,

Kebakaran Hutan Gambut Di Riau Menjadi Tak Terkendali. Kenapa?

Lahan gambut yang terbakar di Kabupaten Bengkalis,Riau pada Maret 2014 lalu. Periode kebakaran Februari-Maret itu telah menyebabkan hancurkan hutan Riau sekitar 21.900 hektar.  Foto : Zamzami

Lahan gambut yang terbakar di Kabupaten Bengkalis,Riau pada Maret 2014 lalu. Periode kebakaran Februari-Maret itu telah menyebabkan hancurkan hutan Riau sekitar 21.900 hektar. Foto : Zamzami

Kebakaran hutan gambut kembali terjadi di Riau. Berdasarkan informasi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Senin, 21/7/201 terdapat 570 titik api di Sumatra, namun 417 di antaranya berada di Riau atau dua kali lipat dari yang terpantau pada hari Minggu sebelumnya yang hanya 154 titik api. Satelit pendeteksi titik panas Terra dan Aqua setidaknya melacak 327 kejadian di Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), Riau bagian utara.

Tingginya jumlah titik api di Kabupaten Rokan Hilir ini bahkan disebut oleh BNPB sebagai api yang tidak pernah padam sejak beberapa hari terakhir. “Kabupaten Rokan Hilir yang selalu paling banyak hotspotnya. Ini menandakan bahwa pembakaran di Rohil masih berlangsung dan pemda belum optimal mengendalikan pembakaran hutan dan lahan,” ujar Sutopo Purwo Nugroho, Humas BNPB kepada Mongabay kemarin.

Seorang warga Riau, Gurning yang sedang berada di jalan lintas utara yang melewati sejumlah daerah di Rokan Hilir mengaku menyaksikan api yang masih berkobar terutama di daerah Kubu.

“Itu hutan alam dan bergambut yang terbakar. Siang tadi api masih besar itu. Pokoknya sepanjang mata memandang di ruas kiri dan kanan jalan terbakar semua,” ujarnya ketika dihubungi Mongabay dari Pekanbaru Senin petang.

Dari pantauannya, tidak ada satu pun petugas pemadam kebakaran terlihat di lokasi kecuali sesekali helikopter milik BNPB menjatuhkan bom air di tengah kobaran api. Namun di sejumlah lokasi perkebunan sawit yang terbakar beberapa hari sebelumnya telah dipasang plang tanda bahwa kasus kebakaran itu sedang ditangani polisi.

Titik api bukan saja mengepung hutan-hutan gambut di Rokan Hilir tetapi juga terpantau di Kabupaten Bengkalis sebanyak 27 titik api, Rokan Hulu 21, Pelalawan dan Kampar 9, Dumai dan Siak 6, Kuansing 5, Indragiri Hilir 4, Indragiri Hulu 2 dan Kabupaten Kepulauan Meranti 1 titik api.

Kondisi ini diperkirakan semakin parah karena cuaca di Riau pada umumnya cerah dengan peluang hujan sangat minim dan bersifat lokal. Jarak pandang pagi kemarin dilaporkan kurang dari 5 kilomter di Rengat, Indragiri Hulu dan Dumai 6 kilometer.

Kebakaran hutan periode kedua tahun ini yang diperkirakan lebih ekstrim sejak dampak Elnino pada kebakaran hutan 1997 lalu, telah menghancurkan 499 hektar lahan/hutan dan BNPB mengklaim sudah memadamkan sekitar 429 ha dengan mengerahkan 306 personil TNI/Polri.

“Modifikasi cuaca dan water bombing dari udara masih terus dilakukan di Riau. Namun upaya ini akan kurang memberikan manfaat jika masih ada pembiaran pembakaran di lapangan. Dan masyarakat pun berlebaran dalam suasana dikepung asap lagi,” ujar Purwo.

Dalam analisis peta sebaran titik api yang dipublikasi Greenpeace beberapa waktu lalu menunjukkan kebakaran hutan dan lahan di gambut terjadi lima kali lebih banyak dibandingkan di lahan non-gambut. Bahkan 75 persen dari total kebakaran gambut Indonesia terjadi di Riau. Begitu juga yang dirilis World Research Institue (WRI) bahwa penanggulan kebakaran hutan di Riau bisa difokuskan pada beberapa daerah di beberapa kabupaten yang memang memiliki intensitas kerawanan api seperti di Bengkalis, Dumai dan Rokan Hilir.

Selama ini sejumlah LSM lingkungan telah mengungkapkan bagaimana peran perusahaan perkebunan sawit terkait dengan kebakaran hutan di Riau. Pembangunan kebun baik sawit maupun akasia di lahan gambut telah memicu kekeringan gambut dan menyebabkannya hamparannya yang lebih luas menjadi mudah terbakar.

Upaya Sektor Swasta

Sementara itu Arifudin, dari Pusat Studi Bencana Universitas Riau menilai saatnya pemerintah dan pihak swasta mengubah pendekatan dalam pencegahan kebakaran hutan dengan cara melibatkan peran aktif masyarakat setempat dan berkelanjutan.

Masyarakat yang hidup di desa-desa di sekitar perusahaan yang berada di kawasan bergambut harus mulai dilibatkan dalam mitigasi dan harus memiliki rencana jangka pendek dan panjang dalam mengatasi kebakaran. Masyarakat juga akan dilatih bagaimana menjalankan pertanian berkelanjutan, menciptakan kegiatan ekonomi alternatif serta ikut aktif dalam memadamkan api.

“Universitas Riau akan menempatkan peneliti, ilmuwan dan mahasiswa di lokasi-lokasi pilot project. Mereka akan hidup berdampingan dengan masyarakat, mengidentifikasi faktor-faktor sosial ekonomi,” Ujar Arifudin saat penandatangan nota kesepahaman antara Universitas Riau (UR) dengan PT Bhumireksa Nusasejati, anggota perusahaan sawit Minamas Plantation yang merupakan bagian dari kelompok Sime Derby asal Malaysia akhir pekan lalu di Pekanbaru.

Kesepakatan itu sendiri dinilai merupakan bagian upaya sektor swasta untuk mengurangi dampak kebakaran hutan di Riau. UR sendiri telah mempersiapkan 800 mahasiswa bantu atasi kebakaran hutan.

“Kami berharap program kerjasama ini akan memberikan solusi jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan dengan memberikan solusi yang berkelanjutan terhadap penanganan isu bencana asap yang merugikan kesehatan masyarakat dan berdampak buruk terhadap lingkungan,”ujar Mohd Ghozali Yahaya, Presdir Minamas Plantation dalam rilisnya yang diterima Mongabay.

Pada Februari lalu, Pemerintah Riau telah memanggil sejumlah perusahaan terutama sawit untuk turut membantu menanggulangi kebakaran hutan dan lahan. Di antara yang diharapkan pemerintah adalah bantuan pengadaan alat pemadaman bagi masyarakat desa di sekitar wilayah operasi perusahaan.

Meski demikian hingga saat ini ada satu kasus kebakaran hutan yang tengah disidangkan di Pengadilan Pelalawan dan melibatkan perusahaan sawit milik Malaysia, PT Adei Plantation dan sudah memasuki agenda terakhir sidang. Sejumlah LSM di Riau mendorong agar hakim memutuskan bersalah terhadap tersangka perusahaan dengan hukuman berat sehingga menimbulkan efek jera bagi perusahaan lain yang biasa membakar lahan untuk membangun perluasan kebunnya. (*)

(Visited 1 times, 3 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , , ,