,

Meriam Karbit yang Membuat Manusia dan Gajah Saling Mengerti (bagian – 1)

Saya mengikuti Syamsuardi dari Flying Squad WWF Indonesia yang beberapa waktu lalu datang ke Pintu Rime Gayo di Kabupaten Bener Meriah. Daerah ini merupakan salah satu kantong konflik gajah dan manusia di Aceh. Syamsuardi datang dari Riau untuk melatih para petani yang kebunnya kerap diganggu kawanan gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus), agar mandiri. Tanpa harus menunggu petugas kehutanan datang.

Di Aceh dan banyak tempat lainnya di Sumatera, konflik gajah dan manusia telah menimbulkan kerugian materi dan korban nyawa di kedua belah pihak. Ini yang ingin diminimalisir Syamsuardi dengan membuat teknik pengusiran gajah yang efektif dan aman dengan memakai alat yang murah, gampang dibuat, dan bisa digunakan siapa saja. Targetnya: kebun aman, manusia dan gajah selamat.

Syamsuardi yang berbadan kecil dengan perut tak lagi ini memang telah 43 tahun. Namun, untuk urusan mengusir gajah, dia salah satu pakarnya di Sumatera. Syam, biasa disapa, adalah  Koordinator Mitigasi Konflik Gajah dan Harimau WWF Indonesia di Riau. Selama 15 tahun lebih  Syam dan timnya di Flying Squad membantu masyarakat di Riau mengusir gajah yang masuk ke perkebunan. Flying squad adalah sebuah tim penanggulangan konflik gajah manusia yang memakai bantuan gajah jinak terlatih.

Sejak 2004 Syam mulai melatih warga yang tinggal di kantong-kantong konflik gajah mulai dari Aceh hingga Lampung. Bahkan, menyeberang ke Kalimantan Utara dekat perbatasan Malaysia dimana warga juga berkonflik dengan gajah pygmi borneo. Selain petani, perusahaan perkebunan sawit dan hutan tanaman industri sering meminta Syam dan timnya melatih para pekerja mereka. Syam juga melatih para polisi hutan.

Hari itu, Syam mengumpulkan 15 petani di sebuah pabrik gula yang tak lagi beroperasi di Dusun Menderek, Desa Alur Gading. Para petani ini menjadi tim pengusir gajah yang dikomandoi oleh  Suherry, pegiat lingkungan di Bener Meriah.

Pelatihan ini penting bagi mereka. Empat bulan sebelumnya mereka kehilangan seorang anggotanya, Hasan Basri, yang tewas diinjak gajah saat melakukan pengusiran gajah liar di dusun tetangga. Hasan Basri adalah petani Menderek yang sering ikut Suherry mengusir gajah. Dalam 3 tahun terakhir sudah 4 warga Pintu Rime Gayo tewas diserang gajah.

Pabrik gula yang dipakai untuk lokasi latihan hari itu telah setahun berhenti beroperasi. Gajah-gajah telah memakan ratusan hektar tanaman tebu di Menderek. Tak ada lagi pasokan tebu ke pabrik. Pabrik itu ditutup pemiliknya.

Syamsuardi dan meriam karbit buatannya. Foto: Chik Rini
Syamsuardi dan meriam karbit buatannya. Foto: Chik Rini

Ketika kami datang, warga mengatakan bila gajah-gajah baru seminggu lalu masuk ke halaman pabrik di malam hari. Tanda-tanda kehadirannya masih tersisa. Ada ban truk yang tercampak jauh karena tendangan gajah. Ada pohon pisang  dan pepaya yang tumbang dan ada pondok kayu yang rubuh. Hari itu, ada 2 ekor gajah dilaporkan masih berkeliaran di dekat batas desa. Ketika kami tiba di dusun itu sore hari sebelumnya, suara ledakan mercon terdengar bersahutan dibakar warga yang bermaksud mengusir gajah agar menjauh dari kebun mereka.

Setiap gajah datang, Camat Pintu Rime Gayo harus merogoh kocek yang tak sedikit untuk membeli mercon. Satu batang mercon yang isinya 5 kali letusan sekitar Rp30 ribu. Jika gajahnya banyak, camat bisa mengeluarkan uang hingga Rp 2,5 juta per hari. Tak hanya membagi mercon, sebenarnya, pemerintah setempat telah menggali parit sepanjang 15 kilometer untuk menghalang gajah masuk.

“Biaya menangani konflik gajah sangat mahal,” kata Camat Pintu Rime Gayo, Muktar, yang datang menyambut kami. Dia senang dengan pelatihan ini karena membantu warganya mandiri, menghadapi konflik dengan gajah.

Selama ini setiap tahunnya Pemerintah Bener Meriah harus mengeluarkan biaya ratusan juta untuk mendatangkan gajah jinak dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh di Saree untuk operasi penghalauan gajah. Tapi, beberapa bulan kemudian gajah muncul lagi dan memakan tanaman warga.

Bentang alam Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Foto: Chik Rini
Bentang alam Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Foto: Chik Rini

Pintu Rime Gayo sendiri merupakan daerah pertanian subur, berudara sejuk dengan gunung dan lembah dimana sungai Krueng Peusangan mengalir di celahnya.  Krueng Peusangan menjadi batas alam, sisi satunya merupakan areal pemukiman dan budidaya, sisi lainnya hamparan hutan Panton Lah, tempat gajah biasanya bersembunyi. Saat musim angin kencang dan hujan, kawanan gajah hingga 30 ekor biasanya akan keluar hutan, yang sebagian menyebar dalam kelompok kecil. Mereka menyeberang sungai dan masuk ke jalur jelajahnya di sepanjang sisi Krueng Peusangan.

Gajah akan berpindah dari Juli, Pante Peusangan, Pintu Rime Gayo, sampai ke Ketol di Aceh Tengah. Disini lah konflik gajah manusia sering terjadi yang menurut Suherry jalur-jalur itu sejak dulu memang dipakai gajah bermigrasi. Nama tempat di sana identik dengan gajah  seperti Timang Gajah, Pondok Gajah, dan Alur Gading. “Sekarang semua tempat itu sudah menjadi kebun dan kampung,” ucap Suherry.

Ketika konflik manusia dengan gajah terus meningkat setiap tahun seperti di Aceh, mau tak mau masyarakat yang hidup di jalur gajah harus mampu secara mandiri menangani konflik. Masyarakat tidak bisa lagi bergantung sepenuhnya pada petugas BKSDA atau polisi kehutanan. Karena, gajah sudah tidak bisa diprediksi kapan munculnya di suatu tempat.

Syam menyarankan, para petani membentuk kelompok di tiap desa. Ini akan lebih memudahkan pengusiran. Selama ini pengusiran gajah yang dilakukan masyarakat tidak pernah tuntas karena mereka asal menghalau dan tidak kompak. “Bagi masyarakat, terserah kemana gajah pergi. Yang penting tidak di kebun kami,” kata Tumirin, petani Menderek yang ikut pelatihan.

Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , ,