100 Spesies Burung di Amazon Kini Terancam Punah

Hasil temuan sejumlah aktivis di Amazon mengungkapkan, sejumlah spesies burung di wilayah tersebut kini mengalami ancaman sangat signifikan akibat deforestasi yang terjadi untuk perluasan wilayah pertanian dan peternakan. Organisasi Birdlife Internasional mengungkapkan, secara global 1331 spesies burung, atau 13 persen dari 10.064 spesies burung dunia masuk dalam daftar merah sebagai spesies terancam oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature). Jumlah ini meningkat dari 1253 spesies yang terancam tahun sebelumnya.

Jumlah terbesar burung yang terancam ada di wilayah Amazon, dimana sekitar 100 spesies kini ada di dalam daftar merah kepunahan, tiga diantaranya bahkan sudah masuk kategori beresiko tinggi punah. Tahun lalu, hanya 10 spesies ada di daftar merah ini. Peningkatan yang mengkhawatirkan ini terkait dengan adanya deforestasi yang terus berjalan, yang diprediksi masih akan terus meningkat hingga satu dekade mandatang.

“Kami tidak mengira bahwa resiko kepunahan spesies burung di kawasan Amazon akan meningkat sangat drastis,” ungkap Leon Bennun, Direktur Sains Birdlife dalam media rilisnya. “Ditambah dengan lemahnya penegakan hukum di Brasil terkait hutan, situasi ini bisa menjadi lebih buruk seperti sudah diprediksi oleh beberapa penelitian,” ungkapnya, mengacu pada Kode Kehutanan di Brasil yang baru, yang melonggarkan perlindungan terhadap hutan Amazon dan akan membawa dampak dalam waktu dekat.

Burung semut di Rio Branco kini menduduki posisi sebagai burung “terancam punah” setelah tahun 2011 ia masuk di “resiko tinggi”. terancam punah adalah osisi tertinggi dalam kategori ini. Usia burung semut yang panjang, sekitar 10-12 tahun, membuat burung hitam dangan corak putih di sayapnya ini sulit beradaptasi dengan kerusakan habitat yang terjadi, ungkap juru bicara BirdLife Martin Fowlie.

Burung hoary-throated spinetail jga masuk dalam terancam punah akibat habitatnya yang semakin menyusut. Burung kecil dengan warna oranye dan aksen coklat dan putih di lehernya ini hidup di belantara huran di bagian utara Amazon, dekat perbatasan Brasil dengan Guyana. Dengan hilangnya area hidupnya untuk peternakan dan produksi kedelai, burung-burung ini kini terancam menyusut jumlahnya hingga 80% hingga satu dekade mendatang.

Selain Aazon, pesisir Brasil di wilayah Atlantik juga menjadi habitat utama bagi 152 spesies burung yang terancam di negara ini. Sementara, jumlah spesies terancam di bagian lain negara ini, tidak mengalami perubahan, dengan sejumlah spesies sudah dilepas dari daftar bahaya dan sejumlah spesies lain masuk ke dalamnya.

Spesies lain yang juga terancam di bagian dunia lainnya adalah bebek ekor panjang di Eropa, yang kini masuk dalam kategori “rentan” setelah populasi mereka hilang hingga satu juta ekor dalam duapuluh tahun terakhir. Akibat menurunnya jumlah populasi mereka beum diketahui hingga kini oleh BirdLife.

Kendati demikian, setitik harapan cerah masih ada. Burung hitam kecil bernama Restinga Antwren, kini lepas dari daftar bahaya setelah taman nasional yang dibuat setahun silam melindungi habitat burung-burung ini di wilayah pesisir Atlantik di sisi timur laut Rio de Janeiro. Kisah sukses lainnya adalah burung Rarotonga Monarch, spesies burung berwarna abu-abu dan putih yang hidup di area pedalaman, South Pacific Cook Islands. Sebelumnya adalah salah satu burung terlangka di dunia, dengan populasi yang terus hilang hingga kurang dari 40 individual. Kini burung ini sudah tidak lagi masuk di kategori ‘terancam punah’ dan masuk ke ‘rentan’ dengan adanya upaya mengontrol predator burung ini. Kini populasinya melonjak hingga 380 individual, menurut laporan BirdLife.

BirdLife Interational terus meneliti dan mencatat seluruh bagian dari kategori aves dalam Red List IUCN. Red List atau daftar merah ini kini memuat sekitar 62.000 spesies tanaman dan hewan, yang terus dimonitor oleh para ahli konservasi dunia.

(Visited 1 times, 3 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , ,