Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Terbaru

Cerita fitur

Lebah Merana Ketika Alih Fungsi Hutan Makin Menggila

Yulia Adiningsih 9 Jun 2026
Cerita fitur

Nasib Harimau Memprihantikan di Sumatera Barat

Jaka Hendra Baittri 8 Jun 2026
Cerita fitur

Cerita Desa Banasu Mandiri Energi dari Panen Air

Moh Tamimi 8 Jun 2026

Tanpa Ekor, Kisah Lutung Jawa yang Hidup Bebas di Nusa Barung

Falahi Mubarok 8 Jun 2026
Cerita fitur

Jalan Panjang Memerangi Penangkapan Ikan Ilegal

A. Asnawi 8 Jun 2026
Cerita fitur

Ketika Lingkungan Hidup Terus Dalam Kungkungan Masalah

Achmad Rizki Muazam 7 Jun 2026
Semua berita

Berita utama

Lebah Merana Ketika Alih Fungsi Hutan Makin Menggila

Nasib Harimau Memprihantikan di Sumatera Barat

Jaka Hendra Baittri 8 Jun 2026

Cerita Desa Banasu Mandiri Energi dari Panen Air

Moh Tamimi 8 Jun 2026

Jalan Panjang Memerangi Penangkapan Ikan Ilegal

A. Asnawi 8 Jun 2026

Ketika Lingkungan Hidup Terus Dalam Kungkungan Masalah

Achmad Rizki Muazam 7 Jun 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Dua perempuan Desa Paremas menjemur kerupuk cangkang kepiting. Di belakang mereka tampak hutan mangrove yang cukup lebat yang menjadi rumah bagi kepiting yang dijual ke kota. Limbah cangkang kepiting itu kini diolah menjadi kerupuk. Foto: Fathul Rakhman/ Mongabay Indonesia
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Kidung Siamang Sang Penjaga Rimba Sumatra

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Hidup di Kandang Perawatan, Kisah Sedih Owa di Sumatera Selatan

Nopri Ismi 30 Mei 2026

Menjaga Semantung untuk Kelestarian Siamang di Bukit Lumut Balai

Nopri Ismi 28 Mei 2026

Owa Siamang dan Kelestarian Hutan Bukit Lumut Balai

Nopri Ismi 26 Mei 2026

Alunan suara lantang yang menggema dari puncak-puncak kanopi adalah kidung kehidupan bagi siamang, sang penjaga sejati yang merawat keasrian rimba Sumatra. Namun, melodi alam ini kian terancam sunyi oleh kepungan perburuan, jerat perdagangan lintas negara, dan kepedihan hidup di balik jeruji besi. Melalui peran penting mereka dalam menjaga keseimbangan hutan lewat penyebaran benih, perlindungan terhadap […]

Kidung Siamang Sang Penjaga Rimba Sumatra series

Lebih spesial

10 cerita

Lebah Madu dan Pilar Alam yang Rapuh

Perempuan adat Boti (Taela Sae, Muke Benu, Seo Neolaka, Kuma Neolaka) sedang membawa hasil panen berupa jagung, kacang tunis, sorgum, dan sayur-sayuran segar. Foto: Mario Sara/ Mongabay Indonesia
7 cerita

Cerita dari Y. Eva Tan Fellows

9 cerita

Ikan-Ikan dari Era Pra-Sejarah di Perairan Nusantara

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Dua perempuan Desa Paremas menjemur kerupuk cangkang kepiting. Di belakang mereka tampak hutan mangrove yang cukup lebat yang menjadi rumah bagi kepiting yang dijual ke kota. Limbah cangkang kepiting itu kini diolah menjadi kerupuk. Foto: Fathul Rakhman/ Mongabay Indonesia

Cerita di Bulan Mei, dari Danau Batur sampai Teluk Weda

Kadek Dian Dwiyanti H.* 28 Mei 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Perempuan Penjaga Satwa Liar di Jantung Hutan Kalimantan

Niko Wicaksana 23 Mei 2026

Kesempatan Hidup Kedua Bayi Orangutan Tanpa Induk

Niko Wicaksana 22 Apr 2026

Kontes Burung Kicau, Sunyikan Hutan Indonesia

Rizky Maulana Yanuar, Sandy Watt 25 Feb 2026

Mewaspadai Perdagangan Kucing Kuwuk di Platform Online

Falahi Mubarok 26 Okt 2025

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025
}

Pantau terus berita terbaru kami celana pendek

Kenapa Kucing Bisa di Mana-mana, Sementara Harimau Hampir Tak Tersisa

Akhyari Hananto 8 Jun 2026

Keduanya berasal dari nenek moyang yang sama, berbagi 95,6 persen DNA yang identik, dan memiliki naluri berburu, cara tidur, serta kebiasaan menandai wilayah yang hampir tidak bisa dibedakan. Tapi satu dari mereka kini menghuni 220 juta rumah di seluruh dunia, sementara yang lain berjuang agar tidak menjadi yang terakhir dari jenisnya. Bagaimana ini bisa terjadi?

Kucing domestik (Felis catus) dan harimau (Panthera tigris) berpisah dari nenek moyang yang sama sekitar 10,8 juta tahun lalu. Penelitian yang diterbitkan di Nature Communications oleh Cho dan kolega pada 2013, yang mengurutkan DNA harimau amur jantan dari Kebun Binatang Everland di Korea, menemukan bahwa genom keduanya menunjukkan komposisi yang sangat serupa. Keduanya karnivora sejati yang bergantung sepenuhnya pada daging, memiliki otot cepat dan kuat untuk berburu, serta indra penciuman yang tajam untuk menandai wilayah dan mencari pasangan.

Secara perilaku, kemiripannya mencolok. Keduanya adalah penyergap, bukan pengejar. Keduanya pemanjat ulung. Keduanya memiliki naluri menggaruk, menandai wilayah, dan mengawasi lingkungan dari tempat tinggi. Kucing rumahan yang menerkam mainan adalah versi miniatur dari harimau yang mengintai mangsa di hutan. Struktur tubuh mereka juga hampir identik, kaki dengan bantalan dan cakar yang dapat ditarik, gigi tajam, dan tubuh atletis.

Perbedaannya lebih pada detail. Ekor kucing domestik tegak saat berjalan, harimau tidak. Pupil kucing berbentuk celah, harimau bulat. Harimau adalah perenang ulung yang menyukai air, sementara kebanyakan kucing domestik menghindarinya. Dan tentu saja ukuran tubuhnya: harimau benggala bisa mencapai 260 kilogram dan tiga meter panjangnya, sementara harimau sumatera yang terkecil pun masih 100 hingga 140 kilogram.

Tapi perbedaan paling mencolok bukan soal fisik, melainkan nasib, dan jawabannya ada pada hubungan mereka dengan manusia.

Kucing domestik memilih, atau dipilih, untuk hidup berdampingan dengan manusia. Ia beradaptasi dengan permukiman, memanfaatkan apa yang manusia sediakan, dan berkembang biak tanpa hambatan. Hasilnya: 220 juta individu tersebar di seluruh dunia. Ledakannya bahkan sudah diakui sebagai ancaman ekologis global. Menurut Global Invasive Species Database, kucing domestik berdampak pada 587 spesies yang masuk Daftar Merah IUCN. Di pulau-pulau, mereka bertanggung jawab atas penurunan setidaknya 14 persen populasi burung, mamalia, dan reptil. Para ahli ekologi menyebutnya spesies invasif.

Harimau memilih jalan yang berlawanan: hutan, kesendirian, dan jarak dari manusia. Dan manusialah yang kemudian datang ke sana, menebang hutannya dan memburu tubuhnya. Dari sembilan subspesies harimau yang pernah ada, tiga sudah punah: harimau jawa, harimau bali, dan harimau kaspia. Di Indonesia, harimau sumatera masih bertahan, bersama sejumlah kucing liar kecil yang dilindungi seperti kucing emas, macan dahan, kucing kuwuk, dan macan tutul jawa. Tapi semua menghadapi tekanan yang sama: kehilangan habitat dan perburuan yang tidak berhenti.

Dua makhluk dengan 95,6 persen DNA yang sama, dari nenek moyang yang sama jutaan tahun lalu. Yang satu melimpah justru karena dekat dengan manusia. Yang lain hampir punah justru karena manusia tidak memberinya ruang untuk ada.

Parijoto, Buah Ungu Lereng Muria yang Kini Jadi Sumber Penghidupan dan Simbol Pelestarian

Akhyari Hananto 8 Jun 2026

Hampir tiga dekade lalu, Mashuri mulai menanam parijoto di lereng Gunung Muria. Bukan karena ada yang menyuruh, bukan karena ada program pemerintah. Ia melihat peluang di mana orang lain hanya melihat tanaman semak hutan yang tumbuh liar tanpa nilai ekonomi.

Kini dari kebun seluas 1,4 hektar di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, ia bisa meraup penghasilan harian. Pada musim hujan, buah parijoto bisa dipetik hampir setiap hari dan langsung dijual kepada wisatawan yang datang ke kawasan Muria. “Kalau kopi kan musiman, parijoto bisa harian,” katanya.

Parijoto (Medinilla speciosa) adalah tumbuhan semak epifit yang hanya tumbuh di bawah naungan pohon besar, tidak tahan sinar matahari langsung. Buahnya kecil, berwarna ungu kemerahan, dan sudah lama dikenal oleh para peziarah yang datang ke Gunung Muria karena dikaitkan dengan kisah Sunan Muria. Dari nilai simbolik itulah permintaan tumbuh, dan dari sana pula sekelompok petani melihat kemungkinan yang belum pernah dimanfaatkan sebelumnya.

Yang menarik dari model budidaya parijoto adalah caranya yang tidak merusak. Menanam parijoto tidak membutuhkan penebangan pohon. Ia justru memerlukan pohon-pohon besar sebagai naungan. Kebun parijoto karenanya tetap menyerupai hutan, dengan alpukat dan berbagai kayu hutan yang dibiarkan tumbuh, membentuk ekosistem yang saling menopang. Konservasi dan ekonomi, dalam hal ini, berjalan ke arah yang sama.

Sutrimo Mariono, petani parijoto lain di kawasan Muria, mengenang bagaimana penebangan hutan besar-besaran pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an hampir menghapus parijoto dari lereng Muria. “Kalau hutan ditebang, parijoto tinggal cerita,” ujarnya. Kekhawatiran itulah yang mendorongnya mulai membudidayakan parijoto sekitar 2010. Dari hasil parijoto, ia tidak hanya memenuhi kebutuhan harian, tapi juga menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi.

Pada 2022, Pemerintah Kabupaten Kudus secara resmi mengajukan sertifikasi hak kekayaan intelektual untuk parijoto. Kini tanaman ini telah bersertifikasi sebagai Sumber Daya Genetik Lokal milik Pemkab Kudus, sebuah pengakuan bahwa parijoto bukan sekadar tanaman hutan, melainkan identitas daerah yang perlu dilindungi.

Tantangan tetap ada. Produksi belum stabil terutama saat kemarau panjang, akses pasar masih terbatas, dan ancaman alih fungsi lahan selalu mengintai ekosistem hutan yang menjadi syarat hidup parijoto. “Modal dan alat produksi juga masih jadi hambatan,” kata Triyanto, Ketua Kelompok Tani Parijoto Muria.

Tapi arahnya sudah terbentuk. Dari buah yang dulu dipetik liar di hutan tanpa perhitungan, parijoto kini mulai berkembang menjadi ekosistem ekonomi lokal yang terintegrasi, dari budidaya, pengolahan produk, hingga wisata kebun. Di lereng Muria, sebuah buah ungu kecil sedang membuktikan bahwa menjaga hutan dan mencari nafkah tidak harus menjadi dua hal yang saling bertentangan.

Pakis Ekor Monyet: Indikator Mata Air Hutan Muria yang Hampir Habis Dipanen

Akhyari Hananto 7 Jun 2026

Di hutan Gunung Muria, ada tumbuhan yang oleh warga lokal dianggap petunjuk alam yang tak pernah salah: di mana pakis ekor monyet tumbuh, di sana ada mata air. “Kalau ada pakis, dekat mata air,” kata Teguh Budi Wiyono, Ketua Yayasan Penggiat Konservasi Muria (Peka Muria).

Tapi tumbuhan yang menjadi penanda kehidupan itu kini justru semakin sulit ditemukan di habitatnya sendiri.

Pakis ekor monyet (Cibotium barometz) adalah tumbuhan purba yang tumbuh lambat. Dari spora hingga dewasa, ia membutuhkan tiga hingga lima tahun, terutama di bawah naungan hutan yang rapat. Ia menyukai tempat teduh dengan kelembapan tinggi, antara 60 hingga 90 persen, dan di Muria banyak ditemukan di lereng curam dekat hutan primer atau sekunder di atas 800 meter dari permukaan laut.

Pada 1990-an, tumbuhan ini tiba-tiba jadi primadona. Tren tanaman hias merebak, dan beredar kepercayaan bahwa bagian dalamnya yang bermotif unik bisa digunakan sebagai “kayu tolak tikus.” Kulitnya laris sebagai media tanam anggrek. Masyarakat masuk hutan, mengambil pakis dalam jumlah besar, dan menjualnya tanpa mempertimbangkan keberlanjutan. “Seharusnya tidak dimanfaatkan, tapi karena saat itu fenomenanya besar dan tidak ada batasan, akhirnya diambil. Bahkan sejak masih muda,” kata Teguh.

Tren mereda. Tapi dampaknya tidak ikut hilang. Populasi pakis di Muria kini diperkirakan jauh berkurang dibanding masa lalu. “Dulu mudah ditemukan, sekarang jauh berkurang,” ujarnya.

Yang memperburuk situasi, eksploitasi tidak benar-benar berhenti, hanya berpindah lokasi ke wilayah lain. Fragmentasi habitat akibat perkebunan kopi dan agroforestri juga mempersempit sebaran alaminya.

Secara ekologis, kehilangan pakis ini bukan hal sepele. Selain sebagai indikator kesuburan tanah dan keberadaan sumber air, pakis ekor monyet berkontribusi pada kelembapan tanah dan kestabilan ekosistem hutan. Dari sisi ilmiah, tumbuhan ini mengandung lebih dari 100 senyawa aktif, termasuk fenolat, flavonoid, dan triterpenoid yang berpotensi sebagai antioksidan.

Secara hukum, pakis ini dilindungi sebagai flora asli kawasan hutan negara. Pengambilannya tanpa izin adalah tindakan ilegal yang bisa berujung sanksi pidana. Tapi pengawasan di lapangan masih jauh dari optimal. “Kalau ada yang mengambil, sering sembunyi-sembunyi,” kata Teguh Jumadiyanto, Kepala Resort Pemangkuan Hutan Ternadi, KPH Pati.

Ada titik terang. BRIN sudah mengembangkan teknik budidaya dan kultur jaringan yang bisa mempersingkat siklus tanam hingga 1,5 hingga 3 tahun, membuka peluang mengurangi tekanan terhadap populasi liar. Di beberapa desa di lereng Muria, kesadaran warga juga mulai tumbuh. Aturan tidak tertulis mulai ditegakkan, melarang pengambilan pakis dan perburuan di hutan sekitar desa. “Di beberapa tempat sudah ada pengumuman. Sehingga bila ada yang turun hutan membawa pakis, mulai dipantau,” kata Teguh Budi.

Pakis ekor monyet tumbuh sangat lambat. Tapi kerusakannya bisa terjadi dalam sekejap, sebagaimana yang sudah terjadi di Muria tiga dekade lalu.

Di Sumba, Kuda Adalah Segalanya. Tapi Ras Aslinya Semakin Sulit Ditemukan

Akhyari Hananto 7 Jun 2026

Tidak ada tempat di Indonesia yang menghormati kuda seperti Sumba. Di sini, kuda hadir dalam kelahiran, pernikahan, dan kematian. Ia menjadi mas kawin, hewan kurban, dan dipercaya sebagai tunggangan terakhir menuju alam baka. Dalam bahasa setempat ia disebut ndara, dan statusnya dipandang hampir sejajar dengan arwah nenek moyang. Begitu tinggi kedudukannya, tidak ada kuda di Sumba yang diberi nama pribadi. Memberinya nama terasa terlalu merendahkan.

Dan justru di tempat yang paling mencintai kuda itulah, ras asli kuda Sumba kini semakin sulit ditemukan.

Kuda khas Sumba dikenal dengan nama Sandalwood pony, kuda pacu asli Indonesia yang dikembangkan di pulau ini selama berabad-abad. Namanya dikaitkan dengan kayu cendana, komoditas ekspor historis dari Nusa Tenggara. Secara fisik tingginya hanya 110 hingga 130 sentimeter, bertubuh serasi dengan dada lebar dan dalam. Yang membuatnya istimewa bukan penampilannya, melainkan staminanya. Kuda Sandalwood mampu bekerja keras di medan sabana yang keras, di bawah terik yang panjang, dengan pakan seadanya.

Kuda inilah yang menghidup-hidupkan Pasola, ritual perang tombak berkuda tahunan yang sudah dikenal hingga mancanegara. “Kuda selalu ada dalam setiap upacara adat Sumba,” kata Palanggarimu, bangsawan dari Prailiu yang akrab dipanggil Umbu Angga. Di antara tiga hewan ternak paling penting dalam kehidupan adat Sumba, yaitu babi, kerbau, dan kuda, kuda adalah yang perannya paling lengkap.

Tapi justru kecintaan masyarakat Sumba pada pacuan kuda yang kini mengancam kemurnian ras ini. Kuda Sandalwood kalah cepat dari kuda impor karena ukuran tubuhnya yang lebih kecil. Para pemilik kuda pun mulai mengawinsilangkan Sandalwood dengan kuda Australia yang lebih besar, demi mendapatkan kuda pacu yang lebih kompetitif. Praktik ini sebenarnya bukan hal baru, bahkan sudah berlangsung sejak era kolonial Belanda di abad ke-19, ketika kuda Eropa didatangkan untuk dikawinkan dengan kuda Sumba.

Akibatnya, populasi kuda Sandalwood murni terus menyusut. Kepala Dinas Peternakan Sumba Timur, Yohanes Ratamuri, mengakui bahwa empat hingga lima tahun sebelumnya, kuda Sandalwood masih mudah ditemui di hampir seluruh wilayah Sumba Timur. “Tetapi di masa sekarang, hanya bisa ditemukan secara sporadis di daerah-daerah tertentu saja,” katanya. Data 2018 mencatat 32.983 ekor kuda Sandalwood dan kuda silang, tanpa pemisahan yang jelas antara keduanya.

Payung hukum sebetulnya sudah ada. Permentan No.426/2014 menetapkan rumpun kuda Sandalwood, dan Keputusan Menteri Pertanian No.1/2019 menetapkan Kecamatan Matawai La Pawu sebagai wilayah sumber bibit, dengan target pemurnian sekitar 800 ekor. Tapi tanpa data yang akurat tentang berapa kuda murni yang tersisa, upaya pelestarian ini berjalan di atas dasar yang goyah.

Kuda Sandalwood adalah bagian dari identitas Sumba yang sudah berusia berabad-abad. Kehilangannya bukan hanya soal satu ras kuda yang punah, melainkan hilangnya sebagian dari cara hidup, cara mati, dan cara manusia Sumba memahami dirinya sendiri. Di tempat yang paling mencintai kuda, ras aslinya justru perlahan menghilang. Itulah ironinya.

Kerbau Indonesia Diprediksi Punah pada 2031, dan Nyaris Tak Ada yang Peduli

Akhyari Hananto 7 Jun 2026

Imam Supriatna, Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan IPB, pernah menyampaikan proyeksi yang seharusnya mengejutkan lebih banyak orang. Jika tren penurunan populasi kerbau di Indonesia terus berlanjut tanpa intervensi serius, pada 2031 populasinya mendekati nol. “Anak cucu kita tidak akan melihat kerbau lagi,” katanya.

Hampir tidak ada yang merespons dengan serius.

Data BPS memperlihatkan tren yang konsisten ke arah itu. Dari 2002 hingga 2022, populasi kerbau nasional secara keseluruhan terus menurun. Antara 2021 dan 2022 saja, jumlahnya turun dari 1.143.189 ekor menjadi 1.088.483 ekor. Di Pulau Jawa, seluruh provinsi mencatat penurunan. Dari 38 provinsi di seluruh Indonesia, hanya 13 yang populasi kerbaunya naik.

Penyebabnya tidak tunggal. Peneliti BRIN Peni Wahyu Prihandini dan tim, dalam laporan di jurnal Veterinary World 2023, mencatat rendahnya tingkat reproduksi dan manajemen pemeliharaan yang belum optimal sebagai faktor utama. Ditambah keterbatasan pakan di musim kemarau, alih fungsi lahan penggembalaan, meningkatnya penggunaan mesin pertanian, fragmentasi habitat, dan menyempitnya keragaman genetik.

Ironisnya, kerbau adalah hewan yang secara biologis sangat tangguh. Suhu tubuh, respirasi, dan denyut nadinya lebih rendah dari kebanyakan sapi. Ia mampu menghasilkan susu dan daging berkualitas tinggi meski hanya diberi pakan hijauan berkualitas rendah. Kerbau Sumbawa bertahan hidup di sabana dengan kekeringan lebih dari delapan bulan per tahun. Kerbau Pampangan betah berendam di rawa gambut Sumatera Selatan. Anoa, kerabat terkecilnya yang hidup di hutan Sulawesi dan Buton, bahkan menjadi indikator kelestarian hutan.

Indonesia sebenarnya memiliki kekayaan ras kerbau yang luar biasa. Ada Anoa, Gayo, Jawa, Kalang, Kuntu, Moa, Murrah, Pampangan, Simeulue, Sumbawa, Toraya, dan beberapa lainnya. Hampir seluruhnya dari jenis kerbau rawa, berbeda dari kerbau sungai yang lebih umum di India dan kawasan barat Asia, yang populasinya justru naik secara global karena permintaan susu dan dagingnya yang tinggi.

Susu kerbau memiliki kandungan lemak dan protein lebih tinggi dari susu sapi, dan bisa diolah menjadi keju, mentega, serta yogurt dengan nilai jual lebih tinggi. Daging kerbau mengandung kolesterol lebih rendah dari sapi. Di tengah perubahan iklim yang mendorong kondisi lebih panas dan lembap, kerbau secara teoritis justru lebih adaptif dibanding ternak lain sebagai sumber protein hewani masa depan.

Tapi potensi itu tidak akan terwujud jika tidak ada yang cukup peduli untuk menyelamatkannya. Pemandangan seorang anak menggembala kerbau di sawah, yang selama ini dianggap pemandangan biasa, mungkin sedang dalam perjalanan menuju kenangan. Dan ketika ia benar-benar hilang, kita baru akan menyadari bahwa ancaman itu sudah lama diumumkan, hanya saja tidak ada yang benar-benar mendengarkan.

Anaconda Terbesar di Dunia, Lebih Berat dari Gorila, Ditembak Mati Sebulan Setelah Ditemukan

Akhyari Hananto 7 Jun 2026

Sebulan setelah ditemukan oleh ilmuwan, Ana Julia ditemukan mati di Sungai Formoso, Brasil. Tubuhnya yang setebal ban mobil, sepanjang lebih dari enam meter dan seberat 200 kilogram, tergeletak tak bernyawa. Diduga ditembak pemburu liar. Biolog Belanda Freek Vonk, yang sebulan sebelumnya merekam dirinya berenang bersama Ana Julia di dasar sungai selama lebih dari sejam, menulis di Instagram: “Aku mencintaimu, Ana Julia. Aku akan merindukanmu.”

Ana Julia adalah anaconda betina yang ditemukan oleh tim 15 biolog internasional di Amazon Ekuador, atas undangan Kepala Suku Huaorani, Penti Baihua, salah satu dari sedikit izin masuk ke wilayah itu yang pernah diberikan sejak kontak pertama suku tersebut dengan dunia luar pada 1958. Ia bukan sekadar individu yang luar biasa. Ia adalah anggota spesies yang baru dikonfirmasi keberadaannya: Anaconda Hijau Utara (Eunectes akayima), yang secara genetik berbeda 5,5 persen dari Anaconda Hijau Selatan (Eunectes murinus) yang sudah lama dikenal ilmu pengetahuan.

Penemuan dua spesies anaconda hijau yang berbeda ini mengubah cara kita memahami ular terbesar di dunia, sekaligus membuka kembali pertanyaan lama: seberapa besar sebenarnya anaconda bisa tumbuh?

Selama puluhan tahun, Eunectes murinus menjadi tolok ukur. Dr. Jesús Antonio Rivas dari New Mexico Highlands University, setelah lebih dari dua dekade penelitian, mencatat ukuran maksimum terverifikasi untuk spesies ini adalah betina dengan berat 97,5 kilogram dan panjang 5,21 meter. Ana Julia, dengan beratnya yang dua kali lipat angka itu, tiba-tiba membuat batas-batas tersebut terasa jauh lebih cair.

Untuk konteks, gorila jantan terbesar yang pernah tercatat beratnya melampaui 272 kilogram. Ana Julia yang 200 kilogram masih sedikit lebih ringan. Tapi masyarakat adat Waorani di Amazon sudah lama bercerita tentang “ular ibu”, anaconda raksasa dengan panjang lebih dari 7,5 meter dan berat mencapai 500 kilogram. Selama bertahun-tahun cerita itu dianggap mitos. Jika suatu hari terbukti, perbandingan dengan gorila pun akan berubah drastis.

Mengukur anaconda di alam liar bukan perkara mudah. Di habitat sungai dan rawa Amazon yang gelap dan berlumpur, hampir tidak mungkin mendapatkan data yang presisi. Banyak laporan ukuran ekstrem tidak memiliki dokumentasi fisik yang bisa diverifikasi. Pertanyaan tentang batas maksimal E. akayima masih terbuka, dan mungkin akan lama terbuka.

Ana Julia mungkin bukan yang terbesar. Ia mungkin hanya yang terbesar yang pernah kita temukan, dan sempat kita kenal, sebelum pemburu mengakhirinya lebih dulu dari ilmu pengetahuan.

Tim peneliti yang sedang merekam program TV untuk National Geographic menemukan spesies anakonda raksasa baru di Amazon Ekuador. Spesies ini diberi nama Eunectes akayima.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.