, ,

Travel Mongabay: Inilah Surga Laut Raja Ampat yang Tersembunyi

Puncak Dafalen, begitulah Nawawi Mayor menamai tempat ini. Ia terletak di kawasan bernama Dafalen Namlo, masuk wilayah Kampung Usaha Jaya, Distrik Misool Timur, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat.

Pendakian menuju Puncak Dafalen,  bukanlah hal mudah. Ia baru dibuka beberapa minggu sebelumnya, jalur pendakian bersifat darurat. Tak hanya melelahkan, perjalanan menuju puncak penuh risiko yang memicu adrenalin.

Sampai puncak, segala kelelahan dan ketakutan berubah menjadi ketakjuban. Dari atas, terlihat sederetan bukit bebatuan di hamparan laut, biasa disebut Lime Stones berjumlah puluhan tersebar acak. Bentuk pun macam-macam. Salah satu terbesar mirip kadal besar.

Di ketinggian terlihat kejernihan laut lebih jelas. Bagian agak gelap menandakan lautan lebih dalam. Ketika sebuah speedboat mencoba bermanuver mengelilingi batu tonjolan itu, terlihat jejak air berbusa indah.

Puncak Dafalen hanyalah satu dari sekian banyak obyek wisata alam di Kepulauan Misool. Ada juga Puncak Dapun Lol Atsa, lebih dikenal nama Puncak Harfat Jaya, diambil dari nama orang mengelola tempat ini,  Harun Sapua dan Fatma. Medan menuju Puncak Dapun Lol Atsa,  lebih tinggi dan terjal, meski sudah lebih tertata dibanding Puncak Dafalen. Puncak Dapun Lol bahkan menjadi tujuan utama wisata di Misool.

Nawawi Mayor, termasuk orang pertama kali membuka jalur ke Puncak Dapun Lol Atsa dan Puncak Dafalen. Dia  mengatakan, pembuatan jalur terinspirasi dengan Puncak Wayag, obyek wisata popular di Raja Ampat bagian utara.

“Saya melihat potensi lokasi wisata alam yang bisa dikembangkan di Misool tak kalah dengan di Wayag ataupun Waigeo. Ini yang membuat saya terus mencari spot-spot wisata yang layak dijual,” kata Nawawi.

Nawawi memang rajin berkeliling di Misool, hanya mencari spot wisata, baik berupa perbukitan dengan pemandangan bagus ataupun titik-titik penyelaman. Beberapa titik penyelaman bahkan belum diketahui umum, hanya kalangan terbatas. “Ini karena hobi.”

Untuk membuat jalur ke Puncak Dafalen, kata Nawawi, memerlukan waktu dua minggu, bersama sejumlah warga lain. Biaya dia tanggung sendiri.

Sayangnya, Puncak Dafalen masih tersembunyi. Belum dilengkapi dermaga kecil untuk tambatan perahu atau speedboat seperti di Dapun Lol Atsa. Guna menaan kapal agar tak bergeser,  speedboat membuang sauh ke laut. “Ini masih diusahakan membangun dermaga. Masih mencari biaya tambahan.”

Menurut dia, titik wisata ini masih baru dan belum dibuka untuk umum. Kelak jika sudah dibuka dia akan mengenakan biaya Rp50.000.

“Saya masih membicarakan dengan kepala kampung siapa yang akan mengelola nanti. Saya ingin memberdayakan pemuda-pemuda di sini.”

Obyek wisata tak kalah menarik adalah gua kars disebut Gua Keramat. Di mulut gua ini ada dua buah makam diyakini pasangan suami istri penyebar agama Islam di situ. Bagian atas mulut gua ada tulisan sekilas seperti ‘Allah’.

Meski disebut Gua Keramat namun pengunjung datang untuk berenang di gua dengan air jernih. Ada dermaga kecil memudahkan pengunjung menyusuri gua lebih dalam.

“Di sebelah dalam ada gua bila ditelusuri perahu kecil bisa tembus ke sisi lain pebukitan. Hanya harus hati-hati karena dalam,” kata Arif Nugroho, Media Officer TNC yang menemani kami.

Puas menikmati air Gua Keramat, kami menyusuri sisi lain pebukitan kars itu. Ada gua-gua kecil berisi tengkorak dan tulang-tulang manusia. Sayangnya, tengkorak ini sudah banyak hilang. Kami hanya menemukan tulang-tulang manusia. “Dulu masih ada, mungkin dicuri untuk dijual atau ritual.”

Kekayaan pebukitan kars di Misool, terlihat dari banyak lukisan-lukisan pra-sejarah dinding-dinding bukit, sama yang ada di Gua Leang-Leang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Tepatnya sisi timur Pulau Sunmalele Atsa, yang dikeramatkan warga.

Dari Puncak Dafalen terlihat puluhan bukit bebatuan di hamparan laut yang tak kalah dengan di Wayag. Foto: Wahyu Chandra
Dari Puncak Dafalen terlihat puluhan bukit bebatuan di hamparan laut yang tak kalah dengan di Wayag. Foto: Wahyu Chandra

Sunmalele dapat diartikan bayang-bayang roh. Ia diperkirakan ada 48 lokasi gambar yang ditemukan di sepanjang Misool. Pada dinding-dinding gua terlihat gambar telapak tangan mekar, gambar tulang ikan dan paus berwarna kemerahan. Terpaan dan genangan air tampak tak merusak situs pra-sejarah secara keseluruhan. Di beberapa tempat terlihat beberapa bagian tertutupi kapur dan dinding terkelupas.

Tempat lain, disebut warga ‘Puteri Termenung’, terletak di Pantai Timur Pulau Lenmakana. Nama itu karena stalagmite atau pelarutan air kapur yang menetas gua berbentuk sosok perempuan, bersimpuh dengan rambut panjang. Kami tak sempat mengunjungi tempat ini karena agak jauh dan harus berjakan kaki.

Tak kalah menarik dari Misool, pemandangan bawah laut bisa dilihat tanpa snorkling atau diving. Beberapa pari manta kecil terlihat mengelilingi speedboat yang kami tumpangi ketika melambat di perairan dangkal. Beberapa pulau tak berpenghuni dengan pasir putih, menjadi tempat bersantai menyenangkan.

Bagaimana berkunjung ke Misool?

Untuk ke Misool, kita tak harus mendatangi Waisai, Ibukota Raja Ampat. Setelah tiba di Bandara Domine Eduard Osok Sorong, wisatawan biasa ke UPTD KKPD Raja Ampat. Di tempat ini akan mendapatkan penjelasan, wisatawan wajib membayar biaya masuk Rp500.000 untuk wisatawan lokal dan Rp1 juta untuk asing.

Biaya masuk ini baru berlaku beberapa bulan lalu, naik dua kali lipat dari lokal Rp250.000 dan Rp500.000 buat wisatawan asing. Kita akan mendapatkan kartu masuk berlaku selama setahun.

“Kalau dalam setahun berkunjung beberapa kali, biaya hanya pada kunjungan pertama,” kata Amy Sarta, Koordinator Staf Layanan Jasa Pemeliharaan Lingkungan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Raja Ampat, akhir April 2015.

Pembebanan biaya ini bukan tanpa sebab. Amy menjelaskan, alur penggunaan dana ini digunakan untuk pembiayaan konservasi dan pemberdayaan masyarakat Raja Ampat. Ini terobosan pembiayaan kawasan difasilitasi TNC dan Conservancy International (CI). Mereka dalam beberapa tahun terakhir membantu upaya konservasi Raja Ampat.

Bagaimana kalau masuk tanpa kartu?

Menurut Amy, risiko ketika bertemu patroli masyarakat UPTD KKPD Raja Ampat, harus siap-siap kembali ke Waisai atau Sorong, untuk pengurusan kartu.

Untuk mencapai kepulauan ini bisa ditempuh melalui dua cara, yaitu menyewa speedboat atau menggunakan transportasi massal. Kedua fasilitas ini bisa ditemukan di pelabuhan rakyat di Kota Sorong.

Kalau punya dana lebih, ideal menyewa speedboat. Harga sewa berkisar Rp10 juta–Rp40 juta. Kelebihan bisa lebih leluasa menjelajahi banyak lokasi wisata ataupun spot penyelaman di tempat itu.

Pilihan lain, menggunakan angkutan massal Marine Ekspres, beroperasi setiap Selasa dan Jumat. Tarif Rp310.000 per orang. Kapal biasa bersandar di Kampung Yellu atau di Harapan Jaya. Penginapan tersedia hanya di Kampung Harapan Jaya.

Setelah sampai di Kampung Harapan Jaya, menuju lokasi-lokasi wisata bisa menyewa perahu warga, biasa disebut longboat. Tarif Rp300.000-Rp500.000 sekali perjalanan yang memuat hingga 10 orang.

Tarif penginapan di Harapan Jaya, bervariasi tergantung fasilitas. Paling murah Rp350.000 per orang, dengan fasilitas kamar, sarapan, makan siang dan makan malam.

“Kalau mau murah harus datang rombongan agar bisa berbagi biaya sewa perahu dan kebutuhan-kebutuhan lain,” ucap Nawawi.

Di banding Raja Ampat utara, Misool belum menjadi wisata utama Raja Ampat. Kondisi ini terlihat dari fasilitas pariwisata masih kurang. Untuk listrik, di Misool baru malam hari. Untungnya, sudah ada fasilitas internet, meskipun aliran signal terbatas.

Kendala lain,  pengembangan wisata di sini,  adalah luas kawasan sangat luas, hingga berdampak pada penggunaan bahan bakar. Bahan bakar masih sering mengalami kelangkaan. Ketika kami berkunjung, sudah dua minggu bensin tidak beredar. Ini membuat banyak warga berhenti melaut.

Ke depan, seluruh Raja Ampat diharapkan bisa menjadi kawasan wisata alam yang mendukung konservasi. Upaya ini,  sebenarnya sudah sejak beberapa tahun lalu yang terlihat makin banyak wisatawan berkunjung.

Misool adalah satu dari empat pulau utama yang membentuk Raja Ampat.  Tiga pulau lain, Waigeo, Salawati dan Batanta. Raja Ampat memiliki luas 4,6 juta hektar, meliputi wilayah laut dan darat. Daerah ini terletak di pintu masuk Arus Lintas Indonesia bagian timur laut, mengalir dari Samudera Pasifik menuju Samudera Hindia.

Misool biasa disebut Misool Timur Selatan,  merupakan kawasan konservasi perairan daerah (KKPD) terletak paling selatan dari Jejaring KKPD Raja Ampat. Ia berada dalam Segitiga Terumbu Karang, pusat keragaman hayati laut dunia.

KKPD ini terbentang 366.000 hektar, meliputi gugusan pulau-pulau yang tersusun dari batuan kapur kuno dengan mosaik terusan dan danau air asin yang masih terjaga. Penyu-penyu sisik memakan spon di dalam KKPD dan bertelur di pantai berpasir, dan kumpulan pari manta bisa dijumpai di terumbu karang.

KKPD Misool Timur Selatan, juga berdekatan dengan hutan lindung meliputi bagian selatan Pulau Misool, dikenal dengan nama Batanme.

KKPD Misool menyediakan sumber makanan dan mata pencaharian 5.000 orang tinggal di 13 desa yang tersebar di wilayah ini. Kebanyakan penduduk menangkap ikan atau bekerja di perusahaan Yellu Mutiara atau Misool Eco Resort.

Kawasan ini berbatasan langsung dengan Laut Seram dan  perairan laut lepas menjadi jalur lintas satwa besar termasuk paus. Sebagian besar pulau di Misool tak berpenghuni, meski telah dimiliki marga-marga setempat.

Saat ini, sumberdaya yang menjadi tumpuan hidup mereka menghadapi ancaman. Perikanan ilegal, merusak dan tidak lestari melemahkan kawasan konservasi dan penegakan hukum.

Di dinding-dinding gua di Sunmalele. Foto: Wahyu Chandra
Di dinding-dinding gua di Sunmalele. Foto: Wahyu Chandra
Anak-anak di Kampung Yellu menyambut setiap perahu yang berlabuh di dernaga dengan riang gembira. Sesekali mereka memperagakan atraksi melompat jungkir ke laut. Foto: Wahyu Chandra
Anak-anak di Kampung Yellu menyambut setiap perahu yang berlabuh di dernaga dengan riang gembira. Sesekali mereka memperagakan atraksi melompat jungkir ke laut. Foto: Wahyu Chandra
Di dinding-dinding gua di Sunmalele, terlihat gambar telapak tangan yang mekar, gambar tulang ikan dan  paus berwarna kemerahan.Foto: Wahyu Chandra
Di dinding-dinding gua di Sunmalele, terlihat gambar telapak tangan yang mekar, gambar tulang ikan dan paus berwarna kemerahan.Foto: Wahyu Chandra

 

(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, ,