,

Menyelamatkan Anggrek Hutan, Menyelamatkan Kehidupan

Hutan menjadi surga kehidupan tumbuhan dan hewan, termasuk anggrek hutan dan pakis – pakisan yang merupakan tumbuhan epifit (menumpang) di pepohonan. Hutan berawa dataran rendah menjadi tempat ideal bagi tumbuhan tersebut sehingga terdapat lebih beragam dibandingkan di hutan dataran tinggi. Karena keindahan dan kelangkaannya, anggrek hutan dan pakis – pakisan ini memiliki harga jual yang cukup tinggi. Namun seiring dengan berjalannya waktu, keberadaannya semakin langka karena hutan dataran rendah itu telah beralih fungsi menjadi perkebunan dan pemukiman, serta maraknya pengambilan anggrek dari habitat aslinya.

Kondisi inilah yang membuat sekelompok orang dari desa Jambi Tulo dan Jambi Kecik, Kecamatan Muaro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, provinsi Jambi membentuk Gerakan Muaro Jambi Bersakat (GMJB). Sakat adalah bahasa Melayu yang berarti anggrek dan pakis – pakisan.

Kelompok yang aktif dalam menyelamatkan anggrek hutan sejak tahun 2009 ini, berawal dari kegemaran Adi Ismanto dan Edwar Sasmita terhadap anggrek. Bahkan Adi sempat berprofesi sebagai pengumpul anggrek hutan. Dulu anggrek hutan sangat mudah ditemukan di kawasan hutan yang berada dalam wilayah desa tetangga mereka, desa Lubuk Raman. Adi dan pengumpul anggrek lain sering berburu anggrek hutan dari kawasan ini karena jumlah anggrek hutannya yang banyak dan bernilai jual tinggi.

“Beberapa jenis anggrek seperti anggrek kuku macan sumatra (Bulbophyllum Lobii) laku dijual seharga Rp100 ribu per 7 cm-nya” kata Adi. Bahkan anggrek rumbai (Bulbophyllum medusae) bisa dijual Rp3000 per daun. Ia mengaku waktu menjadi pengumpul anggrek, penghasilannya dapat mencapai Rp20 juta per bulan.

Anggrek Rumbai (Bulbophyllum Medusae) dari kawasan hutan Kabupaten Muaro Jambi. Foto : Lili Rambe
Anggrek Rumbai (Bulbophyllum Medusae) dari kawasan hutan Kabupaten Muaro Jambi. Foto : Lili Rambe

Sementara itu Edwar tetap menjadikan anggrek sebagai tanaman koleksi pribadinya hingga pada suatu hari anggrek macan (Grammatophyllum speciosum) koleksinya ditawar oleh  seorang kolektor anggrek seharga Rp15 juta, namun dia menolak tawaran itu. “Saya tidak mau menjual anggrek saya karena anggrek itu menjadi kebanggaan tersendiri buat saya dan tidak dapat dinilai oleh uang” ujar Edwar.

Kecintaan Edwar pada anggrek inilah yang akhirnya membuat Adi sadar bahwa pekerjaannya sebagai pengumpul anggrek telah mengakibatkan punahnya berbagai jenis anggrek hutan dari habitat aslinya. Adi kemudian memutuskan untuk berhenti menjadi pengumpul anggrek dan sejak itu ia, Edwar dan teman mereka Junaidi memulai aktivitasd GMJB. “Bisa dibilang saya mengajak teman – teman saya di GMJB untuk menebus ‘dosa’ saya di masa lalu” ujar Adi.

Penyelamatan Anggrek

GMJB yang saat ini berjumlah 17 orang itu telah melakukan penyelamatan anggrek dari berbagai lokasi di Kabupaten Muaro Jambi. Beberapa waktu yang lalu, GMJB berhasil menyelamatkan anggrek di kecamatan Kumpe yang berjarak sekitar 2 jam perjalanan dari desa mereka, Jambi Tulo. “Setelah melakukan upaya penyelamatan dari jam 2 pagi, akhirnya pada jam 4 pagi kami berhasil menurunkan anggrek itu,” jelas Adi.

Penyelamatan ini dilakukan setelah mereka mendapatkan informasi dari seorang teman bahwa ada tetangganya yang akan menebang pohon durian yang diatasnya tumbuh anggrek hutan karena akan membangun rumah. Setelah mendapat informasi tersebut, GMJB segera membentuk tim untuk melakukan penyelamatan anggrek tersebut. Kemudian, anggrek tersebut diititipkan untuk dipelihara oleh masing – masing anggota GMJB.

Adi mengaku kelompoknya telah menyelamatkan lebih dari 100 jenis anggrek hutan.“

Anggrek Cirrhopetalum curtisii dari kawasan hutan Kabupaten Muaro Jambi. Foto : Lili Rambe
Anggrek Cirrhopetalum curtisii dari kawasan hutan Kabupaten Muaro Jambi. Foto : Lili Rambe

Banyaknya anggrek yang dipelihara oleh anggota kami tergantung kemampuan dan ketersediaan waktu mereka untuk merawat anggrek – anggrek itu” ujarnya.

Saat ini ia merawat  lebih dari 100 jenis anggrek anggrek hutan dan pakis. “Kami juga telah berhasil mengidentifikasi 80 spesies anggrek hutan yang telah kami selamatkan. Masih ada beberapa spesies anggrek yang belum berhasil kami identifikasi” ujar Adi. Ia juga mengatakan bahwa GMJB agak kesulitan mengidentifikasi jenis – jenis  anggrek karena terbatasnya sumber daya mereka dalam mencari literatur mengenai jenis anggrek di Sumatra.

Konservasi Anggrek

Saat ini daerah Lubuk Raman yang dulunya adalah sumber mata pencarian bagi para pengumpul anggrek telah berubah menjadi perkebunan. Kondisi yang tidak jauh berbeda juga terjadi di tempat – tempat yang dulu memiliki anggrek hutan yang berlimpah seperti di daerah desa Danau Lamo, Sekernan dan Sekumbung.

Situasi ini sangat merisaukan GMJB sehingga akhirnya mendorong mereka mengusulkan pada pemerintah Kabupaten Muaro Jambi hutan untuk menjadikan hutan Pematang Damar kawasan konservasi, khususnya konservasi anggrek hutan. Hutan tersebut terletak dalam kawasan desa Jambi Tulo, Jambi Kecik dan Mudung Darat dan memiliki luas sekitar 600 hektar. Kawasan hutan rawa kondisinya cukup baik dan masih memiliki cukup banyak anggrek hutan.

Namun usulan yang telah mereka ajukan sejak tahun 2013, belum mendapat respon dari Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi. “Sudah ada beberapa perusahaan yang mengincar kawasan Pematang Damar ini untuk diubah menjadi perkebunan” terang Adi.

Menurutnya, jika kawasan tersebut diubah menjadi perkebunan, akan memicu konflik lahan antar warga desa, karena kawasan tersebut berada di 3 desa.

Terjaganya hutan Pematang Damar juga dapat mengairi sawah dan kebun di 3 desa tersebut. Dan pada musim hujan, hutan tersebut dapat menjadi daerah tangkapan air yang mencegah terjadinya banjir.

Anggrek Callostylis rigida Blume dari kawasan hutan Kabupaten Muaro Jambi. Foto : Lili Rambe
Anggrek Callostylis rigida Blume dari kawasan hutan Kabupaten Muaro Jambi. Foto : Lili Rambe

Ia juga menambahkan jika kawasan tersebut dijadikan kawasan konservasi, tidak hanya anggrek hutan yang dapat dilestarikan, masyarakat sekitar juga bisa mendapatkan penghasilan tambahan  karena kawasan tersebut dapat dijadikan kawasan ekowisata.

“Anggrek hutan membutuhkan hutan karena tumbuhan ini adalah mahkota hutan. Oleh karena itu anggrek hutan harus berada di hutan. Karena seperti juga manusia, mahkota harus diletakkan di kepala, bukan di kaki atau di tempat lain. Dan jika diletakkan di tempat lain maka mahkota tersebut akan kehilangan fungsinya” pungkas Adi berfilosofi.

Maka keberadaan hutan menjadi penting untuk menjaga mahkota hutan dan juga mahkota kehidupan.

Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , ,