Glenn Fredly: Alam Indonesia Timur Kaya, Tetapi Hanya Menjadi Objek Eksploitasi

Sebagai musisi dari Maluku, pria bernama lengkap Glenn Fredly Deviano Latuihamallo ini terketuk hatinya untuk menyuarakan isu perdamaian untuk Indonesia Timur.  Glenn Fredly bersama aktivis Kontras, mengampanyekan gerakan budaya Voice From the East (VOTE). Ia pun merangkul Walhi, ICW, KontraS, Jatam, AMAN, Kiara, ANBTI, Foker Papua mengusung semboyan “Matahari yang membawa harapan telah bersinar” untuk membuat publik dan pejabat Indonesia berpaling ke Indonesia Timur. Vote sendiri adalah kampanye sosial berbasis budaya untuk menyuarakan perdamaian, kesejahteraan, pelestarian lingkungan dan demokratisasi untuk Indonesia Timur. Tidak hanya VOTE, sebelumnya Glenn Fredly sudah terlebih dahulu mendirikan Green Music Foundation (GMF) .

Mongabay Indonesia berkesempatan mewawancarai Glenn Fredly untuk membedah secara khusus pesan VOTE pada persoalan pelestarian lingkungan di Indonesia Timur dan kegiatan seputar Green Music Foundation.

Mongabay Indonesia: Mengapa anda mendirikan Green Music Foundation (GMF) ? Apa saja yang telah dilakukan GMF ?

Glenn Fredly : Green Music Foundation, ini saya bentuk untuk menjadi wadah para musisi untuk menyalurkan dan mengekspresikan kepedulian mereka pada lingkungan. Kami memulai dulu dengan mengawal isu pemanasan global. Kegiatan GMF yang dulu pernah dilaksanakan, salah satunya menyelenggarakan konser Indonesia Earth Fest di Senayan, Jakarta. Konser ini untuk mengkampanyekan isu pemanasan global sekaligus untuk penggalangan dana. Selain itu, “Save Mentawai” adalah salah satu bentuk kegiatan GMF untuk terlibat membantu saudara-saudara kita yang tertimpa musibah di sana. Untuk pendanaannya GMF sendiri, saya menyisihkan beberapa persen penghasilan saya. Akan tetapi, kedepannya GMF berencana dilebur menjadi satu dengan VOTE, karena isu yang ingin disampaikan oleh GMF ada juga di VOTE.

Kendati tinggal di daerah kaya, anak-anak Papua, tak bisa menikmati fasilitas pendidikan seperti saudara-saudara mereka di barat Indonesia. Foto: Rhett A. Butler

Mongabay Indonesia: Bagaimana anda melihat banyaknya perusahaan yang mengeksploitasi tambang di Indonesia Timur ?

Glenn Fredly : Indonesia Timur sangat kaya akan Sumber Daya Alam, tetapi kekayaan itu hanya dijadikan obyek eksploitasi. Alam dirusak, masyarakat adat tergusur, hutan di tebangi, tambang dikeruk, orang dibunuh karena konflik perebutan akses ekonomi antara masyarakat dan perusahaan yang tak kunjung usai. Sementara itu, pemerintah kita tak mampu berbuat secara cepat untuk segera menuntaskannya. Selain itu, di Indonesia Timur, terutama Papua, itu sangat besar sekali dalam memberikan kontribusi bagi Indonesia dalam segala hal. Kalau kita berbicara masalah sumber daya alam, disana menyumbang besar sekali.  Contohnya saja PT Freeport. Selain itu, hasil hutan yang dirampok habis-habisan selama ini hanya untuk memperkaya perusahaan dan hutan diganti dengan perkebunan sawit.

Menyedihkan melihat  di Indonesia timur, sampai sekarang masyarakat disana masih miskin, sarana dan prasarana pendidikan, pembangunan masih berbeda jauh dengan Jawa serta kesehatan yang sangat memprihatinkan.

Mongabay Indonesia: Apakah anda dan VOTE melihat adanya ketidakadilan di Indonesia Timur di sektor lingkungan hidup ?

Glenn Fredly: Kita semua pasti melihat ketidakadilan disana tidak hanya pada sektor lingkungan hidup akan tetapi hampir semua hal. Selama ini apa yang di berikan oleh Indonesia timur untuk pemerintah pusat tidaklah sebanding dengan apa yang didapat oleh masyakarat disana. Sebagai contoh, Sumber Daya Alam yang kaya disana, diambil oleh perusahaan-perusahaan besar dan keuntungannya dirasakan oleh pemerintahan pusat dan perusahaan itu sendiri,  akan tetapi masyarakatnya untuk mendapatkan pendidikan saja masih sangat kurang. Inilah yang namanya ketidakadilan.

Masyakarat akhirnya, bukan hanya mendapatkan dampak lingkungannya saja, dampak sosial, ekonomi dan budaya juga dirasakan. Nah, VOTE sendiri mengambil peran untuk menyampaikan persoalan yang terjadi di Indonesia Timur melalui frame budaya. Melalui budaya ini, kita melakukan kampanye damai. VOTE coba untuk merajut kembali kebersamaan untuk menyuarakan apa yang terjadi di Indonesia Timur.

Glenn Fredly, VOTE tidak berpihak, hanya mengingatkan kebijakan pemerintah agar lebih memperhatikan hak-hak masyarakat di Indonesia Timur. Foto: Tommy Apriando

Mongabay Indonesia: Anda juga menciptakan lagu “Sayangi Bumi Hari Ini.” Apa pesan yang ingin disampaikan di lagu ini ?

Glenn Fredly: Lagu ini sebenarnya bercerita tentang rantai keseharian dalam kehidupan kita. Lagu ini mencoba mengajak orang untuk bersam-sama sadar akan kemanusiaan dan lingkungan. Kita tidak bisa berbicara hanya dari segi kapital saja. Kita harusnya menjaga kearifan lokal yang ada. Saat ini, kita bisa lihat bagaimana pengelolaan lingkungan yang ada di Indonesia masih buruk. Selain itu, bicara tentang pengelolaan kita akan bicara tentang proteksinya. Nah lagu ini, ingin menyampaikan pesan proteksi untuk pelestarian lingkungan kita.

Mongabay Indonesia: Bagaimana anda melihat kebijakan pemerintah di banyak merugikan masyakarakat di Indonesia Timur ?

Glenn Fredly: Kita bisa melihat bagaimana perlawanan masyakarat terhadap kebijakan pemerintah yang merugikan Indonesia Timur. Kebijakan yang tidak adil membuat masyarakat yang melawannya dihadapkan dengan aparat, dihadapkan dengan sistem pemerintah yang pro investor. Masyarakat kan punya hak untuk menolak kebijakan yang merugikan mereka.

Mongabay Indonesia: Lalu, apa peran VOTE dalam menyampaikan kebijakan pemerintah di Indonesia Timur yang pro Investor dan merusak Lingkungan ?

Glenn Fredly: Nah peran VOTE disini adalah untuk merajut dan mengajak masyakarat luar untuk tahu apa yang terjadi Indonesia Timur. VOTE melakukan koreksi terhadap kinerja pemerintah selama ini, harapannya jelas, agar pemerintah melakukan perbaikan terhadap kebijakannya yang lebih pro rakyat. Bagaimanapun juga masyarakat pasti akan terus melakukan perlawanan atas kebijakan yang tidak adil. Untuk itu, seharusnya pemerintah bisa melakukan cara-cara yang lebih damai, seperti dialog damai dengan masyarakat sebelum mengeluarkan kebijakan. Menyampaikan apa dampak lingkungan dari suatu pertambangan dan perusakan lingkungan. Akan tetapi, kita semua juga tahu, dialog damai seperti itu jarang diterapkan. Cara kekerasan dan menghadapkan masyarakat dengan masyakarat (konflik sipil) menjadi alat pemerintah yang pro akan investor.

Kita memang tidak bisa pungkiri juga, terhadap kepentingan ekonomi dunia. apalagi di Indonesia Timur. Kita bisa melihat bagaimana regulasi yang dibuat pemerintah lebih berpihak kepada siapa, jelas kepada penguasa dan pemilik modal. Suatu kebijakan itu merugikan atau memberikan dampak apa nantinya kepada masyarakat, sangat jarang sekali masyarakat itu diberi tahu. Apalagi yang paling dekat adalah dampak lingkungan yang terjadi. Masyarakat tiba-tiba tahu ada kerusakan setelah ada pembangunan ini, kemudian baru dikasih tahu ada kebijakan ini. Ini menyedihkan.

Masyarakat adat di Papua, selalu berada di pihak yang dirugikan dan menikmati dampak buruk lingkungan akibat eksploitasi sumber daya alam berlebihan. Foto: Rhett A. Butler

Mongabay Indonesia:  Apa yang seharusnya dilakukan pemerintah untuk menyelesaikan segala persoalan yang terjadi di Indonesia Timur ?

Glenn Fredly:  Saya kira yang paling utama saat ini adalah pada sektor kebijakannya. Contohnya, pada sektor laut yang mayoritas masyarakat disana sebagai nelayan dan mengandalkan tangkapan ikan sebagai sumber penghasilan. Kita tahu, masih banyak kebijakan pemerintah yang tidak pro nelayan. Ini baru pada sektor laut, belum yang terjadi di darat. Kita belum bicara dari hulu hingga hilir. Kita bisa lihat Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), apa coba yang terjadi, kenyataannya MP3EI lebih pro terhadap investor. Saya kira kebijakan pemerintah yang tidak berkeadilan ini sudah sistemik. Tidak memberikan dampak kemajuan dan solusi positif sama sekali terhadap masyarakat. Oleh karena itu, perlu yang namanya resolusi. Resolusi yang menurut saya lahir dari masyarakat. Pemerintah dalam mengambil kebijakan harus memperhatikan kearifan lokal masyarakat dan budaya yang ada. Indonesia ada karena budaya. Disinilah VOTE berpijak untuk terus menyuarakannya melalui budaya.

Dalam melihat kebijakan hari ini, kita harus melihat kebijakan itu berpihak kepada siapa. Permerintah harus merubah kebijakan yang hanya pro kepada kepentingan kelompok atau korporasi tertentu, tapi harus lebih berpihak kepada masyarakat. Kita juga harus melihat siapa pelaku, pembuat dan pelaksana kebijakan itu sendiri. Akan menjadi bahaya apabila ranah kebijakan ditarik kepada kepentingan politik tertentu. Ini gawat sekali, tapi saat ini, itu semua terjadi di Indonesia. Tantangan buat pemimpin kita hari ini adalah semakin banyak pemerintah menutupi dan menumpuk permasalahan yang terjadi di Indonesia Timur tanpa solusi yang jelas dan berkeadilan. Untuk itu, saya dan VOTE akan terus melakukan kampanye damai ini untuk Indonesia Timur yang lebih baik.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , , , ,