Nasib Tengkawang Yang Tergilas Sawit

Perkumpulan Sahabat Masyarakat Pantai atau SAMPAN Kalimantan melansir sebuah hasil identifikasi tengkawang (Shorea spp) yang dilakukan selama kurun waktu Juni 2013 – Juni 2014 di Kabupaten Ketapang dan Melawi, Kalimantan Barat. Hasilnya cukup mencengangkan. Era keemasan pohon khas Kalimantan itu, kini telah memudar seiring laju investasi perkebunan kelapa sawit.

Padahal, tanaman khas iklim tropika basah ini salah satu bukti keanakeragaman hayati di Indonesia, khususnya di Pulau Kalimantan dan Sumatera. Rimbun lebatnya pohon tengkawang (Illipe nut atau Borneo tallow nut), berkontribusi besar bagi umat manusia melalui kemampuannya menyerap karbon CO2, di tengah kesibukan masyarakat dunia menghadapi ancaman perubahan iklim.

Deputi Direktur SAMPAN Kalimantan, Deny Nurdwiansyah mengatakan, masyarakat di dua kabupaten di Kalbar itu sejak lama sudah merawat tengkawang di hutan adat Tembawang. “Mereka melakukan itu sebagai upaya menjaga tutupan hutan agar tetap terpelihara dengan baik,” katanya di Pontianak, pada akhir pekan kemarin.

Masyarakat menjaga hutan hanya berharap imbalan dari hasil Hutan Adat Tembawang dapat melimpah. Satwa buruan, ikan di sungai, madu, dan lainnya, tetap tersedia. Bahkan, imbal balik alamiah selama ini sudah terjalin antara masyarakat yang menjaga hutan dengan hutan yang memberikan sesuatu yang terbaik bagi kehidupan masyarakat.

Memang, kata Deny, tengkawang sebagai kekayaan hayati hutan Kalimantan setiap tahun tidak selalu berbuah. Hanya jenis tengkawang tertentu yang setiap tahun dapat berbuah. Itupun buahnya sedikit. Buah dari pohon tengkawang akan melimpah tiga sampai empat tahun sekali, pada saat musim panen raya.

Berdasarkan catatan SAMPAN Kalimantan, pada masa panen raya, pohon-pohon tengkawang secara serempak berbunga dan berbuah di setiap daerah. Tiap pohon dapat menghasilkan biji kering berkisar 250 – 400 kilogram. Dewasa ini, hasil panen raya buah tengkawang sudah jarang diolah menjadi mentega.

Mentega hasil olahan minyak tengkawang.  Foto : SAMPAN Kalimantan
Mentega hasil olahan minyak tengkawang. Foto : SAMPAN Kalimantan

Kondisi ini tidak terlepas dari ekspansi minyak nabati kelapa sawit yang sudah mengubah kebutuhan minyak nabati masyarakat. Sehingga, tengkawang yang sudah dikeringkan kemudian dijual kepada para penampung yang datang ke kampung-kampung. Pada masa panen raya tengkawang, hukum pasar berlaku. Akibatnya, harga biji tengkawang kering sangat rendah, berkisar Rp3000 per kilogram.

Permasalahan alamiah rendahnya produktivitas tengkawang yang tidak rutin tiap tahun berbuah, belum dipecahkan secara optimal dengan kemajuan ilmu dan teknologi pertanian. Malah kecenderungannya, potensi luar biasa hutan Kalimantan sebagai bahan baku lemak nabati itu diabaikan dengan mengedepankan tanaman kelapa sawit.

“Seharusnya, para cerdik pandai bidang kehutanan, perkebunan, dan pertanian berupaya keras membuat percobaan-percobaan agar produktivitas pohon tengkawang bisa digenjot. Hal ini bukan tidak mungkin dilakukan, karena sudah banyak contoh dengan rekayasa ilmu dan teknologi, produktivitas tanaman bisa meningkat,” urai Deny.

Begitu pula dengan intervensi teknologi untuk memisahkan daging dan minyak tengkawang, pemerintah dinilai tidak mengembangkan inovasi. Bahkan membiarkan masyarakat bergumul dengan pengetahuan yang sangat sederhana. Hal itu pun menjadikan olahan biji tengkawang kurang optimal.

Lebih lanjut Deny menjelaskan, intervensi teknologi yang ramah, murah, dan tepat guna itu penting untuk mengoptimalkan minyak dari daging biji tengkawang. “Dengan demikian, kemampuan produksi masyarakat dalam mengolah biji tengkawang pun perlahan-lahan meningkat,” ucapnya.

SAMPAN Kalimantan menilai, permasalahan itu muncul lantaran tidak adanya keinginan kuat menjadikan produk lemak nabati tengkawang sebagai produk unggulan, berdasarkan takdir alamiah lemak tengkawang yang multiguna. Justru yang dijadikan produk unggulan dalam pemenuhan kebutuhan lemak nabati untuk industri pangan, makanan, obat-obatan, energi, dan lainnya berasal dari lemak nabati kelapa sawit.

Padahal, kata Deny, kelapa sawit adalah tanaman ekspansionis-monokultur yang dikembangkan dalam skala besar. Praktik dari sistem tersebut telah terbukti membongkar hutan alam Kalimantan berikut kekayaan biodiversity dan fungsi ekologisnya. Bahkan, kelapa sawit yang dikembangkan seperti sekarang, turut menyingkirkan kehidupan sosial, ekonomi, budaya, dan politik masyarakat.

Kini, tengkawang perlahan-lahan tersingkir. Populasinya di hutan Kalimantan semakin terbatas. Rendahnya produktivitas buah tengkawang itu sudah dikalahkan oleh produktivitas dari ekspansi monokultur kelapa sawit. Dan, pemerintah tidak hadir di tengah ancaman potensi keanekaragaman hayati hutan Kalimantan itu.

Lebih tragis lagi, pohon tengkawang menjadi sasaran tebangan untuk dijadikan industri kayu.  Apalagi kayu tengkawang –dikenal sebagai kayu meranti merah, memiliki kualitas baik sebagai bahan baku pembangunan rumah dan industri kayu.

Seorang pria sedang mengolah biji tengkawang. Foto : SAMPAN Kalimantan
Seorang pria sedang mengolah biji tengkawang. Foto : SAMPAN Kalimantan

Hutan Adat Tembawang

Hutan Adat Tembawang atau Kampung Tembawang adalah potret identitas bagi masyarakat adat Dayak di Kalbar. Hutan adat itu memiliki nilai kehormatan yang tinggi dan dijaga ketat melalui hukum-hukum adat.

Hampir setiap desa yang dihuni komunitas masyarakat Dayak memiliki Kampung Tembawang. Kampung ini berfungsi sebagai model agroforestry masyarakat adat. Dia bisa menjadi contoh bagi pengelolaan hutan secara lestari. Namun demikian, status kawasan tersebut hingga kini masih dalam bayang-bayang ancaman.

Hingga kini, Kampung Tembawang masih ada dan butuh pengakuan serta perlindungan. Salah satunya di Desa Tanjung Maju, Kecamatan Sungai Laur, Kabupaten Ketapang. “Kampung Tembawang di desa kami berada dalam satu hamparan luas,” kata Samuel, Kepala Desa Tanjung Maju.

Hal itu dikemukakan Samuel dalam dialog kebijakan tentang pengakuan dan perlindungan Tembawang dalam skema hutan adat yang diselenggarakan oleh SAMPAN Kalimantan di Ketapang, 7 Mei 2014. Ada tujuh desa yang ikut serta dalam dialog tersebut, yakni Desa Benggaras, Tanjung Maju, Sinar Kuri, Kepari, Sungai Daka, Benggaras, Demit, dan Desa Benua Krio.

Ciri Kampung Tembawang didominasi tanaman buah-buahan seperti durian, tengkawang, langsat, mentawai, patingan, nangka, pinang, kelapa, duku, pekawai, dan kemantan/kalimantan. Ada pula rambai, kapul, kalik, sibo, cempedak, trembrenang, bunyo, manggis, satar, keranji, bawang, jantak, kemayo, tempasi, asam pauh, rambutan, jambu, asam atau koli, tengkalak, rambutan, kopi, dan lainnya. Sayangnya, anugerah itu mulai tergerus kebijakan tak pro-lingkungan.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , ,