,

Lewat Biogas, Upaya Mengatasi Konflik Satwa dengan Manusia

Sejak era reformasi bergulir pada 1998 hingga 2009, perambahan hutan di Sumatera begitu marak. Alih fungsi hutan pun terus terjadi, termasuk perambahan kawasan konservasi yang dijadikan perladangan liar seperti kopi, coklat dan pala. Seperti yang terjadi di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), kawasan yang dirambah terus meningkat hingga mencapai 60.000 hektar dari total sekitar 360.000 hektar luas kawasan taman nasional. Sejalan dengan perambahan maka perburuan satwa liar semakin meningkat. Satwa seperti harimau, gajah dan badak sumatera pun menjadi incaran pemburu liar.

Jika alam sudah tak seimbang maka konflik antara manusia akan terjadi. Satwa liar seperti harimau, badak dan gajah yang semakin terdesak habitatnya akan keluar dari hutan. Disini akan terjadi kepentingan untuk mempertahankan kehidupan terjadi. Ambilah contoh pertarungan memperebutkan ruang antara manusia dan harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae). Harta ternak masyarakat seperti kambing dan sapi kerap kali menjadi korban, tak jarang tidak hanya ternak, tetapi juga nyawa manusia menjadi korban.

Nyhus dan Tilson (2004) mencatat pada periode 1978-97 ada 146 orang dan 870 ternak kambing dan sapi yang dimangsa harimau, sementara dalam periode sama 265 harimau terbunuh manusia. Wibisono dan Pusparini (2010) pada 1998-2002 menggambarkan sekitar 35 ekor kambing dimangsa dan 25  harimau ditangkap untuk dikuliti, periode yang sama 76 orang tewas diterkam harimau.

Konflik antara manusia dan satwa liar berkutat kepada kepentingan penguasaan ruang dan isi perutnya. Jika harimau hanya mementingkan kebutuhan rasa laparnya, namun manusia sudah melebihi rasa kebutuhan untuk terus memenuhi keserakahannya. Akibat terdesak oleh manusia, satwa seperti badak hidup di lereng-lereng perbukitan yang sulit dijangkau manusia, dimana dalam jangka panjang hal ini tidak menguntungkan karena daerah tersebut sangat kurang jenis tumbuhan pakannya.

Kubah biogas (digester) yang dibangun di Desa Labuan Ratu 9. Foto: Haerudin R. Sadjudin/ YABI
Kubah biogas (digester) yang dibangun di Desa Labuan Ratu 9. Foto: Haerudin R. Sadjudin/ YABI

Lewat Biogas Mendorong Ekonomi Masyarakat untuk Konservasi

Masyarakat yang tinggal di pinggiran kawasan hutan perlu dibekali kemampuan agar dapat hidup berdampingan secara harmonis dengan satwa sebagai tempat hidup utamanya di dalam hutan. Perambahan, pembalakan, dan perburuan telah menimbulkan azab bagi mereka yang hidupnya berbatasan langsung dengan hutan.

Masyarakat harus hidup sejahtera, dan diupayakan agar kembali menyatu secara selaras, nyaman, dan sejahtera seperti dahulu kala. Masyarakat yang tinggal di pinggir kawasan konservasi yang sejahtera adalah aktor penting, termasuk menjadi simpul informasi untuk mengetahui jaringan perburuan satwa yang selama ini sulit dilacak.

Untuk mencapai hal tersebut Konsorsium YABI Siklus III Program TFCA-Sumatera mengupayakan mitigasi penanganan konflik satwa dan manusia di kawasan konservasi penting untuk satwa dilindungi lewat upaya mendorong peran masyarakat. Program ini memilih Taman Nasional Way Kambas (TNWK) yang dikenal sebagai pusat sekolah gajah pertama di Indonesia, namun juga penting sebagai benteng terakhir badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis). Badak jenis ini ditenggarai sebagai satwa yang paling terancam punah di dunia.

Di beberapa tempat badak sumatera telah dinyatakan punah oleh para peneliti manca negara. Semenanjung Malaysia, Serawak, dan Kerinci Seblat tadinya merupakan tempat hidupnya, kini sudah tak ditemukan lagi jejaknya. Jumlahnya kurang dari 100 ekor di Gunung Leuser, Bukit Barisan Selatan, dan Way Kambas. Badak jenis ini ditemukan pula di Kutai Barat, Kalimantan Timur yang jumlahnya diperkirakan tak lebih dari enam ekor.

Perburuan badak di Gunung Leuser dan Bukit Barisan Selatan 20 tahun terakhir telah menurunkan jumlah populasi lebih dari 50 persen. Oleh karena itu, kegiatan peningkatan ekonomi masyarakat di daerah Way Kambas perlu dilakukan untuk menurunkan perburuan. Bayangkan iming-iming pasar gelap, dimana satu gram cula badak sumatera dihargai hingga 40 juta rupiah!

Untuk meningkatkan ekonomi masyarakat, Konsorsium dan mitra kerjanya dari Yayasan Pendidikan Konservasi Alam turut mendorong desa swadaya energi dengan memperkenalkan program biogas dari kotoran sapi. Biogas dapat dipakai memasak, dapat pula menyalakan bola lampu; sehingga masyarakat tidak perlu lagi membayar listrik maupun hidup dalam kegelapan lagi. Dengan semakin banyak desa-desa lain yang memiliki lahan dan ternak sapi membangun kubah biogas, maka ketergantungan masyarakat terhadap kayu bakar untuk memasak yang berasal dari hutan alam Way Kambas akan teratasi.

Untuk ukuran kubah biogas 4 meter kubik tiap hari dapat dipakai untuk 3 kompor, setara dengan 3,5 kilogram kayu bakar. Kubah biogas terbuat dari batu beton yang disemen, jika dipakai terus tak diperlukan perawatan rutin, dapat pula tahan lebih dari 40 tahun. Bentuk kubah ini pun dirancang sesuai dengan tekanan dari sisi dan titik semua arah, hingga kubah biogas itu pun cocok dibangun di daerah gempa.

Limbah biogas disebut sluri, merupakan hasil pembusukan, mudah dikemas langsung jadi pupuk cair; sedangkan bentuk padatnya diolah jadi pakan ikan. Warga desa di Labuan Ratu 9 yang menjadi desa proyek percontohan, lewat kelompok yang dipimpin oleh Sabarudin sekarang mampu menjual kemasan sluri ke masyarakat di luar desanya. Mereka memakai pula untuk pengembangan usaha di bidang pertanian dan budidaya ikan air tawar.

Awalnya masyarakat di Labuan Ratu 9 menolak program ini, baik karena stigma minor tentang gas yang berasal dari kotoran sapi, maupun takut jika kubah biogas meledak. Sejalan dengan waktu, masyarakat sadar bahwa berbeda dengan tabung gas elpiji yang kerap meledak, kubah biogas dan kompornya aman dipergunakan oleh masyarakat.

Saat ini pengembangan serupa sedang dilakukan di Desa Labuan Ratu 7 yang terletak bertetangga dengan Desa Labuan Ratu 9. Kedepannya pembangunan biogas di berbagai tempat di sekitar kawasan konservasi akan terus meningkat, seiring dengan berkembangnya peternakan sapi oleh masyarakat. Nilai ekonomi dan kebutuhan susu dan daging sapi harganya pun semakin melonjak.

Lewat pengembangan ekonomi, masyarakat saat ini telah tersadarkan untuk terus menjaga dan melestarikan hutan Way Kambas. Hutan yang merupakan tempat hidup berbagai jenis satwa terancam punah seperti badak, gajah dan harimau sumatera. Masyarakat harus menjadi aktor penting konservasi, benteng perlindungan kepunahan satwa yang ada di Way Kambas.

* Haerudin R. Sadjudin, penulis adalah Program Manajer Konsorsium Yayasan Badak Indonesia (YABI) Siklus III TFCA-Sumatera. Biasa dipanggil “Mang Eeng”, penulis lebih dari 40 tahun terlibat dalam program konservasi badak di Indonesia. 

Artikel yang diterbitkan oleh
, , , ,