Melihat Guangzhou, Kota Maju Minim Polusi

Bersih, tertib dan segar, itulah kesan pertama saat menginjakkan kaki di Kota Guangzhou, Provinsi Guangdong, Republik Rakyat China. Sejak keluar dari Baiyun Airport yang berarti Bandara Awan Putih, suasana bersih sudah terlihat di dalam bandara maupun jalanan di luar bandara. Cukup banyak tempat sampah yang disediakan dengan pemisahan antara sampah organik dan non organik, baik di dalam gedung maupun di jalan-jalan. Selain itu petugas kebersihan di bandara juga terlihat selalu bekerja membersihkan apa saja yang terlihat kotor.

Memasuki Kota Guangzhou, Mongabay-Indonesia hanya melihat kendaraan pribadi dan umum yang melintasi jalanan kota. Mobil pribadi tidak terlalu banyak terlihat pada hari Senin hingga Jumat. Hanya akhir pekan atau hari libur kendaraan pribadi banyak yang melintas di jalanan. Kesan tidak terlalu ramai juga disebabkan lebarnya jalanan di Kota Guangzhou, yang memiliki jalan layang hingga enam tingkat.

“Angkutan massal banyak, jalannya disini luas, tapi tetap ada macet meski tidak separah di Jakarta,” kata A Wen, warga Guangzhou yang berprofesi sebagai pemandu wisata.

Meski tidak melakukan pembatasan kendaraan pribadi, Pemerintah China khususnya Pemerintah Kota Guangzhou menerapkan aturan lain yang membuat pengguna mobil pribadi berpikir beberapa kali untuk mengendarai mobil pribadi, diantaranya tarif parkir yang mahal.

“Kalau bawa mobil sendiri harus mampu bayar parkir yang mahal, disini juga berlaku tarif parkir per jam,” ujar A Wen yang sudah 15 tahun bekerja sebagai pemandu wisata Kota Guangzhou.

Chandra Wuriyanto Wo dari Persahabatan Indonesia China mengungkapkan, suatu negara yang maju ditunjang oleh kondisi transportasi yang baik serta banyaknya ruas jalan yang dibangun. Menurut Chandra yang juga warga Surabaya, dengan sistem transportasi yang baik suatu daerah atau negara akan dapat lebih maju ekonominya.

Penghijauan di setiap sisi jalan tol dan jalan layang di  Kota Guangzhou. Foto : Petrus Riski
Penghijauan di setiap sisi jalan tol dan jalan layang di Kota Guangzhou. Foto : Petrus Riski

Dia mencontohkan di sektor pertanian, hasil panen dari desa hanya membutuhkan sejam untuk sampai ke Kota Guangzhou. “Lain dengan di Indonesia, kita memotong tanamannya sore, besok pagi baru sampai pasar, dan separuh sayuran sudah menguning. Maka transportasinya jadi mahal,” tutur Chandra.

Pemerintah juga melarang sepeda motor masuk ke dalam kota Guangzhou sejak 10 tahun terakhir. Dengan aturan itu lalu lintas di jalanan Guangzhou lebih lancar dan berkurang polusi udaranya. Sebelumnya, sepeda motor merupakan salah satu penyumbang polusi udara terbesar, selain pabrik yang berada di pinggir kota.

“Sepeda motor ada, tapi di kota besar gak boleh masuk karena mereka mengacau jalanan. Kalau pun ada itu sepeda yang menggunakan baterai, atau disini disebut sepeda motor listrik,” ujar Chandra yang juga merupakan warga kehormatan Guangzhou.

Penggunaan sepeda motor hanya diperbolehkan sampai di pinggir kota, sehingga kalau ingin memasuki kota dapat menggunakan transportasi massal berupa bus, trem, maupun kereta api bawah tanah. Tegasnya hukum dan pelaksanaan aturan di Guangzhou menjadi faktor tidak adanya warga yang melanggar.

“Kalau melanggar maka akan disita sepeda motornya, dan bagi pelanggar dendanya sangat mahal. Jadi orang tidak ada yang berani melanggar disini, kalau tertangkap bisa berat sanksinya,” lanjut Chandra.

Sepeda listrik melintas di jalur khusus sepeda di pusat  Kota Guangzhou. Foto : Petrus Riski
Sepeda listrik melintas di jalur khusus sepeda di pusat Kota Guangzhou. Foto : Petrus Riski

Penataan jalan serta penyediaan moda transportasi massal yang memadai, menjadi kunci tertatanya lalu lintas di kota terbesar ketiga di China ini. Lebih dari 10 tahun, trem atau MRT dengan tari murah, cepat dan nyaman telah ada di kota berpenduduk 19 juta jiwa. Moda transportasi massal kata Chandra merupakan pilihan satu-satunya untuk mengatasi kemacetan lalu lintas di kota dengan penduduk yang lebih banyak dari Jakarta.

Selain tarif parkir yang mahal, pelarangan sepeda motor masuk kota, luasnya jalan hingga ketersediaan angkutan umum massal yang memadai, harga bahan bakar minyak (BBM) di China mencapai 6 yuan atau Rp12.000 per liter. Hal tersebut yang menjadikan lalu lintas jalan di Kota Guangzhou nampak lebih lancar dan tertata dibandingkan dengan kota-kota besar di Indonesia, termasuk di Kota Surabaya.

“Semuanya berjalan baik karena pemerintah yang mengatur, bus dan taxi juga semuanya milik pemerintah, jadi tidak ada persaingan,” tandas A Wen.

Sungai Bersih Aset Kehidupan Kota

Meski sebagai kota yang besar dan maju dengan pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat, Guangzhou masih memperhatikan pentingnya lingkungan untuk menjaga kelangsungan kehidupan makhluk di dalamnya. Diantara ratusan gedung pencakar langit serta jalan lalu lintas yang bersusun-susun, pemerintah masih menyediakan ruang terbuka hijau atau hutan kota yang ditanami beraneka jenis pohon dan tanaman.

Tidak ketinggalan jalur pejalan kaki dan jalur sepeda telah dipersiapkan oleh pemerintah. Bahkan di setiap pinggir jalan dan setiap sisi ruas jalan tol, juga ditanamani tanaman dan pohon yang rindang untuk menghijaukan kota.

“Membangun lingkungan yang bersih merupakan salah satu syarat menjadi bangsa yang maju, karena bangsa yang maju ditentukan oleh warga yang sehat,” kata Tiang Xiaoping, salah satu tokoh masyarakat di Guangzhou.

Salah satu jembatan dengan lampu dan hiasan aneka warna  semakin mempercantik sungai Mutiara atau Zhu Jiang di malam hari. Foto : Petrus Riski
Salah satu jembatan dengan lampu dan hiasan aneka warna semakin mempercantik sungai Mutiara atau Zhu Jiang di malam hari. Foto : Petrus Riski

Program air minum bersih, udara dan lingkungan bersih, serta rakyat sehat yang dicanangkan pemerintah China, menjadi dasar dilakukannya perbaikan kondisi lingkungan di setiap kota. Tidak terkecuali di Guangzhou yang memiliki sungai Zhu Jiang, yang merupakan sungai terbesar ketiga di China.

“Negara ini memiliki penduduk terbanyak di dunia, Guangzhou juga merupakan kota modern dan tidak mungkin tidak ada polusi, hanya saja semua sudah melakukan upaya untuk mengatasinya,” tutur Tian Xiaoping.

Sungai dengan lebar antara 300 hingga 500 meter, dan panjang lebih dari 1 kilometer, menjadi urat nadi kehidupan warga di Guangzhou. Selain memanfaatkan airnya untuk bahan baku air minum, keberadaan sungai Zhu Jiang atau yang berarti Sungai Mutiara sangat vital sebagai jalur transportasi serta salah satu obyek pariwisata.

Diperlukan dana sekitar 100 juta yuan sehari untuk merevitalisasi dan membersihkan sungai Mutiara, sehingga saat ini menjadi salah satu sungai yang bersih di China. Peraturan yang tegas dan keras juga diterapkan bagi pelanggar aturan, seperti pembuang limbah langsung ke sungai. Warga perorangan maupun perusahaan atau pabrik, diwajibkan mengolah terlebih dahulu limbahnya sebelum dibuang ke sungai.

“Pabrik yang tidak mengikuti aturan langsung ditutup tanpa kompromi. Sungai Zhu Jiang ini sekarang kenapa makin hari makin bersih, karena tiap tahun Walikota adakan renang bersama. Jadi air sungai ini bersih bisa dibuat berenang,” terang Tian.

Selain digunakan sebagai jalur transportasi memanfaatkan kapal feri, sungai Zhu Jiang telah menjadi obyek wisata air yang sangat menawan di waktu malam hari. Belasan kapal feri dengan aneka lampu warna warni menjadi daya tarik wisatawan yang berkunjung. Pemerintah Kota Guangzhou mempercantik kawasan pinggir sungai dengan memasang aneka bentuk lampu yang berwarna-warni.

Tidak hanya pinggir sungai, setiap jembatan yang melintasi sungai juga dibuat menarik dengan memasang hiasan lampu di setiap sisinya. Pemerintah mengeluarkan anggaran hingga 200.000 Yuan setiap hari untuk mempercantik sungai Mutiara dengan permainan lampu yang indah. Di pinggir sungai juga tertata rapi dengan pedestrian atau tempat pejalan kaki dan taman-taman. Semuanya seakan menjadi oase ditengah kesibukan warga kota Guangzhou, yang banyak menghabiskan waktu untuk bekerja di kantor.

Kerjasama Sister City

Pemerintah Kota Surabaya melalui Kepala Bagian Kerjasama Pemerintah Kota Surabaya, Ifron Hadi mengatakan, kerjasama sister city antara Kota Surabaya dengan Guangzhou sudah berlangsung hampir 10 tahun, khususnya di bidang perdagangan, pendidikan dan kebudayaan.

Dalam waktu dekat kerjasama di bidang lain juga akan, termasuk kemungkinan kerjasama di bidang pengelolaan lingkungan serta tata kota.

“Untuk lingkungan secara khusus belum ada. Cuma staff kita beberapa kali kesana juga mempelajari soal lingkungan,” ucap Ifron.

Penataan kota dan lingkungan di Guangzhou yang cukup baik diakui oleh Ifron, tidak lepas dari persoalan pembebasan lahan yang tidak sulit dilakukan oleh pemerintah. Sedangkan penataan dan pengembangan kawasan sungai sebagai obyek pariwisata sangat terbuka untuk ditindaklanjuti kerjasamanya.

“Nantinya kita arahkan, kalau masalah sungai ini menunjang untuk dikerjasamakan, sangat terbuka sekali. Mungkin masalah lingkungan dikaitkan dengan pariwisata, karena jumlah kunjungan wisatawan China ke Indonesia cukup besar selama 3 tahun terakhir,” tandas Ifron yang mentargetkan wisatawan dari China banyak datang ke Surabaya dengan adanya tempat wisata sungai yang bersih.

(Visited 1 times, 2 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , , , ,