Konferensi Petani Organik Usung Pengelolaan Berkelanjutan

PERTEMUAN Nasional Petani Organik akan digelar di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, pada 26 – 28 Juni 2012. Kegiatan ini mencoba merumuskan kemandirian dan kedaulatan petani dalam lingkungan mereka sendiri. Dengan merumuskan strategi dan metodologi pengelolaan pertanian organik yang inovatif, menghargai kearifan lokal, orientasi hidup sehat dan berkelanjutan.

Ketua Panitia Pelaksana Galanggang Alam Petani Organik II, Jafrinal mengatakan, pertemuan ini, tidak untuk menggugat kebijakan pemerintah yang setengah hati dalam bidang pertanian. Di sini, akan dirumuskan cara-cara sederhana dalam mendorong kemajuan sektor pertanian dan kesejahteraan petani dengan ramah lingkungan.

Pesan yang mau disampaikan, ucap Jafrinal, dalam memajukan pertanian Indonesia dan meningkatkan kesejahteraan petani, hanya perlu kemauan dan keseriusan. “Serta program terintegrasi dengan tetap menghormati lokal wisdom, dan kompetensi petani Indonesia,” katanya dalam pernyataan pers.

Petani Indonesia, tidak membutuhkan program atau kebijakan mercusuar yang penuh slogan bombastis. Petani organik Indonesiahanya perlu dukungan teknologi dan akses pasar pertanian dan modal.

Sekretaris Panitia Pelaksana Galanggang Alam Petani Organik II, Endrie Sonny,  mengungkapkan, dari upaya mengembangkan teknologi pertanian organik, membuka akses pasar produk pertanian dan akses modal ini yang akan dibicarakan dalam pertemuan kali ini. “Tentu saja, rumusan-rumusan ini disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki petani organik saat ini.”

Acara yang akan berlangsung di Istana Rakyat Selaras Alam Nagari Lasi, Canduang Kabupaten Agam ini dinamakan Galanggang Alam Petani Organik. Ia akan diikuti 2.000 orang petani organik yang mewakili kelompok-kelompok tani dari 15 provinsi di Indonesia.

Kegiatan ini juga mengundang organisasi mahasiswa, LSM dan organisasi-organisasi yang konsen dengan isu pertanian. Juga pemerintah antara lain, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan dan Industri, BPPT, Kementerian Koperasi dan UKM serta akademisi.

Menurut Jafrinal, pertemuan ini sebagai wadah belajar dan sharing informasi, pengalaman petani dalam pengelolaan pertanian organik. Selama ini, perhatian pemerintah terhadap sektor pertanian belum terintegrasi dan berkelanjutan. “Problem bibit, harga pupuk yang mahal dan sulit diperoleh, teknologi pertanian, pengolahan hasil pertanian dan harga jual hasil pertanian tidak pernah mendapat solusi cerdas dari pemerintah,” ujar dia.

Kebijakan pemerintah di sektor pertanian masih parsial dan lebih cenderung pencitraan. Lihat saja, program-program subsidi pertanian yang digulirkan tidak berjalan dengan baik bahkan memberi peluang korupsi baru. Mulai dari bantuan subsidi pupuk, benih, bibit dan keuangan. “Tak heran, kesejahteraan petani Indonesia tidak pernah meningkat.”

Persatuan Petani Organik
Persatuan Petani Organik (PPO), adalah petani yang tergabung dalam kelompok pengembangan pendidikan keswadayaan yang dikenal dengan nama Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) dan Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKMA). Lembaga ini dibangun secara mandiri dari petani. Istilahnya, oleh petani dan untuk petani.

PPO berkembang dari kebutuhan petani untuk mengembangkan inovasi-inovasi dalam pengelolaan pertanian. Saat ini, PPO mengembangkan pusat belajar rakyat yang dikelola oleh rakyat (petani). Caranya, dengan mengembangkan kekayaan potensi lokal, seperti benih-benih dan kearifan lokal, Implementasi pertanian organik sesuai wilayah. PPO juga mengembangkan pemasaran produk organik, pengembangan pendidikan market accessibility melalui sekolah lapangan marketing produk organik.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , ,