Keduanya berasal dari nenek moyang yang sama, berbagi 95,6 persen DNA yang identik, dan memiliki naluri berburu, cara tidur, serta kebiasaan menandai wilayah yang hampir tidak bisa dibedakan. Tapi satu dari mereka kini menghuni 220 juta rumah di seluruh dunia, sementara yang lain berjuang agar tidak menjadi yang terakhir dari jenisnya. Bagaimana ini bisa terjadi?
Kucing domestik (Felis catus) dan harimau (Panthera tigris) berpisah dari nenek moyang yang sama sekitar 10,8 juta tahun lalu. Penelitian yang diterbitkan di Nature Communications oleh Cho dan kolega pada 2013, yang mengurutkan DNA harimau amur jantan dari Kebun Binatang Everland di Korea, menemukan bahwa genom keduanya menunjukkan komposisi yang sangat serupa. Keduanya karnivora sejati yang bergantung sepenuhnya pada daging, memiliki otot cepat dan kuat untuk berburu, serta indra penciuman yang tajam untuk menandai wilayah dan mencari pasangan.
Secara perilaku, kemiripannya mencolok. Keduanya adalah penyergap, bukan pengejar. Keduanya pemanjat ulung. Keduanya memiliki naluri menggaruk, menandai wilayah, dan mengawasi lingkungan dari tempat tinggi. Kucing rumahan yang menerkam mainan adalah versi miniatur dari harimau yang mengintai mangsa di hutan. Struktur tubuh mereka juga hampir identik, kaki dengan bantalan dan cakar yang dapat ditarik, gigi tajam, dan tubuh atletis.
Perbedaannya lebih pada detail. Ekor kucing domestik tegak saat berjalan, harimau tidak. Pupil kucing berbentuk celah, harimau bulat. Harimau adalah perenang ulung yang menyukai air, sementara kebanyakan kucing domestik menghindarinya. Dan tentu saja ukuran tubuhnya: harimau benggala bisa mencapai 260 kilogram dan tiga meter panjangnya, sementara harimau sumatera yang terkecil pun masih 100 hingga 140 kilogram.
Tapi perbedaan paling mencolok bukan soal fisik, melainkan nasib, dan jawabannya ada pada hubungan mereka dengan manusia.
Kucing domestik memilih, atau dipilih, untuk hidup berdampingan dengan manusia. Ia beradaptasi dengan permukiman, memanfaatkan apa yang manusia sediakan, dan berkembang biak tanpa hambatan. Hasilnya: 220 juta individu tersebar di seluruh dunia. Ledakannya bahkan sudah diakui sebagai ancaman ekologis global. Menurut Global Invasive Species Database, kucing domestik berdampak pada 587 spesies yang masuk Daftar Merah IUCN. Di pulau-pulau, mereka bertanggung jawab atas penurunan setidaknya 14 persen populasi burung, mamalia, dan reptil. Para ahli ekologi menyebutnya spesies invasif.
Harimau memilih jalan yang berlawanan: hutan, kesendirian, dan jarak dari manusia. Dan manusialah yang kemudian datang ke sana, menebang hutannya dan memburu tubuhnya. Dari sembilan subspesies harimau yang pernah ada, tiga sudah punah: harimau jawa, harimau bali, dan harimau kaspia. Di Indonesia, harimau sumatera masih bertahan, bersama sejumlah kucing liar kecil yang dilindungi seperti kucing emas, macan dahan, kucing kuwuk, dan macan tutul jawa. Tapi semua menghadapi tekanan yang sama: kehilangan habitat dan perburuan yang tidak berhenti.
Dua makhluk dengan 95,6 persen DNA yang sama, dari nenek moyang yang sama jutaan tahun lalu. Yang satu melimpah justru karena dekat dengan manusia. Yang lain hampir punah justru karena manusia tidak memberinya ruang untuk ada.