, ,

El Nino Datang, Indonesia Berisiko Alami Kebakaran Hutan Hebat

Pada 1997-98, kondisi kering di Indonesia yang disebabkan El Nino memicu gelombang kebakaran hutan skala besar yang menghancurkan sekitar lima juta hektar hutan tropis (setara dengan tujuh juta kali lapangan sepak bola). Sebagian besar dari kebakaran itu terjadi di hutan gambut yang kaya akan karbon, yang berlanjut dalam dua tahap, Juli 1997 sampai Maret 1998. Sejumlah besar karbon dioksida dilepaskan ke atmosfer beserta asap dan kabut yang menyelimuti wilayah sekitarnya.

Seperti dikutip dari The Conversation, kondisi yang terjadi sekarang di Samudra Pasifik mirip dengan apa yang terjadi sebagaimana di pertengahan 1997. El Nino dipastikan menguat sebagaimana prediksi cuaca yang mengarah akan terjadinya musim yang sangat kering. Indonesia dan juga negara-negara tetangga harus bersiap diri.

Untuk memprediksi, atau sebisa mungkin mencegah terjadinya kebakaran 1997-1998 terulang kembali, kita bisa melihat seberapa jauh hal tersebut diantisipasi dengan menggunakan model prediksi cuaca musiman.

Deforestasi, drainase gambut, dan El Nino

Selama musim kemarau, banyak kebakaran terjadi di hutan gambut di Indonesia, khususnya di selatan Kalimantan dan Sumatera bagian timur. Meskipun cukup biasa hujan turun di musim kemarau, namun terjadinya cukup sporadis, sehingga meninggalkan banyak celah untuk terjadinya kebakaran.

Sebagian besar kebakaran ini dilakukan dengan sengaja dengan tujuan untuk membersihkan hutan bagi perkebunan kelapa sawit, serta pulp and paper. Api dengan mudah menyebar karena melimpahnya bahan yang mudah terbakar, terutama, puing-puing kayu hasil praktik deforestasi yang luas, dan juga pengeringan lahan gambut.

Jika El Nino menyerang, situasi akan berubah drastis. Selama puncak periode El Nino, hampir tidak ada hujan turun pada musim kemarau dan musim hujan juga tertunda. Jadi, di daerah dimana lahan gambut telah terdegradasi oleh penebangan dan pengeringan, kebakaran pun dapat dipicu dengan lebih mudah. Sekali saja terjadi kebakaran maka lahan gambut yang sudah sangat kering akan dengan mudah ditembus api hingga ke bawah permukaan tanah. Tentunya tidak dapat dipadamkan hingga musim hujan kembali muncul.

Di titik terburuk, kebakaran berdampak besar pada emisi karbon, kabut asap, keanekaragaman hayati, ekonomi, dan risiko kesehatan yang serius di Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Kebakaran adalah ancaman utama untuk orangutan tersisa yang tinggal di hutan Sumatera dan Kalimantan.

Selama El Nino tahun terakhir, sekitar satu gigaton karbon dilepaskan dari kebakaran hutan lahan gambut, setara dengan sekitar 10% dari emisi bahan bakar fosil global tahunan. Kabut dari kebakaran tersebut menyebabkan gangguan besar lalu lintas udara di Singapura dan Malaysia.

Polusi udara api yang disebabkan kebakaran hutan yang menyebar di Samudera Hindia pada 22 Oktober, 1997. Sumber: NASA

Dari data suhu permukaan laut di seluruh Samudra Pasifik ditambah data meteorologi penting lainnya, dipastikan bahwa kondisi El Nino hampir pasti akan terjadi. Selain itu, semua model cuaca musiman juga memprediksi bahwa kondisi El Niño akan semakin parah selama beberapa bulan mendatang. Ini berarti musim kemarau di Indonesia mungkin akan jauh lebih kering dari biasanya, dan kebakaran hutan juga akan terjadi dengan hebat.

Perkiraan probabilitas curah hujan untuk Asia periode Juni-Juli-Agustus 2015 (atas) dan September-Oktober-November 2015 (bawah). Sumber: International Research Institute (IRI)

Sistem peringatan dini

Kabut asap menjadi masalah serius dalam beberapa tahun terakhir hingga membuat pemerintah Singapura membuat UU Polusi Asap Trans-batas pada 2014. Undang-undang ini akan menghukum perusahaan yang terdaftar di bursa efek Singapura yang dianggap bertanggung jawab atas asap kabut yang mempengaruhi Singapura, namun berasal dari tempat lain. Pemerintah dari sepuluh negara anggota ASEAN menandatangani Perjanjian ASEAN tentang Pencemaran Asap Lintas Batas pada 10 Juni 2002, yang akhirnya diratifikasi Indonesia pada September 2014.

Penduduk Singapura yang memasang masker saat kabut asap menyerang. Foto: Ahmad Yusni / EPA

Perjanjian tersebut mengharuskan semua negara menerapkan langkah-langkah mencegah, memantau, dan mengurangi polusi asap lintas batas dengan mengendalikan kebakaran lahan dan hutan gambut. Secara eksplisit, perjanjian tersebut meminta adanya pengembangan sistem peringatan dini kebakaran untuk mencegah dan mengurangi dampak kabut asap.

Apakah kebakaran masa lalu, terutama kebakaran parah yang dipengaruhi oleh El Niño, dapat diprediksi menggunakan model prakiraan cuaca musiman? Menggunakan pengamatan satelit aktivitas api dan studi kasus di kawasan selatan dan tengah Kalimantan, yang ditandai dengan musim kemarau pada Juni-November, menunjukkan bahwa sebagian besar kebakaran yang parah (dan kabut asap yang disebabkannya) sejak tahun 1997 bisa diantisipasi dengan menggunakan prediksi curah hujan dari European Centre for Medium-Range Weather Forecasts.

Pada dasarnya, badan-badan cuaca regional, tim pemadam kebakaran, dan manajemen sumber daya yang lain memiliki potensi untuk mampu mengidentifikasi dari awal, daerah mana yang kemungkinan mengalami kekeringan parah.

Mencegah kebakaran yang tidak terkendali di Indonesia dan dampak yang terkait, pada akhirnya akan bergantung pada seberapa baik kebakaran bisa dikelola. Ini adalah masalah yang kompleks yang melibatkan pemerintah, perusahaan multinasional, dan masyarakat lokal. Meski demikian, mengetahui lebih dini tentang potensi kebakaran merupakan salah satu elemen penting yang harus dilakukan.

Model prediksi musiman memang bukan alat yang sempurna, dan kadangkala berbeda antara prediksi dengan kenyataan yang terjadi. Namun setidaknya, ke depan kita akan lebih mampu dan berpengalaman dalam memprediksi musim. Tantangannya adalah bagaimana Indonesia bisa membangun sistem peringatan dini akan kebakaran hutan yang bisa dioperasikan di seluruh wilayah.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , , , , ,