,

Melky Kansil, Penjaga Penyu dari Timur Minahasa

Melky Kansil, warga Dusun Toloun, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut), sejak tahun 1989 berupaya menyelamatkan penyu. Telur-telur penyu terancam diburu untuk dijual dan dikonsumsi. Tidak hanya itu, satwa ini kerap menjadi bahan dasar aksesoris, seperti pembuatan gagang kacamata, sisir atau gelang.

Dia iba. Sejak kecil, orang tuanya percaya penyu itu makhluk dari kerajaan antah-berantah. Dia kerap menyaksikan satwa ini menangis saat bertelur. “Penyu sering menangis saat bertelur, karena tiap kali bertelur bisa ribuan,” katanya akhir Maret 2014, kala diwawancarai Mongabay.

Awalnya dia membentuk kelompok penyelamat penyu. Patroli dari malam hingga pagi. Dana minim hingga sejumlah orang mundur. Belum lagi, pemahaman masyarakat sekitar minim. Warga masih mengkonsumsi penyu. Diapun harus silang pendapat dengan warga demi mengurangi konsumsi penyu. “Sebagian orang di pesisir menganggap penyu sebagai makanan tetapi saya selalu mengatakan satwa ini dilindungi.”

Keyakinan menyelamatkan penyu dilakukan lewat berbagai cara. Dia sadar, pemahaman masyarakat dilakukan perlahan-lahan.

Melky memindahkan telur-telur penyu ke lokasi yang sudah disiapkan. Foto: Themmy Doaly
Melky memindahkan telur-telur penyu ke lokasi yang sudah disiapkan. Foto: Themmy Doaly

Dulu, Melky mengeluarkan dana pribadi buat aksi ini. Bahkan, seringkali, menukarkan sebungkus rokok dengan penyu. Setelah ganti-rugi pada pemburu, dia sekaligus memberikan pemahaman.  “Jangan sampai anak-cucu mengenal hanya dari gambar saja. Dengan cara seperti ini, saya mengajak mereka untuk melepaskan penyu.”

Kini, usaha Melky membuahkan hasil. Pemahaman masyarakat, berangsur membaik. Warga sekitar memahami penyu merupakan satwa terancam yang harus dilindungi.

Kini, tiap hari Melky harus mendata dan menyelamatkan telur-telur penyu dari predator. Dia cemas, jika upaya ini tak dilanjutkan beberapa orang akan kembali mengambil telur-telur penyu. Beberapa kawasan dibuat lokasi sarang pindah. Di sana, telur-telur penyu disimpan rapi agar mendapatkan panas cukup.

Pada masa inkubasi, katanya, harus ada yang menjaga sarang pindah, karena seringkali ada anjng atau elang. Juga memantau kala sewaktu-waktu telur menetas.

Melky tampak sibuk merawat beberapa ekor bayi penyu di rumah. Kebutuhan makan dipersiapkan tiap hari. Ada udang  atau ikan dipotong halus. “Berdasarkan penelitian para ahli, udang bisa jadi semacam ASI bagi bayi-bayi penyu.”

Perawatan ini perlu karena tukik atau anak penyu ini belum mampu menjaga diri di laut lepas. Tukik dibiarkan belajar berjalan di ember tanpa air, dari umur satu sampai tiga hari. Hari keempat, ember diisi dengan air yang dilepas pada minggu kedua.

Melky berharap, pemerintah memperhatikan penyelamatan penyu. “Pemerintah perlu menunjukkan perhatian ekstra pada penguatan kapasitas para penangkar penyu, tak hanya fokus pada pembangunan fisik.”

Area konservasi penyu. Foto: Themmy Doaly
Area konservasi penyu. Foto: Themmy Doaly

 

(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , ,