Tag Archives: rekayasa genetik

Jabar Kembangkan Rekayasa Genetik, Untuk Kembalikan Kejayaan Ternak dan Holtikultura Lokal. Seperti Apa?

Keberadaan hewan ternak maupun holtikultura impor di seluruh Indonesia saat ini membantu Pemerintah memenuhi kebutuhan masyarakat. Namun, ada kekhawatiran beredarnya produk  impor, meminggirkan produk lokal.

Untuk itu, Pemerintah mulai mempertahankan ketahanan pangan. Salah satunya, dengan melakukan mengembangkan produk ternak dan holtikultura di berbagai daerah. Tahap awal pengembangan dilakukan di Jawa Barat.

Lele lokal (Clarias batrachus) mulai menjadi 'tamu' di daerah asal setelah hadir ikan impor, lele dumbo. Foto: Wikipedia

Lele lokal (Clarias batrachus) mulai menjadi ‘tamu’ di daerah asal setelah hadir ikan impor, lele dumbo. Foto: Wikipedia

Pengembangan tersebut melibatkan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Pemprov Jabar, berlokasi di sejumlah kawasan di Jabar.

Menristekdikti M. Nasir mengatakan, program yang bertujuan untuk meningkatkan ketahanan pangan tersebut dinilai sudah tepat dilaksanakan karena, saat ini serbuan produk impor untuk hewan ternak dan holtikultura sudah semakin tak terbendung.

“Jika ingin mengeliminasi produk impor secara perlahan, satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah dengan mengembangkan produk sendiri yang sudah ada. Pengembangan dilakukan dengan maksud untuk meningkatkan daya saing tapi tetap bisa menekan biaya produksi,” ujar M Nasir di Gedung II BPPT, Jakarta, Selasa (19/05/2015).

Sementara, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan mengakui saat ini daya saing produk ternak dan holtikultura di wilayahnya melemah menghadapi produk impor, bahkan bersaing sesama produk lokal.

“Kita tidak mau produk ternak dan holtikultura di Jabar semakin tersingkirkan. Karena, faktanya saat ini Jabar adalah salah satu daerah penghasil produksi ternak dan holtikultura terbanyak di Indonesia,” jelasnya.

Pengembangan Ternak dan Holtikultura

Gubernur Jabar mengatakan tahap awal pengembangan akan fokus pada sejumlah produk ternak dan holtikultura, seperti  sapi perah dan potong serta sapi pasundan di peternakan milik PT. KAR Bogor.

Selanjutnya, pengembangan domba aduan Garut, yang diharapkan ditingkatkan populasi 2-5 ekor per kelahiran. Juga dikembangkan ikan air tawar yang bernilai ekonomi lebih tinggi dari ikan laut.

“Ada ikan gurame, ikan nila, ikan emas dan ikan sidat. Jenis-jenis tersebut menjadi primadona dalam penjualan ikan,” tutur Ahmad.

Untuk holtikultura, pengembangan akan dilakukan pada mangga gedong gincu dan mangga dermayu yang berasal dari Kabupaten Indramayu. Menurut Ahmad, mangga jenis tersebut pantas untuk dikembangkan karena memiliki nilai ekonomis tinggi dan merupakan khas Jabar.

Produk yang dikembangkan tersebut, kata Ahmad, akan difokuskan di wilayah Selatan Jabar untuk produk ternak, utara Jabar untuk produk padi, dan Subang untuk buah-buahan.

“Dengan penerapan ilmu pengetahuan berbasis keanekaragaman hayati dalam program ini diharapkan bisa mengembalikan kejayaan produk dalam negeri yang sudah lama menghilang,” tambahnya.

Rekayasa Genetik

Untuk mencapai rencana dan target yang ditetapkan, program tersebut mengadopsi sistem rekayasa genetik yang diterapkan untuk semua jenis produk ternak dan holtikultura yang masuk dalam program. Untuk tahap awal, produk yang dilibatkan adalah penelitian dan produksi sapi unggul di PT KAR Bogor.

Ada tiga tahapan yang harus dilalui dengan melibatkan pakar seperti peneliti, birokrat dan swasta yang memiliki peternakan, yaitu produksi sperma sexin, menggunakan pejantan unggul sapi potong dan perah serta sapi pasundan yang dipelihara PT KAR di Parung, Bogor. Koleksi sperma menggunakan vagina buatan, selanjutnya  dianalisa kualitasnya. Sperma yang memenuhi syarat selanjutnya diproses untuk dilakukan pemisahan jantan dan betina (sexing) dan dibekukan sesuai prosedur.

Tahap dua Seleksi, sinkronisasi dan IB Sexing, dilaksanakan oleh tim UPT Sapi Potong Cijeungjing, Jabar untuk peningkatan populasi dan mutu genetik ternak serta pelestarian plasma nutfah sapi Pasundan. Sperma yang digunakan adalah sperma yang telah diproduksi PT KAR.

Tahap tiga, agribisnis peternakan dan pengolahan hasil, yang dilakukan dengan konsep pertanian terpadu berbasis peternakan, dengan memanfaatkan fasilitas di Agrotechnopark  (ATP) di Cikadu, Jabar.

Melalui penerapan rekayasa genetik, Asisten Deputi Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kemenristekdikti Hadirin Suryanegara, berharap, produk ternak, khususnya sapi pasundan bisa kembali bagus. Dari program tersebut, diharapkan bobot sapi yang saat ini rerata 300 kilogram bisa kembali ke berat awal sekitar 700 kilogram.

“Berat sapi Pasunda pada 40 tahun lalu itu bisa 700 kg. Tapi sekarang lihat saja, 300 kg saja sudah untung. Kita ingin mengembalikan itu. Dengan teknologi, kita harapkan output lebih bagus dengan modal lebih ekonomis,” pungkasnya.

Uji Jagung Transgenik Dinilai Abaikan Prinsip Kehati-hatian

ALIANSI untuk Desa Sejahtera menilai, proses uji jagung transgenik oleh tim Teknis Keamanan Hayati dan Keamanan Pangan tak cukup dan hanya bertujuan mempercepat proses komersialisasi produk trangenik di Indonesia. Dengan hanya uji dokumen terhadap jagung transgenik NK 603 dan MON 89034 milik Monsanto, menunjukkan pengabaian prinsip kehati-hatian demi kepentingan pemilik benih.

Prinsip Kehati-hatian,  merupakan prinsip dasar dalam menangani produk hasil rekayasa genetik. Ini disepakati di level internasional.  Prinsip kehati-hatian mengakui potensi dampak lingkungan, sosial ekonomi  dan kesehatan dari produk hasil rekayasa genetik. Juga memperbolehkan negara mengambil langkah tegas jika terdapat keragu-raguan atau ketidakcukupan informasi atas dampaknya.

Tejo Wahyu Jatmiko, Koordinator Nasional  Aliansi untuk Desa Sejahtera (ADS) di Jakarta, Jumat(21/9/2012) mengatakan,  dokumen yang dikajipun dari pemilik benih dan dokumen lama.  Padahal, dampak negatif dari produk rekayasa genetik baru muncul dalam jangka panjang.

“Hal ini ditunjukkan berbagai penelitian baru. Ketergesa-gesaan ini jelas sekali untuk memfasilitasi kepentingan perusahaan dan mengabaikan kepentingan petani dan rakyat Indonesia,” katanya dalam rilis kepada media.

Jagung, salah satu produk pangan yang jadi sasaran rekayasa genetik.

Berdasarkan riset tim Gilles-Eric Seralini dari Universitas Caen, penelitian pertama yang memeriksa dampak mengkonsumsi organisme hasil rekayasa genetik (RG) jangka panjang (seumur hidup mencit)  menemukan, lebih dari 50 persen jantan dan 70 persen betina menderita kematian prematur. Tikus-tikus yang diminumkan sejumlah roundup ready (dalam tingkat yang dibolehkan aturan dalam persediaan air minum) mengalami peningkatan ukuran tumor sebesar  200 hingga 300 persen. Juga terjadi kerusakan hati dan ginjal pada tikus yang diberi makan jagung hasil RG dan jejak roundup.

Dari segala sisi, kata Tejo,  tidak ada kelebihan dari benih transgenik.  Malah kehadiran benih ini mengancam kondisi sosial-ekonomi petani, kesehatan dan meningkatkan pencemaran lingkungan. “Benih transgenik dibuat semata-mata untuk keuntungan perusahaan.”

Dwi Andreas Santosa, pakar bioteknologi  menekankan, penerapan pendekatan kehati-hatian terhadap produk tanaman transgenik yang akan dikonsumsi manusia mensyaratkan analisis risiko yang sangat rumit. ”Negara wajib melakukan sendiri analisis keamanan pangan untuk berbagai bahan pangan transgenik yang masuk ke Indonesia, tidak sekadar menerima dan menilai dokumen yang disajikan pemohon” ujar dia.

Rhino Subagyo, Legal Policy  ADS mengingatkan, pelepasan benih transgenik di lapangan harus sesuai ketentuan  UU.32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Khusus terkait ketentuan Amdal dan izin lingkungan. Pelaku usaha dan pemberi izin yang menyebarkan benih transgenik tanpa memiliki izin lingkungan bisa kena ancaman pidana kejahatan lingkungan hidup saat timbul dampak yang merugikan.

Menurut dia, di tengah ancaman krisis pangan, sudah waktunya kebijakan pangan mendukung produsen pangan skala kecil di negeri ini.  Keberpihakan dan dukungan membabi buta terhadap produsen pangan global hanya memberi keuntungan bagi perusahaan pemilik benih hasil rekayasa genetik.

Dukungan, lebih baik diberikan kepada para peneliti dan petani yang sudah mengembangkan berbagai macam benih berdasarkan sumber daya lokal yang sesuai untuk menjawab tantangan kondisi setempat.

Di Indonesia, pengembangan tanaman transgenik pertama secara komersial di tujuh Kabupaten di Sulawesi Selatan pada 2001. Berakhir pada 2003 oleh Menteri Pertanian saat itu karena gagal total dan menimbulkan konflik antara petani dan perusahaan, Branitha Sandhini anak perusahaan Monsanto yang ingkar janji.

Aliansi untuk Desa Sejahtera merupakan aliansi dari 18 Ornop dan jaringan dengan fokus kerja mengupayakan penghidupan pedesaan lestari dengan pendekatan pada tiga komoditas pertama beras atau pangan, ketua pokja Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP). Kedua, sawit, ketua Pokja Sawit Watch dan ketiga ikan, ketua Pokja Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA).