Tag Archives: pohon sagu

Sagu Luwu, Nasibmu Kini…

Sagu-sagu siap jual yang berjejer di toko-toko di jalan utama Makassar-Sorowako. Foto: Eko Rusdianto

Sagu-sagu siap jual yang berjejer di toko-toko di jalan utama Makassar-Sorowako. Foto: Eko Rusdianto

Setiap hari, di warung-warung Desa Keppe, Luwu dan Desa Mappideceng, Luwu Utara, tepat di pinggir jalan utama Makassar–Sorowako ini, berjejer kantong merah. Ia berisi sagu, berwarna putih dan halus. Sagu ini djual antara Rp10.000-Rp50.000.

Secara umum di Luwu, penganan berbahan dasar sagu cukup beragam, mulai dange (berbentuk pipih, pengganti nasi), kapurung (makanan khas masyarakat Luwu menyerupai pepeda), sinole  (sagu dicampur kelapa parut disangrai), dan lanya’ (menyerupai ongol-ongol, kue dicampur gula merah atau gula pasir), atau kue kering bagea.

Di Luwu , baik Luwu, Palopo, Luwu Utara dan Luwu Timur,  ada dua jenis sagu tumbuh. Sagu berduri, tabaro duri dan tak berduri adalah tabaro uso. Tabaro adalah sagu dalam bahasa Luwu.

Peneliti Teknologi Pertanian Universitas Negeri Makassar, Lahming Toda mengatakan, sagu di Luwu, memiliki peranan penting sebagai makanan utama  setelah beras memasuki paceklik. “Dari dulu Luwu mengenal padi. Jadi sagu menjadi makanan pendamping jika tak ada beras. Karena sagu tak pernah habis dan tak memiliki musim,” katanya.

Lahming memperkirakan, penanaman padi pada masyarakat Luwu dikenal sejak lama. Ditanam sebagai padi ladang atau tumbuh bebas. Lalu, pengairan masuk pada era kemerdakaan.

Namun, Crhistian Pelras dalam The Bugis, mengutip epik I la Galigo menuliskan, jika padi beras dikenal pada masa kelahiran anak pertama Batara Guru – manusia pertama yang menghuni bumi – meninggal muda. Pada beberapa hari kemudian pusara sang anak ditumbuhi berbagai jenis rumput termasuk padi. Batara Guru tak perlu memakan padi itu, cukup menikmati sagu.

Sagu yang telah mengendap. Foto: Eko Rusdianto

Sagu yang telah mengendap. Foto: Eko Rusdianto

Untuk mengolah batang sagu menjadi tepung siap dikonsumsi, cukup sulit. Langkah awal, harus memilih pohon tepat dan belum berbuah. Usia panen sagu, antara 7-10 tahun. Mengupas kulit pohon menggunakan linggis atau kampak besar.  Bagian inti batang sagu berserat dan berwarna putih dipotong kecil-kecil, dimasukkan dalam penggilingan.

Sebelum mengenal penggilingan, isi atau inti sagu dipotong kecil-kecil, lalu ditumbuk, secara bersama diinjak dalam wadah  agar sari patih keluar. Selama proses menginjak-injak itu, dialirkan air terus menerus, dan berhenti pada kolam, yang disiapkan dari kain terpal.

Air berubah warna menjadi merah, lalu didiamkan beberapa jam guna mengendapkan sari pati. Dalam satu pohon dewasa rata-rata petani sagu mendapat sekitar 240 liter atau 60 kantoli disebut bala’ba. Untuk satu bala’ba dibungkus menggunakan daun sagu berisi liga sampai empat liter sagu. Sari pati sagu memiliki kandungan karbohidrat hingga 40%, namun tak memiliki protein.

Tak hanya sari pati sagu dimanfaatkan, di beberapa rumah penduduk mejadikan pelepah sebagai dinding, atau pagar ternak. Daun sebagai atap. Seiring perkembangan zaman, beberapa kegunaan utama sagu mulai menghilang, atap rumbia berganti seng, dinding menjadi papan, dan pagar kawat (besi).

Sisa batang sagu, dapat ditaburi garam untuk mempercepat pembusukan dan menghasilkan ulat sagu – dalam bahasa lokal: wati. Wati menjadi makanan favorit memiliki protein tinggi, biasa menjadi pepes ataupun lauk dalam kapurung.

Lahming, melakukan penelitian desertasi pada 2006-2008, menemukan lahan sagu di Luwu mengalami penurunan hingga 50%. Lahan-lahan itu berganti menjadi tanaman industri seperti kakao, padi, dan cengkih. “Jadi ada stigma masyarakat jika sagu makanan hanya dikonsumsi orang-orang miskin.”

Ketika saya berkunjung ke Luwu pertengahan Februari 2015, lahan sagu mulai sulit. Petak-petak sagu dari kejauhan seperti titik-titik kecil diantara hamparan persawahan.

Padahal,  petak sagu, menjadi lahan tampungan air sangat baik saat kemarau. “Iya, dalam sagu selalu ada air. Tidak pernah kering,” kata Anton, petani Sesa Suli, Kecamatan Suli, Luwu.

Kue bagea dari sagu. Foto: Eko Rusdianto

Kue bagea dari sagu. Foto: Eko Rusdianto

Sulit menjaga sagu

Di Indonesia,  ada beberapa wilayah yang mengenal sagu sebagai makanan utama, selain Luwu di Sulawesi Sealatan, To Laki di sekitaran pegunungan Mekongga Sulawesi Tenggara, Maluku, dan Papua.

Lahming mencatat, jika Luwu hanya dua jenis sagu, di Maluku 35 jenis dan Papua 60 jenis. Namun sagu tak seperti padi yang memiliki kisah mitologi. “Sagu adalah tanaman anugerah,” katanya.

Antropolog Universitas Hasanuddin, Tasrifin Tahara berpendapat sama. Sagu, katanya, dengan cepat diganti tanaman lain, seperti beras karena ada interpensi pasar dan kebutuhan ekonomi. “Apalagi sagu tidak ditopang mitologi besar seperti kisah padi. Saya belum menemukan. Itu harus ada riset mendalam.”

Tasrifin mecoba mengalisis, bagaimana budaya makanan sagu dinilai peradaban rendah. “Penetrasi pasar, mengenalkan beras sebagai makanan peradaban baru, masyarakat mulai beralih.”

Saat ini, sagu hanya menjadi makanan pengganti dan pelengkap. Di Luwu, sebagian besar masyarakat memakan kapurung–mirip papeda di Papua dan Maluku–juga menambahkan nasi sebagai penguat perut dan sebagai pengesahan menyatakan kenyang.

Ekosistem sagu

Tak hanya sebagai bahan makanan dan pelengkap, sagu dalam rantai ekosistem sangat memberi manfaat besar. Hamparan sagu menjadi tempat berkembang berbagai macam mahluk hidup, seperti babi hutan,  ular, kumbang, dan burung.

Lahming mengingat pada masa kecil, ketika berkunjung ke hamparan sagu di Desa Murante, Luwu, selalu mawas memperhatikan gerak gerik hewan di balik dedaunan. Ular daun berwarna hijau dengan mata merah dan hitam, piton, tikus, bahkan buaya. “Pohon sagu juga tempat favorit bangau bersarang. Sagu lenyap, lenyap sudahlah semua itu.” Sagu juga berfungsi mengubah lahan gambut menjadi lahan padat dalam 10 tahun.

Pengembangan budidaya sagu selain menjadi makanan, dapat menjadi tanaman industri. Ampas sagu sisa sari pati, bisa sebagai etanol untuk bahan bakar ramah lingkungan.

Bahkan dalam penelitian Lahming, dia menemukan beberapa unsur dalam lem kayu dan kertas, sagu sebagai campuran untuk mendapatkan lem berkualitas. “Jadi kertas pembungkus makanan bahan licin itu dari sagu.”

Sisi kesehatan, sagu salah satu tanaman terbaik yang mengubah energi fotosintesa matahari melalui daun dan menyebarkan ke alam. Ini membantu manusia di sekitaran pohon terhindar penyakit paru dan asma.

Mengupas kulit sagu untuk mengambil sari pati. Foto: Eko Rusdianto

Mengupas kulit sagu untuk mengambil sari pati. Foto: Eko Rusdianto

"Kolam" buat mengendapkan sari pati sagu. Foto: Eko Rusdianto

“Kolam” buat mengendapkan sari pati sagu. Foto: Eko Rusdianto

Pohon Sagu di Papua Makin Menipis

POHON sagu yang biasa ditokok (diolah secara tradisional) oleh warga Papua menjadi bahan makanan, makin menipis. Pohon ini terus dibabat untuk pembangunan, baik jalan, rumah toko, mal dan pembangunan lain. Masyarakat Papua mengenal sejumlah makanan lokal, seperti sagu, ubi jalar, keladi, singkong, dan pisang.  Sagu paling populer di masyarakat pantai dan ubi jalar bagi masyarakat pedalaman. Jika sagu habis, berpotensi mengancam pasokan pangan masyarakat.

Papua, salah satu provinsi di Indonesia dengan potensi sagu terbesar, bahkan terluas di dunia. Luas lahan sagu 771.716 hektare atau sekitar 85 persen dari luas hutan sagu nasional. Wilayah sebaran di Waropen Bawah, Sarmi, Asmat, Merauke, Sorong, Jayapura, Manokwari, Bintuni, Inawatan, dan daerah yang belum terinventarisasi.

Di Jayapura, sagu dibabat pemerintah mulai 1995. Rio Sagisolo, warga Perumnas II Waena, Abepura, Jayapura, mengatakan, tahun 1960-an sampai 1995, Kota Abepura penuh hutan sagu.

Sisa pohon sagu di Sentani, yang akan ditimbun. Foto: Musa Abubar

Kala itu, tiap pulang kuliah, dia selalu mengikuti warga Waena ke hutan sagu untuk menebang dan meramu menjadi tepung. Warga juga memburu burung mambruk dan rusa untuk konsumsi. “Pokoknya waktu itu masyarakat suka tokok sagu dan berburu. Sekarang sudah tidak ada lagi. Lahan yang dulu penuh pohon sagu sudah habis,” katanya di Jayapura, Selasa(22/8/12).  Memasuki tahun 1995, pemerintah mulai membuka lahan. Hutan sagu sekitar 500 hektare dibabat dan ditimbun.

Di kawasan Waena, pemerintah mulai mengganti hutan sagu menjadi bangunan rumah toko dan rumah sakit. Tempat usaha juga berdiri. Di daerah Kotaraja, pemerintah menggantikan dusun sagu menjadi gedung perkantoran dan mal. Bangunan di kawasan itu  antara lain, kantor Dinas Kesehatan Papua, dan kantor DPRD Jayapura.

Frengki Numberi dari Badan Lingkungan Hidup Kota Jayapura mengaku, bangunan-bangunan itu sudah tepat dan sesuai tata ruang kota. “Pohon sagu dan pohon lain ditebang demi pembangunan bagi masyarakat.”

Pembabatan sagu tak hanya marak di Jayapura. Tindakan serupa juga berlangsung di Manokwari, Papua Barat. Warga Kabupaten Teluk Wondama, selalu menjadi korban kekerasan aparat keamanan. Mereka sering dipukuli hingga dibawa ke Polres Manokwari, lantaran melarang pemerintah menebang pohon sagu.

Di Sentani, Kabupaten Jayapura, saat ini, lahan sagu sekitar satu hektare digusur pengusaha untuk pelebaran jalan. Sejumlah pepohanan sagu di sekitar bibir jalan raya, tumbang. Ada yang dibuang ke danau Sentani atau ke hutan.

Data dari Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Jayapura, luas lahan sagu 38.670 hektare, terdiri dari 14.000 hektare areal budidaya, sisanya hutan sagu alam. Dari areal ini diperoleh tepung sagu 6.546 ton, 62,98 persen dijadikan setok pangan penduduk Kabupaten Jayapura. Sisanya, bahan makanan penduduk Kota Jayapura.  Produksi sagu di Papua diperkirakan 1,2 juta ton setiap tahun.

Di sisi lain, sekitar 4,8 juta ton sagu terbuang percuma. Pohon sagu dibiarkan tua karena pengetahuan pengelolaan terbatas, proses mengambil sari perlu waktu lama dan butuh tenaga kuat.  Sagu tidak hanya sebagai sumber karbohidrat, juga produk industri modern, seperti proses pembuatan kayu lapis, sohun, kerupuk, kue kering, dan jeli.

Penelitian tentang pemanfaatan sagu di Papua, bisa dilihat di sini