Tag Archives: punah

Penelitian: Bumi Diambang Kepunahan Besar yang Keenam

Orangutan Sumatera, salah satu spesies satwa terancam punah akibat hilangnya habitat  karena deforestasi. Foto: Rhett Butler

Ahli biologi menyimpulkan kepunahan spesies terjadi 1.000 kali lebih cepat dengan kehadiran spesies manusia

Sebuah penelitian yang dipimpin oleh ahli biologi Stuart Pimm dari Duke University menyebutkan bahwa saat ini bumi berada di ambang kepunahan besar spesies yang keenam.

Seperti penjelasan yang dikutip dari Jurnal Science, kepunahan spesies didorong oleh kehadiran manusia yang mempercepat hingga seribu kali kepunahan spesies lain jika dibandingkan waktu yang lalu.

Berdasarkan hasil penelitian ini, sebelum manusia menjadi spesies dominan di bumi maka rata-rata kepunahan spesies adalah 1 dari 10 juta spesies punah per tahun, tetapi dengan kehadiran manusia antara 100-1.000 per sejuta spesies punah setiap tahunnya.

Faktor utama di balik tingginya angka kematian menurut para peneliti adalah penyusutan habitat alam. Spesies yang berintelegensia lebih rendah dari manusia telah kehilangan habitat tempat hidup karena diambil alih dan diubah untuk kepentingan manusia.

Faktor-faktor lain yang mempercepat kepunahan adalah introduksi spesies asing ke habitat yang disebabkan oleh aktifitas manusia, pola konsumsi yang tidak berkelanjutan dan perubahan iklim.

 

Badak Sumatera, salah satu spesies paling terancam di dunia yang ada di Indonesia. Foto: Save the Rhino International

Untuk memperkirakan tingkat kepunahan masa prasejarah, para ahli biologi mendasarkan pada hasil filogeni molekuler (molecular phylogeny), yaitu teknik yang melacak hubungan antara spesies yang berbeda melalui analisis persamaan dan perbedaan DNA mereka.

Para peneliti sendiri meyakini, dari bukti-bukti yang ditemukan, bahwa telah terjadi 5 kali kepunahan besar spesies di bumi. Sejumlah besar spesies menghilang secara cepat dikarenakan perubahan lingkungan oleh bencana raksasa. Berbeda dengan kepunahan spesies yang lalu, maka kepunahan besar spesies kali ini menurut para ahli akan terjadi akibat ulah manusia.

Kepunahan terbesar yang terburuk sendiri terjadi 252 juta tahun yang lalu, menyapu bersih hingga 96 persen spesies laut dan 70 persen dari spesies vertebrata darat. Meskipun demikian peneliti belum sampai kata sepakat apa yang menjadi penyebab pasti dari bencana ini.  Beberapa dugaan hal ini terjadi karena dampak tabrakan meteor, aktifitas gunung berapi raksasa, menipisnya oksigen dalam air laut dan beberapa hipotesis lain yang saat ini sedang dibahas.

Kepunahan terakhir adalah terjadi 65 juta tahun lalu, disebabkan oleh meteroid raksasa yang menabrak bumi.  Diyakini 75 persen spesies yang ada di bumi saat itu mengalami kepunahan, termasuk dari berbagai jenis spesies dinosaurus.

“Saat ini kita berada di ambang kepunahan keenam dan sekarang tergantung tindakan kita apakah ingin menghindarinya atau tidak,” tandas Stuart Pimm pimpinan penelitian ini.

 

Satu dari Empat Hiu dan Pari Kini Terancam Punah

Hiu mati diburu. Foto: M. Burgener/TRAFFIC

Hiu mati diburu. Foto: M. Burgener/TRAFFIC

Satu dari empat hiu dan pari kini terancam punah, hal ini terungkap dari studi yang diterbitkan secara terbuka di eLife. Kajian ini menganalisis ancaman dan status konservasi dari 1.041 spesies yang masuk ke dalam kelas chondrichthyan -atau keluarga ikan-ikanan yang memiliki rangka lunak berupa tulang rawan, termasuk diantaranya hiu, pari, skate dan chimaera. Hasil kajian ini menyatakan bahwa kelompok ini adalah salah satu yang paling terancam.

Hasil studi yang melibatkan 300 pakar dari 64 negara di dunia ini menyatakan bahwa kelas chondrithyan telah mengalami eksploitasi berlebihan melalui sektor perikanan dan tangkapan-tangkapan yang tidak disengaja, hal ini masih ditambah dengan hilangnya habitat, dan perubahan iklim.”

Para penulis laporan ini juga melihat bahwa dua wilayah dengan ancaman terbesar adalah kawasan segitiga keragaman hayati di Indo-Pasifik dan Laut Merah. Kawasan Indo-Pasifik bahkan dinilai sebagai kawasan yang memiliki keragaman hayati tertinggi secara biologis dan paling unik di planet ini, namun sekaligus yang paling tidak terlindungi oleh peraturan yang kuat.

“Kawasan Indo-Pasifik meliputi Teluk Thailand, Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi adalah wilayah-wilayah utama yang memiliki ancaman terbesar bagi hiu dan pari, di wilayah ini sekitar 76 spesies terancam punah.” Penelitian ini menyatakan bahwa tanpa aksi nyata dari otoritas pemerintah di level nasional dan internasional, berbagai spesies di wilayah-wilayah ini akan punah dalam waktu singkat.

Penangkapan hiu untuk diambil siripnya, menjadi salah satu penyebab musnahnya populasi hiu di dunia. Foto: Rikke Johannessen

Penangkapan hiu untuk diambil siripnya, menjadi salah satu penyebab musnahnya populasi hiu di dunia. Foto: Rikke Johannessen

Ancaman utama di wilayah ini, terutama adalah ‘finning‘ -atau pemotongan sirip ikan hiu dan mengembalikan bagian tubuh yang tidak dibutuhkan kembali ke laut- sebagai ancaman utama bagi spesies-spesies hiu, sawfish dan wedgefish. Praktek pemotongan sirip ini disebabkan oleh tingginya permintaan sirip hiu di Cina sebagai bahan utama dalam sup.

“Sirip, secara khusus, adalah salah satu komoditas makanan laut yang paling berharga,” jelas penelitian ini,”diperkirakan sirip dari sekitar 26 hingga 73 juta individu, yang bernilai 400 hingga 500 juta dollar AS diperjualbelikan setiap tahun.”

Ukuran tubuh yang besar dan habitat yang dangkal menjadi salah satu faktor utama keterancaman spesies-spesies ini. “Kemungkinan spesies ini terancam meningkat sekitar 1,2% setiap ukurannya bertambah 10 cm dari ukuran tubuh maksimum, dan menurun sekitar 10,3% jika setiap individu menyelam 50 meter lebih dalam dari batas kedalaman minimum untuk setiap spesies.”

Selain perburuan, sekitar 20 spesies hiu dan pari juga terdampak langsung oleh polusi. Lalu sekitar 22 spesies terdampak akibat rusaknya sistem perairan sungai dan pembuangan akibat bertambahnya wilayah residensi manusia dan pembangunan kawasan-kawasan komersial. Sementara 12 spesies lainnya mengalami resiko punah akibat konversi mangrove menjadi tambak udang, dan pembangunan waduk dan bangunan lain untuk mengukur dan mengawasi sirkulasi air.

“Namun tak ada satu pun spesies yang terancam scara global, sejauh hasil temuan yang ditemukan,” ungkap tulisan. “Setidaknya 28 populasi sawfish, skate dan hiu terancam secara lokal atau mengalami kepunahan secara regional.”

 

CITATION: Dulvy, Nicholas K., Sarah L. Fowler, John A. Musick, Rachel D. Cavanagh, Peter M. Kyne, Lucy R. Harrison, John K. Carlson, et al. 2014. Extinction Risk and Conservation of the World’s Sharks and Rays. eLife 3. doi:10.7554/eLife.00590

0122-sharks-and-rays

Diklaim Punah, Pakar Meyakini Harimau Jawa Akan Ditemukan Kembali

Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica).

Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica). Foto: Andries Hoogerwerf

“Kami masih meyakini Harimau Jawa belum punah, dan 2014 ini adalah tahun resolusi semoga bisa terbukti bahwa harimau Jawa masih ada.

Semangat inilah yang memantik sejumlah peneliti, akademisi, bersama dinas terkait yang masih meyakini keberadaan harimau Jawa di tanah asalnya, dalam sebuah kegiatan bernama “Sarasehan Harimau Jawa 2013” yang diselenggarakan oleh Balai Taman Nasional Meru Betiri (BTNMB).

Pembahasan terfokus pada karnivora besar endemik hutan Jawa yang sudah diklaim punah oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) yaitu Harimau Jawa dan akhir kegiatan ini menghasilkan rekomendasi bahwa harimau Jawa masih diyakini masih ada (belum punah).

Wahyu Giri Prasetya, peneliti harimau Jawa dan pemateri dalam sarasehan tersebut memaparkan, Harimau loreng (Jawa) tergolong karnivora besar dengan sebaran geografis sangat luas. Membentang dari lembah Tigris di Siberia hingga di Rusia Timur, lalu di India kecuali Srilanka, kemudian di Indocina dan semenanjung Malaya; hingga di kepulauan Indonesia meliputi Sumatera, Jawa dan Bali.

Peta Sebaran harimau jawa

Satwa ini dianggap berasal dari lembah Tigris yang kemudian menyebar hingga ke Bali melewati rentang waktu ribuan tahun. Adanya perubahan tinggi permukaan air laut dan fragmentasi antar populasi, menjadikan spesies harimau loreng dikenal dengan 8 sub-spesies. Saat ini tiga sub-spesies, yaitu harimau Kaspia, harimau Bali dan Harimau Jawa sudah dianggap punah.

Wahyu Giri Prasetya dalam presentasinya berjudul “Mengapa Kami Menolak Harimau Jawa Punah”  memaparkan bahwa harimau Jawa belum bisa dikatakan punah. Dalam materinya fakta temuan selain dari foto masih ditemukan. Laporan pembunuhan dan sisa pembunuhan masih terus didapat. Selain itu, metode pemantauan konvensional ada banyak kelemahan. Contohnya, pemasangan kamera di TN Meru Betiri masih dalam jumlah yang terbatas sekali, dan tidak dilakukan penelitian dalam 2 kali siklus umur secara terus menerus, dan juga lokasi penelitian yang ada masih terbatas di Meru Betiri.

Pada tahun 1974, penelitian Seidensticker dan Sujono di Taman Nasional Meru Betiri (TNMB), Jawa Timur memperkirakan Harimau Jawa tinggal 3-4 ekor. Berikutnya riset WWF di tempat yang sama tahun 1994, ternyata menunjukan hasil nihil. Kamera trap sistem injak yang dipasang tidak memotret satupun sosok Harimau Jawa. Selam ini TNMB terlanjur ditetapkan menjadi habitat terakhir Harimau Jawa. Sehingga, kesimpulan punah muncul pada Desember 1996, CITES memutuskan vonis punah.

Jika mengacu pada Steidensticker & Soejono, yang menyatakan punah pada tahun 1976 di Suaka Margasatwa Meru Betiri. Maka dengan usia harimau berkisar 25 tahun dikalikan dua kali umur rata-rata maka Harimau Jawa baru bisa dikatakan punah pada tahun 2026. “Jadi terlalu dini dan tak kuat dasar pernyataan punah bagi harimau Jawa,” kata Wahyu Giri Prasetya.

Harimau Jawa-javantiger.or.id

Perburuan harimau Jawa di masa lalu. Foto: Javantiger.or.id

Dalam rekomendasi sarasehan harimau Jawa di Jember pun merekomendasikan, bahwa hasil penelusuran dan penelitian sejak tahun 1997 hingga 2012 masih menemukan jejak, cakaran, dan kotoran dari Harimau Jawa. Selain itu, banyaknya tertimoni tentang adanya perjumpaan oleh masyarakat terhadap fisik Harimau Jawa.

Kepunahan Harimau Jawa muncul akibat laporan World Wildlife Fund (WWF) 1994 yang tidak mendapatkan sosok fotonya setelah memasang 10 kamera trap sistem injak selama satu tahun di TN Meru Betiri seluas 58.000 hektar. Akibat pernyataan punah dari WWF dan dikuatkan PHKA, maka setiap ada pelaporan perjumpaan harimau Jawa oleh masyarakat selalu dianggap cerita mitos. Selain itu pemerintah melalui Dirjen Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (PHPA) Departemen Kehutanan sepakat atas klaim punah tersebut.

Wahyu Giri menambahkan bahwa  Info yang sering salah kaprah, bahwa WWF seolah memasang 20 kamera, tetapi sebenarnya hanya memasang sepuluh kamera yang dipasang dalam dua periode, cuma dalam laporan (posisi kamera) seolah-olah menjadi 20 kamera. Untuk melawan pernyataan punah dari IUCN memang tidaklah mudah. Saat ini memang bukan era jejak, tapi era foto. Dalam pemaparannya, Wahyu Giri menyatakan ketidakniscayaan bahwa bukti foto akan serta merta akan diakui sebagai foto Harimau Jawa. “Mereka tidak berani menjawab itu “jejak” kucing besar lainnya (tutul, kumbang atau lainnya), atau binatang lainnya. Lalu jejak apa? “ Tanya Wahyu Giri.

Bukti kepala harimau Jawa-Ciremai 1961

Implikasi dari pernyataan punah harimau Jawa sangatlah besar terutama pada pengelolaan dan tata guna kawasan. Wahyu Giri menambahkan,  fakta di Jember, pasca ada pernyataan punah harimau Jawa di buku aksi konservasi untuk harimau sumatra, tidak lama berselang muncul kuasa pertambangan (PT Hakman), yang salah satu petaknya mencaplok sebagian Taman Nasional Meru Betiri, tahun 2000 muncul ijin eksplorasi dari PT. Jember Metal dan Banyuwangi Mineral (satu perusahaan) yang luasanya mencaplok seluruh Taman Nasional Meru Betiri.

“Dan yang mengkhawatirkan lagi adalah perburuan terhadap harimau Jawa semakin bebas (karena sudah dianggap punah),” kata Wahyu Giri.

Didik Raharyono yang juga peneliti harimau Jawa dan penulis buku “Berkawasan Harimau bersama Alam“ yang juga hadir dalam sarasehan harimau Jawa kepada Mongabay-Indonesia memaparkan perkara kepunahan harimau Jawa punah, ternyata bukan soal sepele. Selama ini antara “masyarakat ilmiah” dan masyarakat sekitar hutan terjadi perdebatan. Para ahli menyatakan harimau Jawa telah punah, menyusul saudara dekatnya, harimau Bali (Panthera tigris balica). Dasarnya adalah berbagai penelitian yang dilakukan tidak pernah lagi menemukan sosok wujudnya.

“Tapi saya dan hasil sarasehan harimau Jawa kemarin menyimpulkan Harimau Jawa diyakini masih ada atau belum punah,”kata Didik Raharyono kepada Mongabay-Indonesia.

Dalam artikel yang ditulis Didik Raharyono berjudul “Sejarah Penyelamatan Harimau Jawa Dan Masa Depannya di Meru Betiri” dijelaskan bahwa harimau loreng hampir mendiami seluruh Pulau Jawa yang masih berselimutkan hutan tropis lembab. Hanya saja setelah kebijakan tanam paksa dari kolonial Belanda, merombak hutan tropis dataran rendah -habitat ideal bagi harimau loreng- menjadi perkebunan tebu dan jati sehingga memunculkan konflik dengan satwa liar.

Di tahun 1971 Hoogerwerf meneliti SM Meru Betiri menggunakan metode pengamatan lapangan dan menyatakan masih eksisnya harimau Jawa di kawasan ini. Lalu Steidensticker mempertajam penelitian guna penguatan status konservasinya di tahun 1976 menggunakan metode amatan lapang. Berikut penelitian oleh Silva IPB tahun 1987 yang juga masih mencatat temuan cakaran, feses dan jejak harimau loreng juga masih menggunakan metode amatan lapang.

“Perjumpaan dengan harimau loreng juga masih dituturkan masyarakat lokal pemanen hasil hutan di TN Meru Betiri hingga tahun 2010. Dan Masyarakat diluar TNMB hingga tahun 2013,” kata Pak Didik.

Catatan Investigasi dan Penelusuran Harimau Jawa

Catatan Didik Raharyono dalam penelusuran dan investigasi Harimau Jawa sudah dilakukan sejak November 1997 di Taman Nasional Meru Betiri (TMMB) yang dilakukan oleh BTNMB, PIPA dan MMB.

Platter cast harimau Jawa tahun 1997. Foto: Didik Raharyono

Platter cast harimau Jawa tahun 1997. Foto: Didik Raharyono

Tahun 1999, Balai Konservasi Sumber Daya Aalam (BKSDA) Jatim II, MMB, FK3I, merambah kawasan Gunung Merapi Ungup-ungup, Ijen, Rante, Panataran dan Raung. Penelusuran dilakukan oleh 8 regu, masing-masing regu beranggotakan 4 hingga 5 orang selama 15 hari di dalam hutan. Hasil penelusuran tersebut ditemukan bukti keberadaan harimau Jawa di Gunung Raung, Panataran dan Ijen berdasarkan temuan rambut yang terselip di luka cakaran dan kotoran.

Pada, April 1999 Pendidikan Lingkungan Kapai membongkar kelebatan hutan Gunung Slamet sisi Barat dan Selatan selama 15 hari. Hasil temuan berupa cakaran di pohon dengan rambut yang terselip, juga kotoran dan jejak. Keberadaan harimau Jawa di Gunung Slamet diperkuat oleh penuturan masyarakat Pekuncen yang telah membunuh Harimau Loreng tahun 1997. Rambut dari kulit harimau Loreng sisa pembunuhan tahun 1997 berhasil diidentifikasi menggunakan mikroskop elektron sebagai rambut harimau Jawa.

Data lainnya didapat dalam pemantauan yang dilakukan bulan Februari sampai Maret 2000 di Gunung Slamet selama satu bulan penuh. Meskipun perjumpaan langsung dengan Harimau Jawa belum terjadi, setidaknya cakaran dan rambutnya diklaim berhasil ditemukan. Keyakinan tersebut dikuatkan penduduk pengambil kayu di hutan bahwa harimau Loreng sering mengikuti jalan setapak yang dibuatnya. Saat berpapasan terlihat acuh, oleh penduduk Harimau Loreng disebut “Macan Budeg”.

Desember 2000 penelusuran informasi perjumpaan harimau Loreng di Gunungkidul bersama Jagawana dari BKSDA DI.Jogjakarta. Meskipun bukti temuan menunjukkan bekas aktivitas macan tutul, namun beberapa kepala dusun menyakini bahwa masih sering dijumpai harimau loreng saat musim kemarau atau ketika ada warga yang meninggal. Lama penungguan di makam yang baru dikubur berkisar dari 7 sampai 20 hari. Keberadaan Harimau Loreng di Gunungkidul dikuatkan oleh temuan cakaran di batu cadas penutup mulut song Bejono di Ponjong yang menjadi tempat persembunyiannya.

Agustus 2001, lewat informasi terbunuhnya harimau loreng di lereng Utara Gunung Muria Jawa Tengah, mandor PT Perhutani meyakini masih melihat tulang belulang loreng yang baru saja dibantai warga. Data penguat terakhir adalah penuturan dari Pecinta Alam UMK saat melakukan pengembaraan di lereng selatan Gunung Muria, berpapasan dengan harimau Loreng bertubuh besar dan sempat disaksikan oleh satu regu yang terdiri dari 6 orang. Pecinta Alam dari Solo (Dinamik Faperta UNS) melaporkan pernah berpapasan dengan macan loreng di Lawu tahun 1998 dan disaksikan semua anggota tim SRU sekitar 5 orang saat berlatih SAR.

Tahun 2004 juga dijumpai feses harimau Jawa dengan diameter sekitar 7 cm dan tahun 2006 ada kesaksian perjumpaan dari TNI.

Tahun 2008 ditemukan sampel kulit harimau loreng yang dibunuh dari Jawa Tengah. Tahun 2008 juga menjumpai sisa kuku yang masih ada darah milik harimau Jawa yang dibunuh dari Jawa barat.

Tahun 2009 didapat sampel kulit lagi harimau yang dibunuh di Jawa Timur. Secara mikroskopis, untuk rambutnya sudah menunjuk ke harimau loreng dan bukan tutul; tetapi perlu analisis lebih lanjut ke tingkat DNA, yang saat ini sedang dipersiapkan.

Tahun 2013 ini, bahkan kami mendapatkan potongan bulu Harimau Jawa, dari Jawa Timur” kata Pak Didik.

Feses harimau Jawa tahun 1998. Foto: Didik Raharyono

Feses harimau Jawa tahun 1998. Foto: Didik Raharyono

Penelitian Murni Anak Negeri

Penelitian dan temuan terkait Harimau Jawa yang dilakukan oleh peneliti dalam negeri seperti yang terus dilakukan oleh Pak Didik, Wahyu Giri Prasetya sangat sulit mendapatkan kepercayaan dari peneliti dan lembaga Internasional.

Wahyu Giri menjelaskan, “mereka” para peneliti asing, seolah lupa ketika masuk hutan minta dipandu, dan siapa pemandunya, jika bukan warga lokal dan anak negeri. Yang perlu diingat bahwa keabsahan hasil telitian bukan oleh siapa yang melakukan, tapi pada teknik dan prosedur.  “Kenapa prasangka yang diutamakan, kenapa tidak ditanya bagaimana cara kami mendapatkan rambut tersebut di hutan,” kata Wahyu Giri.

Dalam artikel yang ditulis Didik pada tahun 2005 berjudul “Jejak Harimau Loreng tidak Hanya di Gunung Kidul” dijelaskan, kehadiran individu Harimau Jawa tersisa dapat dibuktikan dari bekas aktivitas dan sisa bagian tubuhnya, meskipun secara internasional harimau Jawa sudah divonis punah.

“Pengamatan harimau Jawa sudah seharusnya dilakukan masyarakat Jawa sendiri, peneliti dan instansi terkait tanpa harus tergantung kepada peneliti asing,” tutup Didik Raharyono.

Video: Inilah Wajah Bumi Manusia Tanpa Kehidupan Alam Liar…

Cuplikan video kerjasama antara Greenpeace dan Walt Disney yang menggambarkan dunia tanpa kehidupan alam liar di dalamnya. Sumber: Greenpeace dan Walt Disney.

Cuplikan video kerjasama antara Greenpeace dan Walt Disney yang menggambarkan dunia tanpa kehidupan alam liar di dalamnya. Sumber: Greenpeace dan Walt Disney.

Apa jadinya, jika di dunia ini tak lagi memiliki kehidupan di alam liar? Tentu sangat sulit membayangkan hal ini terjadi jika kita tidak melihatnya sendiri. Untuk memberikan gambaran betapa sepinya dunia ini tanpa kehidupan satwa liar di dalamnya, Greenpeace beberapa hari lalu merilis sebuah video yang berisi keragaman hayati global, dengan bantuan produsen film kartun dunia di Disney.

Dalam video berdurasi satu setengah menit ini, mereka mencoba menggambarkan kehampaan Bumi jika dunia kosong melompong tak lagi ada satwa-satwa liar yang menghiasi habitat di dalamnya.

Kendati nampaknya pada kenyataannya satwa-satwa di Afrika tidak akan musnah dengan segera, namun video ini memberi gambaran yang sangat gamblang bagaimana rupa padang savana dan rimba Afrika jika tidak memiliki penghuni, alias kosong melompong akibat perburuan liar, perdagangan daging satwa yang sembarangan, musnahnya habitat, proyek pembangunan yang tidak terencana dengan baik, dan meledaknya populasi manusia.

Sebuah studi di tahun 2010 menemukan bahwa populasi mamalia besar di Afrika menyusut hingga 59% dalam kurun waktu 40 tahun. Tahun lalu sekitar 22.000 hingga 35.000 gajah Afrika dibunuh oleh pemburu, sementara angka perburuan badak Afrika mencapai titik tertinggi.

Bagaimana dengan Simba? Populasi singa Afrika sendiri turun sekitar 70% sejak tahun 1960. Namun bukan berarti harapan sudah tertutup bagi kehidupan liar di Afrika, masih ada sejumlah wilayah dan taman nasional dimana sejumlah spesies utama tetap hidup dengan aman. Namun banyak yang harus dilakukan untuk menekan hilangnya keragaman hayati, melakukan stabilisasi populasi, dan meliarkan kembali wilayah ini. Tidak hanya Afrka, namun juga setiap benua, jika kita masih ingin melihat kehidupan liar di Bumi ini.

Indonesia, Terbanyak Keempat Dunia Miliki Spesies Terancam Punah

Salah satu gajah yang mati akibat konflik dengan manusia demi perluasan perkebunan kelapa sawit di Sumatera. Foto: Screeshot video The Ecologist

Salah satu gajah yang mati akibat konflik dengan manusia demi perluasan perkebunan kelapa sawit di Sumatera. Foto: Screeshot video The Ecologist

Indonesia ternyata ada di peringkat keempat sebagai negara yang memiliki jumlah terbanyak spesies terancam punah. Tak kurang dari 1.206 spesies yang ada di tanah air, masuk dalam daftar terbaru yang dirilis oleh International Union for Conservation of Nature atau IUCN yang dirilis pekan sebelumnya.

Daftar baru ini meniai ulang resiko kepunahan sekitar 71.576 spesies di seluruh dunia. Jumlah ini merupakan jumlah total data keragaman hayati terancam punah yang dimiliki oleh IUCN, namun belum termasuk jumlah spesies yang ditemukan di berbagai belahan dunia baru-baru ini. Dari jumlah tersebut, 21.286 atau sekitar sepertiganya terancam punah.

Si Cantik dibawa menuju Kebun Binatang Taman Rimba, Jambi untuk perawatan lebih lanjut. Foto: Dian Risdianto/Taman Nasional Kerinci Seblat

Salah satu harimau Sumatera yang terjerat di Jambi. Foto: Dian Risdianto/Taman Nasional Kerinci Seblat

Tabel: Penurunan Jumlah Harimau Sumatera

Tabel: Penurunan Jumlah Harimau Sumatera

Negara dengan jenis spesies terancam yang paling banyak di dunia adalah Ekuador dengan 2.301 spesies, lalu disusul oleh Amerika Serikat dan Malaysia dengan 1.226 spesies, posisi keempat adalah Indonesia dengan 1.206 spesies dan di tempat kelima adalah Mexico dengan 1.074 spesies terancam.

Bagaimana negeri-negeri ini bisa muncul dalam lima besar lokasi yang memiliki satwa terancam punah terbanyak di dunia? Untuk kasus Ekuador, mereka memiliki jumlah spesies terancam paling banyak bukan karena spesies-spesies di sana lebih terancam dibandingkan dengan di tempat lain, namun karena negeri di Amerika Latin ini telah membuat upaya yang luar biasa dalam satu setengah dekade terakhir untuk mengevaluasi keragaman hayati mereka, dan memperlihatkan bahwa banyak spesies yang baru terdata. Misalnya jumlah vegetasi di Ekuador, berdasarkan penilaian pakar-pakar di negeri ini, tak kurang dari 1.843 spesies vegetasi asli Ekuador diketahui dalam resiko kepunahan.

Foto: Alejo Sabugo

Foto: Alejo Sabugo

Sementara empat negara lain yang masuk dalam catatan lima besar negeri terbanyak memiliki spesies terancam memiliki data yang lebih terbuka. Seperti Amerika Serikat memiliki spesies ikan terancam paling banyak dengan 236 jenis, dan moluska 301 jenis, juga untuk satwa yang tercatat sudah mengalami kepunahan mencapai 257 jenis. Sementara Indonesia memiliki jumlah mamalia terbanyak di dunia yang terancam punah dengan 185 jenis, Brasil memiliki jumlah spesies burung terbanyak yang terancam punah dengan 151 jenis, dan Madagaskar memiliki jumlah reptil terbanyak yang terancam punah dengan 136 jenis.

Menurut data terbaru IUCN ini nyaris 200 spesies burung kini berada dalam kategori Kritis (Critically Endangered). Spesies terakhir yang masuk dalam kategori ini adalah burung White-winged Flufftail (Sarothrura ayresi), yaitu sejenis burung kecil yang ada di Ethiopia, Zimbabwe dan Afrika Selatan. Kerusakan habitat, termasuk pengeringan lahan basah, konversi lahan untuk pertanian, kerusakan sumber air menjadi penyebab hilangnya spesies ini.

Menurut Craig Hilton-Taylor Kepala Unit Daftar Merah IUCN, kita tidak bisa melihat jumlah total spesies tiap negara yang terancam dibandingkan negara lainnya, karena hal itu tidak seluruhnya memperlihatkan ukuran luasnya negara, level keragaman hayati dan faktor-faktor lainnya.

Badak Jawa yang semakin mendekati kepunahan di Taman Nasional Ujung Kulon. Foto: Rhett Butler

Badak Jawa yang semakin mendekati kepunahan di Taman Nasional Ujung Kulon. Foto: Rhett Butler

Sementara itu, faktor lain seperti upaya penghitungan kembali jumlah keragaman hayati satwa dan vegetasi di tiap negara membuat jumlahnya berbeda. Seperti yang dilakukan oleh Brasil dan Afrika Selatan yang saat ini sibuk menghitung jumlah vegetasi terancam di negeri mereka. Secara tiba-tiba kedua negara ini muncul sebagai negara dengan jumlah vegetasi terancam paling banyak, karena semakin banyak ditemukannya data di lapangan terkait vegetasi khas mereka. Brasil memiliki tak kurang dari 30.000 jenis vegetasi dan Afrika Selatan memiliki tak kurang dari 20.000 jenis, dan hal ini akan mempengaruhi penghitungan jumlah vegetasi terancam tahun berikutnya.

Indonesia sendiri adalah negara dengan kekayaan hayati yang luar biasa. Indonesia adalah sekaligus rumah dari empat mamalia besar utama di Asia yang semuanya kini terancam punah, yaitu harimau Sumatera, badak Sumatera, badak Jawa, gajah Sumatera, orangutan Sumatera dan Kalimantan. Semuanya kini terancam punah akibat berbagai faktor, salah satu yang utama tentu saja hilangnya habitat mereka akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit dan Hutan Tanaman Industri, serta perluasan lahan tinggal bagi populasi manusia yang terus membengkak.

Klik untuk memperbesar! Untuk melihat Delapan Kawasan Perlindungan Penting di Indonesia beserta deskripsinya

Klik untuk memperbesar! Untuk melihat Delapan Kawasan Perlindungan Penting di Indonesia beserta deskripsinya

Spesies Utama Semakin Terancam, Asia Tenggara Rapatkan Barisan Tekan Laju Kepunahan

Orangutan Sumatera (ilustrasi). Foto: Rhett A. Butler

Orangutan Sumatera (ilustrasi). Foto: Rhett A. Butler

Sejumlah organisasi yang bergerak dalam upaya konservasi satwa kini bersatu padu untuk menekan laju kepunahan di kawasan Asia Tenggara, dimana angka hilangnya habitat, perdagangan ilegal dan perburuan telah memberikan kontribusi luar biasa terhadap hilangnya sejumlah satwa unik di kawasan ini. Koalisi ini bernama ASAP, atau Asian Species Action Partnership.

“ASAP dimulai sebagai sebuah respon terhadap hasil kajian Daftar Merah IUCN tahun 2008 silam tentang satwa-satwa yang terancam punah,” ungkap salah sayu anggota Species Survival Commission dari IUCN kepada mongabay.com.

Kajian ini menekankan pada fokus utama terhadap spesies-spesies yang terancam di Asia Tenggara dan sejumlah spesies lainnya. Program yang dilakukan akan dikoordinasikan dengan lembaga SSC IUCN atas nama organisasi-organisasi yang ada di dalamnya. ASAP sendiri tidak akan mengimplementasikan aktivitas konservasi secara langsung, namun mereka akan bekerja untuk mendukung lembaga-lembaga konservasi dengan sejumlah program terhadap sejumlah satwa di air tawar dan mamalia darat di Asia Tenggara yang kini sudah masuk dalam kategori terancam dalam Daftar Merah IUCN.

Badak Sumatera, salah satu spesies paling terancam di dunia yang ada di Indonesia. Foto: Save the Rhino International

Badak Sumatera, salah satu spesies paling terancam di dunia yang ada di Indonesia. Foto: Save the Rhino International

“Kami berharap ASAP bisa membantu memobilisasi dukungan yang saat ini dibutuhkan segera dengan memberikan bantuan keahlian kami terhadap para pelaku konservasi,” ungkap Robert lebih jauh.

Kendati masih seumur jagung, ASAP langsung bergerak cepat. Lembaga ini sudah membentuk struktur untuk membantu menetapkan target, menyediakan keahlian mereka dan mendorong kerjasama antar-lembaga. Program ini termasuk diantaranya mengidentifikasi spesies dalam Daftar Merah IUCN yang sesuai dengan kriteria ASAP.

Dalam daftar ini terdapat 154 spesies bertulang belakang yang masuk dalam kategori ‘Kritis’ yang ada di daratan maupun air tawar di Asia Tenggara. ASAP akan menggunakan daftar ini untuk menyesuaikan antara aksi yang diperlukan dengan kebutuhan konservasi, termasuk pendanaan dan informasi yang lebih spesifik, terutama untuk bisa mempengaruhi pengambil kebijakan dan keputusan politik di level pemerintah dan negara.

Saat ini banyak spesies yang ada di dalam daftar ini tidak masuk dalam agenda konservasi, kendati mereka memiliki resiko tinggi kepunahan. Sementara, ada juga sejumlah spesies yang menjadi target utama konservasi saat ini, seperti badak Sumatera (Dicerorhinos sumatranensis), tamaraw (Bubalus mindorensis), Buaya Siam (Crocodylus siamensis), ikan lele raksasa sungai Mekong (Pangasianodon gigas, serta sejumlah burung.

Tamaraw di Pulau Mindoro, Filipina. Salah satu mamalia besar yang terancam di Asia Tenggara. Foto: Greg Yan

Tamaraw di Pulau Mindoro, Filipina. Salah satu mamalia besar yang terancam di Asia Tenggara. Foto: Greg Yan

Kendati ASAP menargetkan untuk menekan laju kepunahan bagi 154 spesies yang ada di dalam daftar ini, namun program ini harus memprioritaskan untuk mencegah agar sumber daya tersebar terlalu luas, yang akan menyebabkan dampak yang terlalu kecil atau bahkan tak membawa dampak positif terhadap spesies-spesies yang akan dilindungi tersebut.

Ancaman tingkat tinggi terhadap berbagai jenis spesies di Asia Tenggara menjadi perhatian khusus karena wilayah ini merupakan kawasan yang penting bagi satwa dan merupakan kawasan yang memiliki jumlah spesies yang sangat melimpah. Banyak diantaranya merupakan spesies penting untuk menjamin berlangsungnya ekosistem, dan hilangnya sejumlah spesies akan menghilangkan keseimbangan ini.

Satu penjelasan yang signifikan untuk tingkat ancaman tinggi di kawasan ini adalah bahwa 47,9 persen penduduk dunia tinggal di Asia Tenggara atau negara-negara yang berdekatan Cina, Bangladesh dan India, namun wilayah ini membentuk hanya 11,8 persen dari luas daratan Bumi. Asia Tenggara sendiri mendukung hampir 9 persen orang dengan hanya 3 persen dari daratan Bumi, menurut sebuah laporan terbaru yang ditulis oleh Duckworth dan organisasi mitra mereka.

Selain itu, yang juga berkontribusi terhadap hilangnya spesies adalah konversi, fragmentasi dan degradasi hutan, terutama di dataran rendah. Hutan telah dikonversi menjadi lahan pertanian perkebunan, terutama kelapa sawit (Elaeis guineensis), karet (Hevea brasiliensis), dan perkebunan HTI untuk pulp and paper.

Selain itu, ancaman lainnya adalah negara-negara Asia Tenggara dan sekitarnya menjadi salah satu pusat perdagangan ilegal dan perburuan spesies untuk diperdagangkan.

Salah satu harimau yang sudah dikeringkan di Nepal. Foto: IEA

Salah satu harimau yang sudah dikeringkan di Nepal. Foto: IEA

“Diantara spesies yang ada di darat yang laris, permintaan terhadap spesies dengan badan besar dan tidak berbulu -seperti mamalia dan reptil sukuran tupai- sangat tinggi untuk dikonsumsi, karena dipercaya memberikan dampak kekuatan bagi tubuh,” ungkap Duckworth. “Mereka bukan obat, namun juga bukan makanan yang dibutuhkan oleh tubuh untuk memenuhi kebutuhan nutrisi manusia.”

Perdagangan satwa juga berlaku bagi satwa yang ditangkap hidup-hidup dan bagian tubuh mereka untuk menjadi pajangan. Cula badak dan gading gajah, seperti juga sisik trenggiling menjadi pajangan yang menunjukkan simbol status di beberapa kalangan masyarakat. Dengan perkembangan pasar urban ini, permintaan tinggi terhadap sejumlah spesies ini telah bergeser dari pasar lokal menjadi perdagangan jarak jauh di rentang yang lebih luas.

Jika kecenderungan ini terus berlanjut, banyak spesies Asia Tenggara akan punah dalam beberapa generasi manusia berikutnya, menurut laporan tersebut.

 

CITATIONS Duckworth et al. Why South-East Asia should be the World’s Priority for Averting Imminent Species Extinctions, and a Call to Join a Developing Cross-Institutional Programme to Tackle this Urgent Issue. (10 August 2012.). SAPIENS Vol 5 Issue 2 pp. 77-95. Report of ‘Asian Species Action Partnership’ Meetings: Bangkok, Thailand, 9 March 2013; Aceh, Indonesia, 21 March; Hanoi, Vietnam, 22 March 2013; Singapore, 4 April 2013.(2013). IUCN SSC.

Semua Mamalia Besar di Sumatera Kini Diambang Kepunahan

Salah satu harimau Sumatera yang terjerat di perkebunan. Foto: WWF-Indonesia

Tubuh seorang pria bernama Karman Lubis ditemukan tewas di sebuah perkebunan karet. Kepalanya yang hilang, ditemukan beberapa hari kemudian beberapa kilometer dari jasadnya. Penduduk bahkan belum menemukan tangan kanannya. Pria ini tewas diterkam harimau Sumatera yang menghuni Taman Nasional Batang Gadis, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, dan dia adalah salah satu dari lima korban tewas yang ditemukan di sekitar taman nasional tersebut dalam lima tahun terakhir.

Dalam artikel yang dimuat di harian The Guardian di Inggris dan ditulis oleh John Vidal ini disebutkan bahwa perebutan wilayah antara manusia dan satwa liar kini semakin meningkat ke level berbahaya di Sumatera, seiring dengan meningkatnya deforestasi, ekspansi pertambangan dan perkebunan kelapa sawit yang telah menyebabkan terfragmentasinya habitat serta mendorong satwa-satwa liar ini untuk keluar dari wilayah mereka. Jumlah pasti harimau Sumatera sendiri tidak diketahui, namun diperkirakan di alam liar spesies ini masih tersisa antara 300 hingga 500 individu dan tersebar di 27 lokasi.

Orangutan, seringkali menjadi target kekerasan akibat dianggap sebagai hama perkebunan. Foto: OIC

Batang Gadis adalah salah satu habitat terakhir harimau Sumatera, dimana diperkirakan sekitar 23 hingga 76 individu menghuni hutan tropis yang masih rapat di tempat ini. Jumlah ini adalah nyaris sekitar 20% dari seluruh harimau Sumatera yang tersisa. Kondisi harimau Sumatera sendiri juga semakin rentan, mengingat harganya di pasaran mencai 50.000 dollar.

Para aktivis lingkungan sangat khawatir, jika tiak ada tindakan nyata yang dilakukan , harimau Sumatera akan menyusul dua saudaranya, yaitu harimau Bali yang dinyatakan punah tahun 1937 dan harimau Jawa yang ditemukan terakhir di era 1970-an.

Gajah Sumatera mati diracun di perkebunan di tepian taman nasional Tesso Nilo, Riau. Foto: WWF-Indonesia

Banyak sekali harimau Sumatera terbunuh akibat ketidaksengajaan. Pada bulan Juli 2011 silam, salah satu harimau Sumatera ditemukan terjerat di perbatasan perkebunan pulp and paper milik perusahaan Asia Pulp and Paper, dimana hutan alami sudah ditebang habis. Sementara harimau lain ditemukan terbunuh di pagar listrk yang dipasang oleh para petani untuk menghindari pencurian.

Tak ada satupun spesies yang cukup aman masa depannya di Sumatera saat ini. Sebuah perusahaan pertambangan emas milik Australia bahkan kini beroperasi di lahan seluas 200.000 hektar yang bertumpang tindih dengan Taman Nasional Batang Gadis, sementara perambahan juga terus merangsek ke dalam wilayah taman nasional ini di sisi yang lain.

Beberapa spesies lain di Indoneia, bahkan bernasib lebih buruk dari harimau Sumatera. Kebakaran hutan yang meluas, yang kebanyakan disulut akibat pembersihan lahan untuk perkebunan kelapa sawit telah membawa bencana bagi orangutan Sumatera. Ribuan orangutan diperkirakan mati terbakar akibat terjebak api di Sumatera dan Kalimantan.

Wilayah satwa liar di hutan hujan tropis, kini semakin dibatasi, ungkap lembaga WWF di Jakarta. Dari sembilan wilayah yang tersisa di Sumatera, hanya tujuh yang dinilai layak. “Nasib orangutan Sumatera sangat terkait erat dengan laju hilangnya hutan. Jika kita ingin menyelamatkan orangutan Sumatera kita harus menyelamatkan hutan yang menjadi rumah mereka,” ungkap Barney Long, pakar spesies WWF Asia.

Badak Sumatera, terancam punah akibat perburuan dan hilangnya lahan. Foto: Save the Rhino International

Spesies lainnya, yaitu badak Sumatera juga bakal punah dalam beberapa tahun akibat perburuan dan kerusakan habitat. Sebuah laporan dari IUCN (International Union for Conservation of Nature) bulan lalu memperkirakan jumlah badak Sumatera kini sudah kurang dari 100 individu yang ada di alam liar.

Para ahli sendiri mengkhawatirkan, spesies ini akan punah dalam waktu 20 tahun, dan kini mereka akan melakukan upaya pemindahan individu antara Indonesia dan Malaysia. Bulan Juni tahun 2012 silam, seekr bayi badak Sumatera lahir di penangkaran di Way Kambas, Lampung, dan ini adalah anak badak keempat yang berhasil lahir di penangkaran dalam satu abad. Pusat penangkaran serupa, dengan sebagian besar wilayah berhutan, juga dibuat di Malaysia. Kedua penangkaran ini yang kini memiliki delapan individu badak, dipandang sebagai sebuah kebijakan yang memberikan harapan bagi masa depan badak Sumatera.

 

Perburuan Demi Ekspor dan Kuliner Ancam Populasi Kodok Indonesia

Hidangan dari kaki kodok yang menjadi kesukaan warga di Eropa. Foto: Kevin Ponniah/www.news.com.au

Kasus perburuan satwa untuk memenuhi sumber protein bagi manusia, terutama satwa liar semakin mengancam populasi berbagai jenis satwa yang berfungsi menjaga keseimbangan ekosistem.  Tak hanya satwa besar, namun berbagai jenis reptil kecil yang ada di sekitar kita. Salah satunya adalah kodok.

Berbagai jenis kodok di alam liar Indonesia, kini menjadi salah satu sumber protein yang digemari oleh penikmat kuliner di berbagai belahan penjuru dunia. Seperti yang dilansir dalam sebuah laporan yang dilakukan oleh www.news.com.au, sebuah media online dari Australia. Media ini melakukan investigasi terhadap para pencari kodok di kawasan Bogor, Jawa Barat.

Pasangan suami istri Sri Mulyani  dan suaminya Suwanto adalah salah satu pemburu kodok liar untuk dijual di pasar memenuhi tingginya permintaan pasar terhadap daging reptil kecil ini. Dalm sehari pasangan ini bisa meraih sekitar 500.000 rupiah dengan menjual daging kodok ke beberapa restoran di Bogor dan kepada para perantara yang melakukan ekspor daging kodok ini.

Indonesia, adalah negara pengekspor daging kodok terbesar di dunia. Sebagian besar, atau sekitar 80% ekspor daging kodok Indonesia dikirim ke beberapa negara Eropa, seperti Perancis, Belgia dan Luxemburg. Dan sebagian besar kodok ini, ditangkap di alam liar oleh para pemburu seperti Suwanto.

Namun, sejumlah pakar lingkungan mulai mengkhawatirkan kebiasaan makan daging kodok orang-orang di Eropa ini karena dinilai mulai membahayakan keseimbangan ekosistem. Kodok dikenal sebagai pemakan serangga, salah satunya adalah nyamuk, yang menekan ledakan penyakit yang disebabkan oleh nyamuk. Sementara berudu kodok, memiliki kemampuan untuk menstabilkan kondisi lingkungan perairan.

Persiapan daging kodok untuk diekspor. Foto: Kevin Ponniah/www.news.com.au

Permintaan terbesar untuk daging kodok setiap tahunnya datang dari negara Perancis. Diperkirakan sekitar 80 juta daging kodok dikirim ke negeri Napoleon Bonaparte ini setiap tahun. Sementara untuk menangkarkan kodok demi memenuhi kebutuhan orang Perancis, negeri ini sudah melarang peternakan kodok dan perburuan daging kodok sejak tahun 1980. Lalu mereka berupaya mendapatkan daging kodok dari India dan Bangladesh, sampai akhirnya kedua negara di Asia Barat Daya ini juga melarang ekspor daging kodok pertengahan 1980an, setelah populasi kodok di kedua negeri ini menyusut drastis. Lalu, permintaan pun dialihkan ke Indonesia hingga saat ini, dimana perdagangan dan perburuan daging kodok belum dilarang.

“Kami khawatir setelah bertahun-tahun diburu populasi kodok akan berkurang, setidaknya beberapa jenis kodok berbadan besar akan berkurang,” ungkap Sandra Altherr dari organisasi Jerman bernama Pro Wildlife, yang telah menulis sebuah laporan tentang perdagangan daging kodok tahun lalu. “Sejarah sudah memberi banyak pelajaran kepada manusia, dan kita harus belajar dari sana.”

Namun bagi orang-orang seperti Suwanto, berburu kodok tak hanya soal penghasilan, namun juga seperti bagian dari hidupnya. “Saya sudah berburu kodok sejak tahun 1992, dan ayah saya juga  sebelumnya adalah pemburu kodok,” ungkap Suwanto.

Para pemburu kodok biasanya mulai melakukan aktivitas mereka pada malam hari, mulai pukul delapan. Dengan bertelanjang kaki, menggunakan penerangan seadanya, mereka menembus persawahan untuk menangkap kodok-kodok yang mulai aktif dengan menggunakan jaring bergagang bambu.

Seiring dengan keahlian para pemburu kodok yang meningkat sesuai jam terbang mereka, seorang pemburu yang sudah ahli biasanya bisa mendapat antara 50 hingga 70 kg kodok setiap malam. Sebagian besar ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik, yang diperkirakan antara dua hingga tujuh kali jumlahnya dibandingkan jumlah kodok yang diekspor. Umumnya restoran yang menyajikan hidangan ala Cina atau chinese food menyediakan menu berbahan dasar kodok ini.

Para ahli lingkungan seperti Altherr berharap, isu kodok in bisa menjadi sebuah isu yang mengemuka dalam pembahasan Konferensi CITES (Convention on International Trade in Endangered Species) yang berlangsung di Bangkok, dan melindungi beberapa spesies kodok yang jumlahnya semakin menyusut akibat perburuan manusia.

Hari Cinta Puspa & Satwa Indonesia 2012: Sekedar Cinta, Tapi Tidak Melindungi

Orangutan Sumatera, meski statusnya kini sudah kritis, namun pemusnahan habitatnya terus berjalan demi memenuhi target devisa negara. Foto: Rhett A. Butler

Hari ini  tanggal 5 November kita memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional. Satu hari, yang didedikasikan secara khusus untuk meningkatkan kepedulian, perlindungan dan rasa cinta kepada satwa khas Indonesia. Hari khusus yang pertamakali diperingati tahun 1993 ini, biasanya diperingati dengan berbagai simbol cinta satwa di berbagai daerah.

Seperti misalnya tahun lalu, di kota Bekasi 30 ekor burung dilepas ke udara sebagai simbol sebuah kebebasan dan cinta terhadap satwa. Tahun ini, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia membentuk sebuah tim tanggap darurat untuk kasus-kasus satwa (yang bahkan sudah sering terjadi entah sejak kapan), lalu berbagai acara simbolis seperti berbagai lomba mewarnai untuk anak-anak juga digelar. Semuanya seru, semuanya ramai, dan semua bertema satwa.

Pertanyaannya, apakah hal ini yang seharusnya dilakukan untuk mengingat kembali perlindungan dan kepedulian publik terhadap satwa khas Indonesia yang laju kepunahannya semakin cepat? Mungkin ada bagusnya kita tilik kembali berbagai fakta yang terjadi di bawah ini. Fakta-fakta yang benar-benar segelintir dan hanya melingkupi satu dimensi: perlindungan satwa. Halaman ini terlalu terbatas jika harus membeberkan ribuan kasus yang menimpa satwa Indonesia dan habitatnya setiap tahun dari berbagai dimensi di tanah air kita ini.

Clown Fosh atau Ikan Badut, yang ikut terancam akibat menurunnya kualitas terumbu karang di nusantara. Foto: The Nature Conservancy

Habitat Terumbu Karang yang Semakin Mengenaskan

Dari kondisi habitat terumbu karang dan ikan di perairan Indonesia, berdasar data tahun 2011 yang dihimpun dari 1.076 stasiun pengamatan oleh Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menunjukkan, hanya 5,58 persen terumbu karang dalam kondisi sangat baik dan 26,95 persen baik. Sisanya sebanyak 36,90 persen berkondisi cukup dan 30,76 persen kurang baik.

Kepala Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Zainal Arifin, mengatakan, kerusakan terumbu karang ini akibat dari ulah para nelayan yang masih menggunakan teknik-teknik penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan, seperti bubu, lampara dasar, kelong, gillnet, racun, dan bom.

“Hal tersebut yang menyebabkan kerusakan terumbu karang terus meningkat dari tahun ke tahun. Ini memprihatinkan, karena cara tersebut merusak terumbu karang dan hanya 5,48 persen terumbu karang di Indonesia dalam kondisi sangat baik,” kata Zainal Arifin, ketika ditemui VivaNews, pada acara workshop Coral Reef Information and Training Center (CRITC) di  Jakarta, 1 November 2012.

Orangutan yang diterjang 104 peluru senapan angin di Kalimantan Tengah akibat memasuki kebun sawit. Foto: Orangutan Foundation

Orangutan Masih Ditembaki, Gajah Masih Diracun

Hal lain yang juga baru terjadi adalah penyiksaan satwa dilindungi karena dianggap sebagai hama perkebunan sawit setelah tanggal 10 Oktober silam, seekor orangutan ditemukan dalam keadaan sekarat penuh bekas luka tembak di tubuhnya di perkebunan kelapa sawit, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.

Tak kurang dari 104 peluru senapan angin bersarang di tubuh Aan. Beberapa diantaranya bahkan bersarang di organ-organ utama, seperti jantung dan paru-paru. Aan ditemukan oleh tim penyelamat SKW II-BKSDA Kalimantan Tengah dan tim Orangutan Foundation.

Laporan dari tempo.co ini juga menyebutkan, beberapa peluru bahkan bersarang di mata dan telinga Aan, sehingga membuatnya kehilangan kemampuan untuk melihat dan mendengar. Menurut dokter yang merawat Aan dari Orangutan Foundation, drh. Zulfiqri, mata kiri Aan sudah buta saat dibawa keluar dari perkebunan sawit.

Gajah Sumater mati diracun warga karena memasuki perkebunan sawit. Foto: WWF Riau

Hal yang sama terjadi dengan gajah Sumatera. Berbagai kasus kematian gajah Sumatera akibat diracun warga karena memasuki kebun sawit, masih kerap terjadi hingga kini, di tahun 2012 saja tak kurang antara 10-12 kasus kematian gajah masih terjadi di kebun sawit.

Tak heran, jika IUCN (International Union for Conservation of Nature) menaikkan kelas gajah Sumatera menjadi kritis atau ‘critically endangered’, setelah sebelumnya masuk di kategori ‘endangered’ atau terancam. Begitu pula dengan orangutan Sumatera, yang masuk kategori kritis, sementara saudaranya di Kalimantan masih masuk dalam kategori terancam.

Berbagai jenis reptil Indonesia yang masih diperdagangkan secara ilegal di pasar. Foto: Jessica Lyons

Perdagangan Satwa Eksotis Indonesia Masih Marak

Dalam sebuah studi yang dilansir baru-baru ini jurnal Biodiversity and Conservation, antara bulan September 2010 dan April 2011, Daniel Natusch dan Jessica Lyons dari Universitas New South Wales Australia telah melakukan survey terhadap para pedagang reptil dan amfibi di propinsi Maluku, Papua Barat dan Papua.

Para penulis menemukan beberapa jenis spesies yang hingga kini masih banyak diperdagangkan, diantaranya: ular piton hijau (Morelia viridis), ular piton boelen (Morelia boeleni), kadal leher berumbai (Clamydosaurus kingii), Kura-kura Papua/snapping turtle (Elseya brndenhorsti), kadal lidah biru (Tiliqua Scincoides), katak pohon hijau (Litoria caerulea), dan beberapa spesies dari biawak (Varanus sp.)

Menurut hasil kajian ini, sekitar 5.370 individu dari 52 spesies berhasil ditemukan untuk diperdagangkan. Setidaknya sekitar 44% adalah dilindungi atau tidak untuk ditangkarkan, hal ini menjadikan perdagangan jenis-jenis spesies ini ilegal. Sekitar setengah dari jumlah spesies yang ditemukan ini tercatat dalam CITES atau Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna.

Hiu, masih jadi primadona….di meja makan. Foto: NOAA.Gov

Peruburuan Hiu demi Nafsu Kuliner

Di negara kita, perburuan hiu sudah dimulai sejak era 1970-an, dan Indonesia adalah penyuplai sekitar 14% dari kebutuhan sirip hiu dunia antara tahun 1998 hingga 2002. Terkait dengan meningkatnya pasar bagi sirip hiu untuk dikonsumsi, maka tingkat perburuan ikan hiu di Indonesia juga terus meningkat. Perburuan ikan hiu di Indonesia meningkat dari hanya sekitar 1000 Metrik ton di tahun 1950, menjadi 117.600 metrik ton di tahun 2003 dengan nilai ekspor mencapai 6000 Dollar AS di tahun 1975 dan membengkak hingga lebih dari10 juta dollar di tahun 1991. Sebagian besar sirip hiu ini dikonsumsi oleh para penikmat kuliner kelas hotel bintang lima dan sebagian restoran yang menyediakan masakan Cina kelas atas.

Terlihat jelas, bahwa pasar yang terus berkembang menjadi faktor utama meningkatnya perburuan sirip hiu. Namun akibatnya jelas, ikan hiu hanya dinikmati siripnya saja, dan selebihnya dibuang. Akibat praktek ini sisa pembuangan daging ikan hiu terus terjadi di seluruh dunia, setiap tahun sekitar 200.000 metrik ton bangkai hiu dibuang. Pengambilan sirip ikan hiu, sudah dilarang oleh Undang-Undanga di berbagai negara, namun hal ini masih legal di Indonesia. Apalagi, sekitar 90% kapal nelayan di Indonesia berukuran kecil dan tidak memiliki sarana pendingin yang memadai, membuang secepatnya daging hiu yang tidak dibutuhkan dan hanya menyimpan siripnya, menjadi sesuatu yang jauh lebih efisien.

Puncak ekspor sirip hiu dari Indonesia adalah tahun 1990-an dan kemudian disusul dengan penurunan yang tajam seiring dengan terus berkurangnya populasi ikan hiu. Akibatnya, perburuan yang tadinya bisa dilakukan di berbagai lokasi di Indonesia, kini terus bergeser ke arah timur, menuju ke wilayah Papua dan sekitarnya. Salah satunya adalah perairan Raja Ampat yang memiliki kekayaan hayati yang sangat tinggi di dunia dan menjadi bagian dari Segitiga Terumbu Karang Dunia. Dengan siklus kelahiran sekali dalam setiap dua hingga tiga tahun, tekanan perburuan ini semakin membuat populasi hiu tertekan di kawasan Timur Indonesia.

Penegakan Hukum Hemah, Habitat Semakin Tergerus

Semua contoh kasus di atas, nampaknya bisa dihindari jika pemerintah Indonesia, lewat berbagai otoritasnya di lapangan berani mengambil sikap yang tegas terhadap para pelaku pelanggaran hukum. Lemahnya penegakan hukum ini, berdampak secara langsung pada laju turunnya  luasan habitat dan populasi satwa di Indonesia.

Seperti yang sudah terjadi di Kalimantan Timur, para pelaku penyiksaan terhadap orangutan hanya dijatuhi hukuman ringan. Vonis Pengadilan Negeri Sangatta, Kutai Timur, Kalimantan Timur menjatuhkan hukuman 8 bagi dua terdakwa, yaitu Tajar dan Tulil adalah karyawan PT Cipta Prima Selaras, sementara dua terdakwa lain Leswin, dan Tadeus, karyawan PT Sabhantara Rawi Sentosa hanya dijatuhi 10 bulan penjara. Kasus serupa di Kutai Barat pun berakhir sama.

Ekspansi perkebunan dan industri kehutanan yang tidak disertai analisis mengenai dampak lingkungan yang sering diterabas, pengambilalihan lahan dan hutan tanpa prosedur hukum yang sah, serta kekuatan modal untuk mengubah keputusan hukum penguasa setempat, masih menjadi momok menakutkan bagi puspa dan satwa di Indonesia.

Cinta itu memberi BUKTI, bukan JANJI…..

Burung Pipit Pegunungan Ditemukan Lagi Setelah ‘Hilang’ Selama 83 Tahun

Inilah foto pertama sejenis burung pipit pegunungan yang spesimennya disimpan oleh Sillem 83 tahun silam. Foto: Yann Muzika

Setelah dianggap punah selama 83 tahun sejak 1929, akhirnya fotografer Yann Muzika membuktikan bahwa sebuah spesies burung pipit dataran tinggi di Xinjiang, Cina belum musnah. Sejak tahun 1929 seorang peneliti bernama Jerome Alexander Sillem hanya memiliki spesimen burung ini yang kemudian diserahkannya ke Zoological Museum of Amsterdam 62 tahun lalu, sampai akhirnya C.S Roselaar berhasil menemukan burung ini kembali yang kemudian diberi nama burung pegunungan pegunungan atau Silem’s mountain finch (Leucosticte sillemi).

Selama perjalanan ke Lembah Yeniugou di dataran tinggi Tibet, Muzika mengambil beberapa foto dari burung pipit yang tidak dikenal, yang hidup diantara burung-burung lainnya. Kemudian ia menyerahkan foto ini ke Oriental Bird Club (OBC), sebuah lembaga amal yang fokus dalam konservasi burung dan pusat data burung yang memiliki lebih dari 60.000 foto di perpustakaan online mereka. Editor foto di OBC Krys Kazmierczak, hanya perlu sekali melihat ke foto Muzika untuk mengetahui bahwa ini adalah burung yang sangat istimewa.

Sillem’s mountain finch atau burung pipit pegunungan Sillem. Foto: Yann Muzika

“Kata-kata Sillem’s Mountain Finch langsung terngiang di kepala saya, dan saya terduduk lama melihat foto ini dengan penuh keterkejutan,” ungkap Krys.

Kazmierczak kemudian membawa foto ini ke beberapa pakar ornitologi untuk memastikan bahwa ini adalah foto burung yang memang sangat langka.

Sejumlah penelitian lebih lanjut kemudian dilakukan untuk memberikan kepastian oleh para ahli, termasuk menguji sampel DNA yang dimiliki museum. Sang fotografer, Muzika, berencana akan kembali ke lokasi ini tahun 2013 mendatang.

Burung pipit Sillem adalah burung dataran tinggi, yang bisa hidup di atas ketinggian 5000 meter di atas permukaan laut. OBC sendiri meminta agar para pecinta burung untuk datang ke lokasi pemotretan spesies ini untuk melihat lebih jauh populasi burung pipit langka ini.

Lebih 400 Nama Menambah Panjang Daftar Spesies Terancam & Punah di Dunia

Kura-kura berleher ular, yang hanya bisa ditemui di Pulau Rote, salah satu spesies terlangka di dunia. Foto: Bonggi Ibarrando/TRAFFIC Southeast Asia

International Union for Conservation of Nature (IUCN) kembali memperbarui data spesies-spesies yang masuk dalam Daftar Merah mereka. Saat ini IUCN menyatakan ada sekitar 20.219 spesies yang berada dalam resiko musnah dari muka bumi,

Dalam data terbaru Daftar Merah mereka, IUCN menambahkan 402 jenis spesies ke dalam berbagai kategori, mulai dari terancam hingga punah. Spesies-spesies seperti kadal Mesir dan ikan air tawar Sichuan Taimen di Cina masuk dalam kategori terancam. Sementara, dua spesies tanpa tulang belakang, yaitu seekor kecoa dari Seychelles yang terakhir terlihat tahun 1905 dan siput air tawar bernama Little Fat Top dari negara bagian Alabama, Amerika Serikat kini masuk ke kategori punah.

“Spesies-spesies tersebut tidak akan ditemui di tempat lain,” ungkap Direktur Konservasi Keragaman Hayati IUCN, Jane Smart disela-sela Konvensi Keragaman Biologi PBB di Hyderabad, India bagian selatan 18 Oktober silam.

Dalam laporan ini, sekitar 83% spesies palem di Madagaskar juga berada diambang kepunahan. Termasuk diantaranya yang disebut ‘Suicide Palm‘, atau Palem Bunuh Diri, karena memiliki ketinggian hingga 18 meter dan mereka akan mati setelah berbunga dan menghasilkan bibit baru. Hanya sekitar 30 spesimen yang diketahui masih eksis di dunia saat ini.

Menurut IUCN sekitar seperempat mamalia dunia, yaitu 13 persen burung, 41% amfibi dan 33 persen terumbu karang sangat beresiko punah.

Hal ini menjadi sebuah peringatan keras bagi para menteri dan perwakilan berbagai negara yang berkumpul di Hyderabad dalam pertemuan dunia ini untuk terus menekan laju kemusnahan sumber daya alam, terutama mendorong keinginan politik mereka yang diiringi dengan pendanaan yang sepadan untuk melakukan aksi nyata di lapangan.

Selain berita buruk, sebuah berita baik juga muncul disela pertemuan tingkat tinggi dunia ini. IUCN telah mengeluarkan deapan spesie dari kategori punah di data terbaru mereka. Termasuk spesies pohon dari Tanzania bernama Erythrina Schiebenii, lalu lima spesies moluska, katak kerdil dari Srilanka dan spesies katak dari Costa Rica bernama Holdridge’s Toad.

Terkendala Komitmen Pendanaan

Pertemuan Biologi Dunia PBB ini dilakukan dua tahun setelah banyak negara-negara anggota PBB menyetujui rencana berisi 20 poin dalam konferensi Keragaman Biologi di Nagoya Jepang tahun 2010 silam, yang mengekpresikan kekhawatiran terus menurunnya jumlah tanaman dan spesies satwa di dunia yang menjadi sandaran manusia dalam hal pangan, tempat tinggal dan kehidupan. Implementasi rencana ini kemudian terkendala keterbatasan dana dan pembicaraan di Hyderbad saat ini salah satunya adalah membicarakan terkait komitmen finansial negara-negara di dunia untuk mengatasi hal ini.

Pakar ekonomi lingkungan Pavan Sukhdev mengatakan hari Rabu tanggal 17 Oktober silam kepada Agence France Presse bahwa tim panel sudah menyimpulkan bahwa dana sebesar 150 hingga 440 miliar dollar Amerika diperlukan untuk mencapai tujuan rencana 20 poin yang telah disepakati di Jepang. Upaya konservasi dunia saat ini, menghabisakan kira-kira 10 miliar dollar AS per tahun.

Dengan tenggat waktu tahun 2020, negara-negara di dunia harus berupaya menekan laju kerusakan habitat hingga setengahnya, memperluas area konservasi, mencegah kepunahan spesies yang ada di dalam daftar terancam dan merestorasi setidaknya 15% ekosistem yang terdegradasi.

Laporan IUCN: Pygmy Tarsier Sulawesi, Satu dari 25 Primata Paling Terancam di Dunia

Pygmy tarsier. Foto: Sharon Gursky-Doyen/Texas A&M University

Duapuluh lima spesies primata yang paling terancam di dunia diungkap di sela Konvensi Keragaman Biologi Dunia COP11 di Hyderabad, India, tanggal 15 Oktober 2012. Laporan bertajuk Primates in Peril: The World’s 25 Most Endangered Primates 2012-2014 ini disusun oleh Grup Spesialis Primata dari Species Survival Commission IUCN (International Union Conservation of Nature) dan Persatuan Primatologis Internasional (IPS), bersama dengan Conservation International (CI) dan Bristol Conservation and Science Foundation (BCSF).

Laporan ini disusun setiap dua tahun oleh para ahli primata di seluruh dunia, dan selalu memperbarui data berbagai jenis spesies yang memiliki tingkat keterancaman paling tinggi di dunia, dan jumlah yang tersisa, terkait dengan tingkat kerusakan lingkungan, deforestasi hutan tropis dunia, perdagangan hewan ilegal dan perburuan daging hewan.

Sumber: Laporan IUCN ‘Primates in Peril: The world’s 25 Most Endangered Primates 20112-2014

Pygmy Tarsier (Tarsius Gunung), primata mungil yang ditemukan kembali di Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah tahun 2008 setelah sempat dikira punah sejak tahun 1921, menjadi salah satu spesies primata yang paling terancam dari wilayah Indonesia. Spesies mini dari Sulawesi ini kembali ditemukan oleh seorang ahli primata Amerika Serikat, Sharon Gursky-Doyen dari Texas A&M University sekitar bula Oktober 2008 silam.

Pygmy Tarsier berbeda dari tarsier lainnnya, karena spesies ini hanya berbobot 50 gram dan jari-jemarinya tidak memiliki kuku, tetapi ia memiliki cakar dan hidup di ketinggian sekitar 2.100 hingga 2.400 meter dari permukaan laut.

Sumber: Laporan IUCN ‘Primates in Peril: The world’s 25 Most Endangered Primates 20112-2014

Selain Pygmy Tarsier, dari Indonesia masih ada dua nama primata yang sangat terancam, yaitu Javan Slow Loris atau Kukang Jawa (Nycticebus javanicus) di pulau Jawa dan Pig-Tailed Langur  atau Monyet Simakobu (Nasalis concolor) yang ada di kepulauan Mentawai, di pantai barat pulau Sumatera.

Dalam daftar spesies primata terancam punah ini sembilan spesies berasal dari Asia, enam dari Madagaskar, lima dari Afrika dan lima sisanya dari wilayah neotropik. Jika ditilik dari negara per negara, Madagaskar memiliki 25 spesies paling terancam di dunia, Vietnam memiliki lima, Indonesia tiga, dari Brasil ada dua, sementara dari Cina, Kolombia, Pantai Gading, Republik Demokratik Kongo, Ekuador, Guinea Ekuator, Ghana, Kenya, Peru, Sri Lanka, Tanzania dan Venezuela masing-masing memiliki satu.

Sumber: Laporan IUCN ‘Primates in Peril: The world’s 25 Most Endangered Primates 20112-2014

Selain Pygmy Tarsier dari Indonesia, lemur-lemur Madagaskar juga semakin terancam akibat kerusakan habitat yang parah dan perburuan ilegal, yang meningkat sangat drastis sejak tahun 2009. Lemur yang terlangka, Northern Sportive Lemur (Lepilemur septentrionalis) kini tinggal tersisa 19 individu di alam liar. Dalam sebuah lokakarya tentang lemur yang dilakukan oleh IUCN SSC Primates Specialist Group di bulan Juli tahun ini, mengungkapkan fakta bahwa 91% dari 103 spesies dan sub-spesies kini terancam kepunahan. Ini adalah angka tertinggi yang pernah tercatat yang mengancam sekelompok vertebrata, atau hewan bertulang belakang.

“Sekali lagi, laporan ini menunjukkan bahwa primata dunia ada dalam ancaman akibat aktivitas manusia. Kendati kita belum kehilangan satu spesies pun dalam abad ini, namun beberapa diantara mereka ada dalam kondisi yang sangat berbahaya,” ungkap Dr. Chritoph Schwitzer, Kepala Riset di Bristol Conservation and Science Foundation (BSCF).

Sumber: Laporan IUCN ‘Primates in Peril: The world’s 25 Most Endangered Primates 20112-2014

Lebih dari 54% dari 633 spesies primata dunia dan sub-spesiesnya kini masuk dalam kategori terancam punah dalam Daftar Merah IUCN Tentang Spesies Terancam. Ancaman utama adalah kerusakan habitat akibat pembakaran dan penebangan hutan tropis serta perburuan priata untuk kebutuhan makanan dan perdagangan satwa liar ilegal.

“Primata adalah kerabat terdekat manusia dan mungkin adalah saah satu spesies utama dalam hutan hujan tropis, dan 90% diantaranya kini ada dalam kondisi terancam punah,” ungkap Dr. Russel Mittermeier, Ketua IUCN SSC Primate Specialist Group dan Presiden Conservation International. “Ajaibnya, kami terus menemukan spesies baru setiap tahun sejak tahun 2000. Ditambah lagi, primata semakin meningkat jumlahnya yang menjadi atraksi pariwisata  alam dan menonton satwa menjadi salah satu sumber kehidupan bagi banyak komunitas lokal yang hidup di sekitar kawasan lindung dimana spesies ini muncul.”