,

Mongabay Travel: Menjelajah Warisan Alam Dunia Geopark Merangin Jambi (Bagian I)

Suatu siang pertengahan September lalu, saya dan sang fotografer, Joni ditemani “pasukan” Himpunan Masyarakat Peduli Alam (Hampa): Syamsul Huda, Munawar, Dailami, Jeremis, Mahfuzani dan Asmi, bergegas menjelajahi kawasan hutan di Kabupaten Merangin, Jambi. Persisnya di Desa Air Batu. Komiji, seorang staf Dinas Pariwisata Kabupaten Merangin, memandu kami.

Butuh waktu enam jam perjalanan darat dari Jambi menuju Air Batu. Di desa itu sebagian besar rumah penduduk bertingkat berdinding papan. Listrik sudah menerangi perkampungan ini, namun sinyal telepon seluler masih sulit.

Sebuah perahu karet oranye merek Zibec buatan Korea, disiapkan untuk menjelajahi kawasan yang tengah dinominasikan sebagai bagian dari jaringan global geopark itu dengan berarung jeram.

Istilah geopark secara harfiah berarti taman bumi. Mengacu pada wilayah geografis tempat situs-situs warisan geologis (geological heritages) dikelola secara terintegrasi dengan warisan budaya (cultural heritages) di wilayah itu, untuk tujuan konservasi, edukasi, dan pembangunan berkelanjutan.

Konsep geopark sendiripertama kali berkembang di Eropa pada 1999. Setahun kemudian negara-negara Eropa membentuk European Geopark Network (EGN). Konsep ini mendapat dukungan dari badan PBB UNESCO yang membentuk UNESCO Official Global Network of National Geopark (GNG). Pada 2001, lembaga ini bertukar nama menjadi Global Geoparks Network (GGN). Sejak itu, UNESCO lewat GGN menetapkan berbagai kawasan yang masuk kategori geopark di penjuru dunia.

Sampai tahun 2012, UNESCO telah menetapkan 90 geopark dunia yang tersebar di 27 negara. Dengan penetapan itu, UNESCO berharap, masyarakat yang berada di suatu kawasan geopark akan menjaga kelestarian kawasan sebagai warisan dunia. Masyarakat sendiri dapat memetik manfaat lewat pariwisata. Di Indonesia, baru kawasan Gunung Batur, Bali yang ditetapkan sebagai global geopark. Penetapannya dalam sidang GGN pada 2012 di Arouca, Portugal. Sebelumnya di Asia Tenggara baru diakui geopark Langkawi, Malaysia.

Geopark Merangin Jambi -baru resmi menjadi anggota geopark nasional pada 25 September 2013- bersama lima kawasan lain: Danau Toba (Sumatra Utara), Gunung Rinjani (Nusa Tenggara Barat), Raja Ampat (Papua), Kawasan Kars Sewu (Jawa Tengah), dan Green Canyon (Jawa Barat) tengah mengantri menyusul Gunung Batur.

Kembali ke kisah petualangan kami, setelah mempersiapkan perahu karet, kami segera mengenakan pelampung dan helm. Arus air sungai dalam posisi sedang. Tak terlalu pasang dan tak pula terlampau surut. Air pasang biasanya pada April hingga Mei. Saat itu, semua geopark tak bisa dipotret karena terendam air.

Syamsul, 31 tahun, sang pemimpin Hampa, duduk di buritan perahu karet. Ia mengemban tugas paling penting. Sebagai skipper atau nakhoda yang bertanggung jawab mengendalikan arah perahu. Lima rekan Syamsul bersama Komiji menjadi pendayung. Sedangkan saya, sebagai petualang dadakan, duduk manis di haluan. Joni di tengah. Kami berdua berpegang erat pada tali yang menjulai dari depan perahu.

Siang itu, tepat pukul 11.30, mulailah petualangan menyusuri kawasan geopark Merangin. Kami menyusuri Sungai Batang Merangin sepanjang 9 kilometer dari hulu sungai di Desa Air Batu sampai Teluk Wang di Desa Biuku Tanjung, Kecamatan Renah Pembarap.

Fosil tunas pohon di Sungai Batang Merangin. Foto: Joni Aswira
Fosil tunas pohon di Sungai Batang Merangin. Foto: Joni Aswira

Bagi yang mahir, berarung jeram dari Air Batu sampai Teluk Wang cukup ditempuh dalam tempo dua jam. Ternyata kami lima jam! Beberapa puluh menit mendayung, sampailah di jeram pertama, yaitu Jeram Hore atau Nenong. Kami bersyukur berhasil melewati jeram itu dengan mulus. Saya dan Joni sangat gembira mampu melewati tantangan tersebut.

Tapi, belum lagi surut rasa senang, Syamsul mengingatkan bahwa beberapa meter di depan telah menanti jeram yang berbahaya. Jeram Amin namanya. Diabadikan dari nama mendiang wartawan Sriwijaya Post yang tewas tenggelam kala meliput kejuaraan nasional arung jeram nasional pertama, pada 1997 silam. Jenazah Amin ditemukan tiga hari kemudian.

Jeram Amin memang terkenal dangerous. Di sisi kiri terdapat pusaran yang bisa menelan siapa saja. Saat ketinggian air sedang saja, jeram itu dikategorikan empat plus. Tinggi ombak bisa mencapai 6 meter. Padahal, panjang perahu karet yang kami tumpangi hanya 4 meter. Jika tak lihai dan kompak mendayung, bisa-bisa perahu terbalik.

Lantaran kami dan Komiji bukan pengarung jeram profesional, Syamsul meminta kami bertiga turun. “Peraturan di sini, ya, begitu. Di jeram yang berbahaya, pengunjung tak boleh ikut demi keselamatan,” kata Syamsul. Kami bertiga pun berjalan kaki menapaki bebatuan di pinggir sungai. Setelah Jeram Amin terlampaui, kami bergabung kembali.

Selain kedua jeram tadi ada Jeram Tigo, Ladeh, Batu Runcing, Hore atau Teluk Sah, dan Susu, Hore atau Pulau Telun. Kemudian Jeram Batu Daun, Tiga Beradik, Harun, Pulau Aro, Tuo, Gelegah Pendek, Sikukeluang, Goodbye, Yatim, serta Tilan. Total sekitar 18 jeram di sepanjang Sungai Batang Merangin itu. Dari semuanya, selain Jeram Amin, ada lima jeram lagi yang tergolong berbahaya: Ladeh, Harun, Goodbye, Susu, dan Tilan.

Tilan tak kami telusuri, karena jeram itu paling berbahaya. Kata Syamsul, saat lomba, Tilan menjadi titik start awal. Dari sekian jeram-jeram berbahaya ini, hanya di Jeram Harun kami bertiga berada dalam perahu. Selebihnya harus turun dari perahu. Dua kali kami memotret para pendayung terjatuh. Dailami terjebur di Ladeh dan Munawar tercemplung di Goodbye. Beruntung, mereka bergerak sigap dan langsung naik perahu.

Salah satu sudut di Geopark Merangin, Jambi. Foto: Joni Aswira
Salah satu sudut di Geopark Merangin, Jambi. Foto: Joni Aswira

Gunung Berapi Meletus Lima Kali

Menempuh Sungai Batang Merangin, kami menemukan makna sebenarnya, mengapa kawasan itu ditetapkan oleh pemerintah sebagai kawasan geopark nasional. Dari Jeram Nenong sampai Ladeh, di sisi kiri-kanan sungai adalah kawasan bebatuan granit. Tiba di Jeram Telun barulah bertemu inti dari geopark, yaitu lapisan batu yang menyimpan fosil ratusan jutaan tahun silam. Fosil itu adalah pohon purba yang disebut Araucarioxylon.

Araucarioxylon telah membatu, tertimbun endapan vulkanik berketebalan sekitar 7 meter dalam posisi hampir rebah. Akar-akarnya menjulur sepanjang kira-kira 7 meter juga. Masyarakat setempat menamai Batu Tuo. Para peneliti meyakini fosil ini berusia 300 juta tahun, Zaman Perem.

Di sisi kiri-kanan tampak bebatuan berlapis, bekas tanah rawa, dan debu-debu vulkanik serta lava yang membeku. Masyarakat sekitar menyebutnya batu lipatan kain. Lahan di bukit-bukit hampir seluruhnya berupa kebun karet masyarakat.

Komiji menjelaskan, zaman dulu diperkirakan gunung berapi meletus lima kali dalam rentang waktu 20 juta tahun sekali. Akibat letusan itu, debu vulkanik dan lava membeku di sekitar Araucarioxlyon. Letusan itu pula yang menyebabkan bebatuan di sana berlapis-lapis. Jumlah lapisan sesuai banyaknya letusan gunung berapi. Fosil ini bisa bertahan lama karena kawasan itu bersuhu dingin.

Tak jauh dari posisi fosil pohon purba itu, sekitar 200 meter terdapat Teluk Gedang. Di sini, kami menemukan fosil-fosil hewan laut macam kerang yang membatu, dari kerabat moluska atau hewan bercangkang. Komiji berkata, dulu teluk itu diperkirakan kawasan laut dangkal. “Masyarakat pernah mengukurnya secara manual. Kedalamannya lebih dari 50 meter,” kata Komiji.

Di sekitar kawasan teluk, kami juga menemukan fosil stereochia semireticulatus, jenis kerang-kerangan (brachiopoda), kerang mutiara purba (nautiloidea), dan bellerophon, sejenis trah moluska seperti siput. Ada pula fosil rayap di sekitar fosil pohon setelah disayat. Jenis rayap ini belum teridentifikasi. “Butuh penelitian lebih mendalam untuk menjawabnya,” ujar Komiji.

Masyarakat terpaksa menyeberangkan karet dan sepeda motornya dg katrol sejak jembatan putusan bbrp thn lalu. Foto Joni Aswira
Masyarakat terpaksa menyeberangkan karet dan sepeda motornya dengan katrol sejak jembatan putus beberapa tahun lalu. Foto: Joni Aswira

Menjelajahi Sungai Mengkarang

Keesokan hari, kami berlima: saya, Joni, Komiji, Syamsul, dan Umar kembali menelusuri sisi lain kawasan geopark. Kali ini menyusuri Sungai Mengkarang. Komiji “berpromosi” fosil-fosil di Mengkarang jauh lebih indah. “Kalian adalah jurnalis pertama yang menapaki Sungai Mengkarang,” katanya.

Sejak pukul 07.00 pagi kami berjalan bersandal jepit menjelajahi kawasan sungai itu. Benar-benar perjalanan yang melelahkan. Setelah melalui perkebunan masyarakat dan tiba di Air Terjun Jernih, hingga beberapa kilometer kemudian, barulah kami bertemu dengan aliran Sungai Mengkarang dan berjalan melawan arus sungai.

Awalnya, sepanjang jalan, kami tak menemukan fosil-fosil yang diumbar Komiji. Justru menemukan jejak-jejak hewan, tebakan kami adalah jejak harimau. Walakin (akan tetapi), Syamsul Cs selalu mengelak itu jejak harimau. “Bukan harimau tapi jejak kijang,” kata Syamsul berbohong.

Setelah bertemu jejak keempat kami beristirahat. Tiba-tiba terdengar jelas suara lirih mirip kucing mengeong, yang sepertinya itu suara auman harimau atau mungkin macan dahan. Barulah Syamsul dan Komiji mengaku. “Wah, itu suara harimau, ayo lekas meninggalkan tempat ini.” Kami semua tergopoh-gopoh. Bergidik bulu kuduk ini.

Tak berapa jauh dari tempat itu, kami dihadang sebuah lubuk berkedalaman 12 meter. Saya yang tak bisa berenang, terpaksa melewati lubuk tersebut dengan memeluk batang pohon sambil didorong Umar. Menurut cerita Syamsul dan Komiji, di dasar air ada sarang anakonda berukuran lima meter.

Setengah tahun lalu, cerita Syamsul, ada seorang warga yang ditemukan meregang nyawa. Tak jelas apakah tergigit ular atau tenggelam. Sejak kejadian itu, tak ada lagi masyarakat yang menangkap ikan. Padahal di sekitar lokasi itu banyak ikan semah.

Belakangan, cerita keberadaan anakonda ini dibantah Profesor Fauzie Hasibuan, seorang geolog dari University of Auckland, New Zealand. Hasibuan adalah Koordinator Divisi Geologi Tim Peneliti Geopark Merangin Jambi dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Menurutnya, anakonda tidak ada di Sungai Batang Merangin. Ular tersebut hanya ada di Amazon, Brasil.

Sekitar satu-dua kilometer menjelang ujung Sungai Mengkarang, kami akhirnya menemukan beberapa fosil yang indah. Ada fosil kerang, fosil pakis, dan fosil daun yang tersebar di beberapa tempat.

Umar, seorang anggota Hampa, sangat setia memandu saya. Saking lelahnya perjalanan ini, saya selalu berada di posisi paling belakang. Saat Umar jauh di depan, saya memanggilnya. “Hei Umar, macam tak bersaudara saja kita. Kuturunkan nanti pangkatmu dari mayor menjadi sersan mayor.” Umar tertawa dan mendekat, bahkan terkadang menuntun saya.

Benar-benar sebuah perjalanan yang melelahkan. Kami menyelesaikan perjalanan pukul 6 sore.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , ,