, ,

Weldi, Merekam Keindahan Alam Lewat Potret Burung

Beranda rumah kecil bertegel keramik. Kursi kayu. Halaman rumah dipenuhi bunga. Anak-anak berlarian. Kicauan burung madu. Siulan kutilang. Suasana begitu hangat.

Dari beranda inilah, dia senang berlama-lama duduk. Menjaga tanaman agar tumbuh baik. Mengawasi burung yang berkunjung lalu mengarahkan lensa kamera. Jepret….! Dia senang melihat semua berjalan alami.

Dialah Weldi Purwanto.  Di Sorowako, jika bercerita soal burung, nama Weldi akan mencuat. Pada 2012, dia menerbitkan buku berisi dokumentasi burung di sekitar Sorowako. Ada puluhan dengan keterangan foto, nama ilmiah, kebiasaan sampai pakan.

Saat ini, koleksi foto burung dia mencapai 97 jenis. Sebanyak 25 jenis endemik Sulawesi dan Wallacea, dan 19 jenis burung migran dari Utara dan Selatan.

Bagaimana awal mula Weldi menemukan kegemaran itu? Pada 2005, saat pertama kali memiliki kamera saku digital, dia mengarahkan lensa ke burung. Meskipun hasil kadang tak memuaskan, dia selalu mencoba. “Saya mulai melihat, warna bulu cantik. Apa yang tampak oleh mata, kadang tak seperti aslinya.”

Salah satu, Sri Gunting. Burung ini terbang rendah. Penglihatan sepintas berwarna hitam pekat, ketika tertangkap kamera dan diperhatikan cermat, bulu berwarna sedikit biru mengkilap. Iniah yang dianggap Weldi sebagai kuasa alam.

Kebiasaan dan ritus alami beberapa burung akhirnya membuat Weldi makin jatuh cinta. Pada 2007, dia membeli kamera DSLR, lalu 2009 hingga sekarang aktif mengamati burung. Dia tahu, dimana spot favorit beberapa jenis burung.

Dengan ketekunan itu, dia mulai menemukan beberapa jenis burung yang berpindah atau hilang dari pengamatan. Apakah itu punah? “Saya tidak tahu,” katanya. “Kalau hilang dan berkurang ada.”  Salah satu yang mengalami penurunan jumlah, katanya, jalak tunggir merah (Scissirostrum dubium/finch-billed myna).”

Dia menduga, penurunan populasi karena tren pemeliharaan burung di masyarakat, kemudahan mendapatkan  senapan angin ditambah laju penurunan pohon tinggi dan besar.

Dugaan itu beralasan. Sorowako, kota industri yang digerakkan tambang nikel, PT Vale sejak 1968. Perusahaan ini menambang puluhan ribu metrik ton nikel dalam matte setiap tahun. Bukit dan gunung yang mengandung nikel, sebelumnya ditumbuhi pohon dikupas untuk mendapatkan nikel.

Nurtolu, tokoh masyarakat Sorowako, beberapa waktu lalu menceritakan bagaimana lingkungan masa lalu. Menurut dia, pada 1980-an hingga pertengahan 1990-an, ada banyak jenis burung berkeliaran di sekitar kampung. Salah satu, julang Sulawesi (Rhytieceros cassidix/Knobbed hornbill).  Burung dengan kepak besar ini merupakan satwa terlindungi yang setiap tahun populasi terus menurun.

Bahkan, kata Nurtolu, karena banyak rangkong, anak-anak muda jika hendak memakannya bebas memilih. Tembak yang besar, lepaskan yang kecil. Saat ini, melihat rangkong terbang di ketinggian itu sudah sangat beruntung.

Elang ular Sulawesi (Spilornis rufipectus). Foto: Weldi Purwanto
Elang ular Sulawesi (Spilornis rufipectus). Foto: Weldi Purwanto

Burung pendatang

Dalam catatan Weldi, dari 19 jenis burung migrasi, paling rutin berkunjung adalah kirik-kirik Australia (Merops ornamus/Rainbow bee-eater). Dalam pengamatan dia, kirik-kirik Australia ini berbiak dan membuat sarang di sekitar Danau Matano.

Kirik-kirik, adalah jenis burung dengan paruh runcing. Saat berkunjung ke Sorowako, saya beberapa kali melihat di pohon akasia di pinggir jalan menjelang magrib. Burung ini berkerumun, dengan suara riuh. Ukuran hampir seperti kutilang.

Untuk melihat kecantikan kirik-kirik Australia, harus berangkat subuh hari. Menunggu langit sedikit terang dan melihat mereka meninggalkan tempat bermalam. Jika diamati dari bawah, kirik-kirik Australia yang mengepakkan sayap akan memperlihatkan paduan warna, seperti pelangi.

Kirik-kirik Australia dalam buku Birds of Wallace, kemungkinan imigran tahunan dari Australia. Di Sorowako, burung ini, kata Weldi, hanya terlihat April hingga Agustus. Untuk trending migrasin, beberapa forum dalam pengamatan burung di Indonesia, catatan migrasi masih minim.

Kirik-kirik Australia adalah jenis pemakan serangga. “Saya kira, mengapa beberapa burung migran pemakan serangga masih mengunjungi Sorowako, karena pakan masih berlimpah,” kata Weldi.

Mengabadikan alam

Masa kecil Weldi dihabiskan di Sorowako. Dia bersama teman-teman bermain dengan alam, masuk hutan, nyemplung ke danau, cari buah, tembak burung, tembak ikan, ataupun cari kerang. Pada era inilah yang membentuk dia selalu ingin kembali ke masa kecil.

Kini dia berusia 41 tahun dan memiliki tiga anak. Dia bekerja di PT Vale. Pemahaman dia, setiap tambang pasti mengubah wajah alam dan itu tak dapat dipungkiri. Untuk itulah, setiap perusahaan tambang harus berusaha mengembalikan kondisi alam pasca tambang, seperti biota dalam lingkungan itu. “Saya kira program re-forestry perusahaan, bukan reboisasi, cukup baik. Membuat kembali hutan, bukan menghijaukan.”

Namun terlepas dari itu, dia menyadari kondisi alam terus berubah. Dia ingin menyimpan alam itu selalu indah. Salah satu jawaban, lewat gambar alias bidikan kamera. Foto akan membuat alam diam dan selalu indah. “Dengan foto, saya inign semua orang tahu, mengenal dan mensyukuri apa yang ada di sekeliling.”

Kecintaan pada burung selalu disampaikan ke anak, keluarga dan teman-teman. Menurut dia, nyanyian burung di halaman seperti alunan mucik yang membuat rumah jadi terasa alami dan asri. Dia juga berusaha tak memelihara burung dalam sangkar. Baginya, nyanyian burung dalam sangkar sama indah dengan nyanyian di alam. “Tetapi mungkin tema beda. Yang di alam menyanyikan lagu bahagia, sementara yang di sangkar menyanyikan lagu sedih.”

Serindit Sulawesi (Loriculus stigmatus). Foto: Welldi Purwanto
Serindit Sulawesi (Loriculus stigmatus). Foto: Welldi Purwanto
Jalak tunggir merah. Foto: Eko rusdianto
Jalak tunggir merah. Foto: Eko Rusdianto
Kadalan Sulawesi (Rhamphococcyx calyorhynchus). Foto: Eko Rusdianto
Kadalan Sulawesi (Rhamphococcyx calyorhynchus). Foto: Eko Rusdianto
(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , , , ,