Mongabay Travel: Menjelajah Warisan Alam Dunia Geopark Merangin Jambi (Bagian II-Habis)

Keberadaan Geopark Merangin, sebenarnya sudah mulai terungkap sejak 1983 silam. Abdul Azis, 53 tahun, warga Desa Air Batu, ingat bahwa pada tahun itu pernah memandu seorang pakar geologi asal Perancis dan Bandung, Jawa Barat. “Saya lupa nama kedua orang itu,” kata Azis. Seingat Azis, kedua tamunya itu melakukan semacam penelitian di kawasan itu.

Ayah empat anak ini mengantar keduanya menyusuri lokasi-lokasi situs geologi di Sungai Denong, Baitik, Rumbia, Sadeh, Manda Kecik, dan Manda Besar sampai ke Teluk Gedang. “Semua sungai ditempuh jalan kaki,” ujarnya. Meski begitu, hingga tahun 2012, masyarakat setempat tak pernah menyadari keberadaan situs warisan sejarah bumi itu.

Masyarakat di sekitar kawasan geopark, punya kesadaran tinggi untuk menjaga lingkungan di sekitar, sehingga kawasan itu masih terjaga dengan baik. “Suatu ketika, pernah masyarakat mencuri kayu di Desa Biuku Tanjung. Namun akhirnya diselesaikan dengan musyawarah,” ujarnya. Pernah pula salah satu perusahaan batu bara hendak masuk. Tetapi ditolak masyarakat mentah-mentah.

Kini setelah tahu kawasan itu adalah geopark, masyarakat semakin meningkatkan penjagaan atas kelestariannya. Peraturan tentang geopark tengah digodok perangkat desa dalam bentuk peraturan desa (perdes). Perdes itu, akan mengatur larangan masyarakat menambang emas dengan mesin dompeng. Hanya boleh secara manual. Menurut Azis, masyarakat sadar manfaat kawasan itu bagi kehidupan mereka. Selain manfaat ekologi dan menghindari kerusakan yang berakibat bencana, mereka juga menangguk manfaat secara ekonomi.

Dalam aturan adat mereka yang diyakini turun temurun sebenarnya sudah mengatur tentang aturan main menambang emas. Ketika harga karet dan sawit turun, masyarakat menambang emas secara manual. Di sepanjang sungai yang kami arungi tadi itu adalah daerah yang kerap ditambang emas oleh masyarakat. “Boleh dibilang ekonomi kami di sini cukup stabil,” kata Azis.

Syamsul Huda merupakan salah satu inisiator pertama yang membentuk kelompok relawan untuk berpatroli menjaga kawasan dan menyosialisasikan geopark. Bersama empat kawannya: Arfan, Frianzi, Badri, dan Andri pada 11 November 2011, Syamsul mendirikan Hampa.  Yang perlu dijaga dan dilestarikan tak cuma fosil, melainkan juga satwa-satwa seperti burung, monyet, dan berbagai jenis flora.

Salah satu peserta sempat terjun ke air ketika menerobos jeram goodbye. Foto Joni Aswira.
Salah satu peserta sempat terjun ke air ketika menerobos jeram goodbye. Foto Joni Aswira.

Mulanya, Syamsul tergerak mendirikan organisasi tersebut, sedih melihat pemuda pengangguran di kampungnya yang doyan mabuk-mabukan. Ayah dua anak itu berusaha mengalihkan dengan kegiatan positif. Para pemuda dididik untuk peduli geopark. Syamsul dan kawan-kawan rutin patroli menjaga fosil kawasan, dari Air Batu hingga Muara Karing. “Paling tidak dua kali seminggu dengan jumlah personil 17 orang,” ujarnya.

Hampa juga memperbaiki trek-trek menuju fosil, membersihkan desa, menggerakkan ekonomi kreatif, dan mengolah minyak kepayang. “Ini merupakan kegiatan untuk menghidupi organisasi,” kata Syamsul. Masyarakat juga bisa mendapatkan penghasilan dari memandu wisatawan minimal seminggu sekali. Tamu-tamu yang datang umumnya dari dari pelajar dan mahasiswa. “Mereka ingin mengenal dekat geopark,” ujarnya. Terkadang juga datang dari orang-orang perusahaan.

Kedatangan para wisatawan ini juga membawa manfaat ekonomi lainnya. Mendongkrak beberapa komoditas lokal yang tadinya tak berharga menjadi bernilai ekonomis. Kelapa muda, misalnya, dulu dianggap tak laku. Kini bisa dijual sebutir Rp 4 sampai Rp 5 ribu.

Komiji, staf Dinas Pariwisata Kabupaten Merangin Bidang Kebudayaan, mengatakan, konsep geopark adalah kawasan itu milik masyarakat, bukan pemerintah. Dengan begitu, masyarakatlah yang menjadi pelaku utama pengelolaan kawasan itu. Karena itu harus ada kelembagaan dari desa hingga provinsi.

Ladang Riset Evolusi Bumi

Geopark Merangin Jambi seluas 20.360 kilometer persegi. Terbagi atas empat bagian: Paleobotani Park Merangin, Highland Park Kerinci, Geo-Cultural Park Sarolangun, dan Godwana Park Pegunungan Bukit Tiga Puluh (Tanjungjabung Barat). Paleobotani Park Merangin terbagi dalam tiga zona pula. Yaitu, zona tangkapan (gerbang utama) di kawasan Kota Bangko, zona inti geoconservation, bioconservation, cultural conservation, dan ketiga zona penyangga, yaitu daerah sepanjang daerah aliran sungai (DAS).

Luas Paleobotani Park Merangin 1.551 kilometer persegi yang terbagi dalam dua zona. Zona pertama disebut dengan geoconservation. Ada dua blok, yaitu kawasan Jambi Flora yang meliputi Desa Air Batu hingga Desa Biuku Tanjung serta kawasan Kars Sengayau di Sungai Manau serta Kars Jangkat. Kars Sengayau meliputi 13 gua yang pernah ditempuh oleh masyarakat setempat selama 12 hari.

Perkampungan di Desa Air Batu Merangin. Foto Joni Aswira

Zona kedua disebut bioconservation, yaitu kawasan hutan lindung dan hutan adat yang ada di Merangin. Salah satunya hutan adat Guguk di Desa Guguk, Kecamatan Renah Pembarap. Hutan Guguk luasnya sekitar 690 hektare.

Koordinator Divisi Geologi Tim Peneliti Geopark Merangin, Profesor Fauzie Hasibuan mengatakan, geopark Merangin bisa menjadi ladang riset utama para geolog dunia dalam mempelajari evolusi bumi. Cukup banyak peninggalan fosil kayu dan tumbuhan serta kerang-kerangan di Merangin membatu akibat endapan lava dan abu vulkanik gunung purba.

Ia yakin, fosil-fosil di Merangin tersebar di sepanjang Sungai Batang Merangin dan Mengkarang. Pun, masih banyak tertimbun dalam tanah. “Peneliti berikut bisa saja melakukan penggalian kalau memang membutuhkan informasi dan materi riset yang lebih lengkap,” katanya kepada Mongabay-Indonesia. Kekayaan geologis geopark Merangin lebih tinggi ketimbang geopark di China dan Amerika Serikat. Karena masuk dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat yang relatif masih terjaga.

Bupati Merangin, Al Haris, 41 tahun, berharap pada September 2014 mendatang kawasan ini resmi diakui sebagai warisan dunia dengan menjadi anggota GGN UNESCO. “Sehingga dapat memberikan manfaat positif secara sosial maupun ekonomi bagi masyarakat, juga menambah pendapatan daerah,” kata Al Haris kepada Mongabay-Indonesia.

Kini, tim kerja masih terus menyiapkan dokumen usulan, dan memberikan laporan keadaan Geopark Merangin Jambi. Ada banyak pekerjaan yang terus intensif dilakukan. Antara lain berpromosi dan berkoordinasi dengan GGN UNESCO. November mendatang, pihaknya akan menggelar Kejuaraan Nasional Arung Jeram untuk keempat kalinya. Pemerintah Kabupaten telah membuat situs internet geopark, serta mempersiapkan sebuah film dokumenter untuk memperluas cakupan sosialisasi.

Kedua, kegiatan inventarisasi geodiversity, biodiversity, dan culturediversity (keanekaragaman budaya). Ketiga, menyusun garis batas dan dossier kawasan dan pembentukan pengelola Geopark Merangin Jambi. Tahap selanjutnya adalah penyampaian dossier geopark oleh Pemerintah Indonesia (1 Oktober-1 Desember).

Berlanjut verifikasi dokumen dan pengecekan dossier pada Januari-April 2014. Rapat internal GGN UNESCO Mei-Agustus 2014. Tahap selajutnya, diharapkan adalah penentuan hasil rapat GGN UNESCO, untuk pengumuman hasil pada September 2014. Jika sudah ditetapkan sebagai kawasan jaringan geopark global, diharapkan kawasan geopark ini bisa ditangani oleh semacam otoritas yang peduli kepada pariwisata, budaya, dan otonomi untuk memajukan kawasan itu.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , ,