,

Akibat Tambang, Pegunungan Poboya Tak Hijau Lagi

Pegunungan Poboya yang berada tujuh kilometer dari timur Kota Palu, Sulawesi Tengah, kini menjadi  gersang. Tak ada lagi pepohonan hijau dan savana yang dulunya menyanggah kawasan ini. Aktivitas tambang emas tradisional telah mengubah penampakannya yang kian merana.

Ribuan petambang saban hari menggerogoti perut pegunungan Poboya dengan menggali liang-liang untuk mengambil bebatuan yang mengandung serat emas. Bebatuan tersebut kemudian dimasukkan ke karung goni yang jumlahnya ribuan.

Jika karung-karung goni berukuran 50 kilogram itu telah penuh, para “kijang” siap membawanya ke mesin tromol untuk dihancurkan. Kijang merupakan sebutan untuk orang yang mengangkut karung goni yang membawanya ke mesin tromol di bawah perbukitan.

Awi (61), salah seorang petambang, menuturkan bayaran kijang tergantung jauh dekatnya lokasi liang dengan tromol. Kalau dekat biasanya Rp5 ribu, jauh lagi Rp10 ribu. Nilainya bertambah lima ribu bila semakin jauh.

Untuk masuk ke liang, para petambang ini menggunakan peralatan sederhana seperti palu, betel, linggis dan besi ulir yang ditajamkan untuk membongkar bebatuan dari perut bumi. Mereka hanya menggunakan papan dan balok untuk menyanggah liang. Hal yang jauh dari standar keselamatan. Bahkan, tewas tertimbun kala menggali adalah persoalan biasa sebagaimana yang diutarakan Tasman (51), petambang asal Gorontalo.

“Temanku tertimbun tepat di depan mata. Tapi, kami tidak bisa membantu karena peralatan yang terbatas. Akhirnya, ia meninggal. Trauma juga. Tapi, kami tetap harus mencari emas. Kalau tidak, mau makan apa kita punya keluarga,” katanya.

Para petambang ini tidak bekerja sendiri. Mereka berkelompok antara  lima hingga enam orang. Sebagian penduduk lokal, namun sebagian besar para pendatang yang berasal dari Kalimantan, Kendari, dan Gorontalo.

Data Jaringan Anti Tambang (Jatam) menunjukkan jumlah petambang saat ini mencapai 20 ribu orang. Menurut Direktur Jatam Sulawesi Tengah Sahruddin Ariestal Douw, sejak 2012 angka petambang turun drastis karena terbukanya tambang rakyat di Ambon. “Tetapi , 2013 jumlah petambang di Poboya bertambah lantaran tambang rakyat di Ambon tutup. Ya, mereka kembali bermigrasi ke Sulteng karena adanya penutupan tambang di wilayah itu,” katanya.

Menurut Ariestal, saat ini luas kelola rakyat di Pegunungan Poboya mencapai delapan hektar. Sebarannya ada di Batu Tempa, Rano Dea, Barako dan Tompo. Jatam  secara organisasional mendesak pemerintah untuk segera membuat perda tentang pengelolaan tambang rakyat yang memberikan perlindungan kepada pekerja dan alam.

Dahulunya petani

Sebelum menjadi petambang, dahulunya masyarakat Poboya merupakan petani bawang; peternak sapi, domba, dan kambing; serta pengepul rotan. Mendulang emas merupakan pekerjaan sampingan hingga mereka berkenalan dengan tromol, mesin yang dapat memisahkan biji emas dari material lainnya dengan cepat.

Sejak itu, masyarakat Poboya mengidolakan tromol ketimbang mendulang. Kilau emas di Poboya  pun menyilaukan petambang lainnya. Ribuan orang dari berbagai daerah di Sulawesi hingga Kalimantan mengadu nasib ke sini. Poboya menjadi tanah harapan, layaknya Tasman dan Awi yang datang.

Saat ini, sekitar 20 ribu tromol yang menggunakan mercuri beroperasi di tambang emas ini. Wahana Lingkungan (Walhi) Sulawesi Tengah memperkirakan sudah puluhan juta ton mercuri terlepas ke udara dan berkontaminasi dengan zat lain. Direktur Walhi Sulteng, Ahmad mengatakan pastinya sudah lebih dari 18 juta ton yang terlepas ke udara.

“Kerusakan lingkungan di Poboya ini sudah terjadi sejak enam  tahun silam. Aktivitas tambang emas yang menggunakan mesin tromol dengan zat-zat berbahaya sudah ada saat itu dengan skala besar. Kalau satu tahun saja zat berbahaya seperti mercuri yang terlepas ke udara mencapai 18 juta ton, bagaimana bila enam tahun,” tandas Ahmad.

Untuk menekan penggunaan mercuri, pemerintah kota Palu akhirnya menganjurkan menggunakan sianida di tambang emas Poboya. Sianida dianggap lebih ramah lingkungan jika dikelola dengan benar.

“Dari semua ahli lingkungan, sianida itu lebih ramah lingkungan daripada mercuri. Mercuri sama sekali tidak terurai dan sangat berbahaya. Kalau secara teknis yang dijelakan oleh pakar-pakar lingkungan dari Jakarta baik dari Kementerian Lingkungan Hidup maupun staf dari Pak Emil Salim, mereka tidak mentolerir mercuri. Cuma, karena masyarakat sudah akrab dengan mercuri maka kita memberikan penyuluhan dan arahan supaya menggunakan sianida,” kata Muhalnan Tombolotutu, Wakil Walikota Palu.

Namun, Walhi Sulawesi Tengah tetap mempertanyakan siapa yang akan mengawasi penggunaan sianida dan mercuri. Sianida berfungsi untuk memisahkan kandungan emas dan kandungan mineral lainnya. Namun, sisa limbah sianida ini lah yang membahayakan manusia,  makhluk hidup, serta mencemari lingkungan. Sodium sianida, racunnya diklaim lebih mematikan dari potassium sianida. Sodium sianida ada turunan dari potassium sianida, yang mempunyai efek sama tapi bekerja lebih cepat. Yaitu, dapat membunuh kurang dari tiga jam dengan dosis yang sama.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , ,