, , ,

Kemarau Panjang, Merauke Kekeringan, Warga Sulit Air

Agatha Balagaize, warga Kampung Wasur, sedang mengisi dua jerigen kecil ukuran lima liter dan galon kosong. Dia membawa tiga wadah ke Biras, bersepeda motor. Dia memarkir motor di mesin pompa air PDAM di Biras, Kompleks PDAM, Kampung Wasur, Merauke.

Usai mengisi tiga wadah itu, langsung dia membawa bersepeda motor. Jarak sekitar satu km. Musim kemarau ini warga terpaksa keluar kampung mencari air bersih. Salah satu di Biras ini. Kualitas air di kampung, katanya tidak layak konsumsi. “Ada sumber air tapi di rawa sagu. Sekarang penuh bekicot, warga menyebut siput. Kita terpaksa ambil air di sini. Sekarang kesulitan air minum,” katanya.

Kampung Wasur sekitar 15 km dari Merauke. Ia masuk Taman Nasional Wasur. Sebelum tiba, anda berhadapan dengan gapura besar tertulis “Selamat Datang Ke Taman Nasional Wasur.”

Berdiri gedung pertemuan bertuliskan huruf besar, ”Bomi Sai.” Dalam bahasa Suku Marind bomi berarti rumah rayap. Sai berarti tempat pertemuan. Jadi gedung ini berbentuk rumah rayap.

Biasa, di Kampung Wasur, hamparan sawah hijau terbentang. Kini, kering kerontang. Sebelumnya, kawasan ini hutan tetapi berubah menjadi pesawahan.

Thobias Wamal Gebze, Kepala Kampung Wasur mengatakan, berbulan-bulan warga sudah kesulitan air bersih karena kemarau. Populasi kampung sekitar 150 keluarga, atau 1.014 jiwa.

Drainase kampung itu, katanya, juga bermuara di kali dekat Kampung Bokem dan Dusun Ndalir. Akibatnya, warga Kampung Wasur mengalami kekeringan. Dulu, berbagai sungai alam jadi penyimpan air hingga air ke laut kurang. Tahun ini, warga Kampung Wasur, sudah kesulitan air. Kemarau ini, mereka mengangandalkan sumur alam.

Kekeringan ini juga menyulitkan warga bercocok tanam.”Sampai kita mau tanam padi susah tumbuh. Begitu panas, langsung air habis.” Kondisi tambah parah kala pipa dan kran terpasang untuk air bersih tidak ada lagi.

Abdul Azis, Direktur PT Wendu yang mengelola PDAM Kabupaten Merauke menyebutkan, sekarang Merauke kesulitan air, tetapi khusus Kampung Wasur bisa mengambil air di pusat intalasi Wedu di Biras. “Asal tidak memakai mobil tanki, provil tank atau truck wadah, tidak mencuci pakaian atau cuci kendaraan.”

PDAM , katanya, hadir untuk memberikan pelayanan pada masyarakat walaupun terkandang dihadapkan pilihan sulit.

Thobias Wamal Gbze, Kepala Kampung Wasur. Foto: Agapitus Batbual
Thobias Wamal Gbze, Kepala Kampung Wasur. Foto: Agapitus Batbual

Wedu atau PDAM, katanya, berupaya memberikan pelayanan semaksimal mengatasi kekeringan ini, walaupun ada unsur binis. “Musim kering seperti ini pasti warga Kampung Wasur kekurangan air. Syukur Wedu masih melayani warga setempat selain untuk konsumsi Kota Merauke.”

Langkah lain, Pemkab Merauke meluncurkan Program Gerbangku (Gerakan Pembangunan Kampungku) dengan pemasangan pipa air PDAM ke Kampung Wasur. Juga program Pemerintah Papua dengan PNPM Mandiri. Namun, masyarakat Kampung Wasur tetap kesulitan air kala kemarau.

Muncul lagi program air bersih milik masyarakat dikelola Satker Jayapura. Mereka membuat berbagai bak air di Distrik Muting, Distrik Sota dan Distrik Kimaam untuk persediaan air minum warga sekitar, termasuk Kampung Wasur. Jaringan air dari PDAM sudah dibuat tetapi tidak ada tindak lanjut.

Fidelis Yipsi, operator PDAM di Biras, mengatakan, warga Wasur setiap hari bersepeda motor mengambil air di Biras. Mereka, sudah membuat rencana matang, seperti memasang pipa dan membangun bak-bak air minum. Namun, percuma karena tak berjalan lancar. Malah, katanya, warga selalu berharap pada PDAM Biras. “Sewaktu dibangun, lancar soal pembayaran air PDAM di Kampung Wasur, selama empat bulan macet hingga sekarang. PDAM akhirnya putuskan pipa yang tersambung ke rumah penduduk.”

Awas rawan kebakaran!

Sugeng Widarko, Kepala BMKG Kabupaten Merauke mengatakan dampak kekeringan di Merauke cukup ekstrim. Perkiraan curah hujan kurang Januari-Desember 2015.

Hingga Agustus, curah hujan 1178,5 mililiter, normal 1.700 mililiter “Ini akibat El-Nino membuat lebih kuat cuaca berubah.”

Dia mengatakan, pasokan air makin menipis. Dia memperlihatkan waduk-waduk di lahan transmigrasi tak terisi air. Begitupun sumur sebagian kosong. Wargapun mengandalkan air bawah tanah lantaran air permukaan berkurang.

“Perlu berhati-hati. Sumber air makin kering meninggalkan genangan saja. Mulai berhemat air adalah pilihan terakhir. Caranya, mulai sekarang kebiasaan menyiram tanaman harus dikurangi. Kalau musim hujan, tanaman disiram tiap hari. Mulai sekarang batasi.”

Dia berharap, masyarakat berhati-hati menggunakan api karena saat ini angin bertiup kencang. “Takutnya api merembet ke mana-mana. Ataukah kalau membakar sesuatu harus padamkan segera.”

Kristian Ari Gebze, Direktur Perkumpulan Silva Papua Lestari di Merauke mengatakan, kondisi alam Merauke lain dari tempat lain. Musim sangat ektrim.

Sebelumnya, musim hujan enam bulan dan kemarau enam bulan. Dampak perubahan iklim, di Merauke, kemarau tambang panjang. “Kalau diamati Merauke beberapa tahun terakhir bertambah panas. Memang perlu penelitian lebih, mengapa seperti ini. Prinsipnya sudah ada perubahan.”

Di Merauke, katanya, curah hujan kurang dan pendek. “Pertanyaan selanjutnya, masyarakat menyadari atau tidak guna mengantisipasi ini.” Untuk itu, alam Merauke harus terjaga. “Merauke hanya mengadalkan resapan air hujan. Kita tidak punya sungai yang mengalir dari hulu secara kontinyu,” katanya.

Meskipun begitu, Merauke memiliki sejumlah rawa besar maupun kecil yang menyimpan air. Tetapi hutan harus terjaga agar pasokan air ada. Perambahan sampai bisnis batu bata di sekitar Taman Nasional Wasur, bisa mengancam ketersediaan air.

Dia mengatakan, upaya menarik investor masuk juga mengancam sumber mata air di Merauke. “Mereka pasti perlu air. Otomatis DAS Kali Bian, Kumbe dan Marobisa kena dampak. Merauke terkenal rawa. Kalau investor jalan dipastikan lima tahun ke depan Merauke krisis luar biasa. Jadi bukan hanya Kampung Wasur tetapi seluruh daratan Merauke,”katanya. “Ekosistem berubah. Seluruh Merauke kena dampak.”

Sarana air dari program air bersih milik masyarakat   yang kini mandek. Foto: Agapitus Batbual
Sarana air dari program air bersih milik masyarakat yang kini mandek. Foto: Agapitus Batbual
(Visited 1 times, 2 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , , , , , ,