Moa, Burung Raksasa yang Telah Punah

Moa terakhir. Manusia telah mengakhiri eksistensi burung raksasa ini selamanya lewat perburuan berlebihan. Sumber: Sciencemag.org
Moa terakhir. Manusia telah mengakhiri eksistensi burung raksasa ini selamanya lewat perburuan berlebihan. Sumber: Sciencemag.org

Dalam waktu jutaan tahun terdapat sembilan spesies burung raksasa tidak bisa terbang yang telah berkembang di belahan bumi selatan, khususnya di daratan Selandia Baru. Namun kira-kira lima ratus tahun lalu,-waktu yang belum begitu lama, mereka sekonyong-konyong punah menghilang. Apa penyebabnya?

Jenis terbesar dari burung yang tidak bisa terbang dan tidak bersayap tersebut adalah moa raksasa (Dinornis robustus dan Dinornis novaezelandiae), yang mampu mencapai tinggi sekitar 3,6 meter dan berat tubuh hingga 300 kg. Moa sudah ada sejak era sebelum munculnya manusia di kawasan yang bernama kepulauan Selandia Baru di Pasifik Selatan. Sejak daratan itu belum terpisah dari benua raksasa Gondwana sekitar 80 juta tahun yang lalu.

Burung moa memiliki badan kekar tinggi besar, leher yang panjang, kaki yang panjang dan besar, kepala yang kecil, dan bulu yang berwarna cokelat kehitaman. Habitat burung moa antara hutan dan padang rumput, dua bentang alam yang tersedia di Selandia Baru. Tinggalan moa dapat berupa tulang belulang, telur, bulu, kulit hingga sarang ditemukan di banyak gua di Selandia Baru.

Tahun-tahun kepunahan massal moa memang berbarengan dengan dimulainya migrasi manusia ke Selandia Baru pada abad ke-14.  Banyak yang bertanya-tanya apakah kedatangan manusia mendorong moa ke jurang kepunahan, ataukah moa sudah berada di ujung kepunahan mereka ketika manusia datang, dikarenakan penyakit atau sebab lain?

Perbandingan Moa dengan burung lain dan manusia. Sumber: teara.govt.nz
Perbandingan Moa dengan burung lain dan manusia. Sumber: teara.govt.nz

Dalam sebuah jurnal yang dikutip oleh Science Magazine, penelitian terakhir menyimpulkan bahwa manusia adalah pelaku utama yang menyebabkan moa mengalami kepunahan massal.

“Faktanya sangat meyakinkan bahwa penyebab kepunahan moa disebabkan manusia, bukan karena faktor alami,” jelas Charles Lalueza-Fox, dari Institute of Evolutionary Biology in Barcelona, Spanyol.

Penyebaran manusia sejak era zaman es sekitar dua belas hingga sembilan ribu tahun lalu dan fenomena hilangnya fauna-fauna raksasa seperti mammoth, mastodon dan moa diyakini oleh para ahli saling berhubungan. Morten Allentoft, seorang ahli biologi dari University of Copenhagen adalah salah satu yang meyakini hal tersebut. Para ahli arkeologi mengetahui bahwa etnis Polynesia yang menjadi penghuni pertama wilayah yang kini bernama Selandia Baru, memakan daging moa dari segala umur, termasuk telurnya.

“Ada banyak tumpukan daging di antara tulang-tulang moa. Jika moa diburu tanpa mengenal umur, maka tentu satwa ini akan punah. Itulah yang terjadi” kata Allentoft.

Menggunakan DNA dari 281 fosil moa dari empat spesies berbeda, Allentoft berhasil menyimpulkan riwayat kehidupan Moa  selama empat ribu tahun menjelang kepunahannya. Biasanya, kepunahan satwa diawali dengan populasinya yang menurun, namun hal itu tak terjadi pada moa. Menurut analisis penelitian, populasi moa stabil selama empat ribu tahun, namun dalam rentang  dua ratus tahun, satwa ini musnah seketika.

Trevor Layak dari University of Flinder, Adelaide, Australia menambahkan bahwa tak ada sebab lain di balik kepunahan moa. “Manusia adalah satu-satunya pelakunya. Burung ini fisiknya kuat, mereka tidak mengalami sakit massal. Dan saat manusia mulai datang, mereka pun berakhir” ujarnya.

Kepala moa raksasa (Dinornis robustus). Sumber: tepapa.govt.nz
Kepala moa raksasa (Dinornis robustus). Sumber: tepapa.govt.nz
Kaki Moa yang sudah diawetkan di Natural History Museum. Sumber: cdn.activeadventures.com
Kaki moa yang sudah diawetkan di Natural History Museum. Sumber: cdn.activeadventures.com