidaya parijoto adalah caranya yang tidak merusak. Menanam parijoto tidak membutuhkan penebangan pohon. Ia justru memerlukan pohon-pohon besar sebagai naungan. Kebun parijoto karenanya tetap menyerupai hutan, dengan alpukat dan berbagai kayu hutan yang dibiarkan tumbuh, membentuk ekosistem yang saling menopang. Konservasi dan ekonomi, dalam hal ini, berjalan ke arah yang sama.

Sutrimo Mariono, petani parijoto lain di kawasan Muria, mengenang bagaimana penebangan hutan besar-besaran pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an hampir menghapus parijoto dari lereng Muria. “Kalau hutan ditebang, parijoto tinggal cerita,” ujarnya. Kekhawatiran itulah yang mendorongnya mulai membudidayakan parijoto sekitar 2010. Dari hasil parijoto, ia tidak hanya memenuhi kebutuhan harian, tapi juga menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi.

Pada 2022, Pemerintah Kabupaten Kudus secara resmi mengajukan sertifikasi hak kekayaan intelektual untuk parijoto. Kini tanaman ini telah bersertifikasi sebagai Sumber Daya Genetik Lokal milik Pemkab Kudus, sebuah pengakuan bahwa parijoto bukan sekadar tanaman hutan, melainkan identitas daerah yang perlu dilindungi.

Tantangan tetap ada. Produksi belum stabil terutama saat kemarau panjang, akses pasar masih terbatas, dan ancaman alih fungsi lahan selalu mengintai ekosistem hutan yang menjadi syarat hidup parijoto. “Modal dan alat produksi juga masih jadi hambatan,” kata Triyanto, Ketua Kelompok Tani Parijoto Muria.

Tapi arahnya sudah terbentuk. Dari buah yang dulu dipetik liar di hutan tanpa perhitungan, parijoto kini mulai berkembang menjadi ekosistem ekonomi lokal yang terintegrasi, dari budidaya, pengolahan produk, hingga wisata kebun. Di lereng Muria, sebuah buah ungu kecil sedang membuktikan bahwa menjaga hutan dan mencari nafkah tidak harus menjadi dua hal yang saling bertentangan.

Pakis Ekor Monyet: Indikator Mata Air Hutan Muria yang Hampir Habis Dipanen

Akhyari Hananto 7 Jun 2026

Di hutan Gunung Muria, ada tumbuhan yang oleh warga lokal dianggap petunjuk alam yang tak pernah salah: di mana pakis ekor monyet tumbuh, di sana ada mata air. “Kalau ada pakis, dekat mata air,” kata Teguh Budi Wiyono, Ketua Yayasan Penggiat Konservasi Muria (Peka Muria).

Tapi tumbuhan yang menjadi penanda kehidupan itu kini justru semakin sulit ditemukan di habitatnya sendiri.

Pakis ekor monyet (Cibotium barometz) adalah tumbuhan purba yang tumbuh lambat. Dari spora hingga dewasa, ia membutuhkan tiga hingga lima tahun, terutama di bawah naungan hutan yang rapat. Ia menyukai tempat teduh dengan kelembapan tinggi, antara 60 hingga 90 persen, dan di Muria banyak ditemukan di lereng curam dekat hutan primer atau sekunder di atas 800 meter dari permukaan laut.

Pada 1990-an, tumbuhan ini tiba-tiba jadi primadona. Tren tanaman hias merebak, dan beredar kepercayaan bahwa bagian dalamnya yang bermotif unik bisa digunakan sebagai “kayu tolak tikus.” Kulitnya laris sebagai media tanam anggrek. Masyarakat masuk hutan, mengambil pakis dalam jumlah besar, dan menjualnya tanpa mempertimbangkan keberlanjutan. “Seharusnya tidak dimanfaatkan, tapi karena saat itu fenomenanya besar dan tidak ada batasan, akhirnya diambil. Bahkan sejak masih muda,” kata Teguh.

Tren mereda. Tapi dampaknya tidak ikut hilang. Populasi pakis di Muria kini diperkirakan jauh berkurang dibanding masa lalu. “Dulu mudah ditemukan, sekarang jauh berkurang,” ujarnya.

Yang memperburuk situasi, eksploitasi tidak benar-benar berhenti, hanya berpindah lokasi ke wilayah lain. Fragmentasi habitat akibat perkebunan kopi dan agroforestri juga mempersempit sebaran alaminya.

Secara ekologis, kehilangan pakis ini bukan hal sepele. Selain sebagai indikator kesuburan tanah dan keberadaan sumber air, pakis ekor monyet berkontribusi pada kelembapan tanah dan kestabilan ekosistem hutan. Dari sisi ilmiah, tumbuhan ini mengandung lebih dari 100 senyawa aktif, termasuk fenolat, flavonoid, dan triterpenoid yang berpotensi sebagai antioksidan.

Secara hukum, pakis ini dilindungi sebagai flora asli kawasan hutan negara. Pengambilannya tanpa izin adalah tindakan ilegal yang bisa berujung sanksi pidana. Tapi pengawasan di lapangan masih jauh dari optimal. “Kalau ada yang mengambil, sering sembunyi-sembunyi,” kata Teguh Jumadiyanto, Kepala Resort Pemangkuan Hutan Ternadi, KPH Pati.

Ada titik terang. BRIN sudah mengembangkan teknik budidaya dan kultur jaringan yang bisa mempersingkat siklus tanam hingga 1,5 hingga 3 tahun, membuka peluang mengurangi tekanan terhadap populasi liar. Di beberapa desa di lereng Muria, kesadaran warga juga mulai tumbuh. Aturan tidak tertulis mulai ditegakkan, melarang pengambilan pakis dan perburuan di hutan sekitar desa. “Di beberapa tempat sudah ada pengumuman. Sehingga bila ada yang turun hutan membawa pakis, mulai dipantau,” kata Teguh Budi.

Pakis ekor monyet tumbuh sangat lambat. Tapi kerusakannya bisa terjadi dalam sekejap, sebagaimana yang sudah terjadi di Muria tiga dekade lalu.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.